
Darel pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau balau. Dia berjalan dengan ekspresi yang sangat mengerikan, langsung menuju kamarnya. Adi, Harri, dan Lukas yang sejak tadi satu mobil dengannya ikut takut saat melihat wajah tuannya itu. Diamnya Darel kali ini terlihat lebih menyeramkan.
Hari anak mana yang tidak kecewa tatkala mengetahui masalalu kelam orang tuanya. Bukan saja papanya selingkuh dari mamanya, namun juga seorang pembunuh orang tua istrinya. Kenyataan itu terlalu pahit untuk bisa Darel terima.
BRAK....
Darel memasuki kamar dimana Mentari tengah berbaring di atas ranjang.
"Sayang, kamu kena...." terhenti.
Darel langsung menyembunyikan wajahnya di dada Mentari. Memeluknya seolah esok tidak bisa lagi melakukan hal itu. Pelukan itu sangat erat hingga membuat Mentari bertanya-tanya ada apa dengan suaminya.
"Sayang, kamu kenapa? nggak bisanya begini?" tanya Mentari mengelus pucuk rambut suaminya dengan lembut.
"Pikiranku sedang kacau! tolong biarkan aku begitu dulu sampai emosiku reda!" ucap Darel lirih.
Darel semakin mengeratkan pelukannya kepada Mentari. Mentari yang merasa suaminya tengah menghadapi masalah besar itu pun tidak bertanya lagi. Justru dia memeluk suaminya dengan sangat lembut memberikan ketenangan dan kehangatan untuk suaminya.
Hampir dua jam, mereka dalam posisi itu hingga Mentari merasakan sesak didadanya. Entah mengapa, namun tiba-tiba saja dia menjadi agak sulit untuk bernafas.
"S...sa...sayang!! lepas dulu yaa, aku nggak bisa na...nafas!" pinta Mentari.
Darel yang mengetahui itu pun langsung mengetahui itu pun langsung melepaskan pelukannya. Begitu Darel melepaskan pelukannya, Mentari langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Maaf, sayang! kamu nggak apa-apa kan? apa masih sesak? kita kerumah sakit sekarang yaa!" ucap Darel hendak turun dari ranjang namun dicegah oleh Mentari.
"Aku baik-baik saja kok! sini!" ucap Mentari merentangkan tangannya.
Darel kembali mendekat. Dia berbaring disamping Mentari sambil memeluknya namun tidak sekuat tadi.
"Kamu kenapa? kok pulang-pulang gini?" tanya Mentari selembut mungkin.
"Tadi kerjaan ku banyak banget sampek nggak bisa istirahat makanya aku kesel!!" alibi Darel.
Maaf, sayang! tapi lebih baik kau tidak mengetahui kebenaran ini! aku tidak sanggup mengatakannya padamu! batin Darel.
"Ya sudah! mau tidur aja atau begini aja?" tanya Mentari.
"Maunya makan kamuu!" goda Darel.
"Hehe, kamu nih bisa aja deh yaa!" ucap Mentari tertawa geli.
"Boleh yaa!" tanya Darel.
"Iya!" sahut Mentari malu-malu.
Darel melepaskan semua gundah dihatinya dengan berhubungan panas bersama istrinya. Dengan penuh hati-hati Darel melakukan hal itu karena saat ini bukan hanya ada satu janin didalam rahim istrinya, melainkan ada tiga janin sekaligus.
********
__ADS_1
Sudah dia minggu setelah terbongkarnya kejahatan tuan Ardi. Darel membatasi dirinya dengan papanya itu. Semua sosial media papanya dia blokir. Darel juga melakukan hal yang sama terhadap ponsel Mentari. Dia takut kalau-kalau papanya tiba-tiba memberitahu segala kebenaran ini.
"Sayang aku berangkat dulu yaa!" ucap Darel kepada Mentari.
"Bu, aku berangkat yaa!" ucap Iwang.
Mereka kompak mencium perut Mentari yang sekarang sudah berjalan lima bulan. Terlihat sangat menggemaskan hingga mereka selalu mengelus perut Mentari yang terlihat sudah sangat membuncit itu. Meskipun usia kandungan Mentari baru lima bulan, tapi perutnya sudah sangat besar, bahkan hampir sama dengan perut Daniar yang sekarang ini telah hamil delapan bulan.
"Hati-hati ya kalian!" ucap Mentari.
Begitu mobil yang ditumpangi anak dan suaminya telah melewati gerbang, Mentari berniat untuk masuk kedalam rumah. Namun saat hendak masuk, sebuah mobil datang hingga Menyatu mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Tari!" panggil tuan Ardi.
"Pa? bagaimana kabar papa? kenapa lama tidak main kesini?" tanya Mentari menyambut papa mertuanya dengan senyum ramah.
Tuan Ardi tahu kalau Darel tidak mengatakan apapun kepada Mentari demi menjaga harga dirinya. Namun rasa penyesalan ini terus menggerogoti tuan Ardi hingga rasanya dia ingin meminta maaf secara langsung pada Mentari.
"Boleh papa bicara berdua dengan kamu?" tanya tuan Ardi.
"Didalam saja, pa!" ucap Mentari.
Mereka pun masuk kedalam rumah. Setelah duduk, tidak lama berselang mbok Tini datang dengan secangkir teh hijau.
"Silahkan, tuan!" ucap mbok Tini.
"Makasih, mbok!" ucap tuan Ardi.
Bukannya menjawab, tuan Ardi malah menatap kearah Mentari. Tatapan mata yang sulit untuk Mentari artikan. Namun yang pasti terlihat olehnya mata papa mertuanya itu berkaca-kaca seolah menahan tangis.
"Papa minta maaf, Tari!" ucap tuan Ardi setelah lama bungkam.
"Minta maaf? minta maaf untuk apa? papa tidak pernah berbuat salah padaku. Papa sangat baik padaku." ucap Mentari.
"Tidak! papa sangat jahat sama kamu dan kedua orang tua kamu!" ucap tuan Ardi tidak kuasa menahan air matanya.
Rasa penyesalan itu kian besar saat menatap bola mata Mentari yang sama persis dengan ibunya, Maya. Bahkan gestur tubuh Mentari juga seperti Maya, hingga tuan Ardi bisa melihat sosok Maya dalam diri Mentari.
"Orang tua ku? maksud papa? aku...aku tidak paham apa yang papa bicarakan?" tanya Mentari sangat bingung.
"Maafkan papa Mentari! karena papa....."
Hening sebentar.
"Papa yang telah menyebabkan orang tua kamu meninggal!" akui tuan Ardi dengan berlinang air mata.
Bagai tersambar petir, Mentari sangat syok mendengar pengakuan papa mertuanya itu. Orang yang dia sangka baik, bahkan bisa menggantikan figur seorang ayah yang telah lama Mentari tidak rasakan ternyata adalah pembunuh orang tuanya? bagaimana bisa itu terjadi?
"Pa....apa...apa yang papa katakan?!" tanya Mentari.
__ADS_1
Hatinya seolah menolak kebenaran yang coba papa mertuanya itu katakan.
"Maafkan papa Tari! karena fitnah yang papa lakukan, kedua orang tua mu harus meninggal bahkan kamu juga harus terusir dari kampung halamanmu." ucap tuan Ardi kembali menyesali perbuatannya dimasa dahulu.
"Papa tahu, kesalahan papa sangatlah besar! papa juga memaklumi kalau kau tidak akan memaafkan papa, tapi setidaknya papa sudah berkata kebenarannya padamu dan meminta maaf langsung padamu. Setidaknya beban papa berkurang sekarang!" ucap tuan Ardi.
Mentari diam menelaah setiap kata yang papa mertuanya itu katakan. Rasanya terlalu mustahil orang sebaik papanya bisa melakukan hal sekeji itu. Mentari ingin menolak, tapi kebenarannya memang seperti itu.
"Kenapa papa melakukannya?!" tanya Mentari tanpa ekspresi pun tanpa melihat kearah tuan Ardi.
"Papa khilaf, nak! papa melakukannya karena masih mencintai mamamu!" ucap tuan Ardi jujur.
"Cinta?!"
"Ya, kami adalah mantan kekasih dahulunya. Kami terpaksa putus hubungan karena mamamu harus melanjutkan kuliah S2 nya di luar negeri." ucap tuan Ardi.
"Lalu saat bertemu kembali, getaran itu masih papa rasakan hingga membuat papa gelap mata dan melakukan semuanya."
"Apa papa sadar dengan apa yang papa lakukan? papa menghancurkan hidupku, pa! HIDUPKUU!! papa memisahkan seorang anak dari orang tuanya! bagaimana kalau hal itu terjadi pada anak papa? kak Randita misalnya! bagaimana kalau itu terjadi padanya?! apa papa bisa menerimanya?!" tanya Mentari dengan emosi.
Mbok Tini yang sedari tadi mengawasi dari jauh pun menelepon Darel karena merasa ada yang janggal dengan kedatangan tuan Ardi.
"Hallo, tuan! maaf menganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberitahu kalau sekarang tuan besar sedang berada dirumah tuan." ucap mbok Tini dengan suara lirih.
"Iya tuan! tuan besar tengah berbicara dengan nona, namun kelihatannya sangat serius sampai mereka terlihat menangis. Nona juga kelihatannya emosi." ucap mbok Tini mengabarkan situasi dirumah Darel.
"Baik tuan, saya akan terus mengabari tuan!" ucap mbok Tini.
Panggilan pun ditutup oleh Darel.
********
Sedangkan dikantor Darel. Darel yang saat itu tengah menandatangi file-file yang menumpuk di atas meja, fokusnya teralih saat ponselnya berdering.
"Mbok?! tumben jam segini telepon!" tanya Darel saat mengetahui siapa peneleponnya.
Darel menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan itu.
"Apa?! papa dirumah?! apa dia bertemu dengan Mentari?!" tanya Darel khawatir.
"Awasi mereka terus mbok! saya dalam perjalanan pulang!" ucap Darel bergegas keluar ruangan lalu menutup panggilan telepon.
"Wisnu! lanjutkan pekerjaanku! aku ada urusan yang sangat penting dirumah!" ucap Darel kepada Wisnu yang saat itu tengah berada di ruangannya.
"Baik, tuan!" ucap Wisnu.
Darel bergegas menuju lift lalu turun ke lantai satu. Harri dan Lukas yang ada disana menatap bingung pada tuan mereka karena berlarian dengan wajah panik ke arah mobil. Hari ini Adi di suruh untuk mengecek kembali panti asuhan juga menyajikan bahan makanan untuk mereka.
"Cepat!! kita pulang sekarang!!" ucap Darel langsung masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Harri dan Lukas pun masuk kedalam mobil dan menyetir mobil menuju rumah Darel.