
"Akhh, Naka, sakitttt!!!" teriak Mentari.
Air yang keluar dari bawah tubuhnya semakin banyak bercampur dengan darah. Nakala dan Adi yang melihat itu tentu saja sangat khawatir.
"Sabar, nona! nona harus kuat demi anak nona! Adi, tolong lebih cepat, atau kita akan kehilangan mereka berempat!" perintah Nakala.
"Ini juga sudah sangat cepat. Hanya saja jalanan ini kenapa macet sekalii!!" ucap Adi frustasi.
Adi terus membunyikan klakson agar mobil dihadapannya itu segera berjalan.
"Akhh, Naka, sakittt!!! aku tidak bisa menahannya lagiii!!!" teriak Mentari dengan keringat yang telah membasahi seluruh tubuhnya.
Tok....tok...tok....
Tiba-tiba dari sisi samping Adi, ada seseorang yang mengetuk kaca mobil. Sontak saja mereka menoleh ke arah kaca.
"Kalian mau kemana?" tanya seseorang setelah Adi menurunkan kaca mobil.
"Tuan, Rohan?!" tanya Adi.
Ya, orang itu adalah Rohan. Rohan baru saja kembali dari melihat tahanan yang berada di pusat rehabilitasi. Tahanan yang berada disana umumnya adalah seorang pecandu narkob*, pecandu minuman kera*, dan sebagainya. Dia ditemani oleh Abu melakukan pengecekan itu secara rutin dua atau tiga minggu sekali.
"Ceritanya panjang, tuan!" ucap Adi.
"Tari?!! kau, berdarah?!" tanya Rohan yang melihat ke kursi penumpang.
"Tolong...." lirih Mentari.
Bibirnya terlihat sangat pucat sekarang, bahkan jauh lebih pucat dari pada sebelumnya.
"Tuan, apa anda menggunakan mobil polisi?" tanya Adi.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Rohan.
"Tolong bantu kami, tuan! ini darurat!!" mohon Adi.
Rohan yang paham arah ucapan Adi itu pun berjalan ke mobil polisi yang dia kenakan yang tepat berada di sebelah mobil Adi. Tidak lama kemudian, Abu turun dari mobil dan berjalan bersama Rohan.
"Ayo, naik mobil polisi ini saja! biar mobilmu dibawa Abu!" ucap Rohan.
"Terimakasih, tuan!" ucap Adi.
Mentari dipindahkan dari mobil milik Darel ke mobil polisi yang dibawa Rohan. Adi dan Rohan menggotong tubuh Mentari lalu dengan hati-hati diletakkan di bagian belakang ditemani oleh Nakala. Mobil polisi berwarna putih dengan corak biru dan merah itu pun melaju dengan kencang. Rohan mengemudikan mobil itu dijalur yang berlawanan. Rohan juga tidak lupa membunyikan sirine polisi sehingga mobil dijalur itu segera menepi saat melihat mobil yang dikendarai oleh Rohan.
********
"DOKTER!!! SUSTER!!!! TOLONGGGGG!!!" teriak Nakala saat mereka baru tiba dirumah sakit.
Dua orang perawat datang sambil mendorong brankar. Dengan penuh kehati-hatian, Rohan dan Adi membaringkan tubuh Mentari ke atas brankar itu. Dokter kandungan yang biasa di kunjungi oleh Mentari langsung menghampirinya saat melihat Mentari.
"Nona, ada apa ini? kenapa anda bisa sampai seperti ini?" tanya dokter wanita itu.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, dokter! tolong selamatkan mereka!" ucap Adi sambil mendorong brankar dari sisi kanan sedangkan Nakala berada di belakangnya ikut mendorong juga Rohan yang berada disamping kirinya.
"Dokter tolongg!!! saya tidak kuat lagiii!!!" rengek Mentari.
"Sabar nona! saya akan berusaha menolong kalian!" ucap dokter wanita itu.
Mentari dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memeriksa keadaannya. Adi, Rohan, dan Nakala terpaksa berhenti didepan pintu ruangan pemeriksaan. Mereka sangat cemas dengan keadaan Mentari juga janin dalam kandungannya terlebih darah yang sedari tadi terus keluar dari bawah tubuh Mentari tidak berhenti-henti.
"Adi, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? mengapa Mentari sampai seperti ini? jika Darel tahu, dia bisa sangat marah!" ucap Rohan.
Adi mulai menceritakan semuanya kepada Rohan. Berawal dari Darel yang curiga dengan identitas Mentari yang sebenarnya hingga akhirnya mereka berhasil menguak rahasia kelam masalalu tuan Ardi. Rohan yang mendengar itu tentu saja langsung syok. Tuan Ardi yang dia kenal adalah pria berwibawa juga bijaksana. Rohan bahkan tidak pernah menyangka bahwa tuan Ardi bisa berbuat seperti itu pada keluarga Mentari.
"Adi, kau tidak bohong kan? maksudku, tuan Ardi?!" tanya Rohan syok.
"Bahkan kami saja juga tidak percaya akan hal ini, tuan! tapi tuan besar sendirilah yang telah mengakui semuanya, bahkan dia mengakui kejahatannya dihadapan nona langsung sampai-sampai nona harus dilarikan kerumah sakit saat itu karena perutnya yang terasa sakit setelah mengetahui kebenaran itu." jelas Adi.
"Lalu, Darel?! apa kalian sudah menghubungi Darel? dia wajib tahu keadaan istrinya saat ini. Bisa jadi, kehadiran Darek bisa membuat Mentari jauh lebih kuat." tanya Rohan.
"Belum, tuan! bahkan saat mbok Tini hendak menelepon tuan muda, wanita itu langsung mengambil ponsel mbok, lalu membantingnya hingga pecah." jawab Nakala.
"Adi, ini kunci mobilnya!" ucap Abu saat sudah sampai dirumah sakit.
"Oh ya, Nakala, Lukas memintaku untuk memberitahumu agar mengobati luka tembak di lenganmu itu. Dia sedang diruangan Dr. Richard." ucap Abu.
"Kau tertembak? dibagian mana?" tanya Adi cemas.
"Tidak terlalu dalam kok! saat ini keadaan nona jauh lebih penting daripada luka ini!" ucap Nakala.
"Baik, saya titip nona ya tuan!" ucap Adi lalu pergi membawa Nakala untuk menemui Dr. Richard.
Sepeninggal Adi, Rohan mengambil ponsel yang berada disaku celananya. Dia memanggil sebuah nomor.
"Hallo, kau dimana? istrimu tengah berjuang antara hidup dan mati. Segera datang ke rumah sakit. Aku takut sesuatu yang lebih buruk terjadi. Baiklah, aku menunggumu!" ucap Rohan memutus panggilan telepon itu.
Segeralah datang, Darel! entah mengapa firasatku mengatakan bahwa akan terjadi hal buruk pada Mentari. batin Rohan.
********
Kini, Nakala, Lukas, Adi, Iwang, dan semua sahabat Darel juga istri dan kekasih mereka telah berada di depan ruangan pemeriksaan kecuali Zanu, Bagas dan Angel. Saat ini Bagas tengah melakukan operasi sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi pada Mentari. Sedangkan Angel, dia tidak berada dirumah sakit saat ini. Dia juga ditemani beberapa dokter lain berkeliling untuk melakukan penyuluhan kepada universitas-universitas di Jakarta pusat.
"Tariii!!!" teriak Daniar.
Daniar berlari ke arah pintu ruangan pemeriksaan, tidak menghiraukan dirinya yang baru saja melahirkan secara caesar. Dibelakang Daniar, ada mama, papa, Galih dan juga Zanu yang berjalan sambil menggendong putranya. Iwang langsung memeluk tubuh Daniar saat Daniar berada didekatnya. Anak kecil itu menangis terisak didalam dekapan hangat Daniar.
"Tari??? bagaimana keadaan Tari?! bagaimana keadaan sahabatku?!!" tanya Daniar menatap orang-orang yang ada disana.
"Dokter belum selesai memeriksanya. Ini susah lebih dari lima belas menit berlalu, tapi belum ada yang keluar dari ruangan ini." jawab Rohan.
"Tari!! kenapa dia selalu mendapatkan kemalangan ini? putriku yang malangg!!" ucap mama Daniar.
"Darel? dimana Darel?" tanya Daniar.
__ADS_1
"Dalam perjalanan! dia tidak ada dirumah saat ini hingga kejadian ini bisa terjadi!" ucap Arul.
"Ya Tuhan, Tarii!!" lirih Daniar.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi? lalu kenapa kalian pada luka-luka?" tanya Zanu menatap ke arah Lukas, Nakala, Adi dan Iwang.
Kembali, Adi menceritakan segalanya yang terjadi hari ini. Kejadian tragis hingga kemalangan ini terjadi. Mereka semua tidak kuasa menahan air mata saat mendengar cerita Adi.
"Kenapa nyonya Rumi bisa berbuat seperti itu? kematian adalah salah satu rencana Tuhan dan bukan salah manusia. Lagi pula apa dia tidak tahu kalau suaminya itu seorang pembunuh?! pembunuh orang tua Mentari?!" geram papa Daniar.
Mama dan papa Daniar telah mengetahui semuanya sehingga mereka sangat menyayangkan sikap Rumi yang terkesan tidak beradab.
"Lalu mereka yang telah melukai putriku dimana sekarang?!" tanya mama Daniar.
"Anak buah saya telah menahan mereka bertiga, jadi mereka tidak bisa pergi. Kami tengah menunggu perintah dari tuan Darel." ucap Lukas.
"Baguslah! saya juga akan memberi mereka pelajaran karena telah membuat nyawa putri saya dalam bahaya!" geram papa Daniar.
Ceklek.....
Dokter yang memeriksa Mentari keluar dengan wajah yang terlihat sedih.
"Apa tuan Darel ada disini?" tanya dokter itu.
"Dia belum datang, dokter! sedang dalam perjalanan!" ucap Tomi.
"Dokter, bagaimana keadaan Mentari?" tanya mama Daniar yang tidak sabar mengetahui keadaan Mentari.
"Kondisi nona sangat buruk. Ketubannya telah pecah dan air ketubannya telah habis karena terlambat dibawa ke rumah sakit. Sebagai penanganannya, kita harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi-bayi itu atau jika tidak mereka akan meninggal didalam kandungan." jelas dokter.
"Lalukan apapun, dokter! selamatkan putri saya!!" mohon mama Daniar dengan berlinang air mata.
Ibu mana yang mampu melihat putrinya berada dalam jurang kematian? walaupun Mentari tidak lahir dari rahim mama Daniar, namun Mentari telah dia anggap sebagai putrinya sendiri. Tentu saja batinnya terasa tercabik-cabik saat mendengar keadaan Mentari namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
"Huftt!!" dokter itu menghela nafas panjang.
"Ada apa, dokter? apa ada masalah? katakan dokter!!! apa yang terjadi pada sahabatku?!!" bentak Daniar.
"Sayang! sabar dulu, ini rumah sakit." ucap Zanu menenangkan Daniar.
"Karena keadaan nona yang sangat kritis akibat luka dikepalanya. Jika terjadi apa-apa, kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Kami membutuhkan persetujuan dari tuan Darel sebagai suami dari nona Mentari untuk mengambil keputusan ini." ucap dokter itu.
"S...salah satu?! tapi...tapi bayi yang dikandung Mentari ada tiga, dokter?!" tanya Daniar dengan wajah pias.
"Iya, tapi karena air ketuban nona telah lama habis, sehingga kondisi mereka bertiga sanhatlah lemah. Bahkan satu dari ketiga janin itu detak jantungnya sangat-sangat lemah." jelas dokter itu.
"Lakukan saja operasi nya, dokter! selamatkan mereka!" ucap Zanu.
"Tapi, tanpa persetujuan dari suami nona yaitu tuan Darel, kami tidak bisa bertindak, tuan!" ucap dokter itu.
BRAKKKK.....
__ADS_1