
"Aku....memilih...."
"Tenang saja! aku janji Lukas tidak akan mendekatimu!" ucap Adi seolah tahu kegundahan hati Amira.
"Baiklah, kalau tuan Adi sudah berjanji, maka aku juga bersedia! mungkin pindah dari pondok ini juga yang terbaik untuk pertumbuhan anak-anak." ucap Amira.
Dari apa yang dilihat Adi, Amira ini adalah wanita yang tulus. Dari matanya terpancar kasih sayang tulus untuk anak-anak disini.
"Emm, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Adi.
"Mengenaiku dan Lukas?" tebak Amira.
Adi dan Harri saling melempar pandangan lalu menatap ke arah Amira sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa yang ingin anda berdua ketahui! tapi maaf, saya tidak bisa terlalu banyak berkata karena membicarakan Lukas sama saja dengan membuka lembaran buruk dalam hidup saya lagi!" ucap Amira dengan senyum yang mereka tahu itu senyum terpaksa.
"Sejauh apa hubungan kalian dimasa dahulu?" tanya Adi hati-hati.
Amira tersenyum lagi. Namun kali ini senyumnya terlihat sangat tulus, berbeda dari yang tadi.
"Sangat dekat! bahkan kami sampai akan mempunyai seorang anak."
"Apa karena itu juga yang membuatmu resign dari perusahaan waktu itu?" tanya Harri.
"Emm...bisa iya, bisa juga tidak! aku resign karena mengalami keterpurukan saat kehilangan anakku. Hingga akhirnya orang tua ku memutuskan untuk ku agar aku resign saja dan membawaku ke Kanada dirumah nenek ku dan menetap disana bertahun-tahun. Setelah aku pulih, aku memilih pulang ke Indonesia lagi. Bukan untuk menemui Lukas, melainkan untuk membuka lembaran baru dalam hidupku. Aku bertekad mendirikan panti asuhan ini agar bisa membantu banyak anak-anak, sekaligus sebagai obat rindu pada anak ku yang telah meninggal." ucap Amira.
Matanya sudah mengembun kala mengingat masa-masa buruknya dahulu.
# Flashback Amira : Amira POV #
Aku melamar di perusahaan besar kala baru saja lulus SMA. Ijazah yang rendah itu hanya membuatku bekerja menjadi staf kebersihan. Aku menjalaninya dengan senang hati, karena dari pekerjaan inilah aku bisa menghidupi orang tuaku. Ayahku bukan asli Indonesia, dia asli Kanada dan menikah dengan ibuku yang asli Indonesia kemudian lahirlah aku dan juga adik laki-laki ku Angga yang saat ini masih kelas dua SMP.
Sebenarnya ayah mempunyai warisan di Kanada, sebuah perusahaan yang cukup besar disana. Ayah memintaku untuk meneruskan perusahaan itu, namun aku tidak mau. Aku ingin sukses dengan hasil kerja kerasku sendiri bukan karena harta ayahku. Aku ingin memulainya dari nol. Ayah dan ibuku menyetujui keputusanku itu.
Beberapa bulan bekerja aku dipertemukan dengan seorang pria yang kelihatannya jauh lebih tua dari ku. Dia salah satu kaki tangan tuan Darel bernama Lukas. Aku tidak tahu keberuntungan darimana hingga kami menjadi teman kemudian menjadi sepasang kekasih.
Saat itu kami menyembunyikan hubungan kami dari siapapun, termasuk dari tuan Darel. Aku pun tidak mempermasalahkan hal itu karena bagiku dekat dengannya saja sudah cukup. Hingga malam yang aku sesali seumur hidupku pun tiba. Waktu itu diadakan pesta karena tuan Darel menjabat sebagai Presdir menggantikan tuan Sanjaya. Kami berpesta di hotel terkenal milik perusahaan Sanjaya.
"Mir, ayo cobain! satu teguk aja kok!!" ucap rekanku yang juga merupakan teman dekatku di perusahaan.
"Nggak deh! aku nggak biasa minum minuman kayak gitu!" tolakku karena memang aku tidak pernah mencoba minuman seperti itu.
"Ahhh, lemah loo! sedikit aja! nggak bakal bikin lo mabuk juga!" desaknya lagi.
"Minum....minum....minum...minummm...." teriak rekanku menyoraki ku untuk meminum minuman itu.
Dengan terpaksa akupun menerima gelas kecil berisi minuman terlarang itu.
Glek....
Aku meminumnya dalam satu kali teguk.
"Yeeee!!!" sorak mereka senang karena aku berhasil meminum minuman itu.
"Enak kann?!! ayo coba lagii!" ucapnya sambil menyodorkan satu gelas lagi padaku.
"Nggakk!! cukup!!" tolakku.
Aku tidak berdaya, mereka membuka mulutku lalu dengan paksa meminumkan minuman itu lagi.
__ADS_1
"Nahh, gitu dongg!! ayo lagi-lagi!" ucap nya lagi.
"Nggak! cukup!!"
Glek....
Aku sudah menghabiskan gelas ketiga. Entah mengapa rasanya aneh setelah itu. Badanku menjadi panas dingin. Aku pun teler hanya dengan tiga gelas saja.
"Huuu, lemah lo, Mir!! baru tiga gelas aja udah tepar!!" ucap rekanku bernama Syila.
"Ben, lo bawa dia deh!!" ucapnya.
Beni, pacar Syila menggendongku ke kamar hotel yang memang telah disediakan pada karyawan yang ingin menginap disana. Aku tidak tahu lagi setelah itu apa yang terjadi. Kesadaranku telah menghilang.
Esok harinya, ketika aku terbangun. Kepala ku terasa sangat pusing.
"Auu.... aku...dimana?" tanyaku menatap sekeliling.
Mataku membelalak tatkala melihat seorang pria terbaring di sampingku. Aku pun melihat kondisi tubuhku yang telanja**.
"Aaaaaaaa!!!" teriakku.
"Apa? kenapa?!! kenapa teriak?!" teriak pria itu terbangun.
"Lukas?!! kau...aku... apa yang telah kau lakukan, Lukas?!" sentakku.
"Dengarkan aku dulu! aku bisa jelaskan semuanya!!!" ucap Lukas.
"Aku janji akan bertanggungjawab kalau terjadi apa-apa terhadapmu!! aku janji! tapi aku tidak punya pilihan lain. Kau sangat mabuk saat itu hingga hampir saja dilecehkan oleh kekasih rekanmu sendiri. Untung aku mengikutinya saat dia membawa mu ke kamar ini dan menghentikan aksinya saat hendak menggagahimu." ucap Lukas.
"Lalu, kenapa kau melakukannya padaku jika kau berniat membantuku?" tanyaku.
Dia memelukku dengan sangat erat. Ketika dia bergeser, ku lihat ada noda darah diatas sprei. Ya, itu darah keperawanan ku. Aku sudah tidak suci lagi sekarang. Aku menangis dalam pelukan Lukas.
"Aku akan bertanggungjawab! aku takkan meninggalkan mu! percayalah padaku, Amira!!" janji Lukas yang selalu terngiang di telingaku.
Tiga minggu setelah kejadian itu, aku merasa ada yang berbeda pada diriku. Aku menjadi sering mual. Aku juga menjadi sensitif dengan aroma parfum. Jika aku menghirup aroma parfum yang menyengat, aku akan mual bahkan sampai muntah juga. Saat itu jugalah aku memberanikan diri membeli tespack di apotik. Dan benar saja. Aku positif hamil.
Aku bingung harus senang atau sedih. Aku senang karena sekarang dalam rahimku tumbuh buah cintaku dengan Lukas. Namu disisi lain aku juga sedih karena harus hamil dalam keadaan seperti ini.
Dert...dert....
Ponselku berbunyi. Kulihat nama Lukas meneleponku. Aku senang karena bisa langsung mengabarkan hal bahagia ini. Aku tidak sabar melihat reaksinya saat mengetahui kehamilanku.
Aku bersiap-siap untuk bertemu di taman. Dengan memakai pakaian terbaikku, aku pergi menemuinya. Tidak lupa juga tas selempang dan juga hasil testpack.
"Lukas!" sapa ku saat melihat Lukas telah duduk disalah satu bangku di taman itu.
Lukas menatapku, namun kali ini berbeda. Dia tidak memperlihatkan senyum nya seperti setiap kali bertemu denganku.
"Ada apa Lukas? apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku karena merasa aneh dengan sikapnya hari ini.
"Amira.."
"Ya?!"
"Kita akhiri saja hubungan ini sampai disini!!" ucapnya.
Bagai tersambar petir, perkataannya langsung tepat mengenai hatiku. Sakit...sangat sakit rasanya.
__ADS_1
"Apa?! kenapa? Lukas, kau janji akan bertanggungjawab jawab atas kejadian waktu itu kan? aku tidak lagi mencintaiku? apa ada orang lain, Lukas?" tanyaku dengan berlinang air mata.
Tak bisa ku bendung lagi air mata ini hingga ku biarkan lolos begitu saja. Suasana mendung hari ini seolah menggambarkan suasana duka ku.
"Hubungan ini tidak akan pernah disetujui oleh tuan Darel!! aku mencintaimu tapi aku lebih menghormatinya." ucap Lukas menatapku sendu.
"Kau menyerah, Lukas?" tanyaku.
"Ya! aku telah kalah! cinta kita telah kalah diatas pengabdian ku, Amira! aku memilih mengabdi pada tuanku. Maaf kan aku Amira!" ucap Lukas hendak pergi namun segera aku menghadangnya.
"Lalu aku? bagaimana denganku? tidakkah kau memikirkan nasibku, Lukas? kau berjanji padaku bahwa kau akan bertanggungjawab dan tidak akan meninggalkanku! mana janjimu, Lukas, manaaa!!! mana janjimu waktu itu!!" ucapku meraung menangis.
Lukas tidak bergeming sedikitpun.
"Maafkan aku, Amira! tapi lebih baik kita berjalan sendiri mulai sekarang! hiduplah bahagia dengan pria lain. Kau gadis yang baik, Amira! tidak sulit bagimu menemukan pria penggantiku!" ucap Lukas berjalan meninggalkanku.
"Lukas!!! Lukas berhenti, Lukas!!! Lukasss!!!" teriakku mengejarnya.
Aku terus mengejarnya, namun dia tidak menoleh sedikitpun.
Tin....tin....
Brakkkk.....
Aku tertabrak sebuah mobil. Kulihat orang-orang mulai berdatangan mengerumuni ku. Bayang-bayang Lukas tidak terlihat lagi olehku karena tertutup oleh kerumunan masa yang hanya melihat kondisiku.
"Lukas...." panggilku lirih.
"T... tolong.....se...selamatkan....anak....kuuu...." ucapku memohon pada orang-orang yang melihatku.
"Eh, tolong-tolong!!! mbaknya tengah hamil ini katanya!!" ucap seorang ibu-ibu.
"Ayo bawa kerumah sakit, tolong!!" ucap seorang lainnya.
Kesadaranku perlahan mulai hilang. Aku pun dibawa oleh seseorang ke rumah sakit.
# Flashback Off #
"Saat aku terbangun, orang tua dan juga adikku telah berada di sampingku dengan berlinang air mata. Mereka mengatakan bahwa anak yang ada didalam kandunganku tidak bisa diselamatkan karena benturan keras." ucap Amira mulai menangis.
Adi dan Harri ikut terharu mendengar kisah Amira.
"Bisa kalian bayangkan betapa hancurnya aku kala itu? ditinggalkan kekasih dan kehilangan bayi yang aku kandung dalam waktu yang bersamaan. Aku sangat hancur, hingga pernah masuk rumah sakit saking depresinya." ucap Amira.
"Maaf, saya terbawa emosi!" ucap Amira mengusap air matanya.
"Tidak apa! kami mengerti posisimu! maafkan temanku!" ucap Adi mengulurkan sapu tangan miliknya.
"Terimakasih!" ucap Amira menerima sapu Adi.
"Tidak perlu meminta maaf! itu sudah berlalu. Aku telah berdamai dengan masalaluku, tapi bukan berarti aku melupakannya. Aku akan tetap mengingatnya. Sakitnya aku kala itu terus terasa hingga saat ini. Aku tidak menyalahkan keputusan tuan Darel. Tapi aku menyayangkan sikap Lukas waktu itu yang tanpa bertanya dahulu langsung memutuskan diriku." ucap Amira.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Aku akan memberitahu tuan Darel bahwa kau bersedia pindah!" ucap Adi.
"Terimakasih atas bantuannya! sampaikan rasa terimakasih pada tuan Darel!" ucap Amira.
Dia mengantarkan Adi dan Harri hingga depan pondok. Untuk kali pertama, Amira berhubungan lagi dengan Darel dan anak buahnya. Jujur Amira tidak ingin kembali memiliki hubungan dengan Darel terlebih Lukas. Namun jika dia hanya memikirkan egonya saja, bagaimana nasib anak-anak panti? mereka juga berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak, yang mungkin bisa mereka dapatkan dari bantuan Darel Sanjaya.
Lukas! aku merindukanmu! namun benciku padaku jauh lebih besar daripada rasa cintaku! biarlah takdir yang menentukan apakah kita akan kembali seperti dulu, atau tetap menjadi asing seperti sekarang! batin Amira.
__ADS_1