Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 248


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Darel tadi, Mentari dan Darel benar-benar melakukan permainan sebelum berangkat ke acara Jo. Setelah puas bermain hingga empat ronde, Darel menggendong tubuh Mentari yang lemas akibat baru saja mendapatkan pelepasannya ke kamar mandi. Mereka kembali melakukan adegan itu dibawah guyuran shower.


********


Waktu menunjukkan pukul enam sore. Semuanya sudah siap untuk berangkat ke acara Jo. Laila juga sudah didandani dengan anggun dan tidak kalah cantik dari para nona muda. Dengan gaun berwarna merah maroon selaras dengan jas dan celana Harri menambah kesan sexy gadis itu.


Mentari juga tidak kalah cantik dan mempesona. Dengan dress berwarna hitam press body panjang dengan belahan samping kanan setinggi lutut, berkerah off shoulder terlihat sangat anggun. Ditambah dengan anting, kalung, dan gelang berlian membuat Mentari semakin cantik dan elegan.


"Ayo kita berangkat!" ucap Darel yang telah mengenakan jas dan celana senada dengan warna dress Mentari.


"Baik tuan!" ucap ketiga anak buah Darel.


"Harri kau dan kekasihmu itu naik mobilku yang lain saja! biar Adi dan Lukas yang bersamaku!" ucap Darel.


"Ehh, tapi tuan!! mobil tuan kan tidak ada yang murah! paling murah itu harganya cuma lima ratus milyar saja, itu pun juga mobil kesayangan anda kan? mana berani saya memakainya!" ucap Harri.


"Kau pakai saja yang ini! biar aku pakai yang lain!" ucap Darel memberikan kunci mobil yang biasa dia pakai kepada Harri.


"Ah, kalau yang ini saya tidak segan tuan! kan setiap hari saya mengemudi dengan mobil ini, heheh!" ucap Harri menerima kunci mobil itu dengan cengengesan.


"Lukas kau yang menyetir ya!" ucap Darel.


"Baik tuan, kita pakai mobil yang mana?" tanya Lukas.


Yah karena memang banyak mobil yang terparkir di bagasi mobil milik Darel sehingga Lukas bingung mau pakai yang mana. Apalagi mengingat harga satuan mobil itu cukup fantastis bagi orang biasa sepertinya. Mungkin satu mobil itu seharga gajinya selama dua bulan. Jiwa misqueen Lukas dan Adi meronta-ronta melihat jajaran mobil mahal itu.


"Pakai yang baru aja!" ucap Darel.


Yah, beberapa bulan yang lalu Darel baru saja membeli sebuah mobil Bugatti Divo dengan harga seratus triliun. Sebenarnya Darel tidak terlalu berminat dengan mobil itu, dia membelinya hanya hanya karena gabut saja.


"Wahh, kita jadi bahan percobaan nih! kapan lagi bisa naik mobil mahal yang teramat mahal ini ya kann!!" ucap Lukas.


"Ayo cepat kita berangkat!" ucap Darel yang sudah membukakan pintu untuk Mentari kemudian mulai memasuki mobil.


Lukas dan Adi juga ikut masuk ke dalam mobil. Mereka berdecak kagum melihat kemewahan mobil baru Darel itu.


"Wahhhh mobil mahal emang beda yaa rasanyaa!!!" ucap Lukas mengedarkan pandangannya ke sekeliling mobil.


"Emang kamu makan?" tanya Adi yang tengah memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


"Yee, ya kali saya makan mobil beginian! dari pada saya makan mending saya lelang lagi, hehehe! lumayan uangnya bisa bayar utang!" ucap Lukas bercanda.


"Dih, cepat lah jalan!" ucap Adi.


"Siyapppp!!!!"


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah Darel. Malam itu terasa sangat sejuk karena rintik hujan turun ke Bumi. Tidak lama, hanya ingin membasahi jalanan saja mungkin.


Sesampainya di gedung tempat acara berlangsung, mereka langsung memasuki gedung. Terdapat beberapa petugas yang mengecek undangan setiap orang yang hadir di sana.


"Shiren!!" panggil Mentari kepada Shiren.


Daniar dan Anisa juga sudah berada disana. Terlihat Shiren jauh lebih segar dan cantik setelah bertemu dengan kakaknya.


"Apa kabar? hallo anak gantengg...duh tambah ganteng aja dehhh!" sapa Mentari.


Mentari ingin menggendong bayi Brian, dia begitu menggemaskan dengan kemeja dan kemeja warna senada dengan orang tuanya. Bayi mungil itu tersenyum saat berada di pelukan Mentari.


"Ihhh, gemes banget sih kamuu! pengen Tante culik deh!!" ucap Mentari yang sangat gemas kepada bayi Brian.


"Yah jangan dong Tari! sepi tau kalau nggak denger celotehan baby Brian dirumah! aku aja gemes sama anakku sendiri apalagi kamu! cepet-cepet nyusul deh biar Brian ada temennya! Niar juga! kalau Shiren buruan nikah deh yaa!" goda Anisa.


"Iya tuh!"


"Tapi binar di mata kalian tuh nggak bisa bohong loh kalau kalian pengen punya anak juga!" ucap Anisa yang melihat binar itu di mata Daniar dan Mentari.


"Kita mah terserah Tuhan aja ngasihnya kapan! kalau mau secepatnya juga boleh. Yang penting aku dan Zanu udah berusaha!" ucap Daniar blak-blakan.


Mengingat betapa gagah sang suami diatas ranjang saja sudah membuat tubuh Daniar panas apalagi saat kulit mereka bersentuhan.


"Permisi! mohon perhatiannya sebentar!" ucap Jo yang berdiri di tengah-tengah kerumunan tamu.


"Saya ucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah hadir di acara penyambutan adik saja satu-satunya, Sharin atau yang biasa kalian sapa Shiren! bersulang!!!" ucap Jo mengangkat gelas berisi minuman lalu meminumnya diikuti semua orang.


"Selamat menikmati acara ini!" ucap Jo.


Jo berjalan mendekati adiknya yang berdiri di dekat kedua angkatnya, adik angkatnya dan juga Tomi.


"Hai, saya Jo, kakak kandung Sharina!" ucap Jo memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Saya Farwen Weels, biasa di panggil Farhan! ini istri saya Ayu Weels, dan putra bungsu saya Ajid Weels!" ucap Farhan memperkenalkan keluarganya.


"Senang bisa bertemu dengan kalian semua! terimakasih juga karena telah mengasuh adik saja, Sharina! saya tidak tahu lagi harus dengan apa saya membalas kebaikan kalian!" ucap Jo.


"Itu tidak perlu! dengan adanya Shiren di tengah-tengah keluarga kamu itu sudah lebih dari cukup. Shiren membawa kebahagiaan tersendiri bagi kami. Emm...bolehkah kami menganggapnya seperti anak sendiri meskipun kalian sudah bertemu?" tanya Ayu hati-hati.


"Tentu saja!! tentu saja!!! dia adalah putri sulung keluarga kalian bukan? dan selamanya akan tetap seperti itu!" ucap Jo.


"Syukurlah!" ucap Farhan dan Ayu lega.


Mereka berpikir dengan Shiren yang sudah bertemu dengan keluarganya maka dia akan melupakan keluarga Farhan. Tapi untungnya Jo memperbolehkan Shiren untuk tetap berhubungan dengan mereka.


"Terimakasih kak! kau sangat baik!" ucap Shiren yang terharu bahkan sampai menitihkan air mata bahagia.


"Jangan menangis!" ucap Jo lembut sambil mengusap air mata adiknya.


"Aku baru saja bertemu denganmu, jadi jangan tunjukkan air mata ini dihadapan ku meskipun itu air mata bahagia! aku hanya ingin melihat senyum bahagia mu bukan air matamu!" ucap Jo.


"Kau mau tau apa yang membuatnya lebih senang?" ucap Tomi.


"Cih, apaan?!" ucap Jo malas.


"Menikah denganku, hahahahaaa!" canda Tomi.


"Jangan mimpi yaa!!!" cibir Jo.


"Tomi benar kok kak! aku akan sangat bahagia kalau bisa menikah dengannya!" ucap Shiren membela Tomi.


Tomi merasa menang diatas perdebatan ini karena Shiren membelanya.


"Kamu beneran mau menikah sama kingkong ini?!" tanya Jo kesal sambil menunjuk ke arah Tomi.


"Sembarangan kau kuda liar! siapa yang kau panggil kingkong tadi?!" ucap Tomi menepis jari telunjuk Jo dengan kasar.


"Kuda liar kau bilang?!"


"Sudahlah!! kalian ini kayak anak kecil aja deh!" ucap Shiren menengahi kakak dan kekasihnya.


"Awas ya looo!!!" ucap Jo yang dibawa pergi oleh Shiren sambil menunjuk kedua matanya lalu diarahkan ke mata Tomi dengan tatapan tajam secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2