
# Flashback beberapa jam yang lalu #
Tuan Ardi yang sudah tidak bisa menanggung beban dihatinya memutuskan untuk kembali menemui menantu sekaligus anak dari orang tua yang telah dia bunu*. Perasaan bersalah itu setiap hari semakin menggerogoti nya, terlebih terakhir kali dirinya bertemu dan meminta maaf kepada Mentari, Mentari masuk rumah sakit karenanya.
Darel, putranya sendiri memang tidak memberitahu dirinya atau yang lain mengenai hal itu. Dia tahu dari seorang teman yang tidak sengaja melihat Darel dirumah sakit. Dia merasa sangat bersalah pada menantunya itu.
Pukul 11 siang, tuan Ardi berkata pada istrinya bahwa dia akan pergi sebentar. Tidak dia katakan kemana tujuannya dan untuk apa.
"Ma, papa pergi dulu ya! ada urusan sebentar diluar!" ucap tuan Ardi.
"Oh, iya pa! hati-hati yaa!" ucap nyonya Ardi.
Nyonya Ardi tidak pernah berpikiran buruk mengenai suaminya itu. Sisi lain tuan Ardi tidak pernah dia ketahui karena tersimpan rapat-rapat, dan kini putra keduanya itu tahu sisi lain dirinya.
Setelah mengatakan hal itu, tuan Ardi langsung menuju mobilnya. Biasanya dia akan ditemani oleh Robi, namun tidak jarang juga dirinya menyetir mobil sendiri.
Sesampainya di depan gerbang masuk rumah Darel, tuan Ardi menghentikan mobilnya karena tertahan oleh dua penjaga.
"Ada apa kalian menghentikan saya? saya ingin masuk menemui menantu saya!" ucap tuan Ardi yang telah keluar dari mobil.
"Maaf tuan besar! anda tidak diperkenankan masuk! ini perintah dari tuan Darel!" ucap penjaga 1.
Hati tuan Ardi mendadak sedih. Sebegitu bencinya kah sampai-sampai dirinya tidak diperbolehkan untuk memasuki rumah putranya? apa tidak ada kesempatan kedua untuk dirinya menebus kesalahan dimasalalu? dia benar-benar menyesal! sungguh! tapi penyesalan itu kini tiada arti yang. Sekali lagi, nasi telah menjadi bubur.
"Saya mohon, ijinkan saya masuk! hanya sebentar saja! ijinkan saya bertemu dengan menantu saya!" mohon tuan Ardi.
Dia bahkan tidak memperdulikan statusnya yang bahkan jauh lebih tinggi dari dua penjaga itu dan tetap memohon untuk diijinkan masuk. Dua penjaga itu merasa iba melihat tuan Ardi sampai memohon-mohon seperti ini hanya untuk sebuah ijin menemui menantunya.
"Maaf tuan! kami tidak bisa memberikan anda ijin itu! kalau anda mau, anda bisa meminta ijin langsung pada tuan muda. Anda jauh lebih mengenal sifat tuan muda daripada kami." ucap penjaga 2.
__ADS_1
"Baiklah! saya pergi saja! meminta ijin kepada Darel atas apa yang telah menjadi keputusannya itu akan sangat sulit. Tidak ada yang bisa merubah keputusan yang telah dia ambil. Jangankan dirubah, dibelokkan saja tidak akan bisa. Hah, dia memang putraku!" gumam tuan Ardi yang didengar oleh dua penjaga itu.
Setelah mengatakan hal itu, tuan Ardi pergi dari rumah Darel dengan perasaan sedih.
"Eh, kasian banget ya liat tuan besar! kayak nggak tega gitu!" ucap penjaga 2.
"Ya mau gimana lagi! ini perintah tuan muda. Mau dilanggar, nanti malah pekerjaan kita yang dalam bahaya. Lagian tuan Ardi juga kelewatan sih kalau menurutku!" ucap penjaga 1.
Mereka yang ada dirumah Darel sedikit banyak tahu akar permasalahan yang menimpa keluarga tuannya.
"Ya, namanya cinta buta! emang kadang-kadang bisa menyesatkan juga! tapi emang bener sih, tuan Ardi emang udah kelewatan. Kalau aku jadi tuan muda, palingan juga sama kayak yang dilakuin tuan. Secara dia memiliki tanggung jawab lebih kepada istrinya, apalagi nona kan sudah tidak punya orang tua, itupun juga karena tuan besar." ucap penjaga 2 mengungkapkan sudut pandangnya.
"Bener juga sih!" ucap penjaga 1.
"Kita kan juga nggak bisa apa-apa. Ini perintah tuan Darel, lagian kayaknya nona masih syok atas pengakuan tuan besar. Semoga saja hubungan mereka segera membaik." doa penjaga 2.
Kembali ke tuan Ardi, dirinya yang sangat frustasi memukul-mukul stir mobil menyalurkan rasa marah pada dirinya sendiri.
"Bodo*!! bodo* kamu Ardi!!! Maya....maafkan aku!! maaf karena keegoisan ku membuatmu dan keluargamu seperti ini! kenapa dulu aku bisa dibutakan oleh nafs*?! harusnya aku bisa berpikiran lebih jernih!!!" ucap tuan Ardi.
Tangisnya sudah tidak bisa dia bendung. Rasanya sedari tadi dia ingin sekali menangis, namun karena gengsi dengan bawahan Darel, dia memilih segera meninggalkan rumah Darel dan menangis didalam mobil. Sesal! marah! itu yang tuan Ardi rasakan. Bahkan dia merasa jijik kala memandangi wajahnya di cermin. Wajah itu, mengingatkan dirinya akan kebrengse*annya kala dahulu.
Wajah yang meskipun telah bertambah tua dengan beberapa keriput diwajahnya itu namun tidak bisa menyembunyikan kebejatannya dimasa lalu. Bukan saja dia telah berselingkuh dari istrinya. Namun dia juga telah menjadi pembunu* dari orang yang katanya paling dia cintai. Cinta adalah kebahagian.
Jika salah satu atau kedua nya saling terluka, itu bukan cinta, tapi hanya kekaguman sesaat. Cinta itu murni, tidak ada kebohongan yang terselip di dalamnya. Jika masih ada kebohongan diatas cinta, maka itu bukan cinta, melainkan kompromi. Cinta yang dirasakan tuan Ardi pada Maya adalah obsesi hingga dia menghalalkan berbagai cara agar bisa memiliki Maya meskipun melanggar janji suci pernikahannya. Ya, itu bukan cinta. Melainkan obsesi. Tuan Ardi begitu terobsesi pada Maya, dia tidak rela Maya disentuh oleh pria lain selain dirinya sehingga dia melakukan semua itu agar Maya mau menurutinya.
Berada di perempatan jalan. Tuan Ardi yang menyetir sambil melamun itu tidak menyadari bahwa lampu lalu lintas sudah kembali berwarna merah. Alhasil dia yang tidak menyadari itu pun menerobos lampu lalu lintas. Dari arah kanannya terdapat sebuah truk yang melaju dengan kecepatan penuh.
Tinnnn.....tin....tinnn.....
__ADS_1
Tuan Ardi menoleh ke sumber klakson. Matanya melotot kala melihat sebuah truk mendekat kearahnya dengan kecepatan penuh. Dia membanting setir ke arah lain untuk menghindari tabrakan itu, namun naas, truk tersebut akhirnya tetap menabrak bagian tengah hingga belakang samping kanan mobil membuat mobil yang dikendarai tuan Ardi terhempas ke sisi lain jalan. Tepat setelah itu, dari sisi kiri, sebuah truk kontainer lewat. Sopir truk itu terkejut karena mobil tuan Ardi yang tiba-tiba berada pada jalurnya hingga mobil tuan Ardi kembali tertabrak oleh truk kontainer tersebut hingga terpental ke tengah-tengah jalanan.
Keadaan mobil tuan Ardi sangat buruk. Warga sekitar jalanan pun berbondong-bondong membantu tuan Ardi. Terlihat mobil itu telah ringsek tak berbentuk. Banyak pecahan kaca bertebaran di jalanan membuat jalanan macet. Kondisi dua truk itu tidak terlalu parah. Hanya penyok di bagian depan truk saja sedangkan sopir truk itu selamat, hanya ada beberapa luka kecil akibat membanting stir terlalu kencang. Sopir truk yang menabrak mobil tuan Ardi pertama kali terluka dibagian kening karena setelah membanting setir dirinya menabrak pohon di pinggir jalan. Sedangkan sopir mobil kontainer itu terluka di bagian pipi yang terdapat goresan sedikit.
Polisi yang datang karena panggilan salah satu warga, dibantu warga membantu mengeluarkan tubuh tuan Ardi yang saat itu berada di bawah dengan posisi yang terjepit dan cukup sulit mengeluarkannya. Butuh waktu sekitar satu jam an hingga akhirnya tubuh tuan Ardi dapat dieksekusi. Darah segar memenuhi jalanan waktu itu. Warga lain membantu membersihkan pecahan kaca yang tersebar agar lalu lintas kembali lancar. Jenazah tuan Ardi dibawa dengan menggunakan ambulance. Polisi yang berada disana meminta keterangan beberapa saksi mata atas kejadian itu dan tersimpul bahwa tuan Ardi melamun saat berkendara hingga menyebabkan kecelakaan ini terjadi.
# Flashback Off #
Setelah dimandikan dan disholatkan, jenazah tuan Ardi hendak di kebumikan. Rombongan yang mengantar juga telah siap. Jenazah tuan Ardi dibawa dengan menggunakan mobil jenazah menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
"Papaaa!!!! jangan tinggalin mama, paaa!!! Darel!!! Darel!!! jangan bawa papamu, Darell!!!" teriak nyonya Ardi kala jenazah tuan Ardi hendak di bawa ke ambulance.
"Maa, istighfar, ma! ikhlaskan papa!!" ucap Randita.
"Rangga, nak! jangan bawa papamu, nak!! nanti mama sendirian!!! Juna, jangan bawa pergi papamuuu.....mama tidak sanggup...." teriak nyonya Ardi.
Semua orang yang melayat ikut menitihkan air mata kala melihat betapa histerisnya nyonya Ardi. Mereka berusaha menenangkan sahabat dan rekannya itu, berusaha membagi energi positif agar nyonya Ardi lebih tabah menghadapi cobaan dari Tuhan. Nyatanya perbuatan tidak semudah omongan. Rasanya sangat sulit sekali menerima keadaan dimana kita tidak akan bisa bertemu kembali dengan orang yang kita sayangi.
Nyonya Ardi semakin histeris kala mobil ambulance dan mobil-mobil pelayat lain meninggalkan rumahnya. Rumah megah yang memiliki banyak kenangan bersama suaminya itu kini tinggalah kenangan. Suaminya telah pergi! dan tidak akan pernah kembali.
"PAPAAAA!!! JANGAN TINGGALKAN MAMA, PAAAA!!! BAWA MAMA PERGI JUGA, PAAAA!!!! PAPA TEGA SEKALIII SAMA MAAMAAAA!!!" teriak nyonya Ardi kian histeris.
Randita memeluk tubuh mamanya kian erat. Dia sama terpukulnya dengan kematian papanya. Arya yang berada di samping salah satu pelayan itu ikut menitihkan air mata. Dia belum cukup umur untuk mengetahui tentang kematian dan kehilangan. Dia ikut menangis kala melihat semua orang menangis.
Didalam mobil ambulance, Juna terus menangis disamping jenazah papanya. Sisa hidupnya harus diakhiri tanpa kehadiran papanya. Bahkan dia belum sempat membuat keinginan terakhir sang papa terwujud, yaitu melihatnya segera menikah. Darel juga sama, dia menangis disamping jenazah sang papa. Teringat jelas olehnya kejadian demi kejadian beberapa hari yang lalu. Setelah kebenaran mengenai papanya terkuak, Darel seolah menjauhkan diri dari papanya.
Darel menyesal. Sungguh menyesal. Andai dia tahu umur papanya hanya sampai disini, dia pasti tidak akan berkata seperti itu pada papanya terlebih saat papanya mengatakan kebenaran itu kepada Mentari hingga menyebabkan Mentari syok dan dilarikan kerumah sakit.
Maafkan Darel, pa! Darel memang anak yang durhaka! tapi mengertilah kala diposisi Darel saat ini! Darel kecewa dengan papa! Darel hanya berusaha melindungi istri Darel! maaf, pa!! maafkan Darel!! batin Darel tercabik-cabik.
__ADS_1