
Mentari terus menatap Darel yang masih mengusap pucuk kepalanya.
Rasa ini, kenapa aku merasakan hal aneh saat didekatnya? apa aku memang sudah jatuh cinta padanya? batin Darel.
Darel tersadar dan segera melepaskan tangannya yang masih mengusap pucuk kepala Mentari. Semua mata sekarang tertuju kepada Darel, bukan saja aneh tapi sangat mustahil bagi seorang Darel berbuat hal seperti itu terlebih kepada seorang wanita.
"Sepertinya aku masih ada urusan, kami permisi dulu!" ucap Darel langsung menarik lengan Mentari.
Mentari hanya mengikuti langkah Darel yang membawanya pergi dengan kepala penuh tanda tanya. Ferry dan sang istri juga sangat kebingungan dengan sikap Darel terlebih Ferry tahu kalau siang ini mereka free, lalu urusan apa yang membuat Darel pergi pikir Ferry.
"Aku rasa tuan muda sudah mulai mencintai nona muda." ucap Frishi pada sang suami.
"Aku harap juga begitu!" ucap Ferry menatap jauh kedepan.
Didalam mobil Darel mengemudikan dengan sangat cepat membuat Mentari merasa ketakutan.
"Apa harus secepat ini mengemudinya? aku sangat takutt!" teriak Mentari berharap Darel mendengarnya.
Darel sama sekali tidak menghiraukan perkataan Mentari, sebaliknya dia malah mempercepat laju mobil.
Ya Tuhan tolong jaga aku dari tuan muda sombong ini, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini! oh tidak! jangan-jangan dia berpikir untuk bunuh diri dan dia ingin mengajak ku lagi???!!! batin Mentari kalut.
Darel mengemudikan mobilnya membawa Mentari kesebuah tempat. Sesampainya ditempat itu, Darel langsung menarik tangan Mentari walaupun Mentari mencoba memberontak namun tenaganya kalah jauh dibanding dengan tenaga Darel.
Woww, sangat indah!! batin Mentari setelah melihat sekitar.
Tangan Mentari masih ditarik oleh Darel menuju sebuah jembatan dimana banyak terdapat gembok terkunci disana.
Darel menghentikan langkahnya, membeli sebuah gembok dan menuliskan dua nama disana kemudian menguncinya di pagar jembatan. Mentari hanya melihat apa yang sedang Darel lakukan.
"Kau lihat ini!" ucap Darel menunjuk gembok miliknya yang baru saja dia kaitkan di pagar jembatan.
"Mentari, Darel? maksudnya? ak..aku tidak paham?" tanya Mentari kepada Darel.
"Aku rasa ini memang aneh, tapi aku merasakan sesuatu saat didekatmu! aku khawatir saat kau dalam masalah. Aku bisa tersenyum sendiri melihat tingkahmu!" ucap Darel.
__ADS_1
Tunggu, tingkahku? yang mana? batin Mentari.
"Dan aku....aku merasa kesal saat kau berada didekat pria lain, terutama yang kau panggil kakak itu!" ketua Darel.
Kak Galih? apa dia cemburu pada kak Galih?
"Dan aku baru menyadari kalau......" terpotong.
Darel berusaha menata hatinya, mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Aku mulai jatuh cinta padamu!" ucap Darel setelah beberapa saat terdiam.
Mentari membelalakkan matanya, terkejut, tidak percaya, senang, atau haruskah dia sedih karena pria yang dia sebut sombong, angkuh dan dingin sekarang menyatakan cinta kepada dirinya? haruskah dia senang karena suaminya mencintai dirinya? ah, tapi itu tidak mungkin batin Mentari.
"Aku tahu kau pasti mengira kalau aku tidak serius mengatakan hal ini, tapi bisakah kau melihat kejujuran itu dari mataku?" tanya Darel karena melihat wajah Mentari yang kalut.
"Benarkah apa yang kau katakan? bukannya kau selalu mengataiku wanita ular, wanita bodoh, dan..." terpotong.
Darel langsung meraih tubuh Mentari dan membawanya kedalam pelukannya. Mentari merasakan jantungnya berdetak sangat cepat seperti orang habis lari maraton saja.
Kenapa selalu begini? apa....apa aku juga? batin Mentari.
Maaf? seorang Darel Sanjaya meminta maaf? oh Tuhan apa kiamat sudah dekat? batin Mentari.
Mulut Mentari rasanya kelu tidak bisa mengatakan apapun. Dia hanya diam seribu bahasa. Entah kemana pikirannya saat ini. Mentari berjalan meninggalkan Darel membuat Darel merasa kebingungan.
Kenapa dia malah pergi? apa aku salah bicara? batin Darel.
Karena tidak melihat jalan, kaki Mentari terkilir dan beruntungnya Darel langsung meraih tubuhnya agar tidak jatuh.
"Dasar wanita bodoh, kalau jalan pakai mata!" ketus Darel.
Mentari yang semula tersenyum langsung memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Darel. Tanpa ragu-ragu lagi Darel menggendong tubuh Mentari dan membawanya ke mobil. Mereka akan kembali ke apartemen sembari makan siang disana saja karena kaki Mentari yang masih sakit.
Sesampainya di apartemen, Darel langsung merebahkan tubuh Mentari di atas ranjang, kemudian menelepon Ferry untuk memanggilkan seorang dokter ke apartemennya.
__ADS_1
Butuh waktu lumayan lama untuk Ferry dan sang dokter sampai ke apartemen Darel. Dokter wanita itu dengan sigap langsung memeriksa keadaan Mentari.
"Semuanya baik-baik saja tuan, hanya cedera sedikit dibagian kakinya. Sebaiknya dia beristirahat total selama 2-3 hari kedepan agar cedera di kakinya cepat membaik." jelas sang dokter yang ternyata orang Indonesia.
"Hem, baiklah aku mengerti!" ucap Darel.
Ferry mengantarkan dokter wanita itu kembali ke rumah sakit, meninggalkan Darel dan Mentari.
"Makanlah ini dulu, lalu minum obatnya dan istirahat!" ucap Darel.
Mentari tidak mengatakan apapun, dia langsung menyantap makanan didepannya karena perutnya sudah sangat lapar. Mentari memakan makanannya hingga belepotan dibibirnya.
"Kau itu seperti anak kecil saja ya? makan begini saja tidak bisa!" ucap Darel.
"Aku sangat lapar, bisakah kau membersihkannya?" ucap Mentari.
Maksud Mentari dia meminta Darel memberikan sebuah tissue, namun malah....
Cupp.....
Darel membersihkannya dengan ciuman. Mentari membelalakkan matanya. Ciuman pertamanya sudah direnggut oleh Darel, yang sebenarnya adalah suami sahnya.
"Kau?!!!!" marah Mentari.
"Bukankah kau menyuruhku membersihkannya?" ucap Darel sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aku menyuruhmu membersihkannya dengan tissue bukan dengan bibirmu itu. Kau...kau sudah mengambil ciuman pertamaku!!!" kesal Mentari.
"Emm, karena ciuman pertama mu sudah aku ambil, berarti aku harus dihukum bukan?" tanya Darel.
"Tentu saja aku akan menghukummu karena in...." terpotong.
Mentari belum menyelesaikan kalimatnya namun dengan cepat Darel membungkamnya dengan menggunakan bibirnya. Darel terus me****t bibir mungil Mentari. Meski Mentari tidak membalasnya, namun Darel tetap memainkan lidahnya didalam mulut Mentari.
"Kau ini gila ya? atau mau mati? kenapa tidka bernafas?" bentak Darel saat melihat Mentari kehabisan nafas.
__ADS_1
"Ak....aku tidak pernah melakukannya, makanya aku tidak bernafas." ucap Mentari tertunduk.
Apa benar dia masih sesuci itu? batin Darel.