Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 2


__ADS_3

Darel baru saja sampai di markas Abdi. Hyuna yang melihat kedatangan papinya itu langsung berlari menghampiri Darel lalu memeluknya dengan sangat erat begitupun dengan Darel.


"Princess nya papi!! gimana kabar kamu sekarang sayang?" tanya Darel.


"Baik papi! ini juga udah diobatin sama om baik!" jawab Hyuna.


"Om baik?" tanya Darel.


"Iya, om yang nolongin Hyuna tadi." ucap Hyuna dengan senyum polosnya.


"Oh! udah makan?" tanya Darel.


"Udah papi. Papi, kapan kita pulang? Hyuna udah kangen rumah!" ucap Hyuna.


"Iya sebentar lagi kita pulang kok! tante Daniar dan yang lain juga udah nunggu Hyuna pulang. Kamu tau nggak, kak Ivan sedih banget saat Hyuna nggak ada." adu Darel.


"Beneran papi?! hahahaa kak Ivan pasti lucu mukanya waktu gitu!" tawa Hyuna.


"Hahaha iya lucu banget!!" tawa Darel.


Ayah dan anak itu tertawa bersama lalu tidak lama kemudian Abdi datang menghampiri Darel.


"Tuan, kami sudah menemukan orang tua dari anak-anak ini, tuan Rohan dan anak buahnya yang akan mengambil alih untuk mengantarkan anak-anak ini pulang ke rumahnya." jelas Abdi.


"Bagus Abdi! oh ya, terimakasih karena sudah mengobati luka putriku!" ucap Darel.


"Tuan, anda jangan membuat saya bersedih. Jangankan menyelamatkan nona muda, menyerahkan nyawa saya pun akan saya lakukan untuk anda. Anda sudah sangat berjasa dalam hidup saya, mungkin tanpa kebaikan anda dan mendiang nona Mentari saya sudah kehilangan ibu saya sejak lama!" ucap Abdi mulai berkaca-kaca.


Latar belakang Abdi sangat lah miris. Abdi terlahir dari hubungan terlarang. Ibunya dulu adalah seorang wanita penghibu* dan ayahnya adalah kliennya. Sampai sekarang Abdi tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya, bahkan bertanya pada ibunya pun tidak ada gunanya. Sejak kecil Abdi hidup dalam kemiskinan, banting tulang guna menyambung hidupnya dan juga sang ibu yang saat itu telah berhenti menjadi wanita penghibu* saat mengandungnya usia tiga bulan. Saat itu ibunya harus bekerja memungut sampah. Abdi yang tidak tega ibunya kesusahan pun ikut bekerja seadanya untuk mendapatkan sesuap nasi.


Kehidupan Abdi semakin keras saat sang ibu divonis mengidap kanker rahim. Abdi sangat terpukul dengan berita itu. Abdi hampir saja menyerah saat Darel tidak sengaja menemuinya dan mengajaknya bergabung didalam kelompok mafianya. Darel menemukan Abdi saat dia berusia delapan belas tahun, usianya terpaut lima tahun lebih muda dari Darel.


Abdi pun menyetujui untuk bergabung kedalam kelompok Darel. Uang dari sana jugalah yang akhirnya membuat Abdi bisa membiayai operasi ibunya. Namun rupanya, satu tahun setelah operasi itu dilakukan, dokter kembali memvonis ibu Abdi terkena kanker darah yang mengharuskannya melakukan kemoterapi selama seminggu sekali yang hampir menguras seluruh tabungan milik Abdi.


Namun kegigihan Abdi untuk kesembuhan ibunya terbayarkan saat Mentari dan Darel mengetahui kesusahannya. Mereka memberikan Abdi dan ibunya fasiltas terbaik dan pengobatan terbaik. Terbukti selama hampir dua tahun lamanya, akhirnya dokter memvonis ibu Abdi telah sembuh dari kanker darah.


"Ibu!" panggil Abdi.


Seorang wanita berkulit sawo matang, berambut keriting, dan sedikit berisi datang menghampiri Abdi.


"Iya nak? ada apa?" tanya wanita itu.


"Perkenalkan ini tuan Darel, yang membantu membiayai pengobatan ibu dulu!" ucap Abdi memperkenalkan Darel pada ibunya.


"Masyaalloh!! terimakasih tuann!!! terimakasih atas bantuannya!! kami sangat berterimakasih tuannn!!!" ucap ibu Abdi yang langsung bersujud di kaki Darel setelah Abdi memperkenalkan siapa Darel.


"Ibu, ibu berdirilah!!" ucap Darel mengangkat tangan ibu Abdi agar berdiri.


"Ya Alloh, mimpi apa saya kemarin bisa bertemu dengan tuan!! saya dan anak saya sangat berterimakasih pada tuan, semoga hidup tuan semakin bahagia." ucap ibu Abdi.


"Aminn, tapi kalau boleh saya minta, doakan saja agar anak-anak saya sukses dengan apa yang mereka inginkan. Kebahagiaan mereka adalah yang utama bagi saya." ucap Darel.


"Tentu!! semoga kalian sekeluarga mendapat keberkahan dari yang maha kuasa." doa ibu Abdi.

__ADS_1


"Aminn! ibu bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Darel.


"Alhamdulillah sudah sangat baik, tuan! setelah saya sembuh waktu itu, saya memutuskan untuk membuka warung masakan padang karena memang saya asli orang padang yang merantau ke Jakarta. Alhamdulillah ekonomi kami semakin membaik sampai saat ini." ucap ibu Abdi.


"Syukurlah kalau begitu saya ikut senang mendengarnya!" ucap Darel.


"Kapan-kapan kalau ada waktu, tuan mampirlah ke warung saya. Coba masakan saya, saya jamin tidak kalah dengan masakan chep bintang lima!" ucap ibu Abdi yang memang tidak lancar berbahasa Inggris.


"Chef ibuu, bukan chep!" ucap Abdi membenarkan.


"A, iyaa chepp!!" ucap ibu Abdi.


"Hahaha, baiklah! saya akan mampir kalau ada waktu, kalau begitu saya pamit dulu yaa. Anak-anak saya yang lain sudah menunggu dirumah!" pamit Darel.


"Baik tuan! hati-hati dijalan!" ucap ibu Abdi.


Darel meraih tangan ibu Abdi lalu mencium telapak tangannya dengan khusyuk. Abdi dan ibunya bahkan sampai dibuat melongo dengan tingkah Darel itu.


"Abdi, jaga ibumu yaa! beliau adalah orang yang baik!" ucap Darel.


"Pasti tuan!" jawab Abdi mantap.


Darel tersenyum ke arah mereka. Lalu memanggil Hyuna untuk segera pulang.


"Bye-bye, Hyuna pulang dulu yaaa!!!" teriak Hyuna pada anak-anak lain.


"Hyuna tungguuu!!!" panggil Artha.


Artha berlari menghampiri Hyuna yang saat itu sudah berada di samping mobilnya.


"Ini, hadiah dari aku! kamu jaga baik-baik yaa?" ucap Artha.


Artha memberikan sebuah kalung cangkang kerang yang terbuka lalu ditengahnya terdapat sebuah mutiara berwarna gold.


"Ini buat Hyuna kak?" tanya Hyuna.


"Iya! itu milik bunda, tolong kamu simpan yaa." ucap Artha.


"Makasih ya kak, Hyuna pulang dulu! bye-bye kak Arthaa!!!" ucap Hyuna sambil melambaikan tangannya kepada Artha.


"Bye semuanyaaa!!!" teriak Hyuna dengan kepala yang menyembul keluar mobil melalui kaca mobil.


Hyuna, semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali!! batin Artha.


********


Pukul tujuh malam, rombongan Darel baru saja tiba dirumah Darel. Semua orang telah menunggu kedatangan Hyuna, terlebih Daniar dan kedua orang tuanya yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Hyuna. Saat mendapat kabar hilangnya Hyuna kemarin, Daniar sangat panik. Dia bahkan tidak mau makan sebelum Hyuna kembali. Hal itu membuat Alvaro kesal.


Pasalnya ibunya itu bisa saja sakit karena mogok makan, dan itu gara-gara Hyuna.


"Hyuna sayangg!!! gimana kabar kamu nakk??" tanya Daniar begitu melihat kedatangan Hyuna.


Daniar langsung memeluk Hyuna dengan sangat hangat. Hyuna pun menjadi terharu oleh perilaku Daniar itu.

__ADS_1


"Aku baik kok tante!" jawab Hyuna setelah Daniar melepaskan pelukannya.


"Ya ampun, sayang!! kok tubuh kamu memar gini?? kamu diapain aja sama penculik itu??" tanya Daniar panik setelah melihat tangan Hyuna yang penuh luka memar.


"Cuma sedikit kok tante! Hyuna kan anak hebat!" ucap Hyuna memperlihatkan senyum manisnya.


"Dek!!" panggil Iwang.


Iwang, Shaki, dan Kaivan mendekat ke arah Hyuna.


"Maafin kakak yaa, kakakk lalai jaga kamu!!" ucap Iwang.


"Harusnya Hyuna yang minta maaf, karena udah bikin kalian semua jadi khawatir." ucap Hyuna.


"Hyuna, maafin aku yaa! harusnya aku tetap jaga kamu saat kamu mau ke kamar mandi kemarin, jadinya kamu nggak bakal diculik dan dapat luka begini!" sesal Kaivan.


"Sudah, Hyuna baik-baik saja kok! oh ya, kata papi kakak sedih banget yaa saat Hyuna nggak adaa??" tanya Hyuna dengan nada setengah mengejek.


"Eh, enggak tuh!! mana adaa!!!" ucap Kaivan salah tingkah.


"Alahh, ngaku saja!! orang papi sendiri kok yang bilang sama Hyuna!" ucap Hyuna.


"Ihhh papiiii!!! kenapa ngadu sama Hyuna sihh!!! kita musuhan!!" marah Kaivan pada Darel.


"Hahahaaa, ngambek nih ya ceritanyaa??" tawa Darel semakin membuat Kaivan kesal.


"Nggak mau tau, pokoknya kita musuhan!!" ucap Kaivan kesal.


Kaivan kesal karena papinya itu mengadu pada Hyuna. Kaivan kan gengsi mengaku menangisi Hyuna saat Hyuna diculik.


********


Saat ini keluarga Darel dan keluarga Daniar tengah berkumpul di meja makan. Mereka merayakan kembalinya Hyuna setelah sempat satu malam hilang diculik. Hyuna yang melihat Alvaro berjalan menuju taman pun mengikuti langkah Alvaro. Sejak kedatangannya tadi, Alvaro belum bertegur sapa dengannya, bahkan wajahnya pun seolah bersembunyi darinya.


"Kak Varoo tungguuu!!!" panggil Hyuna setengah berteriak.


"Apalagi sihh??" kesal Alvaro menoleh ke arah Hyuna lalu kembali berjalan dengan cepat.


Hyuna semakin cepat berlari hingga dia berhasil berada di depan Alvaro, menghentikan langkah bocah laki-laki itu.


"Hah...hah...hah...kakak...kenapa nggak kelihatan tadi saat Hyuna baru datang??" tanya Hyuna sambil mengatur nafas.


"Buat apa??" tanya Alvaro dingin.


"Ya, kan Hyuna baru aja diculik, kakak nggak mau tanya gimana kondisi Hyuna?? ini....Hyuna sakit kak disini!" tunjuk Hyuna kepada Alvaro bahwa lengannya ada memar.


"Bisa nggak jangan ganggu gue?!! gue muak tau nggakk?!!!" hardik Alvaro.


"Kak?! kok kakak gitu sih?" tanya Hyuna.


"Apa?! nggak suka?? lo tuh nyusahin banget yaa!!! asal lo tau yaa, mami gue aja sampai nggak makan gara-gara lo pakek acara hilang segala!! mikir dong loo, kalau mau hilang tuh hilang ajaa, nggak usah jadi beban orang lain jugaa!! kalau sampai mami gue kenapa-kenapa gara-gara lo, gue nggak bakal maafin lo!!" ucap Kaivan.


"Tapi Hyuna nggak sengaja kak! Hyuna juga nggak mau diculik kak." ucap Hyuna.

__ADS_1


"Alahhh, emang dasarnya lo aja yang nyusahin!! lo tuh beban tau nggak!!!" ucap Alvaro meninggalkan Hyuna sendirian ditaman.


Hyuna menangis di taman. Kenapa Alvaro begitu membencinya?? padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin dihadapan Alvaro, namun bocah laki-laki itu masih saja membencinya.


__ADS_2