Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 133


__ADS_3

Darel tanpa pikir panjang langsung menuju Korea setelah mendapat informasi dari Jack bahwa Mentari menginap dihotel XX. Bersama Adi dan Hari tentunya dia terbang ke Korea dengan menggunakan jet pribadi miliknya.


Sementara disisi tuan Ardi, dia yang mendapat kabar dari salah satu anak buah Joni bahwa Darel sudah menemukan lokasi Mentari tersenyum gembira karena sebentar lagi anak dan menantunya akan bersatu kembali. Nyonya Ardi juga sangat senang mendengar hal itu, dia berdoa agar Mentari dan Darel segera bersatu kembali.


"Tuan kita sudah sampai!" ucap Harri.


Setengah jam yang lalu Darel sudah mendarat di Korea dan langsung memasuki mobil anak buahnya yang ada disana menuju hotel tempat tinggal Mentari. Benar saja begitu sampai di resepsionis, mereka langsung menanyakan tentang pengunjung yang bernama Mentari.


"Cepatlah!!!" ucap Darel tidak sabar.


Darel benar-benar tidak sabar bertemu Mentari, hari-hari buruknya kini mulai menghilang bersamaan dengan ditemukannya keberadaan Mentari.


"Sebentar ya! emm, kamar nomor 503!" ucap resepsionis.


Tanpa menunggu aba-aba, Darel langsung menuju kamar hotel tempat Mentari. Begitu sampai didepan pintu Darel berhenti disana.


Apa kau akan memaafkan ku? kenapa kau sangat marah, apa benar kata mereka semua kalau kau juga mencintaiku? haruskah aku menampakkan diriku dihadapan mu?


Darel memajukan tangannya hendak menelan bel pintu namun pintu itu sudah dibuka lebih dulu dari dalam.


.......


Hening, hanya suara nafas mereka yang terdengar. Bahkan sekarang mereka bisa mendengar detak jantung masing-masing.


"Kau!"


"Mentari!" terharu.


Beberapa saat yang lalu, Galih pergi membelikan sesuatu untuk Mentari dimana Mentari sangat ingin memakan sushi. Namun karena tidak kunjung kembali Mentari memutuskan untuk menunggu Galih didepan kamar saja namun dia justru malah melihat Darel berada dihadapannya. Sempat tidak percaya awalnya, benarkah dia Darel suaminya?


"Darel?"


"Iya, ini aku!"


"Tidak-tidak! ehh, otak ku pasti salah lihat lagi! hei otak berhentilah membayangkan pria ini ada dihadapanku!!" sembari memukul-mukul pelan kepalanya.


"Hei apa yang kau lakukan!" menahan tangan Mentari agar tidak menyakiti dirinya sendiri sedangkan Mentari terlihat terkejut karena bayangan Darel bisa menyentuh tangannya.


"Ini aku, suamimu!" memeluk Mentari erat-erat.


Sungguh tidak bisa berkata-kata lagi, suasana haru menyelimuti hati Mentari. Pria yang dia nanti-nantikan kehadirannya untuk membawanya pulang kini ada dihadapannya. Sempat terdengar isak tangis kecil dari Darel hingga akhirnya dia bisa menguasai dirinya.


"Aku mencintaimu Mentari Angeliska Tia!" ucap Darel.


Hal itu tentu saja membuat hati Mentari luluh, bagaimanapun dia juga mencintai Darel. Entah bagaimanapun dirinya mencoba menghilangkan bayangan Darel dari pikirannya, namun dia tetap saja memikirkan Darel.


"Aku....aku juga mencintaimu!" memeluk erat tubuh Darel.


Tanpa mereka berdua ketahui, Galih yang baru saja kembali setelah membeli sushi tercengang dengan adegan diluar scenarionya ini.


"Hei kau, lepaskan Mentari!!!" memisahkan dua orang yang tengah berpelukan dan saling melepas rindu.


"Apa?" tanya Darel.


"Apanya yang apa? apa maksudmu memeluk Mentari seperti itu ha?? apa kau lupa kau sudah selingkuh darinya!" ucap Galih tidak terima.


"Mentari, apa kau lupa dia sudah menyakiti hatimu! untuk itu kau harus sampai menginap disini, kau ingat itu? dia sudah membohongimu, dia juga sudah menodai sumpah pernikahan kalian apa kau lupa??!!" berusaha menyalakan lagi api yang sudah padam.


Apa-apaan ini semua, kenapa kau mau berbaikan dengannya hanya karena dia sudah menemuimu Mentari? harusnya kau memukulnya dulu, atau kau memberi pelajaran lebih dulu!!!


Mentari diam saja mendengar perkataan Galih, justru Darel lah yang terlihat tidak terima dengan perkataan Galih. Siapa Galih itu? pikir Darel.


"Kau ini siapa? aku suaminya, kau hanya orang asing bagi Mentari!"


"Orang asing kau bilang? orang asing inilah yang sudah menjaga Mentari selama beberapa hari ini kau tahu itu? disaat dia dalam kondisi terpuruk, aku lah yang menemaninya dan selalu ada disisinya bukan kau!!" tidak terima.

__ADS_1


"Banyak ba**t!"


Darel memukul Galih tepat di ujung bibirnya membuat luka kecil disana. Tidak terima, Galih pun memukul Darel balik namun karena Darel lebih gesit darinya Galih pun harus menerima beberapa pukulan ditubuhnya.


"Sudah cukup!! hentikan!!! Darel hentikan!!! kak Galih aku mohon berhenti!!" teriak Mentari mencoba melerai pertengkaran mereka.


Tubuh Mentari tiba-tiba terasa sangat lemas, seluruh ruangan terasa berputar. Mentari memegang kepalanya dan kehilangan kesadarannya.


Brukkk....


"Mentari!!!" teriak Galih Dan Darel.


Perkelahian mereka langsung berhenti ketika melihat Mentari pingsan. Darel langsung menggendong Mentari dan membawanya turun. Adi dan Harri yang menunggu dibawah langsung mendekati Darel ketika melihat Darel turun bersama dengan Mentari yang tidak sadarkan diri.


"Cepat bawa dia kerumah sakit terdekat!" ucap Darel sambil berlari.


"Bertahanlah Mentari, aku mohon bertahanlah!" ucap Darel lirih.


Harri yang sudah menyiapkan mobil langsung membukakan pintu untuk tuannya.


"Cepat kerumah sakit sekarang!!" perintah Darel diselingi rasa khawatir.


Disisi lain Galih mengikuti kemana arah mobil Darel. Dia juga khawatir dengan keselamatan Mentari.


"Harri cepat sedikit!!!" omel Darel.


"Ini sudah sangat ngebut tuan!"


"Mentari, Mentari, hei bangunlah!! jangan membuatku takut!! Mentari!!!" menepuk-nepuk pipi Mentari.


"Cepatlah!!!" kesal sendiri karena tidak sampai-sampai dirumah sakit.


Begitu sampai dirumah sakit, Mentari langsung dibawa keruangan untuk mendapat pertolongan. Ketika seorang dokter pria hendak memasuki ruangan untuk memeriksa Mentari, Darel dengan tegas menghentikan dokter pria itu dan meminta untuk diganti dengan dokter wanita saja.


"Aku tidak sudi istriku dilihat pria lain!" sembari melirik tajam ke arah Galih.


Ya ampun tuan, janganlah seperti itu! memalukan sekali!!! oh Tuhan kenapa kau membuat bosku yang ditakuti semua musuh-musuhnya ini menjadi seperti ini, huhuhuuu! batin Harri.


Sudahlah tuan, cuma memeriksa saja kan? kenapa kau heboh sekali? biarkan dokter itu menangani nona! batin Adi.


"Tapi tuan, dia dokter terbaik dirumah sakit ini!" jelas perawat.


"Sampai kapanpun tidak akan aku biarkan pria manapun melirik istriku!" tegas Darel.


"Hei, Mentari disana sedang pingsan dan kau malah mempersulit keadaannya dengan melarang dokter terbaik untuk menanganinya!" oceh Galih.


"Wah..wah..wah! lihat siapa yang sedang bicara ini! seorang laki-laki tidak tahu malu yang dengan terang-terangan mendekati wanita yang sudah bersuami!" sindir Darel.


"Heh, bersuami? maksudmu suami yang meninggalkan istrinya dimalam pertama dan memilik menghabiskan malam bersama wanita lain, begitu?" Galih tidak mau kalah.


"Kau ini yaa!" berusaha memukul Galih namun dihalangi oleh Adi dan Harri.


"Lepas!!! kalian berdua lepaskan akuu! awas kau yaa!" ucap Darel berusaha melepaskan diri dari pegangan Adi dan Harri.


"Ini rumah sakit, ya! kalian jangan ribut seperti itu! bisa mengganggu pasien yang lain nanti!" teriak perawat.


Sebenarnya agak takut juga sih melihat wajah menakutkan Darel, tapi karena prosedur yang mengharuskannya seperti itu akhirnya mau tidak mau dia harus tetap melakukannya.


"Baiklah jika tidak mau saya yang menangani, dokter wanita lain akan membantu memeriksa pasien!" ucap dokter pria itu kemudian berlalu pergi.


Tidak lama kemudian seorang dokter wanita memasuki ruang rawat Mentari. Darel terlihat sangat khawatir hingga dia bolak-balik didepan pintu ruangan dengan cemas. Baru saja dia bertemu dengan Mentari, ada saja yang menghalangi mereka bersatu. Sekarang apalagi yang Galih berikan kepada Mentari, pasti makanan yang tidak sehat sampai-sampai Mentari jatuh sakit seperti ini, batin Darel saat itu.


Sesekali Darel mengintip dari kaca bulat di pintu, melihat apa yang tengah dilakukan dokter wanita tadi hingga hampir 10 menit dia belum selesai memeriksa Mentari. Kecemasan Darel mulai menghilang ketika dokter wanita itu keluar dari ruangan sehabis memeriksa Mentari.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Darel cemas.

__ADS_1


"Oh jadi anda suaminya?" tanya dokter itu.


Darel mengangguk bangga seolah memperlihatkan kepada Galih bahwa dialah suami sah Mentari dan Galih hanya sebatas orang luar diantara mereka. Sementara dilain sisi, telinga Galih merasa panas mendengar bahwa Darel dengan bangganya memberitahu semua orang kalau dia adalah suami Mentari.


"Semua baik-baik saja, pasien juga sudah mulai siuman." ucap dokter itu.


"Syukurlah!" ucap Darel dan Galih bersamaan.


Lega menyelimuti mereka ketika mendengar Mentari baik-baik saja.


"Lalu kenapa dia tadi pingsan? apa dia memakan sesuatu yang tidak bergizi? atau dia keracunan sesuatu dok?" tanya Darel sembari melirik kearah Galih dengan tatapan aneh.


Lihat saja kalau Mentari seperti ini karena ulahmu, aku tidak akan tinggal diam!! batin Darel.


"Tidak kok, semua baik-baik saja! hal ini biasa bagi ibu hamil. Rasa mual atau yang biasa disebut morning sickness, hanya perlu banyak-banyak beristirahat, makan makanan yang bergizi agar ibu dan janinnya sehat." jelas dokter.


Semua orang tercengang dengan penjelasan dokter ini. Hamil? Mentari hamil? bagaimana bisa? Galih yang merasa tidak terima dengan kenyataan ini langsung menerobos masuk menemui Mentari yang tengah berbaring.


"Apa benar yang dikatakan dokter itu?" cecar Galih.


Mentari yang belum tahu apa-apa merasa bingung dengan pertanyaan Galih.


"Apa benar kau hamil anak pria bre****k itu?" tetap tidak mau menerima keadaan.


"Apa??!" langsung terduduk dari tidurnya, kaget.


"Bagaimana bisa? aku....aku dan Darel kan.....belum melakukan apapun!!!"


"Lalu bagaimana kau bisa hamil Mentari, itu pasti anak pria kurang ajar itu!!! dia pasti sudah merenggutnya darimu tanpa sepengetahuan mu!" mencoba memanas-manasi keadaan agar Mentari marah kepada Darel.


"Apa kau sudah melakukannya tanpa seijinku?" tanya Mentari ketika melihat Darel memasuki ruangan.


"Aku....a....aku....."


"Jawab!!!! kenapa kau melakukan itu padaku???? kenapa!!!!!" menangis.


Darel langsung meraih Mentari, memeluknya dengan hangat mencoba menenangkan wanita yang kini tengah mengandung anaknya.


"Maafkan aku!" hanya itu yang keluar dari mulut Darel.


"Kau jahat, kau jahat!!!!!"


"Yang terpenting kau harus sehat, sekarang ada nyawa lain yang hidup didalam tubuhmu! aku minta maaf karena merahasiakan ini darimu, tapi sungguh aku sama sekali tidak berniat seperti itu tapi kau yang memaksaku!" jelas Darel.


"Dasar pria bre****k!!!! berani-beraninya kau menodai Mentari, haaa!!!!" Galih langsung meninju pipi Darel membuat lebam dibagian tersebut.


"Kakak, jangan kak! hentikan!!!" teriak Mentari.


Kali ini mereka langsung berhenti ketika mendengar teriakan Mentari, takut hal sama akan terulang kembali seperti tadi.


"Sudah cukup, kenapa kalian ini selalu bertengkar? apa tidak bisa kalian akur?" tanya Mentari dengan nada tinggi.


Darel dan Galih hanya diam mendengarkan.


"Jika kalian bertengkar lagi aku tidak mau bicara sama kalian berdua!" ucap Mentari.


"Maaf!" ucap Galih dan Darel bersamaan sembari menundukkan kepalanya.


"Kau berhutang penjelasan kepadaku Darel!" ucap Mentari ketus.


"Baiklah, kita pulang dulu sampai dirumah akan aku jelaskan semuanya!" ucap Darel lembut sembari menghampiri Mentari dan mengelus lembut perutnya.


"Ayo!" ucap Darel.


Darel membantu Mentari turun dari tempat tidur takut Mentari kenapa-kenapa. Dia juga menggenggam erat tangan Mentari takut Mentari tersandung lalu terjatuh. Darel benar-benar memperhatikan Mentari, membuat hati Mentari tersentuh.

__ADS_1


Hamil? apa aku harus senang atau sedih dengan adanya anak ini? haruskah aku memaafkannya apalagi ada anak ini diantara kami sekarang?


__ADS_2