
Selesai memakan salad buah dan ayam panggang, seharian itu dihabiskan Mentari dan Darel berada di dalam kamar. Meski masih sedikit ada rasa nyeri namun tidak membuat Darel melepaskan Mentari begitu saja setelah pagi tadi berhasil mengobarkan gairah dirinya yang terpaksa harus dia tahan. Untung saja Darel sudah menyelesaikan tugas-tugas pentingnya untuk dua atau tiga hari kedepan di kantor sehingga tugas-tugas ringan bisa diatasi sendiri oleh Wisnu.
********
Esok paginya, Darel dan Mentari sudah berada di sebuah tempat di bawah rumah Darel. Letaknya berada tepat di bawah rumah ini, atau tepatnya di ruang bawah tanah. Untuk memasuki ruangan itu dapat melalui pintu rahasia di ruang kerja Darel. Untung mencapai ke sana perlu menuruni cukup banyak anak tangga.
"Ini, ruangan apa sayang?" tanya Mentari.
Senyap. Itulah yang dirasakan Mentari.
"Ini tempat latihan menembak mu, sayang! ruangan ini kedap suara sehingga tidak akan ada yang dengar suara tembakan mu!" jelas Darel.
"Oh, lalu aku harus apa ini?" tanya Mentari bersemangat.
"Ini! arahkan pistolmu tepat ke sasaran itu! fokus! kunci targetmu lalu tembak dengan penuh keyakinan!" ucap Darel menjelaskan dengan singkat agar mudah dipahami Mentari.
Mentari mulai mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke sasaran dihadapnnya.
"Hu....uhhhh....." Mentari menghembuskan nafasnya kasar.
Dor......
Semua orang tercengang dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Sayang?!" Darel menatap bingung ke arah Mentari.
"Kamu sudah pernah belajar menembak sebelum ini?" tanya Darel penuh selidik.
Pasalnya tidak akan mungkin orang yang baru saja belajar menembak bisa langsung tepat mengenai sasaran apalagi jarak Mentari dengan sasaran itu juga cukup jauh untuk seorang pemula kecuali dia pernah belajar menembak baik langsung maupun hanya melihat saja, atau memang keturunan. Tapi tidak mungkin kalau untuk faktor keturunan bukan? pikir Darel.
"Tidak! kenapa?" tanya Mentari langsung menurunkan pistolnya.
"Kau tepat mengenai sasaran mu dengan jarak lima ratus meter?! tidak mungkin ini pertama kalinya kau menembak kan?"
"Tidak! ini memang pertama kalinya aku belajar menembak! memang kenapa sih? bukannya bagus ya kalau aku bisa cepat menguasainya?" tanya Mentari.
"Iya juga sih! oke, kita coba lagi dengan jarak yang lebih jauh!" ucap Darel.
Mentari mengambil ancang-ancang untuk kembali menembak. Fokus! mengunci targetnya! dan....
Dor.....dor....dor....
Bukan hanya satu sasaran yang berhasil Mentari tembak namun tiga sasaran sekaligus. Hal itu membuat Darel dan yang lain berpikir siapa sebenarnya Mentari. Siapa Mentari? menjadi tanda tanya besar untuk Darel saat ini karena yang dia tahu Mentari hanyalah anak dari sahabat ayahnya itu saja.
__ADS_1
Selama ini Darel tidak berusaha mencari latar belakang Mentari karena dia rasa itu tidak penting. Tapi sepertinya sekarang ini penting untuknya mengetahui asal-usul dan siapa sebenarnya istrinya ini.
"Kita coba benda bergerak!" perintah Darel kepada anak buahnya.
Adi, Harri dan Lukas sudah memegang beberapa sasaran berbentuk bulat. Mereka mengambil posisi sejajar dengan posisi yang cukup jauh dari Mentari. Mereka bersiap untuk melemparkan sasaran itu ke atas yang kemudian akan ditembak oleh Mentari sebelum mencapai tanah.
"Kalian siap?" tanya Darel kepada ketiga anak buahnya.
"Siap tuan!" jawab mereka serempak.
"Sayang kau siap?!" tanya Darel kepada Mentari.
"Sudah!" jawab Mentari mantap.
"Oke, dalam hitungan ketiga kalian lempar sasaran itu! satu....dua......tiga...lemparr!!!!" ucap Darel memberi aba-aba.
Dor....dor....dor....dor....dor....dor....dor....dor....
brak....brak....brak....brak....brak....brak....brak...brak....
Mentari menembak ke delapan sasaran itu dengan sangat tepat. Sungguh sangat membingungkan bagi Darel dan yang lain. Jika hal itu dikuasai Mentari setelah beberapa hari latihan itu mungkin saja terjadi, tapi ini?! baru juga beberapa menit berlatih sudah semahir ini, terlalu mustahil jika dipikirkan. Lukas saja harus berlatih berminggu-minggu dulu untuk bisa menembak seperti itu.
"Sayang...... kau hebattt!!!! hahahahaa, kau sepertinya lebih mahir salah hal menembak daripada bela diri!" puji Darel.
"Benarkah?" tanya Mentari malu.
"Kalau begitu aku boleh dong pergi sendir!" tanya Mentari antusias.
"Boleh saja! kalau kau mau aku kurung seminggu didalam kamar!" ucap Darel dengan tatapan mengintimidasi ke arah Mentari.
"Tadi katanya boleh!" gumam Mentari.
"Oh ya kamu nggak ke kantor lagi hari ini?" tanya Mentari yang memang belum tahu kalau Darel libur dua hari.
"Tidak! aku cuti dua hari. Besok baru ke kantor pagi!" jawab Darel.
"Oh ya sayang kita diundang ke acara Jo!" ucap Darel memberitahu.
"Acara Jo? dalam hal apa?" tanya Mentari.
"Untuk menyambut kepulangan Shiren di keluarganya!" ucap Darel.
"Ohh, jam berapa?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Emmm, jam tujuh malam nanti!" jawab Darel setelah melihat ke arah jam di tangannya.
"Oke, kita bersiap juga yaa!" ucap Mentari.
"Adi, kau sudah menyiapkan pakaian kami bukan?" tanya Darel pada Adi.
"Sudah tuan! sesuai perintah anda!" jawab Adi.
"Hem bagus! oh ya Harri, kau bisa bawa gadis itu....emmm....siapa namanya?!" tanya Darel kepada Harri.
"Laila tuan?!!" tanya Harri.
"Ah iya! siapapun dia! kau boleh mengajaknya sekalian!" ucap Darel masa bodo.
"Laila, karyawan ku, Harri?" tanya Mentari.
"Hehehe iya nona!" jawab Harri malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sedekat apa hubungan kalian? kenapa aku tidak tahu?" tanya Mentari yang memang belum mengetahui hubungan Harri dengan karyawannya itu.
"Kami sudah berpacaran nona! sudah dua minggu ini!" jawab Harri.
"Kenapa Laila tidak bilang padaku? ah biarlah, selamat ya atas hubungan kalian! Harri, jaga karyawan ku itu baik-baik! awas saja kalau dia sampai kenapa-kenapa apalagi sampai sakit hati denganmu!!!" ucap Mentari memperingati Harri.
"Tentu saja nona!" jawab Harri.
"Tuh lihat, Harri saja sudah punya pasangan, kalian kapan?!" sindir Darel kepada Lukas dan Adi.
Mereka berdua langsung memasang muka masam. Kata pasangan itu bagi mereka seperti mimpi buruk yang setiap kali diucapkan atau di dengar akan merubah mood mereka. Bukan tidak laku, hanya saja bukan itu yang terpenting sekarang.
"Sudahlah ayo kita bersiap! mungkin masih bisa melakukan beberapa ronde sebelum berangkat!" ucap Darel melingkarkan tangannya di pinggang ramping Mentari membuat tubuh Mentari merapat ke tubuh Darel.
"Dasar tuan muda mesum!" gumam Harri, Adi, dan Lukas jengah.
"Makanya kalian secepatnya menikah biar bisa merasakan indahnya bercinta, hahaha!" goda Darel sambil menaiki tangga bersama Mentari.
"Ihh, kamu nih jail banget sih!! apa kamu nggak berniat mencarikan mereka berdua yang masih jomblo itu?" tanya Mentari.
"Biarlah mereka mencari sendiri pasangannya! aku yakin mereka akan segera mendapatkan pasangan mereka masingmasing! lagian saat ini harusnya kamu tidak usah memikirkan hal itu. Itu bukan urusan kamu. Yang harusnya kamu pikirkan itu bagaimana caranya bisa memuaskan suamimu ini!" goda Darel.
"Ihh, dasar! mesumnya nggak pernah ilang!" omel Mentari.
"Kalau aku nggak mesum sama kamu, masa aku harus mesum sama wanita lain!" ucap Darel sambil terkekeh gemas.
__ADS_1
"Tauk lah!" ucap Mentari yang kini berjalan mendahului Darel.
"Eh, sayang, bukan gitu!!! jangan ngambek dongg!!!" ucap Darel yang berlari menyusul sang istri yang tengah merajuk.