
Di rumah Daniar, ibu Daniar yang tengah menonton televisi dibuat terkejut dengan berita yang disiarkan di televisi.
"Niarrrrrr!!!!!" teriak mama Daniar.
Daniar yang saat itu hendak beristirahat langsung berlari menuju ruang televisi, begitu juga papanya yang saat itu tengah bertelepon ria dengan temannya.
"Ada apa sih ma? kenapa teriak-teriak!" ucap Daniar sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ada apa ma?" tanya papa Daniar.
"Lihat itu berita di televisi!!! Mentari!!!" ucap mama Daniar tidak kuat menahan tangis.
Mata mereka tertuju kepada televisi dimana memberitakan kecelakaan pesawat pribadi yang ditumpangi Darel dan Mentari.
"Tariiiii!!!" teriak Daniar histeris.
Air mata Daniar lolos begitu saja ke pipinya. Tidak percaya rasanya jika sahabatnya harus meninggalkannya dengan cara seperti ini.
"Nggak, ini nggak mungkin!!!! Tari, Tari pasti selamat kan ma, pa? Tari pasti akan selamat kan, nggak ini nggak mungkin!" ucap Daniar berusaha mengelak dari kenyataan didepannya.
__ADS_1
Daniar terduduk dilantai, badannya terasa sangat lemas. Kabar ini benar-benar membuatnya syok, bahkan air mata saja tidak cukup mewakili perasaannya saat ini.
"Aku....aku.... aku nggak rela ma, aku nggak rela kalau Mentari ninggalin aku kayak gini, aku nggak terima!!!! aku nggak terimaaa!!!" teriak Daniar histeris.
"Sayang tenang dulu, mereka masih dalam proses pencarian. Semoga saja Mentari dan suaminya bisa selamat dari kecelakaan itu!" bujuk papa Daniar.
"Iya sayang, kita berdoa saja semoga Mentari dan suaminya baik-baik saja!" ucap mama Daniar berusaha menenangkan anaknya.
********
Di kediaman keluarga Sanjaya, nyonya Ardi yang baru saja siuman langsung berteriak-teriak memanggil nama Darel dan Mentari.
"Darelllll!!!!! Mentariiii!!!! kalian dimana, jangan tinggalin mama, nakkkkk!!!!!" teriak nyonya Ardi yang baru siuman.
"Dita, Darel mana nak? Mentari? mereka baik-baik aja kan? jawab mama, mereka baik-baik aja kan?" tanya nyonya Ardi sambil mengguncangkan tubuh Randita.
Randita bingung harus menjawab apa. Disatu sisi dia tidak ingin berbohong kepada sang mama bahwa Darel dan Mentari belum ditemukan, namun disisi lain dia tidak ingin kesehatan mamanya semakin memburuk jika mendengar kabar ini.
"Ma, papa kan sudah bilang serahkan semuanya sama papa. Papa dan anak buahnya sudah mencari Darel dan adik ipar kok mama tenang aja ya, sekarang mama istirahat aja ya." bujuk Randita selembut mungkin.
__ADS_1
"Mama mau Darel dan Mentari kembali, mama mau mereka kembali dengan selamat Dita! bilang, bilang sama papamu bawa Darel dan Mentari pulang dengan selamat, mama mohon....!!" ucap nyonya Ardi sambil menangis.
Sungguh kasih sayang seorang ibu sangatlah nyata, ikatan batin ibu dan anaknya memang sangat kuat. Nyonya Ardi sangat yakin kalau anak dan menantunya masih hidup, hanya mereka belum ditemukan saja keberadaannya.
"Iya ma, Dita kasih tau papa ya, mama istirahat aja dikamar nanti kalau udah ada kabar Dita pasti bilang sama mama, ya?" ucap Randita.
Tidak bisa Randita pungkiri sangat berat untuk mengatakan hal itu, ingin sekali rasanya dia menangis saat itu juga, namun dia harus memprioritaskan kesehatan mamanya karena dia tidak ingin hal buruk terjadi kepada mama tersayangnya itu.
Setelah memposisikan dirinya, nyonya Ardi pun kembali beristirahat sedangkan Randita keluar dari kamar mamanya.
Diluar kamar, Randita yang sedari tadi berusaha menahan tetesan air mata untuk tidak jatuh ke pipinya pun langsung lolos begitu saja. Dia sangat sedih akan berita tiba-tiba ini. Bagaimana bisa hal buruk terjadi pada Darel dan Mentari yang baru saja memulai hidup baru sebagai suami dan istri? membayangkannya saja membuat Randita bergidik ngeri, apalagi jika dirinya harus dipisahkan dengan sang suami yang baru saja dia nikahi itu sangat menyakitkan baginya.
"Mama?!" panggil Arya.
"Sayang, kamu sudah mainnya?" tanya Randita.
Dengan cepat dia menghapus air mata yang membasahi pipinya itu.
"Mama kenapa nangis? ada yang jahatin mama ya?" tanya Arya dengan polosnya.
__ADS_1
"Enggak kok sayang, mama baik-baik aja!" ucap Randita berbohong.
Arya pun memeluk mamanya yang membuat Randita merasakan apa yang dirasakan mamanya saat ini. Bagaimana jika hal itu terjadi kepadanya? sanggupkah dia bersikap tegar? atau malah lebih buruk dari mamanya tadi? pikir Randita saat itu.