
Derrttt......derrttt......dertt.....
Suara ponsel bergetar. Mentari mengambil ponsel itu yang ternyata milik Darel. Sebuah pesan singkat dari aplikasi hijau muncul disana.
Siapa ini? nomornya tidak tersimpan? batin Mentari.
Karena penasaran yang sangat besar, Mentari pun memutuskan untuk melihat isi pesan tersebut. Baru saja ingin melihat isi pesan tersebut, Darel keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
"Astaghfirullah kamu tuh ngagetin aja deh!" ucap Mentari terkejut.
"Emang kenapa sih kok sampai kaget gitu?" tanya Darel balik.
"Emm, enggak cuma ada yang ngirim pesan sama kamu!" memberikan ponsel Darel dengan terpaksa.
Darel menerima ponselnya, dan membaca isi pesan yang dimaksud Mentari. Namun sesaat kemudian Darel pergi dengan alasan ingin bertemu seseorang. Setelah berpakaian rapi, Darel pun pergi dengan mencium kening Mentari terlebih dahulu.
"Jangan larut malam ya pulangnya!" ucap Mentari ketika Darel berada didepan pintu.
"Udah kangen aja kayaknya?" senyum menggoda.
Mentari memperhatikan kepergian Darel dari kaca jendela kamarnya. Terlihat Darel buru-buru sekali dan dia juga terlihat tegang ketika habis membaca pesan itu.
"Sebenarnya apa sih isi pesan itu? kok Darel sampai segitunya?" ucap Mentari ketika mobil Darel sudah melewati pintu gerbang.
Karena sudah gelap, Mentari pun memutuskan untuk mandi. Ini adalah kesekian kalinya dia mandi keramas hari ini. Bahkan Mentari sendiri lupa sudah ke berapa kali.
Selesai mandi, Mentari mengeringkan rambutnya dan memakai make up tipis lalu keluar kamar menikmati keindahan senja.
"Loh kak Lukas? kakak kemana aja kok lama nggak kelihatan?" tanya Mentari ketika bertemu dengan Lukas di dapur.
"Baru tadi siang nona! em, saya ada tambahan pelatihan beberapa minggu ini. Oh ya nona, maafkan atas kesalahan saya karena sudah lalai menjaga nona dan menyebabkan nona dalam bahaya." ucap Lukas mengingat alasan dirinya mendapat pengulangan pelatihan dari Merish.
"Itu bukan salahmu kok, aku saja yang kurang waspada!" ucap Mentari.
"Emm, kak bisa antarkan aku ke toko rotiku? sepertinya sudah lama sekali aku tidak kesana!" ucap Mentari.
"Apa nona sudah ijin dulu dengan tuan muda?"
"Dia pasti menginginkan kok, asalkan pergi dengan penjaga!"
"Baiklah kalau begitu nona, mari!" ucap Lukas.
Mereka pun pergi menuju toko roti Mentari, namun sebelum itu Mentari meminta Lukas mengantarkannya kesebuah butik untuk membeli beberapa baju untuk karyawannya.
__ADS_1
Sesampainya di butik, Mentari terlihat sibuk memilah-milah baju mana yang akan dia berikan kepada karyawannya. Hampir setengah jam dia memilih dan akhirnya lengkap semua yang dia inginkan. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke toko roti Mentari.
"Nona Mentari datang!!!! nona Mentari datangg!!!" teriak salah seorang karyawan Mentari.
"Haiii! lama tidak ketemu!" sapa Mentari.
Karyawannya langsung mengerubungi Mentari dengan suka cita.
"Bagaimana penjualan toko akhir-akhir ini?" tanya Mentari.
"Alhamdulillah non, sudah membaik! terlebih karena nama toko kita sudah dibersihkan dari tuduhan penggunaan racun dan sekarang malah jadi semakin ramai!" ucap Laila.
"Oh ya, ada oleh-oleh buat kalian masing-masing satu yaa!" ucap Mentari.
Lukas yang membawakan bungkusan itupun langsung diserbu karyawan Mentari. Mereka sangat antusias dengan apa yang dibawakan bos mereka.
"Wahhh bagus sekaliii! terimakasih nona!" ucap Laila.
"Terimakasih nona!" ucap yang lain.
"Iya sama-sama!" tersenyum bahagia.
"Oh ya, Iwang bagaimana Laila? tidak datang lagi kesini?" tanya Mentari.
"Duh, kalau dia nggak disana terus kemana ya? aku takut dia kenapa-kenapa." ucap Mentari khawatir.
"Apa perlu saya melacak keberadaannya nona?" tanya Lukas.
"Kamu bisa melacaknya?" tanya Mentari antusias.
"Tentu saja! dikawasan ini banyak CCTV nya, mungkin Iwang akan terlihat disalah satu CCTV disini!" ucap Lukas.
"Wah kak Lukas kau memang penyelamatku!" memuji Lukas.
********
"Jadi, apa yang kau mau sebagai imbalannya?" tanya Darel.
Darel bertemu dengan Pretty disebuah cafe.
"Mudah saja kok Darel sayang! aku hanya mau kamu kembali lagi bersamaku, itu saja!" ucap Pretty.
Mendengar hal itu Adi hendak memukul wanita tidak tahu diri ini, namun langkahnya terhenti oleh tangan Darel yang mencegah aksinya.
__ADS_1
"Kau tahu aku sudah punya istri! dan apa kau pikir aku akan melepaskan malaikatku demi seorang iblis sepertimu?" sindir Darel.
"Iblis-iblis begini juga pernah kamu cintai sepenuh hati Darel! ingat itu!" terpancing emosi.
"Cih, aku sudah buta saat itu karena bisa mencintai wanita berbisa sepertimu!" ucap Darel.
"Darel, aku sangat mencintaimu! aku benar-benar tidak bisa kehilanganmu!" menggenggam tangan Darel dengan erat.
"Lepaskan aku!! lepasss!!!!" melepaskan genggaman Pretty dari tangannya.
"Ku peringati kau sekali lagi! jangan pernah menemuiku ataupun istriku lagi! kalau seujung kuku saja kau berani menyentuhnya, jangan salahkan aku kalau aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!" ucap Darel penuh penekanan di setiap katanya.
Darel berdiri dari mejanya, mengancingkan jasnya dan bergegas pergi dari sana tanpa menghiraukan raut wajah Pretty yang merah padam dipenuhi amarah.
Akan ku lihat, neraka yang bagaimana yang bisa kau berikan untuk ku Darel sayang!!! Mentari! wanita itu harus aku singkirkan lebih dulu!
********
Darel sudah sampai dirumahnya pukul delapan malam. Dia pikir Mentari sudah tidur dari tadi makanya dia mengendap-endap memasuki kamarnya dengan pelan-pelan takut mengganggu tidur Mentari.
"Darimana?" tanya Mentari tiba-tiba.
Tanpa disadari Darel, ternyata Mentari tengah duduk menantinya di sofa diujung kamar.
"Honey, kamu ngagetin aja. Emmm kok...belum....tidur?" tanya Darel.
"Kenapa? emangnya nggak boleh ya aku menunggu suami ku yang masih kelayapan malam-malam begini?" sindir Mentari.
"Kamu nih ngomong apa sih?" ucap Darel cengengesan.
Kesal karena merasa Darel berbohong padanya, Mentari pun memilih mendiamkan Darel. Sebenarnya waktu perjalanan pulang tadi, tanpa sengaja Mentari melihat Darel yang duduk didekat jendela di sebuah cafe.
Jendela itu mengarah ke jalan raya sehingga bisa dilihat dengan jelas bahwa Darel tengah duduk bersama seorang wanita yang Mentari temui di mall kemarin. Bahkan Mentari melihat Adi dan Harri yang juga ada disana tengah berdiri tegap disamping Darel.
Kenapa sih dia nggak jujur aja kalau habis ketemuan sama cewek! apa benar wanita itu mantannya? apa Darel belum bisa move on? apa isi pesan tadi sampai-sampai Darel terlihat gelagapan seperti itu? batin Mentari.
Merasa pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya, Mentari pun memilih beristirahat. Namun kali ini dia tidak ingin dekat-dekat dengan Darel. Bahkan ketika Darel ingin memeluknya saja langsung ditepis oleh Mentari.
"Kamu kenapa sih?" tanya Darel bingung.
"Gak!" jawab Mentari singkat.
"Terus kok nggak mau dipeluk? kan dingin kalau nggak dipeluk!" rengek Darel.
__ADS_1
"Pakai aja tuh selimutnya kalau dingin!" jawab Mentari ketus.