
"Apa kau bilang, Harri?" sentak Darel.
"Apa aku salah bicara ya tuan? kan memang benar!" ucap Harri polos.
"Cih! lihat saja nanti akan aku adukan kau kepada pacarmu itu!!" ancam Darel.
"Ehhh, jangan dong tuann!!! tahun depan kami akan menikah loh, jangan yaa tuann!" bujuk Harri memeluk pinggang Darel.
"Lepas!!! sudah lepass!!!" ucap Darel.
Namun Harri masih bergelayut di pinggang Darel hingga tanpa sadar Mentari sudah ada di depan mereka.
"Sayang....kamu....." ucap Mentari terheran-heran.
"Lepas!! sayang tadi Harri yang meluk aku, bukan salahku!!" ucap Darel panik.
"Oh yaudah! kamu buruan mandi gih, bauk!" ucap Mentari menutup hidungnya.
"Masa sih?" tanya Darel sambil mengendus aroma tubuhnya sendiri yang memang rasa kecut.
"Heheh, yaudah aku mandi dulu yaa!" ucap Darel.
"Oh, ya jangan lupa jemput Iwang ya! tadi dia kirim pesan kalau kerja kelompoknya udah selesai." ucap Mentari.
"Siap ibu negaraaa!" sahut Darel.
Iwang tadi pulang awal karena ada rapat guru katanya. Namun dia tidak langsung pulang melainkan ke rumah teman sekelasnya dulu untuk mengerjakan tugas yang dilakukan secara berkelompok.
********
Darel sudah sampai di alamat yang di berikan Iwang. Mobil mewah itu sudah terparkir dihalaman rumah yang terlihat sederhana namun sangat menyejukkan dengan berbagai tanaman bunga di pekarangannya.
"Loh, tuan....tuan Darel?! bukkk, tuan Dar datang!!! mari masuk tuan!! maaf gubuk saya sangat sederhana!" ucap seorang bapak-bapak yang terkejut melihat kehadiran Darel di rumahnya.
Darel dengan santun mulai masuk ke dalam rumah bapak itu. Teman-teman Iwang memang tidak tahu kalau Iwang putra angkat dari Darel Sanjaya. Darel ingin identitas anaknya dipublikasikan, namun hal itu ditolak oleh Iwang. Katanya, kalau mereka tahu dirinya anak dari seorang Darel Sanjaya, bisa jadi teman-temannya mau berteman dengannya tidak tulus. Iwang hanya ingin teman-temannya memandangnya sama seperti yang lain, tidak diistimewakan hanya karena dia anak dari Darel Sanjaya.
"Loh, tuan Darel?! benarkah ini tuan Darel?! silahkan...silahkan duduk tuan!" ucap seorang wanita yang sama terkejutnya dengan kedatangan Darel.
Bapak-bapak tadi menepuk-nepuk sofa di rumahnya sebelum mempersilahkan Darel duduk. Sedangkan wanita tadi langsung ke dapur untuk membuatkan minuman seadanya untuk Darel dan juga Adi serta Harri.
"Silahkan diminum tuan! maaf hanya ada teh dan juga camilan sederhana!" ucap wanita tadi yang datang membawa nampan berisi empat teh dan beberapa wadah berisi camilan.
"Terimakasih!" ucap Darel.
"Maaf tuan, apa kami ada salah hingga tuan datang ke rumah kami yang sederhana ini?" tanya bapak itu dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ayah!!" panggil Iwang.
"Ayah?!" tanya bapak dan wanita tadi terkejut.
"Iwang, itu ayahmu?" tanya anak dari bapak tadi dengan polosnya.
Dengan sigap si bapak membungkam mulut anaknya yang dirasanya sangat lancang itu.
"M..maaf tuan! anak saya memang suka menyebalkan kalau berbicara." ucap si ibu.
"Tidak apa! saya kesini karena ingin menjemput anak saya!" ucap Darel lembut.
"J..jadi, Iwang ini anak tuan Darel?" tanya bapak itu dengan nada bergetar.
"Iya!" jawab Darel singkat.
"Ayah, ini Roni teman sekelasku! dia sangat baik padaku, kalau aku susah mengerti saat pelajaran dia yang membantu menjelaskan! dia kadang mentraktirku makan sempol karena uang yang diberikan ayah sangat besar jadi ibu-ibu nya nggak punya kembalian!" cerita Iwang.
"Benarkah?" tanya Darel menatap kearah anak yang bernama Roni.
"Roni, benar yang dikatakan tuan Iwang? kamu kenapa memberinya makan sempol? itu makanan murahan, Roni! bisa-bisa tuan Iwang sakit perut nanti!!" tegur si bapak.
"Maaf, pak! tapi Iwang juga senang kok saat aku belikan jajan itu!" ucap Roni polos.
"Dan, pak! jangan panggil Iwang dengan sebutan tuan! dia tidak suka! panggil saja seperti anda memanggilnya tadi, dia lebih menyukainya. Perlakukan dia seperti anda belum tahu siapa dia sebenarnya. Dan jangan bilang pada siapa-siapa tentang identitas Iwang karena Iwang tidak mau ada yang mengetahuinya!" ucap Darel sedikit menekankan perkataannya.
"B...baik tuan! saya akan merahasiakan identitas tuan, eh maksudnya Iwang!" ucap si bapak.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu! ibunya sudah menunggu dari tadi!" ucap Darel lalu berjalan keluar rumah.
Setelah mobil mewah Darel pergi dari pekarangan rumah mereka, bapak langsung terduduk di kursi depan rumah.
"Mimpi apa ya bapak semalam, buk? sampai-sampai mendapatkan keberuntungan bisa bertemu orang kaya di negara ini?" gumam bapak tadi masih syok dengan kedatangan Darel.
"Iya, pak! ibu juga nggak menyangka bisa bertemu dengan tuan Darel! Roni!" ucap ibu tadi menatap ke arah putranya.
"Kamu harus baik ya sama Iwang! jaga dia dari orang-orang yang ingin menyakiti dia, mengerti nak? kita bisa hidup serba kecukupan juga karena perusahaan Sanjaya Group, jadi anggap saja ini balas budi kita ya!" ucap ibu itu memberi pengertian kepada putranya.
"Iya, buk! aku janji akan menjaga Iwang!" ucap anak kecil itu dengan polos.
********
"Aaaaaaaa" teriak seorang wanita dari dalam rumah ketika mobil Darel baru sampai di depan rumahnya.
Darel dan yang lain serta semua anak buahnya yang mendengar teriakan Mentari langsung menuju sumber suara.
__ADS_1
"Tari!!!!"
"Ibuuu!!!"
Panggil Iwang dan Darel sambil berlari yang terlihat sangat khawatir. Tidak hanya Darel, Iwang, dan para anak buahnya melainkan para koki dan pelayan semuanya berlari menuju ke kamar Mentari.
Brakkk...
"Sayang!!! apa? kenapa? ada yang sakit?" tanya Darel yang sudah membuka pintu kamar.
Mentari yang bterkejut karena semua orang berdatangan ke kamarnya pun menatap bingung ke arah semua orang.
"Kamu kenapa? kenapa teriak?" tanya Darel khawatir.
"Teriak?!" tanya Mentari mencoba mengingat-ingat kenapa dia berteriak tadi.
"Ohh teriakan itu! tadi aku nonton film horor, jadi terkejut saat hantunya keluar, terus teriak deh hehehe!" jawab Mentari dengan polosnya.
Semua orang yang ada disana memandang dengan raut wajah yang sangat lucu karena merasa ditipu oleh Mentari, begitu juga dengan Darel. Dia hanya bisa mengelus dada sambil menghela nafas kasar.
"Tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Darel memastikan.
"Enggak! lagian kenapa kalian berbondong-bondong kesini sih?" tanya Mentari seolah tidak ada salah.
"Ya karena kamu teriak tadi makanya kami semua kesini! takut kamu kenapa-kenapa!" ucap Darel setengah frustasi.
"Oh!" jawab Mentari.
Oh?! apa ini? dia tidak berasa bersalah sama sekali karena telah mengumpulkan kami semua disini dengan teriakan dia? mana dia ekspresi nya cuek sekali lagi?! batik Darel.
"Yaudah kalian pergi lagi aja! aku mau lanjut nonton!" usir Mentari.
"Jangan nonton film horor lagi! nanti kamu ketakutan terus teriak lagi!" dengus Darel.
"Apasih? orang aku tuh nonton Upin dan Ipin sekarang! udah kamu sanaaa!" usir Mentari.
Dengan pasrah mereka semua keluar dari kamar.
Ceklek...
Sesaat setelah pintu kamar ditutup.
"Buahahahahhaaaaa!!!" mereka semua tertawa serempak karena telah tertipu dengan alarm palsu.
Mereka menertawai diri mereka sendiri bahkan ada beberapa yang bercerita sedang apa mereka tadi saat Mentari berteriak. Hal itu membuat yang mendengarnya kembali tertawa.
__ADS_1