
Sandra berada di apartemen miliknya di Jakarta. Dia bertekad untuk memisahkan Darel dan juga Mentari. Hanya Pretty yang cocok menjadi menantunya, bukan wanita kampungan seperti Mentari. Pikir Sandra.
"Jadi, kenapa kalian bisa putus?" tanya Sandra sambil menyeruput secangkir teh hangat.
Kebiasaan Sandra jika waktu pagi hari dan senja, maka dia akan menikmati pemandangan sambil ditemani teh hangat dan beberapa kukis kering. Sama seperti sekarang, dia berada di balkon apartemen sambil menikmati senja yang begitu indah bersama seorang wanita.
"Karena aku sudah tidak perawa*." jawab seorang wanita.
"Kenapa?" tanya Sandra.
Sandra sangat terkejut mengingat wanita di sampingnya itu adalah wanita yang dia idam-idamkan untuk menjadi bagian dari keluarganya.
"Karena Darel!" ucap Pretty.
Wanita itu adalah Pretty.
"Darel telah menjebakku hingga aku dilecehkan oleh anak buahnya, bahkan aku tidak bisa hamil karena Darel telah memberiku obat yang merusak rahimku. Dia melakukan itu karena ingin menikmati tubuhku tanpa takut aku hamil.' jawab Pretty berbohong.
"Maafkan cucuku! saat ini, istri Darel tengah mengandung. Setelah anak itu lahir, aku akan menendang wanita kampungan itu keluar dari rumah dan dari kehidupan Darel lalu kau bisa menikah dengan Darel dan anaknya akan menjadi milikmu!" ucap Sandra ramah.
Pretty tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu kalau saat ini Darel tengah pergi dalam waktu yang lama sehingga dia bisa menyingkirkan Mentari dan kembali pada Darel, terlepas dengan apa yang telah menimpanya hari itu.
Hari itu, setelah tubuhnya dinikmati beramai-ramai oleh anak buah Darel l, Pretty sangat murka pada Darel. Dia yang lemah dan tubuhnya yang masih penuh dengan sisa cairan dari pria-pria itu pun melangkah ke kamar mandi dengan susah payah.
Pretty akui dirinya memang menyukai bermain seperti itu. Bahkan dirinya tidak segan-segan menggoda pria tajir untuk tidur bersamanya. Namun kali ini sungguh beda. Dia merasa dilecehkan, dikhianati, dan dipermalukan. Begitu Pretty selesai membersihkan dirinya, Pretty pun pergi dengan para pria yang baru saja menikmati tubuhnya itu masih terlelap di atas ranjang.
"Tunggu pembalasanku, Darel! kau melakukan hal hina ini padaku, maka istrimu lah yang akan menanggung akibatnya!" gumam Pretty sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
Pretty pergi dari tempat itu menuju ke sebuah bar milik pria yang menjadi salah satu pecandu tubuhnya. Dia adalah Bara. Selama persembunyiannya, Pretty diperkerjakan oleh Bara sebagai wanita penghibu* di bar miliknya. Dengan senang hati Pretty melayani tamu-tamu penting Bara, apalagi setelah mereka puas bermain, para pria hidung belang itu akan memberi uang tip yang banyak untuk Pretty.
Kembali pada Pretty dan Sandra. Sandra mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan Mentari dari hidup Darel. Pretty yang seolah mendapat angin segar itu pun tersenyum bahagia karena ada seseorang yang mendukungnya bersatu dengan Darel.
********
Sudah satu minggu semenjak kepergian Darel. Setiap satu jam Darel akan menelepon Mentari dan mengungkapkan betapa merindunya pria itu kepada Mentari. Mentari yang mendengar segala kata rindu yang terucap itu pun merasa begitu gemas. Dia juga sama merindunya seperti Darel. Semenjak seminggu ini pula, Sandra dan juga Pretty selalu datang ke rumah Darel. Sasaran mereka tentu saja adalah Mentari. Mentari tidak berani mengatakan apapun kepada Darel begitu juga dia meminta kepada semua pelayan dan penjaga termasuk Adi, Lukas dan Nakala untuk tidak mengatakan apapun kepada Darel. Alasannya karena Mentari ingin Darel bekerja dengan tenang. Dan jika Darel tahu mengenai apa yang telah diperbuat Sandra, Darel pasti akan langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya.
Hari ini, Sandra datang lagi. Namun kali ini dia tidak hanya bersama Pretty saja, melainkan bersama Rumi. Setelah dibukakan pintu oleh pelayan, mereka bertiga memasuki rumah Darel. Mentari yang melihat mama mertuanya itu datang mendekati Rumi dan ingin mencium tangan mama mertuanya itu.
"Ma, kok datang nggak bilang-bilang?" tanya Mentari hendak mencium telapak tangan Rumi namun Rumi segera menarik tangannya hingga membuat Mentari tidak jadi mencium tangannya.
Mentari yang merasa aneh kepada mama mertuanya itu pun menatap Rumi dengan penuh tanya.
"Apa mama boleh bertanya, Mentari?" tanya Rumi dengan datar.
"Tentu saja, ma! mama boleh bertanya apapun padaku!" jawab Mentari.
"Apa sebelum kecelakaan itu suamiku pergi ke sini?" tanya Rumi dengan tegas.
Baru kali ini Rumi menatap Mentari dengan sorot mata penuh kebencian.
"Ma..." lirih Mentari.
"Jawab!!" bentak Rumi.
Mata Rumi memerah karenanya, seperti ingin menangis.
__ADS_1
"I...iya, ma." jawab Mentari karena memang seperti itu adanya.
"Jadi benar kamu yang membunuh suami saya!!!" bentak Rumi lagi.
"Apa? tidak, ma! tidak seperti itu, saya..."
"Cukupppp!!" Rumi mengangkat tangannya tepat dihadapan Mentari membuat Mentari berhenti menjelaskan.
"Kau telah ku anggap sebagai putriku sendiri dan kau malah membalas ku dengan membuat suamiku meninggal?! apa kurang kasih sayang saya sebagai seorang ibu?!" tanya Rumi dengan sorot penuh kebencian.
"Ma, tidak!! bukan seperti itu. Tapi.." terpotong.
"Alah, tante! namanya maling mana ada yang mau ngaku! kalau dia ngaku, penjara akan penuh!" ucap Pretty.
Pretty yang berdiri di samping Sandra itu menatap remeh ke arah Mentari. Tangannya terlipat didada dengan senyum yang seolah mengenal Mentari.
"Ma, apa dia telah mengatakan hal yang tidak-tidak mengenaiku?" tanya Mentari menunjuk ke arah Pretty yang tersenyum penuh kemenangan.
Semenjak kepergian suaminya, nyonya Ardi menjadi sensitif. Dia mudah marah, dan kadang-kadang menangis sendiri. Hal itu di manfaatkan oleh Sandra dan Pretty untuk mengarang cerita guna menjelekkan nama Mentari dihadapan Rumi.
"Selama ini saya salah menilai kamu. Saya pikir kamu wanita baik-baik, namun rupanya selama ini saya memelihara seekor ular dalam rumah saya." ucap Rumi.
"Nyonya, mohon anda pergi dari sini atau saya tidak segan-segan pada anda!" ucap Nakala yang tidak tahan melihat Mentari dipojokkan seperti ini.
Nakala yang baru mengenal Mentari saja bisa langsung melihat kalau wanita itu sangat tulus dan berhati baik. Bagaimana bisa tiga orang ini mengatakan hal buruk mengenai Mentari.
"Kamu ini siapa?! harusnya yang kamu usir itu dia, bukan kita! asal kamu tahu ya, dia adalah ibu dari Darel. Dan saya adalah calon istri Darel menggantikan dia!" ucap Pretty.
__ADS_1
"Kalau mau bermimpi itu jangan terlalu tinggi, Pretty! kamu kira suami saya akan mau dengan kamu yang telah dipakai banyak orang?" cerca Mentari.
"Cukup, Tari!!! jadi seperti ini perilaku kamu yang sebenarnya?!" bentak Rumi.