Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 293


__ADS_3

Amira membawa Adi berkeliling rumah yang hampir selesai direnovasi ini. Cat tembok yang semula berwarna putih itu dirombak bernuansa gray, warna kesukaan Amira. Beberapa peralatan dapur dan perabotan lainnya juga dipilih warna serupa. Rumah yang memiliki halaman belakang lebih luas dari pada halaman depan itu juga tidak luput dari rombakan Amira.


Amira dan anak asuhnya menanam beberapa bunga-bungaan dihalaman depan. Sedangkan dihalaman belakang ada beberapa pohon buah-buahan seperti jambu air, jambu biji, mangga, dan rambutan. Bibit itu Amira dapatkan dari toko tanaman. Pohon-pohon itu dipindahkan dari yang semula berada di dalam pot, dipindahkan ke tanah agar nutrisinya semakin banyak dan tumbuh semakin besar.


"Wahh, sepertinya anak-anak akan betah tinggal di rumah baru mereka!" ucap Adi saat sudah berkeliling.


"Tentu saja, tuan! mereka semua sudah tidak sabar untuk meninggali rumah ini. Kalau tuan Darel ada waktu, bisa mampir kesini karena anak-anak ingin mengucapkan terimakasih secara langsung pada beliau." ucap Amira.


"Tentu! kalau begitu aku permisi dulu." ucap Adi.


"Oh ya Amira!" ucap Adi yang telah berjalan beberapa langkah.


"Ya, tuan?"


"Bisakah kita ngobrol di cafe depan sana?" tanya Adi.


"Emm...baiklah!" ucap Amira.


Mereka pun pergi menuju cafe yang dimaksud oleh Adi menggunakan motor Adi. Sesampainya di cafe itu, mereka duduk di bangku yang kosong.


"Mbakk!" panggil Adi kepada pelayan cafe.


"Selamat siang, ini daftar menunya." ucap pelayan memberikan daftar menu.


"Amira, kau mau pesan apa?" tanya Adi.


"Emm, aku pesan nasi goreng seafood saja, minumnya es jeruk yaa." ucap Amira.


"Aku juga nasi goreng seafood, minumnya choco latte yaa." ucap Adi.


"Baik, ada yang lain?" tanya pelayan itu.


"Tidak, itu saja dulu! oh ya tolong lima belas porsi dimsum untuk dibawa pulang yaa." ucap Adi.


"Baik, mohon tunggu sebentar." ucap pelayan itu.


"Jadi, anda ingin mengatakan apa, tuan? mengenai Lukas lagi?" tanya Amira menebak.


"Tebakanmu selalu tepat, Amira." ucap Adi.


"Apa yang masih mengganggu pikiran anda, tuan?" tanya Amira.


"Bukankah harusnya kalimat itu aku tujukan untukmu, Amira? apa yang masih mengganggumu? kekecewaanmu padanya? ketahuilah, Amira! Bahkan sampai detik ini pun dia masih menangis menatap foto kalian berdua di masa muda dahulu. Bukan aku menyetujui perilaku dia dimasa lalu. Tapi semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Amira. Pikirkan baik-baik. Pikirkan hatimu, tanya pada hatimu. Apa sebegitu bencinya kau terhadapnya? dia sudah sangat terluka saat jauh darimu. Pun sama sepertimu ku rasa." ucap Adi panjang lebar.


"A...aku...aku..." Amira terbata-bata.


"Kau tidak perlu membalas ucapakan ku sekarang. Pikirkan sekali lagi mengenaimu dan dia. Aku yakin kalian sama-sama tersiksa dengan perpisahan dan jarak ini, aku bisa merasakan binar itu dari matamu dan dia." ucap Adi.


Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah sampai. Mereka pun menghentikan obrolan mereka dan mulai fokus kepada makan siang mereka.

__ADS_1


********


Darel, Harri, dan Lukas telah sampai di rumah pak Bayu lagi. Mereka mengetuk pintu rumah hingga tiga kali baru dibuka.


"Oh, kalian lagi. Mari duduk!" ucap pak Bayu.


Wanita yang membukakan pintu itu keluar dengan membawa nampan berisi minuman untuk tamunya.


"Silahkan diminum!" ucap wanita yang kemungkinan istri pak Bayu.


"Terimakasih, bibi!" ucap mereka serempak.


Mereka mulai meneguk minuman yang telah disuguhkan.


"Jadi, apa yang membawa kalian sampai padaku lagi?" tanya pak Bayu langsung pada intinya.


"Masih banyak pertanyaan yang ada diotak saya, pak. Mungkin bapak tahu jawabannya." ucap Darel.


Darel mengeluarkan map yang ditemukan anak buahnya dahulu. Map itu belum diperlihatkan kepada pak Bayu waktu datang kesana pertama kalinya.


"Map itu... kalian sudah menemukannya?!" tanya pak Bayu terlihat senang.


"Apa bapak yang menyembunyikan map ini di ruang pengarsipan?" tanya Lukas.


"Ya!" jawabnya singkat.


"Kau sungguh ingin mengetahui semuanya? fakta yang kemungkinan tidak bisa kau terima?"


Darel menelan salivanya dengan susah. Fakta yang tidak bisa dia terima? Darel bahkan bisa menelan pahitnya hidup saat Mentari meninggalkannya dahulu, lalu fakta apalagi yang lebih pahit dari hal itu?


"Ya!" jawab Darel mantap.


"Baiklah!" ucap pak Bayu.


"Tulisan ini adalah tulisan tangan pak Supri. Beliau yang membawa map ini kepada saya dengan kondisi yang sudah seperti ini. Saat itu, saya ingat betul bagaimana ekspresinya saat menyerahkan map ini seolah-olah map ini adalah harta karun yang harus dilindungi. Karena ikut panik, saya pun menyembunyikan map ini diantara tumpukan file lainnya berharap seseorang yang dimaksud pak Supri tidak bisa menemukannya." jelas pak Bayu bercerita mengenai masalalu.


"Aoa yang coba dihindari oleh pak Supri?" tanya Darel semakin penasaran.


Pak Bayu tersenyum menatap Darel yang menatapnya gelisah seolah tahu cerita kelanjutannya. Tidak! lebih tepatnya siapa seseorang yang dimaksud itu.


"Papa anda, tuan!" ucap pan Supri.


Bagai mendapat petir disiang bolong, Darel tercengang dengan fakta ini.


"Bohong!!! papa saya orang baik!!! dia bahkan menyayangi istri saya seperti anak kandungnya sendiri!!!" teriak Darel tidak menerima fakta mengerikan ini.


"Tuan, tenang dulu, tuan!" ucap Harri dan Lukas mencoba menenangkan tuan mereka.


"Tidak!!! ini tidak mungkin, Lukas!! kau tahu sendiri kan, papa bahkan lebih menyayangi Mentari daripada aku!!" ucap Darel masih tidak terima.

__ADS_1


Darel masih ditenangkan oleh Harri dan Lukas hingga akhirnya bisa kembali tenang. Pak Bayu yang melihat hal itu hanya tersenyum penuh arti. Mungkin dia telah menduga sebelumnya bahwa Darel akan bertingkah demikian. Tidak mudah menerima fakta buruk yang dilakukan orang terdekat kita terutama orang tua kita. Sekali lagi, jangan melihat seseorang dari luarnya saja. Belum tentu yang terlihat baik, juga berhati baik.


"Saya mengerti apa yang anda rasakan! tapi fakta ini tidak akan bisa dirubah! bukalah mata anda, dan anda akan menemukan kebenaran didalamnya!" ucap pak Bayu.


Darel menatap lekat mata yang sayu oleh usia itu. Meski wajahnya berkerut, namun pria itu masih tetap bugar di usianya.


"Lalu, kasih sayang papa terhadap Mentari...berarti...dia...."


"Bisa jadi itu hanya rekayasa untuk menyembunyikan sesuatu dimasalalu!" ucap pak Bayu.


"Lalu, bagaimana dengan pak Supri? apa anda tahu dimana alamat beliau?" tanya Harri.


Benar juga, kenapa Darel atau Lukas tidak memikirkan pertanyaan itu sebelumnya?! pikir Lukas dan Darel.


"Pak Supri telah wafat enam bulan setelah dia memberikan map ini! mobil yang dia tumpangi masuk jurang dan meledak. Namun dari bukti yang ada, kecelakaan ini sepertinya telah di rencanakan!" ucap pak Bayu.


"Maksud bapak? ada yang menyabotase mobilnya begitu?" tanya Darel.


"Sepertinya begitu! banyak sekali bukti-bukti yang mengarah pada hal itu." ucap pak Bayu.


"Lalu, kenapa tidak dilaporkan saja ke polisi bahwa itu adalah kasus pembunuhan berencana?" tanya Lukas ikut geram.


"Sudah!"


"Apa?! lalu bagaimana tanggapan polisi?" tanya Darel.


"Tidak ada!" ucap pak Bayu.


"Maksud bapak tidak ada?" tanya Harri.


"Saya dan teman-teman pak Supri yang menemukan kejanggalan ini sudah melaporkan kasus ini ke polisi. Namun tanggapan mereka tidak bisa kami terima. Seolah mereka menutup-nutupi kasus ini. Sampai sekarang kami belum tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada pak Supri." ucap pak Bayu berkaca-kaca.


Dert....dert....dert....


Ponsel Darel bergetar tanda ada panggilan masuk. Begitu melihat siapa penelepon itu, Darel langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, tuan! pria itu datang lagi kesini! anda cepatlah kemari!" ucap pria dari sebrang telepon.


"Baiklah! lima belas menit lagi aku sampai kesana!" ucap Darel.


"Kalau bisa foto kan dulu pria itu!" ucap Darel lagi.


"Baik, tuan!" ucap pria di sebrang telepon.


"Pak, sepertinya percakapan kita sampai disini dulu! saya masih ada urusan penting yang harus saya lakukan!" ucap Darel pamit.


"Silahkan datang lagi jika anda membutuhkan saya!" ucap pak Bayu.


Setelah berpamitan, Darel bergegas menuju makan orang tua Mentari. Pria yang menelepon tadi adalah bapak pemilik Warung. Dengan kecepatan penuh Darel menuju lokasi tersebut berharap ketika dia datang, pria itu belum pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2