
Pukul sembilan tepat, Kaj dan Hyuna telah sampai dirumah Darel. Darel pun menyambut mereka begitu mereka memasuki rumahnya.
"Bagaimana jalan-jalan kalian?! Kemana saja kalian tadi?" tanya Darel dengan wajah bungah.
Berbeda dengan Shaki dan Iwang yang memang kurang setuju dengan perjodohan kali ini.
"Kami hanya pergi ke pasar malam saja, om." sahut Kaj.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu om. Sudah malam." pamit Kaj.
"Em, Kaj!! Tunggu sebentar!!" panggil Darel.
"Iya, om?" tanya Kaj.
"Setelah om pikir-pikir lagi, om menginginkan pertunangan kalian dimajukan jadi minggu depan lalu selang satu minggu setelah pertunangan kalian akan dilanjutkan dengan acara pernikahan, bagaimana?" tanya Darel.
Semua orang terbelalak mendengar usul Darel yang terkesan buru-buru itu. Hyuna bahkan tidak diijinkan untuk mengutarakan pendapatnya karena dia tidak ingin menyakiti hati Darel. Sudah banyak ulahnya yang akhirnya membuat papinya itu repot. Hyuna tidak mau lagi menyusahkan papinya. Tapi mengapa harus begini?! Seolah-olah Darel menginginkan dirinya segera pergi dari rumah ini. Atau jangan-jangan memang Darel menginginkan hal itu?!
"Maaf, om sebelumnya. Tapi saya juga harus berunding dengan orang tua saya yang berada di Belanda." ucap Kaj.
"Ah, iya! Om lupa kalau orang tua kamu ada di luar negeri. Baiklah! Kalau bisa secepatnya suruh mereka pulang dan kita akan membicarakan lagi masalah ini." ucap Darel.
"Baiklah om. Saya permisi dulu kalau begitu." ucap Darel.
"Hati-hati!" ucap Darel.
Begitu kepergian Kak, Hyuna langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Shaki menatap sendu adik perempuannya itu begitu juga Iwang dan Kaivan. Walaupun Kaivan sering menjahili Hyuna, bukan berarti dia tidak menyayanginya. Dia sangat menyayangi adik perempuannya itu.
"Ayah. Bisa kita bicara?" tanya Iwang.
"Denganku juga!" sahut Shaki.
"Aku juga!" sahut Kaivan.
Darel menatap ketiga putranya itu lalu menghela nafas berat.
"Ayo keruang kerja papi!" ucap Darel.
Mereka pun mengikuti langkah Darel menuju ke ruang kerjanya. Sementara di sisi lain, Lukas, Adi Harri, dan Nakala juga bingung dengan situasi yang terjadi dirumah ini. Mereka sekilas juga kasihan dengan Hyuna karena Darel memutuskan sesuatu untuk hidupnya tanpa mendengarkan pendapatnya.
"Aku bingung kenapa tuan tiba-tiba menjodohkan nona muda." celetuk Harri.
Seperti biasa, Harri adalah orang yang ceplas-ceplos walau telah berkeluarga.
"Aku tidak tahu! Tapi apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan kehadiran ayah beberapa waktu ke rumah ini??" tanya Lukas sendu.
__ADS_1
"Entahlah! Aku juga sebenarnya bingung dengan tingkah paman Joni akhir-akhir ini. Setelah sekian lama dia menghilang lalu tiba-tiba dia kembali muncul dengan membahas nyonya Rumi!" ucap Adi.
Nakala hanya diam menyimak. Namun tangannya mengelus punggung tangan Adi. Nakala tahu Adi tengah emosi kala mengingat ulah pak Joni yang berteriak memaksa masuk ke dalam rumah Darel kala pesta ulang tahun Ana waktu itu. Entah ada apa dengan pak Joni hingga bertingkah aneh begitu padahal sebelum menghilang dia baik-baik saja.
"Tau, sudah kita peringati juga untuk tidak kesini lagi malah tetap ngotot masuk. Sebenarnya paman Joni itu kesambet setan apa sih?!!" celetuk Harri.
Lukas menyendu.
"Entahlah! Aku sendiri juga tidak tahu mengapa ayah berubah seperti ini." ucap Lukas.
Dia tidak tahu mengapa ayahnya itu berubah seolah seperti bukan pak Joni tangan kanan tuan Ardi. Lukas juga bertanya-tanya ada apa dengan ayahnya. Mengapa dia kekeh sekali agar Darel mencari Rumi?!
Didalam ruangan kerja Darel. Dia dan ketiga anaknya tengah duduk berhadapan.
"Apa kalian masih meragukan keputusan papi?! kalian tahu papi hanya menginginkan yang terbaik untuk putri papi satu-satunya itu." jelas Darel sebelum putra-putranya melontarkan pertanyaan.
"Aku tahu ayah ingin yang terbaik untuk Hyuna begitu pun dengan kami. Tapi ayah! Bisakah kau mengulur waktu pertunangan mereka setidaknya sampai satu atau dua bulan lagi. Hyuna masih remaja, ayah dia pasti masih ingin puas bermain-main, menikmati masa remajanya." ucap Iwang.
Iwang tidak protes Darel menjodohkan Hyuna dengan Kaj. Namun Iwang tidak setuju saat Darel meminta acara pertunangan dan pernikahan dilangsungkan begitu cepat. Iwang.....Iwang tidak terima adik kecilnya tumbuh dewasa.
"Aku sebenarnya juga tidak meragukan semua keputusan papi menyangkut Hyuna karena aku yakin itu yang terbaik untuknya menurut versi papi. Tapi apa papi bertanya kebahagiaan seperti apa yang Hyuna inginkan versinya?" tanya Shaki.
Darel mengerutkan keningnya.
"Bukankah Hyuna menyetujui perjodohan ini?! Bukankah kalian sendiri juga mendengar keputusannya di meja makan tadi?" tanya Darel menatap ketiga putranya secara bergantian.
"Apa papi tidak melihat kedalam mata Hyuna?! Atau memperhatikan raut wajahnya yang menyembunyikan perasaannya? Dia tidak berdaya! Dia ingin menolak, tapi dia tidak ingin mengecewakan papi. Dia pasti merasa bersalah karena telah menciptakan banyak masalah untuk papi!" ucap Shaki.
"Papi tahu awalnya Hyuna akan merasa ini keputusan terburuk yang papi pilihkan untuknya. Tapi papi yakin Hyuna akan bahagia bersama Kaj." ucap Darel tetap ingin perjodohan ini berlanjut.
"Sebenarnya apa motif papi sebenarnya?" tanya Iwang.
"Maksudnya?" tanya Darel seolah tidak mengerti maksud putra sulungnya itu.
"Mengapa papi begitu menginginkan perjodohan ini?! bahkan dengan tidak berpikir dua kali papi meminta memajukan acara pernikahan menjadi dua minggu lagi. Katakan pada kami, pi!" cerca Iwang.
"Maafkan papi! Tapi papi tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya dibalik keputusan papi ini. Suatu saat nanti, kalian pasti tahu alasan papi melakukannya." ucap Darel tersenyum getir.
Darel tahu. Darel tahu putrinya itu menderita dengan keputusannya menjodohkan dia dengan Kaj. Tapi Darel tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Darel ingin putrinya secepatnya mendapat pendamping yang mempu menjaganya. Dulu, Darel mengira Hyuna akan aman bersama Alvaro. Dia mengira Alvaro akan melindungi Hyuna. Namun nyatanya. Darel salah besar. Tapi dengan Kaj?! Darel berasa begitu yakin melebihi rasa yakinnya pada Alvaro kala itu. Semoga keputusannya kali ini tidak salah. Darel terus berdoa dan memohon pada Tuhan untuk kebahagiaan putra-putrinya.
Setelah pembahasan panjang itu, Iwang, Shaki dan Kaivan memilih keluar dari ruang kerja papinya. Begitu pintu tertutup, Darel pun bersandar di kursinya lalu memejamkan mata sejenak.
"Tari! Bantu aku! Tolong aku! Aku takut keputusanku salah! Tapi aku juga tidak punya waktu!" ucap lirih Darel.
Setitik air mata mulai membasahi pipinya. Dia menangis.
__ADS_1
********
Disebuah ruangan yang begitu berantakan. Ada banyak sekali barang-barang berserakan di lantai juga ada pecahan kaca dimana-mana. Kamar itu mirip seperti kapal pecah daripada sebuah kamar.
"TIDAKKKK!!!!!! AKU TIDAK TERIMA INIIII!!!!" teriak Naruka.
Naruka pulang ke apartemennya setelah makan malam bersama dirumah Darel tadi. Zoe yang khawatir dengan putrinya itu pun mengikutinya hingga beginilah jadinya. Naruka mengamuk dan membanting semua alat kosmetiknya yang ada diatas meja. Tidak sampai disitu dia membanting apapun yang dia lihat. Naruka seolah kesetanan dan terus meraung-raung.
"Sayang tenangkan dirimu!! Kamu bisa melukai dirimu sendiri, sayang!!!" ucap Zoe sedikit berteriak.
Naruka yang masih menangis langsung menghentikan tangisannya.
"TENANG?!!! BAGAIMANA AKU BISA TENANG, MA!!!! ORANG YANG AKU CINTAI DIREBUT DARIKU!!!!! HYUNAA!!!! DIA PEREBUT KEBAHAGIAANKUUUU!!!!!" teriak Naruka lagi.
Kondisi Naruka begitu mengenaskan sekarang. Rambut yang biasanya tertata rapi kini seperti rambut singa. Begitu berantakan dan kacau.
"Tenang, sayang!!! Kamu harus tenang agar tujuanmu tercapai!!! Kalau kamu begini justru Hyuna akan semakin menertawai nasibmu yang mengenaskan karena telah merasa menang darimu!" ucap Zoe.
Naruka menghentikan isak tangisnya. Mamanya benar. Dia tidak boleh lemah sekarang atau Hyuna akan merasa telah unggul darinya.
"Nggak! Aku nggak mau Hyuna merasa menang dariku!!! Nggak!!! Aku nggak mau!!!" ucap Naruka yang lebih tenang.
"Maka dari itu kamu harus punya strategi untuk menghancurkan Hyuna dan juga merebut apa yang seharusnya menjadi milik kamu, sayang! Kalau kamu lemah maka Hyuna akan dengan mudah mengambil semua milik kamu dan kamu hanya akan mendapatkan sisa!" ucap Zoe.
"Mama benar!! Harusnya aku merencanakan sesuatu. Tapi aku bingung harus berbuat apa, ma!" ucap Naruka menatap mamanya.
"Tenang saja, sayang! Kamu masih punya mama! Mama ada rencana bagus untuk kamu!" ucap Zoe.
Zoe pun mendekat ke telinga Naruka lalu membisikkan rencananya pada putrinya itu. Naruka pun tersenyum mendengar rencana mamanya.
"Itu rencana yang bagus, ma!!! Aku nggak sabar untuk menjalankan rencana kita!!" ucap Naruka girang.
"Tentu saja, sayang! tapi sekarang, kamu harus membersihkan dirimu. Mama tidak tega melihatmu kacau seperti ini!" ucap Zoe.
"Oke, ma! I love you, mom!" ucap Naruka lalu masuk ke kamar mandi setelah mendapat jawaban dari Zoe.
Zoe pun menelepon seseorang untuk meminta tolong membersihkan apartemen Naruka itu.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Duh jadi deg-degan deh. Kira-kira apa yang tengah direncanakan oleh Naruka dan Zoe?! Ikuti terus kelanjutan ceritanya yaa😉😉