Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 217


__ADS_3

Darel bangun terhuyung keluar dari kamar. Kepalanya masih sangat berat akibat minuman semalam.


"Adi bawa aku pulang!" perintah Darel saat sudah memasuki mobil.


"Baik tuan!" jawab Adi.


"Tuan, kenapa anda jadi seperti ini? ini bukan tuan Darel yang saya kenal! jika ditinggalkan nona adalah kesakitan untuk anda, mengapa anda tetap melakukannya?" tanya Adi yang tidak tega melihat tuannya terpuruk.


"Ini salahku! aku tidak berpikir panjang saat menjatuhkan hukuman pada wanita bren*sek itu! harusnya aku memberikan hukuman yang lebih kejam lagi! tapi semuanya sudah terjadi. Aku memilih ditinggalkan untuk sementara dari pada ditinggal untuk selamanya!" jelas Darel menatap jauh ke depan.


"Tuan, anda banyak berubah selama didekat nona! saya harap perpisahan ini adalah yang terakhir untuk kalian berdua dan semoga kalian bisa tetap bersama!" doa Adi tulus.


"Terimakasih Adi, kau dan Harri memang paling bisa aku andalkan! bagaimana keadaan Harri?" tanya Darel.


"Dia masih ada urusan dengan Laila tuan. Katanya mungkin nanti sore dia sudah kembali!" ucap Adi.


"Oh!" jawab Darel singkat.


Harri memang ijin kepada Darel setelah mereka sampai dirumah Darel untuk menemui Laila, karyawan di toko roti Mentari.


Selama ini Darel jarang sekali melihat Mentari membelanjakan uang yang dia berikan, kecuali jika Darel membelikannya langsung berupa barang akan diterima Mentari. Setiap kali ditanya mengenai uang yang diberikannya kepada Mentari, wanita itu selalu menjawab "lebih baik ditabung saja, siapa tahu suatu saat nanti kita butuh uang yang banyak. Keadaan manusia tidak ada yang tahu. Roda itu selalu berputar, dan semoga saat kita dibawah kita bisa melewatinya dengan uang ini!" ucap Mentari kala itu.


Sempat Darel berpikir tidak mungkin uang yang bergunung-gunung itu habis dalam sekejap saja. Namun lagi-lagi Mentari mengingatkan tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Pencipta, yang Maha Membolak-balikkan Keadaan. Dari sang istri juga lah Darel belajar artinya bersyukur. Namun dendam dan amarahnya kepada Pretty terlalu membutakan hati dan pikirannya hingga dia tidak bisa berpikir jernih dan menjadikan kekacauan besar dalam bahtera rumah tangganya.


Tari, dimana pun kau berada doakan aku agar aku bisa melewati masa dua tahun ini. Secepatnya aku akan membawamu pulang ke pelukanku setelah waktunya tiba! batin Darel.


********


Mentari, Candra, dan Rio sudah sampai di resort Candra di Bali. Resort yang berada cukup dekat dengan pantai itu sengaja Candra beli untuk kenyamanan Mentari. Tidak main-main, bahkan Candra rela membayar tiga kali lipat dari harga yang ditawarkan demi membeli tempat berlantai dua dengan halaman yang cukup luas itu. Mentari turun dari mobil yang mereka tumpangi setelah turun dari pesawat dengan terkagum-kagum. Matanya menyapu setiap sudut resort yang luas.


"Wowww, ini rumah kakak?!" tanya Mentari dengan mata berbinar.


"Kamu suka?" tanya Candra.


"Ya, suka sekali!" ucap Mentari bersemangat.


"Selama kita di Bali, kita akan tinggal disini!" ucap Candra.


"Wahh, asikkkk!! kita bisa sekalian healing dong disini! kan dekat pantai?" tanya Mentari.

__ADS_1


Candra tersenyum sambil mengelus kasar pucuk rambut Mentari membuat Mentari mengerucutkan bibirnya.


"Kakak, jangan gitu donggg!" protes Mentari karena Candra merusak tatanan rambutnya.


"Hahaha, habis kamu tuh gemesin deh kayak anak kecil aja!" tawa Candra.


"Enak aja! aku tuh udah nikah ya kak!" ucap Mentari masih tidak mau mengalah.


"Siapa bilang? orang masih kayak anak SMP kok!" goda Candra.


Rio yang berdiri dibelakang Mentari dan Candra sangat bingung dengan sikap bos nya yang berubah 180° dari yang dia kenal selama ini.


Fiks ada yang nggak beres nih sama si bos! wanita ini siapa sih? masa dia dengan mudah menjinakkan singa yang ganas dan menakutkan jadi kucing manja?! batin Rio bertanya-tanya.


"Udah yuk, masuk! panas diluar!" ajak Candra.


Mereka bertiga pun mulai memasuki resort. Terlihat satu orang wanita tua dengan seorang gadis datang menghampiri mereka.


"Merekaaa..." ucap Candra bertanya-tanya.


"Oh iya, tuan perkenalkan ini bi Inem, dan ini Sri. Mereka yang akan membantu di selama kita disini tuan!" ucap Rio memperkenalkan pembantu mereka.


Sri terus melihat Candra dengan tatapan yang tidak biasa bahkan sampai melongo. Apalagi ketika matanya melihat dada bidang Candra yang begitu menggoda. Terbayang roti sobek Candra yang pasti sangat banyak disana.


Kalau tuannya kayak gini pastinya betah! mau tiga tahu atau selamanya juga boleh! batin Sri.


"Saya bi Inem tuan! rumah saya tidak jauh dari sini. Jika butuh apa-apa langsung kabari saya!" ucap bi Inem ramah.


"Eh, saya Sri tuan. Saya masih gadis loh!" ucap Sri kecentilan.


Mentari yang melihat itu menahan tawa. Bukan karena kecentilan yang dibuat Sri, melainkan ekspresi Candra yang terlihat dingin dan acuh. Sangat kontras dengan sifat Candra yang dikenal Mentari.


"Hem!" jawab Candra singkat.


Ogah meladeni wanita itu, Candra memilih menuju kamarnya untuk berbenah diri, begitu pun Mentari.


Bi Inem juga Sri mulai memasak makan siang untuk tuan mereka. Sri yang sudah kepincut dengan sang majikan berdandan sangat menggoda dengan balutan dress selutut yang press body dengan bagian dada yang hanya menutupi separuh payu*aranya.


"Kalau berpakaian itu yang sopan dikit! gadis kok pakaiannya kayak mau dugem!" omel bi Inem yang melihat penampilan Sri seperti mau open B* saja.

__ADS_1


"Apa sih! udah urusin aja sana pekerjaan kamu! sibuk aja!" omel Sri yang tidak suka kepada bi Inem.


Bi Inem pergi sambil menggelengkan kepala jengah dengan sikap Sri yang menurutnya lebih ke wanita penggoda daripada pembantu.


"Udah siap semua bi? ada yang bisa aku bantu?" tanya Mentari yang sudah berada di meja makan.


Mentari sudah kembali segar sehabis mandi dan berganti baju. Dress hitam selutut berbentuk payung di bagian bawahnya dan lengan panjang bentuk sabrina menambah kesan elegan di wanita itu.


"Sudah semua non! Subhanallah, cantik sekali non ini!" puji bi Inem.


Sri yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa nasi ikut melongo melihat penampilan Mentari. Rambut yang tergerai indah dengan sedikit bergelombang dan penjepit rambut mutiara di sisi kirinya menambah indah ciptaan Tuhan itu.


"Bibi bisa aja!" ucap Mentari malu.


Dasar munafik! batin Sri tidak suka pada Mentari.


"Tari, udah disini aja?" tanya Candra yang baru saja turun.


"Iya kak, niatnya mau bantu-bantu tapi aku telat hehehe!" ucap Mentari apa adanya.


"Kan udah ada bi Inem sama Sri yang urus itu! kamu tinggal suruh aja!" ucap Candra lembut.


Sri semakin dibuat tidak suka kepada Mentari. Cara bicara Candra dengannya sungguh berbeda. Dengan Mentari Candra berbicara sangat lembut dan penuh perhatian, berbeda dengannya yang cuek dan dingin.


"Silahkan tuan dan nona makan dulu, kami permisi!" ucap bi Inem hendak pergi.


"Kalian bisa makan bersama kami kalau mau! makanan ini terlalu banyak untuk kami!" ajak Mentari.


Candra hanya diam saja seolah menyetujui apapun yang dikatakan Mentari. Yah, memang seperti itu pria itu dari dulu terhadap Mentari.


"Tapi..." ucap bi Inem ragu.


"Tidak apa, kalian duduk saja!" ucap Candra yang mulai duduk di kursinya.


Dengan semangat Sri langsung duduk di samping kiri Candra sedangkan dihadapannya adalah Mentari. Bi Inem duduk di samping Sri, dan Rio duduk di samping Mentari namun terpaut jarak satu kursi karena tatapan Candra yang tajam saat Rio hendak duduk di kursi samping Mentari. Akhirnya Rio bergeser satu kursi lagi.


Sri kembali berdiri dengan niat hendak mengambilkan makanan di piring Candra. Namun dengan cepat ditolak oleh Candra dan menyerahkan piringnya ke Mentari. Melihat hal itu Sri kembali duduk dengan wajah malu dan kecewa, sedangkan bi Inem dan Rio menahan tawa melihat hal itu.


Awas saja kamu, aku akan merebut tuan Candra! batin Sri menatap tidak suka ke arah Mentari.

__ADS_1


__ADS_2