Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 23


__ADS_3

Juna melirik ke arah jam yang melingkar ditangannya, sudah lebih dari lima belas menit berlalu kala dia meminta Kaj untuk memanggil Hyuna. Tapi sampai sekarang baik Hyuna maupun Kaj tidak terlihat batang hidungnya.


"Ayo cepattt!!!" teriak Hyuna dari dalam rumah.


Juna menoleh ke sumber suara. Matanya membelalak melihat pemandangan ini. Kaj. Pria yang dia kenal anti wanita meskipun banyak gosip mengenai dia dan beberapa wanita tapi nyatanya Kaj memang sedingin itu terhadap wanita. Dan apa ini?! dia terlihat diam saja saat Hyuna menggenggam tangannya menariknya?! sungguh pemandangan aneh bagi Juna.


"Ayo bang!!!" ucap Hyuna saat sudah berada dihadapan Juna yang masih melotot tidak percaya.


"Abang!!!" panggil Hyuna lagi karena Juna tidak bergeming.


"Kalian...." tunjuk Juna pada tangan Hyuna dan Kaj yang saling menggenggam.


Hyuna mengikuti arah telunjuk Juna.


"Ah, maaf!!" ucap Hyuna yang sontak langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kaj.


Kaj diam saja. Entah mengapa debaran di dadanya tidak sekencang tadi saat Hyuna melepaskan genggamannya.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja!" ucap Hyuna minta maaf.


Hyuna bodoh!!! bisa-bisanya kamu berbuat begitu, apa yang akan dia pikirkan tentang mu nanti?!!! batin Hyuna merutuki kebodohannya.


"Emm, sudah ayo masuk!" ucap Juna membuang kecanggungan diantara mereka.


Hyuna pun hendak membuka pintu mobil didepan begitu juga dengan Kaj, hingga membuat mereka saling bertubrukan.


Bruk...


"Aduhh!!!" teriak keduanya.


Sedangkan Juna yang sudah berada disamping pintu mobil kemudi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua orang itu.


"Maaf!" ucap keduanya.


Bruk...


Lagi-lagi, Hyuna dan Kaj saling bertubrukan karena sama-sama ingin membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Heh, kalian berdua lama-lama aku tinggal juga yaa! Kaj, kamu duduk didepan! dek, kamu dibelakang!" ucap Juna akhirnya.


Kaj dan Hyuna pun saling diam lalu memasuki mobil sesuai perkataan Juna barusan. Mobil pun melaju menuju ke rumah Daniar. Entah apa yang ingin Daniar katakan, Hyuna juga tidak mengerti. Yang jelas, Daniar tadi meminta Hyuna untuk datang ke rumahnya.


********


Sesampainya di depan rumah Daniar. Hyuna turun dari mobil lalu berjalan menuju ke arah depan tepat Juna. Juna pun menurunkan kaca mobilnya.


"Makasih ya bang udah nganterin Hyuna!" ucap Hyuna.


"Sama-sama adek nya abang! yaudah sana masuk, nanti tante Daniar nungguin kamu!" ucap Juna.

__ADS_1


"Yaudah, bye-bye abangg!" ucap Hyuna.


setelah Hyuna memasuki pekarangan rumah Daniar, Juna pun melakukan mobilnya menuju apartemen Kaj. Hyuna menekan bel pintu sampai beberapa kali baru Daniar membukakan pintu.


"Sayang!!! ya ampun, tante udah nunggu dari tadi loh. Ayo masuk!" ajak Daniar.


"Ayo duduk dulu!" ucap Daniar.


"Oh ya tante, ada hal apa kok tante mau ketemu Hyuna?" tanya Hyuna saat dirinya telah duduk disamping Daniar.


"Sayang, tante tahu mungkin ini permintaan yang sangat tidak masuk akal." ucap Daniar.


"Ada apa tante? apa semuanya baik-baik saja? tidak apa-apa, tante bicara jujur aja sama Hyuna!" ucap Hyuna karena dia melihat keraguan di wajah Daniar.


"Tante cuma mau bilang, tolong cabut tuntutan kamu atas Alvaro." ucap Daniar.


Hyuna menatap Daniar dalam-dalam.


"Tante tau ini terdengar egois, tapi sayang, kakeknya Alvaro jatuh sakit dua hari ini dan dia kritis!" ucap Daniar.


"Kakek kritis? kok bisa tante?" tanya Hyuna khawatir.


Daniar pun mulai menceritakan awal papanya masuk rumah sakit. Dua hari kemarin, papanya pamit ingin ke rumah pak RT yang berada di ujung gang rumah Daniar karena ada acara rapat warga khusus laki-laki. Zanu tidak bisa menghadiri rapat itu maka dari itu papanya yang mewakili. Tapi saat berjalan menuju rumah pak RT, papa Daniar terserempet oleh sebuah mobil berwarna putih.


Tidak ada yang mengetahui kejadian itu, sampai ada tiga orang warga yang juga hendak ke rumah pak RT melihat papa Daniar tergeletak dengan kepala penuh darah. Mereka pun membawa papa Daniar ke rumah sakit dan salah satu dari mereka ke rumah Daniar memberitahukan hal tersebut.


Hyuna tidak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi hati nuraninya ingin membantu, tapi disisi lain dia ingin Alvaro merasakan siksanya dipenjara lebih lama.


"Tante, maafin Hyuna! bukannya Hyuna ingin menolak, tapi beri Hyuna waktu untuk membicarakan ini kepada papi. Tentu papi harus tahu hal ini karena kalau terjadi apa-apa pada Hyuna, papi juga lah yang akan terkena dampaknya!" ucap Hyuna.


"Tante mengerti! tante tidak memaksa kamu jika kamu dan Darel tidak bersedia. Tante memaklumi hal itu." ucap Daniar.


Ada kecanggungan diantara Hyuna dan Daniar setelahnya, lalu untuk mencairkan suasana, Daniar mengajak Hyuna untuk membuat beberapa kue untuk nantinya dibawa pulang oleh Daniar.


"Kamu sudah melihat toko kue milik mami mu?" tanya Daniar disela mengadon adonan kue.


"Belum tante, sudah lama aku nggak kesana! mungkin kapan-kapan kalau aku ada waktu aku akan mampir!" ucap Hyuna.


"Ah, begitu ya!" ucap Daniar.


Toko kue Mentari, saat ini di pimpin oleh Laila dan beberapa orang terpercaya Mentari dahulu. Hyuna tidak tertarik dengan bisnis itu, makanya dia memberikan toko itu untuk dikelola oleh Laila yang juga merupakan orang kepercayaan maminya. Dibawah pimpinan Laila, toko roti Mentari berkembang cukup pesat. Dia telah berhasil mendirikan beberapa cabang baru yang telah tersebar di beberapa kota dan banyak roti varian terbaru. Meski begitu, kualitas dan rasa dari roti itu tetap dipertahankan seperti saat Mentari masih hidup.


********


Iwang kini berada di rumah sakit Bagas. Biasanya Iwang kesini jika dia ada praktek atau saat senggang. Iwang termasuk anak yang cerdas dan cepat sekali menyerap ilmu yang diberikan. Oleh karena itu Iwang menjadi asisten Bagas. Bersama Bagas, Iwang belajar banyak hal yang tidak dia pelajari di kuliahnya. Dia tidak sendiri, melainkan bersama dengan Ana yang juga satu jurusan dengannya.


"Hufttt, capek banget!!!" gumam Iwang saat sampai di kantin rumah sakit.


Hari ini dia baru saja membantu Bagas mengoperasi pasien. Tenaganya telah habis terkuras selama di ruang operasi tadi.

__ADS_1


"Nih!" ucap seorang wanita yang langsung duduk dihadapan Iwang.


Wanita itu memberikan segelas es jeruk tanpa gula, minuman favorit Iwang.


"thanks!" ucap Iwang.


Dengan cepat gelas yang semula terisi penuh es jeruk itu langsung tandas oleh Iwang.


"Ahh, langsung seger rasanya!" ucap Iwang setelah menghabiskan segelas es jeruk.


"Buk, biasa ya!" ucap Ana pada ibu kantin rumah sakit.


Tidak berselang lama, dua porsi soto pun tersaji didepan mereka.


"Silahkan, mas, mbak!" ucap ibu kantin.


"Makasih buk!" ucap Ana.


Iwang tidak banyak bicara saat makan, itu sudah menjadi kebiasaannya dan Ana pun paham akan hal itu.


"Jadi, ngapain aja tadi kamu sama tante Angel?" tanya Iwang setelah menghabiskan semangkuk soto.


"Biasa, ada seorang ibu melahirkan tadi!" jawab Ana dengan mulut penuh nasi.


Ana memang lambat dalam makan. Tidak heran bahkan kadang Iwang diminta untuk membantu menghabiskan makanannya. Tapi Ana juga suka makan, walaupun bentuk tubuhnya tetap segitu-gitu saja.


"Tapi, Wa! gue kasian banget sama tuh ibu-ibu!" ucap Ana.


"Kenapa?" tanya Iwang.


"Bayi dalam kandungan ibu itu terlilit tali pusarnya, tapi ibu dari pihak laki-laki tidak memperbolehkan menantunya untuk dioperasi sedangkan si ibu sudah tidak kuat mengejan!" cerita Ana.


"Terus? jadi dioperasi apa nggak?" tanya Iwang.


Ana menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah menjadi sendu.


"Anaknya meninggal dalam kandungan karena terlambat dikeluarkan sedangkan si ibu tengah kritis sekarang. Andai aja suaminya lebih tegas sama ibunya, mungkin ibu hamil itu dan juga anaknya bisa diselamatkan. Gue jadi takut deh buat nikah!" ucap Ana.


"Kalau pun kamu mau nikah juga siapa yang mau sama kamu! orang kalau tidur suka ngorok!" ucap Iwang.


"Ishhh, Wawang!!! enak aja!!! aku nggak ngorok yaa!" ucap Ana kesal.


"Ya kamu mana tau, kan kamu lagi tidur! yang tahu kan aku!" ucap Iwang spontan.


"Sok tau!!! huuu Wawang sok tauuu!!!" ledek Ana.


"Bukan sok tau, tapi emang tau!" ucap Iwang.


Terjadilah saling ledek antara Iwang dan Ana. Mungkin bagi orang asing, mereka berdua akan terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah melempar candaan. Padahal aslinya mereka hanya sebatas sahabat. Tapi apa benar diantara keduanya tidak timbul sebuah perasaan yang lebih dari sahabat?! apakah benar ada persahabatan antara pria dan wanita yang tanpa melibatkan perasaan?!

__ADS_1


__ADS_2