Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 141


__ADS_3

Pagi itu Daniar sedang sangat sibuk. Banyak file penting yang harus segera dia selesaikan.


"Ah, capeknya! ngopi kayaknya enak nih!" ucap Rasya.


"Eh aku mau buat kopi nih, kamu nitip nggak Niar, Ica?" tawar Rasya.


"Emm, boleh deh yang capuccino ya gulanya agak banyak aja!" ucap Daniar.


"Aku mau kopi susu aja Sya, kayak biasanya yaa! makasih Rasya!" ucap Ica.


"Sama-sama!" ucap Rasya.


Ketika hendak pergi membuatkan kopi, langkah Rasya dihalangi oleh Wanda bersama dengan Santi.


"Kamu mau buat kopi ya? sekalian dong coffe latte ya gulanya dikit aja!" ucap Wanda.


"Emm, tapi senior..."


"Daniar?" panggil Wanda.


Sebenarnya Daniar enggan menanggapi Wanda, namun jika wanita itu tidak ditanggapi akan semakin menjadi-jadi nanti.


"Iya, senior Wanda ada apa?" tanya Daniar malas.


"Kamu yang buat kopi ya?" tersenyum mengejek.


"Kenapa harus saya? kan senior punya tangan sendiri. Lagian Rasya itu nawarin aku sama Ica kok bukan senior!" ucap Daniar blak-blakan.


"Kamu jangan kurang ajar ya sama saya!! saya itu ketua dibagian ini, kamu, kamu, sama kamu Daniar harus patuh sama perintah saya, ngerti!!!" ucap Wanda menunjuk Rasya, Ica, dan Daniar secara bergantian.


"Maaf ya senior Wanda yang terhormat. Pak Wisnu aja yang dipercaya mengurus perusahaan ini oleh pak Darel Sanjaya, Presdir kita aja nggak pernah nyuruh orang lain buat bikinin kopi loh. Kecuali kalau dia ditawari!" berhenti menghirup oksigen sebentar.


"Lah, anda yang hanya ketua bagian saja sudah sok seperti ini. Senior harusnya malu karena pak Wisnu yang jabatannya jauh, jauh, jauh lebih tinggi dari senior aja menghormati karyawan lain kok!" ucap Daniar membuat Wanda kalah telak.


"Kamu!!!!" mengatur nafas yang tiba-tiba ngos-ngosan sendiri.


"Jangan karena kamu pacarnya tuan Zanu kamu bisa seenaknya ya sama saya! saya ini tetap atasan kamu, disini suara sayalah yang paling didengar! kamu cuma anak bawahan jangan sok mau jadi pemimpin deh, nggak cocok! awas jatuhnya sakit nanti kalau nggak kesampaian!" sindir Wanda.


"Iya nih, mentang-mentang pacarnya sahabat Presdir bisa seenaknya keluar-masuk kantor! emang ini kos-kosan apa?" timbal Santi.


Melihat Daniar yang diam saja membuat Wanda berpikir dirinya sudah menang dari Daniar. Namun perkataan Daniar selanjutnya membuat Wanda terkejut setengah mati.


"Senior! saya tahu ya kelakuan senior sama tuan Broto! senior tahu tuan Broto itu seorang penipu, dia pernah menipu orang tuan Zanu dan membawa kabur uang triliunan dari keluarganya. Jangan sampai senior Wanda juga ditipu sama dia." ucap Daniar.

__ADS_1


Degg ....


Penipu? mana mungkin mas Broto seorang penipu? dan dari mana Daniar tahu tentang hubunganku sama mas Broto? batin Wanda.


Daniar mendekat kearah Wanda dan berbisik disamping telinganya.


"Mimpi terlalu tinggi itu nggak baik loh, jatuhnya sakit!" ucap Daniar membalikkan perkataan Wanda.


"Kamuuu!!!!" kesal Wanda.


Wanda yang kesal dan merasa dipermalukan kemudian pergi menuju ruangannya diikuti Santi. Sedangkan Daniar, Ica, dan Rasya tertawa puas melihat hal itu.


"Udah deh, aku buatin kopinya sekarang yaa!" ucap Rasya.


"Okey!" ucap Daniar dan Ica bersamaan.


Sepeninggal Rasya, Ica langsung mendekati Daniar dengan tatapan yang.... entahlah, hanya Ica yang tahu maksudnya.


"Eh Niar, emang bener ya kamu sama tuan Zanu adaaaa...!" menyatukan telunjuk tangan kanan dan kirinya menjadi sejajar.


"Apaan sih Ica?" tanya Daniar tidak paham.


"Ihhh, Daniar nih! itu loh rumor yang beredar kalau kamu sama tuan Zanu itu pacaran! beneran udah pacaran?" tanya Ica penasaran.


"Apa? beneran udah jadian? kapan? aaa Daniar, aku juga mau dong punya cowok kaya raya seperti tuan Zanu dan yang lain!!!!" ucap Ica.


Tidak lama kemudian, Rasya datang dengan membawa tiga buah cangkir masing-masing untuk mereka.


"Ngobrolin apa sih, kayaknya seru banget?" tanya Rasya sembari memberikan pesanan kopi milik Ica dan Daniar.


"Eh Sya, ternyata Niar udah pacaran loh sama tuan Zanu!" ucap Ica membuat Rasya yang tengah menyeruput kopinya menjadi tersedak.


"Uhukkk......uhukkkk.....uhukk...."


"Eh, Sya kamu kenapa?" tanya Ica dan Daniar bersamaan.


"Beneran Daniar?" tanya Rasya seketika.


"Iya. Emang kenapa?"


Apa-apaan sih kalian ini? batin Daniar.


"Ya, nggak apa-apa sih. Kita emang udah sering lihat kalian barengan, tapi kita pikir kalau kalian baru PDKT aja ternyata udah pacaran toh." ucap Rasya kembali menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Awal pertemuan kami tanpa disengaja sih sebenarnya. Itupun karena Zanu membantuku dulu makanya bisa bertemu." ucap Daniar mengingat saat pertama bertemu dengan Zanu.


Sosok Zanu yang melindungi Daniar waktu itu membuat Daniar langsung jatuh hati kepadanya. Semakin kesini, Daniar justru semakin kagum dengan sikap dan sifat Zanu yang menghormati wanita. Zanu pernah bercerita kepada Daniar bahwasanya dulu dia dipanggil dengan sebutan playboy oleh sahabat-sahabatnya. Bukan karena sering gonta-ganti cewek, namun lebih ke takut pada cewek.


Zanu yang dulu mulutnya emang suka nggak bisa direm. Di mulut mungkin dia bisa menggoda wanita-wanita, tapi kalau sudah didekati langsung deh tuh sifat aslinya keluar. Zanu sebenarnya takut jika berdekatan dengan wanita, namun mulutnya yang nakal seringkali disalahartikan oleh wanita-wanita itu sehingga membuat Zanu seolah-olah mengejar wanita-wanita itu.


********


Dirumah Daniar, Galih masih mengunci pintu kamarnya dan tidak menemui siapapun bahkan mama dan papanya juga tidak dia temui sama sekali. Mama Daniar justru khawatir dengan kesehatan Galih yang dia rasa aneh itu.


"Galih, nak ayo keluar dulu! kamu ada masalah apa sih sampai-sampai pulang ke rumah nggak ngabarin malah langsung mengunci diri dikamar selama berhari-hari! kalau kamu ada masalah cerita sama kami nakk!" bujuk mama Daniar.


"Iya Galih, semua bisa diselesaikan baik-baik. Kamu keluarlah dulu nak!" bujuk papa Daniar.


Ding....dong.....


Ding....dong.....


Terdengar bel pintu berbunyi.


"Siapa sih yang bertamu itu? mama bukain pintu sebentar ya?" ucap mama Daniar sembari menuju pintu depan.


Beberapa kali bel pintu berbunyi hingga akhirnya mama Daniar membukakan pintu dan terlihatlah tiga orang polisi berseragam lengkap berdiri dihadapannya.


"Selamat pagi Bu, apa benar ini rumah saudara Galih?" tanya salah satu polisi itu.


"Iya, ini rumah Galih anak saya. Ada apa ya pak kok nyari anak saya Galih?" tanya mama Daniar bingung.


"Begini bu, kami dari pihak kepolisian ingin menangkap saudara Galih atas tuduhan percobaan pembunuhan buk." ucapan salah satu polisi itu.


"Apa???? nggak mungkin pak! anak saya tidak mungkin seperti itu!!!" menutup mulutnya tidak percaya.


"Siapa ma yang datang?" tanya papa Daniar dari dalam rumah.


"Pa.....Galih, pa!!! Galih....!" ucap mama Daniar syok.


"Maaf apa saudara Galih ada dirumah?" tanya polisi itu.


"Emm, ini ada apa ya pak?" tanya papa Daniar yang belum mengerti situasinya.


"Anak bapak dan ibu yang bernama Galih dituduh melakukan percobaan pembunuhan kepada saudari Mentari ketika berada di Korea. Oleh karena itu kami akan membawa saudara Galih untuk dimintai keterangan lebih lanjut." jelas polisi itu.


"Galih? mencoba membunuh Mentari???" tanya papa Daniar.

__ADS_1


"Betul pak, ada rekaman CCTV yang memperlihatkan dengan jelas saudara Galih mendorong saudari Mentari hingga keguguran. Dan ada juga rekaman CCTV yang memperlihatkan saudara Galih menyimpan senjata berupa pisau kedalam jaketnya." ucap polisi.


__ADS_2