
Adi dan Harri dengan semangat melepas satu persatu pakaian yang dikenakan oleh pak Handoko.
"Hei!! apa yang kalian lakukan!! lepaskan aku!!!!" teriak pak Handoko ketika satu persatu pakaiannya tanggal begitu saja.
Darel hanya menyunggingkan senyumnya melihat pak Handoko yang terus dilucuti oleh Adi an Harri. Nurul yang masih ada disana bersembunyi dibalik punggung calon suaminya. Entah mengapa Nurul malu sendiri karena adegan ini.
"Jangan takut! bukankah sudah ku beritahu semuanya tentang tuan Darel? dia mungkin sedang melepaskan sesuatu yang tidak ada seorang pun yang tahu!" ucap Wisnu sembari menatap wanita yang bersembunyi dibelakang punggungnya itu.
Sesuatu yang dimaksud Wisnu disini adalah kekosongan. Datang ke perusahaan yang sama sekali bukan minat Darel tentu saja adalah sesuatu hal yang aneh bagi orang-orang terdekatnya. Bagaimana tidak, dulu saja Darel hanya akan pergi ke perusahaan paling cepat satu bulan sekali dan selama tidak ada Darel di perusahaan Wisnu lah yang menghandle semuanya atas perintah Darel.
Saat Darel mengatakan akan kembali ke perusahaan, Wisnu menyambutnya dengan senang. Mungkin orang lain akan menyayangkan hal itu karena status Wisnu yang saat itu seorang pemimpin di perusahaan. Tentu jabatan yang terlalu tinggi untuk ditinggalkan.
Namun tidak dengan Wisnu. Dia justru terlihat bahagia melepaskan jabatannya dan menyerahkannya kembali ke Darel. Bukankah Wisnu pernah bilang kalau dia akan mengembalikan jabatan ini kepada Darel suatu saat nanti jika diperlukan? Wisnu pikir inilah saatnya!
Sekarang pak Handoko hanya memakai kaos oblong berwarna putih dan juga boxer berwarna merah muda.
"Gaya selangit! tapi seleranya pink!!! hahahaha!" ejek Harri ketika melihat boxer pak Handoko.
"Hahahaha, mau cosplay jadi princess omm?!" timpal Adi yang ikut tertawa terbahak-bahak.
"Sudah! cepat selesaikan ini! aku masih ada rapat lagi!" ucap Darel.
Darel berdiri dari duduknya sembari mengaitkan satu kancing kemeja yang tadi terbuka.
"Siap tuann!" jawab Adi dan Harri bersamaan sambil hormat.
"Tuan saya mohon maafkan saya!! saya malu tuan!!" ucap pak Handoko.
"Malu? akan aku tunjukkan bagaimana rasa malu yang sebenarnya!" ucap Darel kemudian berjalan menuju mobil diikuti Wisnu dan Nurul.
Harri mengambil tali tambang yang dia minta dari pelayan disana. Tali tambang bekas mengikat kardus berisi ikan itu tercium sangat amis khas ikan. Tidak lupa juga, Adi membayar manajer di restoran itu dengan sejumlah besar uang cash untuk membayar furniture yang sudah mereka rusakkan.
"Ini! belilah perabotan yang baru dan lebih bagus dari ini! kalau bisa yang kalau dibuat bertarung tidak bisa rusak!" ucap Adi memberikan koper berisi uang.
__ADS_1
"Hah, beberan ini tuan? segini banyaknya?" tanya manajer itu terheran-heran.
"Sisanya dibagi rata sama karyawan aja!" ucap Adi lalu meninggalkan restoran.
Lukas datang membawa sebuah mobil atas perintah Darel. Dia yang awalnya tidak mengerti mengapa disuruh membawa mobil ke restoran itu pun menjadi sedikit paham setelah melihat Harri menarik tali yang mengikat pak Handoko seperti menarik seekor sapi.
"Tuan Harri!" panggil Lukas mendekat ke arah Harri.
Harri menghentikan tarikannya pada tali membuat langkah pak Handoko juga ikut berhenti. Wajah pak Handoko terlihat begitu lucu karena menahan bau amis dan tali yang diikatkan di tangannya.
"Tuan, kera mana lagi tuh yang cari gara-gara sama tuan?" bisik Lukas.
"Kera apanyaa? ini tuh ba*i tauu!" jawab Harri.
Sedetik kemudian Lukas dan Harri tertawa terbahak-bahak karena mengatai pak Handoko dengan sebutan kera dan ba*i.
"Heh ayo kita pergi! dari pada nanti ikut diikat kayak tuh anj*Ng!" ucap Adi yang langsung berjalan melewati mereka.
Lukas dan Harri saling menatap dan didetik berikutnya mereka tertawa lagi.
"Kalian mau tertawa terus apa pergi!" hardik Darel membuat Lukas dan Harri kelabakan lalu memasuki mobil Lukas.
"Woi ngapain kau kesini! sana ke mobil tuan!" ucap Adi saat Harri hendak duduk di kursi penumpang.
"Oh iya-ya!" ucap Harri linglung.
Adi hanya bisa menggelengkan kepalanya jengah dengan tingkah Harri.
Pak Handoko duduk di kursi penumpang di mobil Lukas. Lukas dan Adi membawa pak Handoko ke markas mereka sedangkan Darel menuju perusahaan terlebih dahulu karena akan ada rapat setelah ini.
********
Mentari dan Candra sudah tiba di Bali. Delapan belas jam perjalanan hanya mereka tempuh dengan waktu kurang dari lima jam saja. Tentu saja hal itu terjadi karena Candra berkendara menggunakan mobil sport keluaran terbarunya.
__ADS_1
"Kamu yakin mau tinggal di situ?" tanya Candra.
"Iya kak! lagian nggak baik juga kita lama-lama satu rumah!" ucap Mentari.
"Tapi kan kita nggak sendirian! ada Rio sama Alfi juga kok disana!" ucap Candra.
"Namanya setan itu tidak pandang bulu mau menggoda siapa!"
"Maksud kamu, kamu nggak percaya sama kakak?" tanya Candra.
"Bukan begitu kak! aku cuma takut aja kejadian kayak kak Galih dulu! jujur aku tidak menyangka dia bisa memiliki perasaan lebih kepadaku! aku tidak mau kakak merasakannya juga, walaupun aku tahu kakak tidak akan melakukannya!" jelas Mentari sambil memperlihatkan senyum manisnya.
"Udah ya kak, aku mau masuk dulu!" ucap Mentari mulai melangkah menuju resort nya yang tadi sudah dia beli.
Kau salah Mentari! kau sudah ada didalam hatiku jauh sebelum Galih menyukaimu! aku tidak akan menghentikan kebahagiaanmu seperti Galih, namun akan aku pastikan akulah garda terdepan saat kau disakiti! itulah janjiku! batin Candra masih berdiri di tempatnya sambil terus memandangi resort Mentari yang bersebelahan dengan resort miliknya.
"Tuan!" panggil Rio yang entah sedari kapan sudah berdiri dibelakang Candra.
"Hem!" ucap Candra masih menatap ke resort Mentari.
"Sebaiknya kita masuk saja tuan, hari sepertinya akan hujan!" ucap Rio.
Patah hati, mungkin itu yang dirasakan Candra saat ini yang mampu ditafsirkan oleh Rio. Rio sudah mengenal bosnya ini bahkan saat dia diam sekalipun Rio akan mengerti keinginan Candra.
"Ya, ayo!" ucap Candra berjalan memasuki resortnya.
Benar saja, tidak lama setelah mereka memasuki resort, hujan turun dengan sangat lebatnya.
"Bos anda sudah kembali!" ucap Alfi hendak menghampiri Candra.
"Pergilah Alfi! aku sedang tidak ingin diganggu!" hardik Candra membuat Alfi memanyunkan bibirnya kecewa.
Rio yang berjalan dibelakang Candra menahan tawanya melihat ekspresi kecewa dari Alfi.
__ADS_1
"Tuan anda mau saya masakan apa untuk makan malam?" tanya Sri berusaha menggoda.
Sri saat ini menggunakan daster panjang namun dengan belahan dada yang minim hingga mampu memperlihatkan dadanya yang putih.