Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 299


__ADS_3

"Cepat sedikit!!!" omel Darel kepada Harri.


"Ini sudah sangat cepat tuan!" ucap Harri.


"TAMBAH LAGI KECEPATANNYAAA!!!" bentak Darel frustasi.


Sejak tadi Darel terlihat sangat cemas. Entah apa saja yang sudah papanya katakan kepada istrinya. Atau jangan-jangan papanya sudah mengungkapkan semua kebenaran itu kepada istrinya?! ya Tuhan, Darel takut dengan reaksi istrinya nanti kalau benar papanya sudah beritahu semuanya. Darel takut kalau Mentari tiba-tiba syok mendengar kebenaran itu, lalu dia keguguran. Atau lebih buruk lagi, Mentari akan membencinya karena dia adalah putra dari seorang yang telah membunuh kedua orang tuanya.


"HARRI!!! CEPAT SEDIKITTTT!!!!" bentak Darel lagi.


"I...iya, tuan!! tapi ini sedang lampu merah tuan!" ucap Harri menunjuk ke arah depan yang terlihat lampu lalu lintas berwarna merah.


"AKHHHH!!! SIA*!!!" umpat Darel.


Butuh waktu yang cukup lama karena saat Darel keluar dari perusahaan itu masih pada jam orang sibuk memulai aktivitas hingga dia terjebak macet cukup lama. Begitu sampai dirumah, Darel langsung turun dari mobil yang bahkan belum berhenti sepenuhnya.


Tidak lama berselang, Adi juga telah datang mengendarai motor sportnya. Tadi Lukas telah meberitahu Adi semuanya. Mereka bertiga pun mengikuti Darel menuju kedalam rumah.


"PAPAAAA!!!" teriak Darel saat sampai di ruang tamu.


Posisinya saat itu, Darel bisa melihat bahwa istrinya sangat syok dan air mata membanjiri wajah cantiknya. Tanpa pikir panjang, Darel langsung berlari menuju istrinya, merengkuh tubuh mungil namun berisi itu kedalam pelukannya yang hangat.


"Tenang, sayang!! ada aku!! semuanya akan baik-baik saja!!" ucap Darel sambil memeluk istrinya.


Mentari tidak menjawab ucapan Darel namun terdengar jelas olehnya bahwa istrinya itu menangis sampai terisak.


"APAA YANG PAPA LAKUKANN!!??" bentak Darel menatap tajam kearah papanya.


"Darel, dengarkan papa dulu! papa hanya...."


"APA PAPA BUTA?! PAPA TIDAK BISA MEBACA KONDISI?! ISTRIKU TENGAH HAMIL?!! APA PAPA INGIN DIA KEGUGURAN DENGAN UCAPAN PAPA?!!!" ucap Darel kian meninggi.


Darel tahu Mentari takut dengan suaranya yang lantang, oleh sebab itu sembari berucap, Darel menutup kedua telinga istrinya dengan kedua tangannya yang masih berada dalam pelukannya. Bahkan pelukan Mentari dirasa semakin erat. Ya Tuhan, apa saja yang sudah papanya katakan kepada istrinya?!


"Darel, bukan maksud papa seperti itu, papa cuma..."


"Kalau maksud papa baik, papa akan menemui Mentari saat aku ada dirumah, bukan saat aku tidak ada dirumah!! apa papa sengaja ingin mencelakai anak dan istriku?!" ucap Darel.


"Tidak!! jangan katakan itu, Darel!! yang dikandung Mentari adalah cucuku, aku tidak akan tega membunuh cucuku sendiri!" ucap tuan Ardi.


Mendapat tatapan bak seorang musuh dari putranya sendiri adalah hal yang paling menyakitkan. Tidak ada tatapan penuh cinta layaknya dahulu dimata Darel untuknya sekarang, yang ada hanya kebencian dan kekecewaan.

__ADS_1


"Heh, cucu?! bahkan papa tega membunuh anak papa sendiri! darah daging papa sendiri?!" sindir Darel.


Tuan Ardi tahu benar anak siapa yang Darel maksud. Dia memang bersalah karena telah membiarkan Maya menggugurkan kandungannya, lebih salah lagi karena dia telah memanfaatkan Maya demi kepuasan nafsu duniawi nya itu.


"Apakah tidak ada kata maaf untuk papa, Darel?" tanya tuan Ardi seolah memohon.


"Apa papa juga berhenti menyakiti mama Maya saat mama Maya ingin berhenti?! tidak!!! papa malah membunuh mereka berdua!!" ucap Darel.


Mentari yang sedari tadi berada dalam pelukan suaminya mendadak mendongak menatap kearah Darel. Tatapan penuh arti seolah meminta penjelasan atas perkataannya barusan.


"K..kau...tahu, semuanya?!" tanya Mentari.


Darel mendadak pias saat Mentari menatapnya dengan tatapan kecewa.


"Ma...maaf!!" ucap Darel.


Mentari langsung melepaskan pelukannya kepada Darel, menjaga jarak dari Darel.


"Sayang, aku bisa jelaskan mengapa aku tidak memberitahumu!! kau tengah hamil, aku takut kau syok mendengar berita ini." ucap Darel namun tidak membuat Mentari menjawabnya.


"Kau tahu penyebab dia membunuh orang tuaku, Darel?! karena nafsu!! KARENA NAFSUUU!!!" ucap Mentari meninggi.


"Bertahun-tahun aku hidup sendiri, hanya bisa menatap anak-anak lain yang bercanda tawa bersama orang tuanya. Bertahun-tahun pula aku bertanya-tanya mengapa kami tiba-tiba diusir dari kampung ku! aku terpisah dari orang tuaku hingga aku mengetahui bahwa mereka telah tiada. Meskipun begitu aku tidak tahu dimana mereka dimakamkan, hingga pada beberapa hari kemarin aku baru mengetahuinya. Dan sekarang aku tahu semuanya! penyebab kami diusir dari kampung, akibat orang tuaku meninggal, akibat ibuku yang depresi!" ucap Mentari.


"Aku masih sangat kecil waktu itu tapi aku tahu setiap malam ibuku menangis dengan ayahku berada disampingnya berusaha menenangkannya! aku masih sangat kecil untuk memahami semuanya, tapi anda!" menatap ke arah tuan Ardi yang menangis menyesali perbuatannya.


"Anda sudah dewasa! apa anda tidak bisa berpikir siapa wanita yang anda gauli?! bukan hanya ibuku yang kau buat menderita, tapi juga ayah, aku, putra-putri mu, dan istrimu juga terluka karena ulahmu! mengapa kau melakukan itu?! jangan bilang karena nafsu! apa anda tidak punya iman hingga tega melakukannya pada mantan kekasih anda yang mana telah bersuami dan anda juga telah beristri?!" cerca Mentari.


"Tari..."


"Jangan sebut namaku dengan mulut anda yang kotor ituuu!!!" bentak Mentari.


Sakit. Dadanya terasa sangat sakit. Mengapa dunia sungguh kejam kepadanya? garis takdir apa lagi yang dituliskan Tuhan untuknya? kebahagiaan macam apa yang telah menantinya hingga cobaan untuk menujunya sangatlah susah?! atau memang hidupnya tidak pernah bahagia hingga hanya akan berakhir luka?


"Maaf..." lirih tuan Ardi.


"Maaf anda tidak akan mengembalikan masa kecil saya yang tumbuh tanpa kehangatan orang tua! maaf anda tidak akan bisa mengembalikan nyawa kedua orang tua saya!" ucap Mentari menatap tajam ke arah pria yang menjadi papa mertuanya sekaligus penyebab kematian orang tuanya.


"Saya akui saya salah! kau bisa menghukum saya sesukamu, kau bahkan bisa menjebloskanku ke penjara jika kau mau. Darel pasti sudah mengumpulkan banyak bukti hingga sampai padaku. Aku akan menerima jika kau membawa kasus ini ke polisi. Tapi aku mohon, maafkan aku.." ucap tuan Ardi memohon.


"Pa, sebaiknya kau pergi dari sini! kehadiranmu disini menambah duka istriku! ku mohon menjauhlah dari kami sampai waktu yang aku sendiri tidak tahu kapan!" ucap Darel.

__ADS_1


"Tapi...huftt, baiklah!!" ucap tuan Ardi pasrah.


Dia pun meninggalkan rumah dengan perasaan bersalah yang kian besar. Mentari mencengkram sofa di sampingnya. Perutnya mendadak keram lagi. Dia berjalan menuju kamarnya. Darel yang melihat itu hendak menyusul istrinya namun dia kalah cepat karena saat dia berada didepan pintu, Mentari telah lebih dulu menutup dan mengunci pintu itu dari dalam.


Tok...tok...tok...


"Tari!! sayang!!! dengarkan penjelasanku dulu sayang!! Tarii...jangan seperti ini, aku begini karena khawatir pada keselamatan kalian!!" ucap Darel.


Berkali-kali Darel mengetuk pintu itu namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Sayang....." lirih Darel menempelkan kepala dan telapak tangannya ke daun pintu.


Darel teriak lirih sambil memejamkan matanya. Dia tidak kuasa menahan air mata. Tidak bisa bayangkan bagaimana diposisi istrinya sekarang ini.


Sementara itu di dalam kamar, Mentari menangis disudut kamar. Suara tangisannya berusaha dia tahan karena tidak ingin terdengar sampai ke luar. Mentari menangis sejadi-jadinya.


"Apa kesalahanku sampai Tuhan menghukum ku seberat ini?!" lirih Mentari ditengah tangisnya.


Tiba-tiba, perutnya kembali terasa keram. Sakit yang dia rasakan sekarang jauh lebih terasa dibandingkan yang di ruang tamu tadi. Mentari memegang perutnya saking sakitnya.


"Aakhhh....." teriak Mentari kesakitan.


Darel yang samar-samar mendengar teriakan kesakitan itu pun berubah panik. Dia takut terjadi apa-apa dengan istri dan calon anak-anaknya.


"Tari!!! kamu kenapa, sayang?!! kamu baik-baik saja kan?! Tari, buka pintunya, sayang!!!" ucap Darel panik.


melihat hal itu mbok Tini, Adi, Harri, dan Lukas yang sedari tadi menatap dari kejauhan ikut kelimpungan. Lukas, Harri, dan Adi mendekati Darel yang terlihat berusaha mendobrak pintu kamar. Mereka berempat berusaha mendobrak pintu bersamaan.


"Ini tuan kunci cadangannya!" ucap mbok Tini yang datang membawa kunci cadangan.


"Makasih mbok!" ucap Darel mengambil kunci cadangan itu dari tangan mbok Tini.


Begitu pintu dibuka, terlihat Mentari meringkuk menahan sakit. Mereka semua langsung panik seketika. Darel, Lukas dan mbok Tini menghampiri Mentari sedangkan Harri dan Adi berlari ke luar rumah untuk menyiapkan mobil guna membawa nonanya kerumah sakit.


"Bertahan sayang!!! bertahanlah!! aku akan membawamu kerumah sakit!!" ucap Darel sembari menggendong tubuh Mentari.


"Akhh!!! sakittt!!!" ucap Mentari kesakitan.


"Pelan-pelan, tuan!!" ucap mbok Tini mengekor dibelakang Darel.


Begitu sampai didepan rumah, Adi dan Harri telah bersiap dengan mobilnya. Adi membukakan pintu penumpang agar memudahkan Darel. Setelah mereka masuk, mereka pun dengan cepat meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Mbok Tini dan Lukas juga ikut dengan membawa mobil lain.

__ADS_1


__ADS_2