
Arul hendak pergi dari markas Tomi ketika sebuah pesan masuk melalui aplikasi hijaunya.
Sayang kalau pulang tolong sekalian belikan aku buah delima ya? aku pengen banget makan buah delima!
Isi pesan yang dibaca Arul.
"Buah delima ya?" berpikir.
Zanu dan Darel yang baru saja melewati Arul terhenti dan menghampiri Arul.
"Ada apa?" tanya Zanu.
"Istriku ngidam makan delima! tapi aku tidak tahu dimana membelinya!" ucap Arul.
"Kenapa tidak coba di supermarket saja? pasti ada!" jawab Darel.
"Kalau di supermarket biasanya lebih mahal sih, tapi sebenarnya itu tidak masalah untukmu. Ah Ten, kemari!" panggil Zanu kepada salah satu anak buahnya.
"Ya tuan?" tanya anak buah Zanu.
"Bukankah kau pernah mengatakan kalau pamanmu memiliki kebun buah delima sendiri?" tanya Zanu.
"Ee iya tuan, memangnya ada apa ya tuan? kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" bingung anak buah Zanu sembari melirik Darel dan Arul bergantian.
"Bisakah kau antarkan sahabatku ini kesana? istrinya sedang ngidam." ucap Zanu.
"Ahh, tentu saja tuan! tapi buah delima milik paman saya itu buah lokal tuan, apa tidak apa-apa?" tanya anak buah Zanu.
"Tentu, asalkan rasanya enak tidak masalah buatku!" ucap Arul menyakinkan.
"Tentu tuan! rasanya sangat enak dan manis. Oh ya mari tuan saya antar kesana, mungkin sekitar satu jam kita sampai di kebun paman!" ucap anak buah Zanu.
"Tunggu, aku mau ikut bersama kalian! aku juga ingin membelikan untuk Mentari dirumah!" ucap Darel.
"Wahh, sepertinya kalian ingin bersenang-senang tanpa kami yaa!" ucap Tomi dan Rohan yang ada disana entah sejak kapan.
"Ya sudah kalau mau ikut ya ayo!" ajak Darel.
"Cih, baiklah-baiklah! Rohan kau juga ikut ya?" tanya Tomi.
"Maaf aku tidak bisa! masih ada pengadilan ibu tiri Wanda yang sedang menantiku!" ucap Rohan menolak ajakan Tomi.
"Yah tidak asik sekali!" ucap Tomi.
"Ya sudahlah itukan tugas dia, ayo kita berangkat sebelum bumil Arul nanti marah-marah!" ucap Zanu.
Mereka pun berpisah dari sana. Rohan kembali ke kantor polisi untuk mengajukan kasus ibu tiri Wanda ke pengadilan, sedangkan Arul, Zanu, Darel, dan Tomi juga salah satu anak buah Zanu pergi mencari buah delima untuk Anisa.
__ADS_1
Benar perkataan anak buah Zanu, setelah menempuh satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai di desa anak buah Zanu. Mereka pun menuju ladang milik paman bawahan Zanu.
"Ini dia ladang delimanya tuan! tuh buahnya besar-besaran tidak kalah dengan yang dijual di supermarket!" promosi bawahan Zanu.
"Eh itu paman!" ucapnya menunjuk seorang lelaki yang tengah memetik delima.
"Pamannn!!!" teriaknya sembari melambaikan tangan.
"Eh, Tedjo, kenapa bisa disini? bukannya kamu bekerja sebagai pengawal orang kaya?" tanya paman Tedjo.
"Tedjo? nama aslimu Tedjo?" tanya Zanu yang baru tahu nama asli anak buahnya.
"Hehehe benar tuan! nama asli saya Tedjo Sumadyo, tapi sama rekan-rekan dipanggil Ten biar rada gaul gitu tuan!" ucap Ten cengengesan.
"Eh, kau bersama siapa ini Ted?" tanya pamannya.
"Ini bosku lo paman!" ucap Ten sembari menunjuk kearah Zanu.
"Kalau ini sahabatnya!" menunjuk ke arah Darel, Tomi, dan Arul.
"Mereka mau beli delima dari ladang paman ini!" jelas Ten.
"Ohh jadi ini bosmu, Ted! saya pamannya Tedjo, tuan!" mengelap tangannya ke bajunya sendiri lalu mengulurkan tangan.
Zanu menjabat tangan paman Ten diikuti yang lain.
"Tidak perlu sungkan-sungkan, kami hanya mau menuruti bumil saja. Oh ya apa panenan kalian banyak?" tanya Zanu.
"Bagaimana cara membelinya?" tanya Arul yang memang tidak tahu.
"tuan-tuan mau berapa buah?" tanya paman Ten.
"Ada berapa peti total semuanya?" tanya Arul.
"Ee, kira-kira ada 40an peti tuan, itu yang sudah siap panen sekarang!" jawab paman Ten agak loading.
"Baiklah aku beli 15 peti ya!" ucap Arul.
"Aku 5 peti saja!" ucap Tomi.
"Aku mau beli 5 peti juga!" ucap Zanu.
"Hah, seriusan tuan? itu banyak sekali loh?" tanya paman Ten tidak percaya.
"Tentu saja, jika kami sudah mengatakannya maka itu adalah benar. Oh ya dan sisanya aku borong semua!" ucap Darel membuat paman Ten juga Ten membulatkan mata tidak percaya.
"S... sungguh tuan? Tedjo, apa paman bermimpi? paman tidak mimpi kan ini?" menatap keponakannya tidak percaya.
__ADS_1
"Tuan apa tidak kebanyakan?" tanya Ren.
"Tidak! sudah siapkan saja semuanya! oh ya Ten, apa disini ada mobil pengangkut barang?" tanya Zanu.
"Maksud tuan, pick up?"
"Nah ya itu!" ucap Zanu.
Zanu memang tidak mengerti nama mobil itu. Dia hanya tahu mobil itu untuk mengangkut barang dagangan dan hasil bumi, makanya Zanu menyebutnya mobil pengangkut barang.
"Oh ada tuan! disekitar sini ada yang punya pick up dan bisa disewa juga!" jelas Ten.
"Ada berapa mobil?" tanya Zanu.
"Ada empat mobil, tuan! biasanya kami menyewanya untuk membantu kami mengirim hasil tani ke pasar untuk dijual!" ucap paman Ten.
"Baiklah suruh mereka untuk mengantar pesanan kami ya!" ucap Zanu.
"Baik...baik tuan! biar paman saja yang memanggil pak Yoto!" ucap paman Ten lalu meninggalkan tempat itu.
Sembari menunggu kedatangan pick up dan mengangkut pesanan mereka ke mobil pick up, Darel dan yang lain di suruh menunggu di gubuk milik paman Ten. Mereka juga disediakan teh manis juga gorengan sebagai pelengkap teh manis.
Menjelang petang, semua pesanan para tuan muda itu sudah selesai diangkut. Mereka pun membayar dengan uang tunai yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Mereka sengaja menyiapkan uang tunai sebagai pembayarannya karena paman Ten termasuk orang yang gaptek. Dia memang menyimpan uangnya didalam bank, namun untuk transaksi jual beli dia hanya bisa menggunakan uang tunai saja.
"Ini uang dari saya, pak!" ucap Zanu sembari memberikan amplop coklat berisi uang tiga puluh juta rupiah.
"Ini dari saya!" ucap Zanu dan Tomi yang masing-masing menyodorkan amplop berisi lima belas juta rupiah.
"Dan ini uang dari saya!" ucap Darel sembari menyodorkan uang sebesar delapan puluh juta rupiah.
"Ya Alloh! tuan, ini beneran uang semua?!" terkejut dan syok.
Paman Ten terkejut ketika membuka isi amplop masing tuan muda ini yang berisi banyak uang. Bahkan saking syoknya, tanggannya sampai gemetaran karena tidak pernah melihat uang sebanyak ini. Bahkan jika ditotal semua uang yang ada di rekeningnya saja tidak sampai seperempat dari ini.
"Tuan ini terlalu banyak! harganya tidak semahal ini!" memandang tidak percaya kepada para tuan muda.
"Tenang saja pak, itu rezeki anda! jangan lupa berbagi ya!" ucap Zanu tersenyum.
"Alhamdulillah ya Alloh! terimakasih tuan, terimakasih!" ucap paman Ten terharu hingga menangis bahagia.
Paman Ten hendak bersujud dikaki Darel dan sahabatnya namun dihalangi oleh Arul.
"Ehh, jangan pak! jangan seperti itu! kami juga berterimakasih karena bapak sudah memudahkan saya memenuhi ngidamnya istri tercinta saya!" ucap Arul.
"Sekali lagi terimakasih, tuan!" mengelap air matanya dengan bajunya.
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu!" ucap Arul.
__ADS_1
"Silahkan tuan, terimakasih atas kebaikan tuan-tuan semoga kebaikan tuan dibalas oleh Alloh SWT!" doa paman Ten sambil tersenyum bahagia.
Darel, Tomi, Arul, dan Zanu pulang dengan mobil mereka beserta mobil pick up yang membawa pesanan mereka. Darel kejauhan paman Ten tampak terus melebarkan senyum bersyukurnya. Sungguh hari ini tidak pernah terlintas dipikiran paman Ten mendapat rezeki sedemikian melimpah.