
"TARIIIIII!!!!" teriak seseorang dari arah pintu.
Rupanya dia adalah mama Daniar. Setelah siuman dia langsung mencari keberadaan Mentari hingga sampai ke kamar jenazah. Mama Daniar langsung memeluk tubuh wanita yang dia anggap seperti putrinya itu. Dia meraung sejadi-jadinya.
"Tariii, Ya Tuhan!!! kenapa kamu ninggalin mama, nakkk!!! Tuhannn, ambil saja nyawaku, jangan putrikuuuu!!! umurnya masih panjang, biarkan aku yang menggantikan posisinya ya Tuhannn!!!" teriak mama Daniar.
Darel hanya bisa menangis sambil menunduk. Mama Daniar yang melihat keterdiaman Darel menghampirinya dengan ekspresi marah.
PLAK.....
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Darel membuat bekas merah disana.
"KENAPA KAMU ADA DISINI?!!! BELUM PUAS KAMU MENYAKITI PUTRI SAYAA, HAAA?!! KAMU, DAN KELUARGAMU ADALAH ORANG YANG MERENGGUT KEBAHAGIAAN PUTRI SAYAAA!!!!" teriak mama Daniar.
"Ma, tenang, ma!! ini sudah takdir!!" ucap papa Daniar menenangkan istrinya.
"LEPAS, PAA!!! BIARKAN AKU BICARAA!!" teriak mama Daniar melepaskan rangkulan papa Daniar di pundaknya.
"PERTAMA PAPANYA YANG TELAH MEMBUNUH ORANG TUA MENTARI, LALU DIA YANG BERKALI-KALI MENYAKITI HARI MENTARI!!! LALU SEKARANG IBUNYA YANG TELAH MERENGGUT NYAWA TARII!!!! KALIAN SEKELUARGA LENGKAP SUDAH MENYAKITI PUTRI SAYAAA!!" teriak mama Daniar meluapkan emosinya.
Darel hanya diam saja. Mama Daniar benar. Dia dan keluarganya adalah sumber penderitaan Mentari.
"SEKARANG KALIAN PASTI PUAS KAN KARENA TARI SUDAH TIADA?! IYA KANNN??!!" bentak mama Daniar.
"Ma sudah ma, sudahh!!" ucap pala Daniar memeluk erat istrinya.
"Tari, paaa!!! Tariii!!! dia sudah tiadaaa!!" ucap mama Daniar yang langsung menangis didala pelukan suaminya.
Papa Daniar berulang kali mengecup pucuk rambut istrinya. Tidak bisa dipungkiri dia pun sama kehilangannya seperti istrinya. Dia begitu menganggap Mentari adalah putrinya sendiri. Bahkan jika ada yang menyakiti Mentari, dirinya tidak segan-segan menjadi garda terdepan untuk melindunginya.
"Tarii, kenapa kamu meninggalkan mama, nakkk!!!" isak mama Daniar.
Papa Daniar membawa istrinya keluar dari kamar itu.
"Puas kamu Darel?!" tanya Daniar menatap tajam ke arah Darel.
Darel mendongak menatap Daniar.
"Mau menangis sampai air matamu kering pun tidak akan bisa mengembalikan nyawa sahabatku!!! harusnya kau berpikir, Darell!! karena kecerobohanmu, sahabatku harus kehilangan nyawanya!!! andai kau langsung membinasakan orang-orang yang hendak menyakiti sahabatku, semuanya tidak akan menjadi seperti ini!!" ucap Daniar penuh kekesalan.
"Niar, aku... aku..." ucap Darel terbata.
"Kau seorang ketua mafia, Darel Sanjaya yang terhormat!! tidak mungkin kau tidak bisa membaca situasi yang akan terjadi!! kenapa kau tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada mamamu itu?! bukankah semua ini terjadi karena kelalaianmu yang menyembunyikan kejahatan papamu darinya?!" ucap Daniar penuh kekesalan.
Daniar sangat marah kepada Darel. Dia merasa kematian Mentari karena kesalahan Darel yang tidak becus menjadi seorang suami yang siaga.
"Kau lihat sekarang!!! lihat akibat kelalaianmu, Darel!!! sahabatku, istrimu, ibu dari anak-anakmu sampai kehilangan nyawanya karena kesalahanmu!!!" ucap Daniar.
"Lalu dimana ibumu?! hukuman apa yang akan kau berikan karena telah melenyapkan nyawa sahabatku?! apa kau akan mengampuninya begitu saja karena dia adalah ibumu dan tidak memberikan keadilan bagi sahabatku!! aku bersumpah jika kau tidak memberi keadilan pada sahabatku, maka biarkan karma yang membalasnya. Dia akan hancur, Darel!!!" ucap Daniar.
"AKU BERSUMPAH, KALAU PEMBUNUH SAHABATKU TIDAK DIADILI, MAKA DIA AKAN HANCUR SE HANCUR-HANCURNYA!!! KEMATIANNYA AKAN LEBIH MENGENASKAN DARIPADA YANG DIALAMI SAHABATKU SAAT INI!! INI SUMPAHKU, DAREL SANJAYA!!" ucap Daniar menatap tajam ke arah Darel.
"Kau benar, Niar!! walaupun dia adalah ibuku, yang melahirkanku, tapi istriku jauh lebih berarti bagiku. Aku akan memberi keadilan bagi sahabatmu! akan ku biarkan dia menderita tanpa seorang anak dimasa tuanya!" ucap Darel.
"Ku pegang janjimu, Darel!" ucap Daniar.
********
__ADS_1
Jenazah Mentari telah disemayamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir. Darel masih setia berdiam diri di samping batu nisan bertuliskan nama istrinya. Mendung sore itu seakan tahu kepedihan yang dirasakan oleh Darel. Ditempat itu, tinggal Darel, sahabatnya, dan juga tiga anak buah terbaiknya ditambah Nakala.
"Tuan, hujan mulai turun, ayo kita pulang." ajak Adi.
Darel menghela nafas panjang, lalu berdiri.
"Sayang, aku pulang dulu yaa! nanti aku datang lagi. Aku janji akan merawat anak-anak kita sampai mereka jadi anak yang membanggakan." ucap Darel.
Mereka pun berjalan meninggalkan kuburan Mentari.
********
Esok harinya, dirumah Darel.Rumi yang telah melihat dan mendengarkan semua bukti-bukti yang Darel berikan tadi merasa sangat bersalah. Kini di hadapannya, Darel duduk dengan tatapan tajam tidak lepas dari dirinya. Rumi ingin meminta maaf kepada Mentari. Untuk informasi, Rumi belum mendengar kabar kematian Mentari. Semalaman Darel tidak pulang kerumahnya karena harus berjaga di rumah sakit. Dia melihat tiga malaikatnya terlelap dalam sebuah box transparan hingga Darel bisa melihat mereka semua dengan alat yang terpasang di tubuh mungil mereka.
Rumi terlihat begitu gusar sampai keringat dingin mengucur dari tubuhnya.
"Jadi?!" tanya Darel dengan dingin.
Tidak ada lagi rasa hormat untuk Rumi dimata Darel.
"Darel, mama..." terpotong.
"Darellll!!!" teriak seorang wanita.
Randita, Rangga, Juna, dan Frans datang beramai-ramai kerumah Darel.
"Darel, kami dengar Mentari meninggal? apa itu benar?" tanya Randita.
Setelah mendengar kabar itu dari Lukas, mereka semua langsung terbang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat jet pribadi.
"Loh, mama nggak tahu?!" tanya Juna bingung.
Pikir Juna tidak mungkin mamanya ini tidak tahu kalau Mentari meninggal, sedangkan posisi mamanya adalah yang paling dekat dengan Darel. Mereka semua menatap bingung ke arah Rumi yang terlihat sangat terkejut. Mereka juga berpikiran hal sama dengan yang dipikirkan oleh Juna.
"Tentu saja mama tidak tahu!" ucap Darel dingin sambil berdiri dari duduknya.
"Karena dialah yang menyebabkan istriku meninggal! dia membuat anak-anak ku kehilangan ibu mereka, bahkan tiga putra dan putriku yang baru lahir sampai harus dipasang kan alat agar mereka tetap bisa bertahan!" ucap Darel menatap tajam ke arah mamanya.
"AAPAAAA?!!" teriak mereka semua terkejut.
"Mama....mama....khilaf..." ucap Rumi memelas.
"Khilaf?! apa menyerang mbok Tini juga khilaf, ma?" tanya Darel membuat Rumi menggigit bibir bawahnya karena takut.
"Ma, jangan bilang apa yang dikatakan Darel itu benar!!" tanya Juna.
"Mama kenapa sih, ma?! Tari itu orang baik loh, kenapa mama sampai berbuat seperti ini sama dia?! selama ini mama paling menyayangi Mentari loh!" ucap Randita.
"Mama pikir gara-gara Mentari papa kalian bisa sampai meninggal. Soalnya ada yang bilang kalau papa kalian menemui Mentari sebelum kecelakaan itu." ucap Rumi.
"Siapa yang bilang sama mama?" tanya Randita.
"Nenek Sandra dan Pretty!" jawab Darel sebelum Rumi menjawabnya.
"Ma, mama lebih percaya omongan mereka daripada penjelasan Mentari?! mama tahu kan, jangan kan manusia, semut saja Mentari tidak tega membunuhnya!!" ucap Randita kesal.
"Asal mama tahu, papa menemui Mentari itu untuk meminta maaf ma! karena papa telah membunuh orang tua Mentari hingga membuat wanita malang itu menjadi yatim piatu dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya!!" ucap Juna.
__ADS_1
"Mama nggak tau!! mama juga baru tahu kemarin, mama minta maaf!!" ucap Rumi menangis.
"Apa mama pikir dengan kata maaf dari mama bisa menghidupkan kembali istriku?! tidak maa!!!" ucap Darel.
"Darel, mama tahu mama salah, nak!! mama minta maaf!! mama nggak tahu kalau akan seperti ini kejadiannya!! kalian juga tidak bilang sama mama!" ucap Rumi melemparkan kesalahannya.
"Kami nggak bilang sama mama karena saat itu mama lagi terpuruk karena ditinggal oleh papa!! Mentari juga telah berbesar hati tidak memenjarakan papa, ma! harusnya mama berterimakasih sama Mentari karena kalau Mentari mau, dia bisa memenjarakan papa dengan hukuman yang berat. Dan aku yakin papa tidak akan menolak karena dia merasa menyesal melakukannya!" ucap Randita.
"Mama tau, mama minta maaf!!" ucap Rumi menangis.
"Maaf mama telah basi, ma! Mentari sudah meninggal ditangan mama baru mama menyesal?!" ucap Juna.
"Darel, apa yang akan kamu lakukan pada nenek Sandra dan wanita ular itu?!" tanya Randita.
"Mereka telah lenyap, kak! dan untuk mama!" menatap ke arah Rumi.
"Bersamaan dengan meninggalnya Mentari, kau juga telah kehilangan aku, putramu! mulai saat ini, aku bukan lagi putramu. Aku bukan lagi bagian dari Sanjaya Group!! anggaplah kita ini sebagai dua orang asing bila suatu saat tanpa sengaja kita bertemu. Kau bukan lagi ibuku, dan itu hukuman setimpal untukmu karena telah memisahkan empat orang anak dari ibunya!!" ucap Darel.
"Tidak Darel!!! jangan lakukan itu, nak!!! mama minta maaf, mama khilaff!! mama sudah kehilangan papamu, Darel!! mama tidak mau kehilangan kamu jugaa!!" isak Rumi.
"Mama mohon maafkan mama, nak!! jangan biarkan mama kehilangan kaamuu!!! mama tidak sanggup, nakk!!" isak Rumi.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak ku yang baru lahir, ma?! mereka bahkan belum pernah melihat wajah cantik ibunya sedetik pun!!! kenapa mama tidak memikirkan kemungkinan buruk ini saat mama ikut menyakiti Mentari?!! Mentari sedang mengandung anak-anak ku, ma!! cucu mama!!!" ucap Darel.
"Mama, minta maaf, Darel!!! mama khilaf saat itu! mama tidak bisa berpikir jernih!! maaf, nakk!!" ucap Rumi.
"Bukan cuma Darel, ma! tapi mama juga telah kehilangan aku, menantumu, dan cucumu! kami juga bukan lagi bagian dari Sanjaya Group!" ucap Randita.
"Aku juga!" ucap Juna.
"Tidak!!! aku tidak mau kehilangan anak-anak ku!! aku ibu kalian!! aku yang melahirkan kalian dan teganya kalian membuangku begini?! jangan buang akuu!! Darel, maafkan aku, nak!! mama mohon maaf!!" ucap Rumi.
"BAWA WANITA INI PERGI DARI RUMAH INI!!! MULAI DETIK INI, RUMAH INI TIDAK MENERIMA DIRINYA!!" usir Darel.
Adi dan Lukas memegang tangan Rumi, membawanya keluar dari rumah Darel.
"Darel, jangan usir mama dari kehidupan mu nak!!! Randita, Juna, jangan usir mama dari hidup kaliannn!!!! jangan, nakkk!!!" teriak Rumi saat Adi dan Lukas membawa Rumi menjauh dari rumah Darel.
"Rel??" panggil Randita.
"Nyawaku hilang kak! semestaku tiada!" ucap Darel yang tanpa sadar menangis dihadapan sang kakak.
"Jangan merasa sendiri! kamu masih punya kami dan anak-anak mu! kau harus kuat demi mewujudkan impian Mentari. Didik anak-anak mu menjadi anak yang tangguh dan membanggakan!" ucap Randita lalu memeluk Darel yang menangis terisak.
Rangga ikut memeluk dua kakak beradik itu. Juna juga Frans yang berada tidak jauh dari sana pun mendekat dan ikut berpelukan.
********
Satu bulan setelah kematian Mentari, Darel bangkit dari keterpurukannya. Hampir setiap hari Darel berkunjung ke makam Mentari setelah bekerja. Kini, Darel telah membangun perusahaan nya sendiri dan diberi nama Tia Company. Perusahaan ini melejit di tangan Darel. Perusahaan Darel ini bergerak di bidang tekstil yang membuat baju-baju tren masa kini baik untuk pria-wanita, anak-anak, maupun orang tua.
Perusahaan Sanjaya Group telah gulung tikar jarak dua minggu setelah kemunduran Darel sebagai pemimpin. Karyawan-karyawan yang bekerja disana mengundurkan diri dan bergabung ke perusahaan Darel yang baru. Nasib Rumi pun berubah sangat drastis. Dari yang bergelimpangan harta, hingga kehilangan semua kekayaannya. Untung kartu peninggalan suaminya masih ada, baik kartu ATM maupun yang kredit. Dia menggunakan uang itu untuk pergi keluar negeri dan menetap disana.
Sepanjang hari, Darel disibukkan dengan mengurus empat anak-anaknya. Iwang yang semakin besar dan semakin bertanggung jawab itu membantu Darel mengurus adik-adik. Putra pertama Darel diberi nama Alshaki Jayendra Iravan , putra keduanya bernama Kaivan Mavendra Atreya, dan putri bungsunya bernama Hyuna Kailee Isvara. Bayi-bayi mungil itu tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan dan lincah.
Dalam hidup Darel. Dia berjanji tidak akan menikah lagi. Walaupun banyak di temui wanita-wanita cantik, namun tidak akan bisa menggantikan kecantikan istrinya dimatanya. Darel hanya fokus untuk membesarkan keempat putra-putrinya, membuat mereka bisa meraih apapun yang mereka inginkan. Darel berjanji tidak akan mengekang apapun keinginan putra-putrinya. Dia akan memberikan semua kasih sayang sebagai seorang ayah dan juga sebagai seorang ibu.
...# TAMAT #...
__ADS_1