Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 305


__ADS_3

Darel baru saja ingin pulang. Pekerjaannya hari ini tidak terlalu padat namun sangat melelahkan. Dia ingin segera kembali dan berpelukan sangat lamaa dengan istrinya.


Dert.....dert....dert....


Ponsel Darel yang berada di atas meja berdering. Dilihatnya siapa peneleponnya. Darel mengernyitkan keningnya saat mengetahui siapa penelepon itu.


"Mama? ngapain mama telpon aku?" tanya Darel.


Diangkatnya panggilan itu lalu diletakkan di telinganya.


"Hallo, iya ma ada apa?" tanya Darel.


"Hiks...hiks...hiks... Darelll!!! papa mu, Rel!" Isak tangis nyonya Ardi dari sebrang telepon.


"Papa?! papa kenapa ma?" tanya Darel mulai khawatir.


"Papamu meninggal Darel!!!!" ucap nyonya Ardi.


"Apaa?! bagaimana bisa? apa yang terjadi?" tanya Darel tidak bisa menerima keadaan.


"Darel, ini kakak! sebaiknya kamu kesini. Semua keluarga juga teman-teman papa sudah berkumpul dirumah!" ucap Rangga yang mewakilkan mama mertuanya berbicara.


Rangga memang sengaja cuti selama satu minggu dan baru dua hari ini kembali ke Indonesia. Dia dan Randita istrinya telah terpisah sangat lama karena posisinya yang tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Sedangkan Juna masih dalam perjalanan setelah mendapatkan kabar kematian papanya.


"Aku...aku kesana sekarang!" ucap Darel terbata.


Darel mematikan panggilan lalu menelepon istrinya.


"Hallo?! aku sudah dalam perjalanan menuju rumah papa bersama Iwang, Zanu dan Daniar! kita bertemu disana yaa!" ucap Mentari langsung pada intinya.


"Oke! suruh Zanu hati-hati bawa mobilnya! dia bawa berlianku soalnya!" ucap Darel.


"Tenang saja, Dwi! berlianku dan nyawaku juga ada di mobil ini. Jadi aku akan berhati-hati!" sahut Zanu.


"Oke! makasih!"

__ADS_1


Darel bergegas keluar dari ruangannya lalu turun menuju parkiran. Adi dan Harri sudah bersiap untuk meninggalkan perusahaan. Sepertinya mereka juga sudah tahu.


"Cepat!" ucap Darel yang berlari memasuki mobil.


********


Darel baru saja sampai dirumah mama dan papanya, terlihat olehnya bendera kuning terpasang di depan rumah mewah itu. Bukan hanya itu, banyak kendaraan yang memenuhi area parkir khusus tamu. Dengan langkah gontai Darel mulai menaiki anak tangga ke rumahnya. Satu persatu otaknya berputar di masa dia kecil hingga dewasa. Darel sekuat tenaga mencoba menahan air mata yang hampir terjatuh, namun begitu melihat jenazah papanya, pertahanan Darel runtuh.


"PAPAAAA!!!!" teriak Darel berlari kearah jenazah papanya.


Di sekeliling papanya sudah ada istri, mama, dan kakaknya. Mereka sama-sama menangisi papanya. Bahkan mamanya terlihat sangat pucat dan lemah, mungkin akibat terlalu banyak menangis.


"Kenapa, pa?! kenapa papa pergi secepat ini?! Darel memang kecewa sama papa, tapi bukan berarti Darel ingin papa pergi selamanya dari hidup Darel!!!" ucap Darel terisak.


Mungkin karena masih dalam suasana berkabung hingga mereka tidak menyimak apa yang Darel katakan. Mentari yang melihat suaminya itu tengah dalam titik terpuruk mendekati suaminya, menariknya dalam pelukannya yang hangat. Darel meraung di dalam pelukan Mentari. Mentari masih belum bisa melupakan pengakuan papa mertuanya waktu itu, namun bukan berarti dia membencinya. Dia hanya butuh waktu untuk menata kembali hatinya yang terlampau kecewa oleh kebenaran dimasa lalunya agar dia bisa kembali bertemu dengan papa mertuanya dengan hati yang telah pulih.


Tadi, papa mertuanya sempat mengunjunginya di rumah Darel, namun tertahan oleh penjaga di depan sehingga papanya tidak sempat bertemu dengannya. Mentari mengetahui kedatangan papanya dari mbok Tini.


Mbok Tini bilang bahwa papanya meminta untuk bertemu, namun penjaga tidak mengijinkannya. Perintah dari Darel mutlak mengatakan bahwa papa atau mamanya jangan diperbolehkan untuk masuk menemui Mentari dengan alasan apapun dan mereka mematuhinya.


Mentari memeluk Darel dengan erat. Tubuh mungilnya ikut terguncang oleh isak tangis Darel. Semuanya ikut menangis kala melihat hal itu. Pasalnya, Darel yang mereka kenal adalah pria yang jarang bahkan tidak pernah menunjukkan air matanya dihadapan banyak orang seperti sekarang. Namun yang berada dihadapan mereka saat ini seolah bukan Darel yang mereka kenal. Memang kepergian orang yang kita sayang, terlebih orang tua adalah hal yang paling menyakitkan di dunia.


"Pa....paaa...."


"Iyaa! aku tahu ini sulit. Tapi ikhlaskan papa yaa, kita doakan papa agar ditempatkan di tempat terindah disisi-Nya!" ucap Mentari.


"Ma, bagaimana papa bisa meninggal?" tanya Darel kepada mamanya.


"Mama....mama nggak....nggak tau Darel!!" ucap nyonya Ardi terbata.


Dibelakang nyonya Ardi ada salah satu temannya yang menopang tubuh lemah nyonya Ardi.


"Tadi...papamu bilang mau pergi sebentar. Tau-tau mama dapat kabar kalau papamu meninggal karena kecelakaan!!" ucap nyonya Ardi menangis histeris.


"Kenapa papa meninggalkan mama, paaa?!!!! mama nggak bisa hidup tanpa papaa!!! bawa mama, paaa!!" ucap nyonya Ardi merangkul jenazah suaminya.

__ADS_1


Tubuh tuan Ardi ada banyak luka-luka belas darah yang mengering. Bagian wajahnya hampir saja tidak bisa dikenali saking parahnya kecelakaan itu.


"Maa, sabar maa!! mama jangan begini, masih ada aku, Darel sama Juna yang butuh mama!" ucap Randita memeluk mamanya.


"Papamu tega sama mama, Ran! mama ditinggal sendirian! papamu tahu kalau mama takut sendirian, tapi papamu masih meninggalkan mama!!" ucap nyonya Ardi menangis dipelukan anak pertamanya.


"Mama nggak sendirian! ada aku, kak Randita, Darel, kak Rangga, Juna, dan masih banyak lagi orang yang sayang dan butuh mama, ma! mama jangan ngomong begitu. Itu membuat hati kami semua yang menyayangi mama hancur, ma!" ucap Mentari.


Mentari ikut memeluk mama mertuanya.


********


Jumat terbang dari negara Jepang dengan menggunakan jet pribadi milik keluarga Sanjaya. Perasaannya kalut kala mendengar kabar buruk mengenai papanya. Tanpa pikir panjang, Juna langsung meninggalkan tugas-tugasnya dan menyuruh asistennya untuk menghandle tugasnya selama dia pergi.


Juna tidak menyangka bahwa umur papanya sependek itu. Baru beberapa hari yang lalu papanya meneleponnya dan bercengkrama dengannya, lalu hari ini dia mendapat kabar papa nya meninggal akibat kecelakaan.


Begitu sampai di bandara, Juna langsung di dijemput dengan mobil sportnya yang sudah dia minta pada kakaknya. Tadi Juna sempat mengirim pesan pada Rangga bahwa dia akan sampai di bandara dan Rangga menyuruh orang untuk mengantarkan mobil sport miliknya kesana.


Tidak main-main, Juna mengendarai mobil itu dengan kecepatan penuh. Tak perduli banyak mobil yang mengklakson nya, Juna tidak perduli. Kini dipikirannya hanya satu, cepat sampai dirumah dan melihat papanya untuk yang terakhir kali.


Juna sampai dirumahnya. Mobil sport itu dia parkir dengan asal dan berlari menuju rumah.


"Papaaaaaa!!!" teriak Juna saat melihat papanya terbaring dengan dikelilingi keluarganya yang menangis.


"Juna! nakk!!" nyonya Ardi merentangkan tangannya.


Juna mendekati mamanya lalu memeluknya. Ditumpahkannya air mata yang sedari tadi dia bendung di ceruk leher sang mama.


"Ma, papaa! papa, maa! baru....baru kemarin rasanya Juna ngobrol dengan papa, sekarang papa udah nggak adaa!" adu Juna.


"Pa..." menoleh ke arah jenazah papanya.


"Papa tega sama Juna, pa? Juna bahkan belum menikah, pa! papa nggak pengen lihat Juna menikah? kak Dita, kak Darel sudah menikah, papa nggak mau yaa lihat Juna bersanding bahagia dengan wanita pilihan Juna? papa kok pilih kasih sih sama Juna, pa?" ucap Juna dengan berlinang air mata.


"Bahkan kak Darel mau punya anak loh pa! papa menantikan cucu papa dari rahim kak Tari kan? ayo bangun paa! lihat kelahiran cucu papa! lihat pernikahan Juna nantinya pa! papa mau Juna cepat menikah kan kemarin! oke Juna turutin, tapi papa bangun duluu!" oceh Juna.

__ADS_1


__ADS_2