
"Ma, sudah!" ucap Mentari melepaskan tangannya dari tangan mama mertuanya.
"Kenapa? kamu takut sama dia? tenang saja ada papa yang siap menghajarnya jika dia berani menyentuhmu!" ucap tuan Ardi menunjukkan kepalan tangannya.
"Iya Tari, kakak juga akan membelamu jika dia main fisik!" ucap Randita.
Tapi bukan fisikku yang dia permainkan kak, ma, pa, tapi batinku yang dia permainkan! batin Mentari.
"Maaf, besan! kami kemari hanya untuk mengantarkan Mentari untuk menyelesaikan masalahnya dengan Darel!" ucap mama Daniar.
"Tidak ma, aku sudah membuat keputusan!" ucap Mentari mantap.
"Loh, tapi kan..." ucap mama terpotong.
"Apapun keputusanmu, papa akan mendukungmu!" ucap tuan Ardi.
"Sebelum itu, Mentari ingin meminta janji kepada Darel!" ucap Mentari menatap Darel.
Darel mulai tersenyum mendengar ucapan Mentari. Mungkinkan Mentari ingin memperbaiki pernikahan mereka?
"Aku pergi jauh darimu, dan kau tidak boleh mencariku sebelum dua tahun! jika kau melanggar janji itu kau akan kehilangan aku untuk selamanya!" ucap Mentari yang sontak saja membuat Darel membulatkan matanya lebar-lebar.
"Tari.....aku....tapi aku....bagaimana dengan akuuu?!" tanya Darel.
"Tidak...tidak...tidakk!!! aku tidak bisa memberikanmu janji itu! itu terlalu berat untukku Mentari!!" ucap Darel memohon.
"Baiklah, jika kau tidak ingin aku pergi, maka ceraikan aku saat ini juga dihadapan keluargamu dan keluargaku!" ucap Mentari semakin membuat hati Darel teriris.
"Tidak Tari! jangan seperti ini! aku mohonnn!"
"Kau sudah kelewatan Darel, dan jika kau lupa maka akan aku ingatkan lagi kalau aku hanya wanita biasa! aku bukan malaikat yang akan dengan mudah memaafkan kesalahanmu ini. Aku wanita biasa, dimana hatiku bisa terluka, aku bisa menangis, aku bisa terluka. Aku wanita biasa dan bukan mainanmu yang bisa dengan mudah kau buang saat tidak butuh! aku tahu bicaraku terdengar sedikit kasar tapi itulah faktanya! kau terlalu menyakitiku Darel!" ucap Mentari mengeluarkan semua unek-uneknya yang tertahan.
"Tidak Mentari, jangan katakan itu! aku tidak mau berpisah denganmu!" ucap Darel mulai mendekati Mentari.
Baru saja Darel melangkah satu kali, Mentari langsung mundur tiga langkah kebelakang membuat Darel terdiam dengan keadaan ini. Tuan dan nyonya Ardi juga orang tua Daniar tidak bisa melakukan apapun.
"Biarkan aku pergi jika kau tidak ingin aku berpisah!" ucap Mentari tersenyum getir menambah luka dihati Darel.
"Kenapa?" tanya Darel sendu.
"Hanya ini jalan yang terbaik untuk menyembuhkan lukaku karenamu! jika aku tetap disini, luka itu akan semakin membesar setiap detiknya mengingat ketidakjujuran mu padaku! kau sudah menodai sumpah pernikahan kita untuk saling terbuka satu sama lain, Darel!" ucap Mentari berusaha menyembunyikan air matanya yang ingin jatuh.
"Maaf!!! maafkan akuu!!! aku janji tidak akan mengulanginya!"
"Mau sampai kapan? dulu kau melakukannya, sekarang pun juga kau melakukannya! ada jaminan apa aku harus mempercayaimu jika kau tidak akan melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya?!!" tanya Mentari yang tanpa sengaja meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Haaahhh, baiklahh! aku tepati janjiku! pergilah Tari! jika itu bisa membuatmu melupakan kesakitan yang sudah ku goreskan dihatimu! maafkan aku untuk yang kesekian kalinya! aku berjanji tepat dua tahun sesuai janjiku aku akan menemukanmu!" ucap Darel membalikkan posisinya membelakangi Mentari karena tidak ingin Mentari melihat rapuhnya dia saat ini.
Yah, Darel menangis saat mengucapkan kalimatnya sendiri. Itu sama seperti dia dengan sengaja menelan racun. Sakit, namun ini yang harus dia terima.
"Ma, pa, kami permisi dulu!" ucap Mentari setelah beberapa saat tertegun mendengar ucapan Darel.
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang! ini untuk simpanan kamu!" ucap nyonya Ardi memberikan black card kepada Mentari.
"Maaf ma, tapi..." terpotong.
"Anggap saja ini untuk biaya hidupmu nanti! siapa tahu kau butuh ini!" ucap nyonya Ardi.
Mentari tidak bisa menahan air matanya. Mertuanya ini sungguh sangat baik. Mentari memeluk mama mertuanya dengan sangat erat. Katakanlah sebagai salam perpisahan mereka.
"Terimakasih ma!" ucap Mentari.
"Baiklah besan, kami pulang dulu!" ucap papa Daniar.
Tuan Ardi menjawab dengan anggukan kecil. Mereka pun pulang dari rumah Darel.
"Kau lihat apa yang sudah kau lakukan Darel! papa tidak bisa mencegahnya sekarang, dan membawanya kembali ke keluarga ini adalah tanggungjawab mu nanti! sekarang, nikmatilah kesengsaraan tanpanya disisimu!" ucap Tuan Ardi tenang namun terdengar menyakitkan untuk Darel.
Tuan Ardi meninggalkan ruangan itu dengan sangat kesal. Nyonya Ardi langsung mendekat ke arah Darel untuk menenangkan putranya. Memang salah sikap Darel itu, namun sebagai ibu dia juga harus bersikap adil. Dia membela Mentari, namun juga tidak menyudutkan Darel, itu yang berusaha dia lakukan.
"Jangan dengarkan papamu, itu! dia hanya sedang kesal saja! mungkin karena mengingat janjinya pada mendiang sahabatnya untuk selalu menjaga putri semata wayang mereka sehingga papamu memilih menikahkan putrinya dengan mu. Papa mu berharap banyak dari mu untuk bisa menepati janji itu, Darel!" ucap nyonya Ardi menenangkan.
"Kamu tuh bo*oh banget kalau milih Pretty lagi Darel. Kamu tahu kan kebusukan Pretty yang cuma mau manfaatin kekayaan kamu aja! mikir pake otak kamu yang jenius itu. Kakak nggak terima ya kalau kamu giniiin Mentari. Kakak sebagai perempuan yang juga udah menikah nggak bakal ridho kalau suami kakak ngelakuin apa yang kamu lakuin sekarang. Kecewa banget deh kakak sama kamu, Rel!" ucap Randita meluapkan emosinya kepada sang adik kemudian berlalu pergi menyusul anak dan suaminya.
"Duh kak, lain kali kalau mau bertindak tuh dipikir dulu. Ini udah kejadian baru nyesel. Sekarang kakak nyesel sampai nangis darah pun nggak bakal bisa balikin keadaan. Sebaiknya kakak kalau mau kasih pelajaran ke wanita ular tuh yang rada-rada ekstrim gitu, kayak pas lagi menghukum musuh kakak! soalnya ular kalau dipelihara bukan malah jinak tapi malah bisa menggigit dikemudian hari!" ucap Juna menasehati.
Darel menatap tajam ke arah sang adik. Meski omongan Juna itu benar adanya. Yah, mau dia menangis darah sampai mati pun Mentari tidak akan merubah keputusannya untuk tidak pergi.
"Oke...oke...aku pergi!" ucap Juna ikut pergi meninggalkan Darel sendirian.
********
Dirumah sakit. Suli mulai siuman. Luka di perutnya juga sudah mendapat penanganan secara medis.
"Dimana tuan Rohan?" tanya Suli kepada Angel.
Suli yang baru saja bangun langsung menanyakan keberadaan Rohan. Angel bingung harus mengatakan apa. Dia juga tidak tahu kemana Rohan dan yang lain tadi pergi.
"Dia masih ada urusan! nanti juga kesini!" ucap Bagas yang sudah menyelesaikan tugasnya.
"Ohh!" ucap Suli.
__ADS_1
Wajahnya berubah sedih. Entah apa yang dipikirkan gadis itu sekarang.
"Sini biar aku periksa dulu luka mu!" ucap Angel.
Suli mengangguk pelan, membiarkan Angel melakukan tugasnya.
"Duh melihat kamu yang ada disini seperti dejavu buatku. Dulu, Mentari juga pernah dirawat disini dengan luka yang sama akibat tusukan. Bedanya kalau Mentari dulu tertusuk karena menolong tuan Darel dari copet kalau kamu melawan penculik. Hampir mirip sih, hehehe!" ucap Angel sembari tertawa.
"Nona Mentari itu yang...."
"Iya, istrinya Darel." ucap Bagas yang sepertinya memahami apa yang akan dikatakan Suli.
"Oh ya, Bagas bilang kamu ini sniper ya? wahhh hebat dong! Kamu pasti keren banget kalau lagi beraksi! terus kenapa tadi nggak kamu tembak aja penculiknya?" tanya Angel penasaran.
"Aku lupa nggak bawa pistol. Lagian aku juga nggak kepikiran kalau kayak gini jadinya." ucap Suli.
"Sudah Angel, ayo kita tinggal dulu biar dia bisa istirahat!" ucap Bagas.
"Ya sudah aku tinggal dulu ya!" ucap Angel tersenyum kepada Suli.
"Iya!" jawab Suli singkat.
Bagas dan Angel meninggalkan ruangan Suli kemudian memasuki ruangan Bagas.
"Duhh kangennyaaa, pengen pelukkkk!" ucap Bagas manja.
"Hihihiii, kamu tuh kayak anak kecil tau nggak sih, Gas kalau lagi berdua gini!" ucap Angel terkekeh geli melihat tingkah kekasihnya.
"Biarin aja, orang aku manjanya sama pacar sendiri kok!" ucap Bagas mulai menempel-nempelkan wajahnya ke lengan kiri Angel.
Karena Bagas lebih tinggi dari pada Angel, Bagas harus sedikit menekuk lututnya untuk bisa melakukan aksi menggemaskannnya itu.
"Udah, Gas! nanti ada yang lihat!" ucap Angel.
"Biarin aja! lagian siapa juga yang berani masuk ke ruangan ini..." ucap Bagas masih dalam posisi yang sama.
Brakkk......
Pintu dibuka dengan tiba-tiba membuat Bagas dan Angel terkejut. Sontak saja Bagas memberi jarak dari Angel sambil menatap tajam ke arah pintu.
"Cih, kalian ini kurang kerjaan atau gimana sih?! nggak bisa apa ketuk pintu dulu! ngganggu orang lagi pacaran aja!" omel Bagas membuat Angel tertawa terbahak-bahak.
"Yeee, siapa suruh dirumah sakit malah pacaran." ucap Jack.
Bagas mendengus mendengar ucapan Jack.
__ADS_1
"Betul tuh, kita capek-capek nyari tuh anak yang di foto Suli ehhh lo malah asik berdua-duaan disini!" imbuh Tomi.
"Huuuu sirik aja anakonda!" ucap Bagas bercanda.