
Sepanjang malam tadi Darel sama sekali tidak merasakan pelukan hangat dari Mentari. Bahkan waktu sarapan pagi tadi saja Mentari terlihat cuek padanya.
Apa aku salah bicara? atau ada hal yang aku lakukan dengan salah makanya dia seperti itu? kenapa sih wanita tidak langsung ngomong kalau ada masalah! batin Darel.
"Kamu kenapa sih?" mencoba Mendekati Mentari yang tengah menonton TV.
"Awas ah, jangan dekat-dekat!" ucap Mentari ketus.
Sebenarnya hanya penjelasan siapa dan mengapa Darel bertemu dengan wanita lain tanpa sepengetahuan Mentari. Bukankah semalam Darel bilang mau bertemu seseorang, yang ternyata orang itu adalah mantan kekasihnya.
Apa memang Darel masih menyukai wanita itu? dia terlihat sexy sih. Pria manapun pasti akan tergoda dengan pakaiannya yang kurang bahan itu! batin Mentari.
"Aku minta maaf kalau aku ada salah! tapi jangan cuekin aku dong!" rengek Darel.
"Tauk lah, aku mau pergi!" ucap Mentari.
"Kemana?" tanya Darel mengerutkan keningnya tidak habis pikir.
"Ada deh!" ucap Mentari sembari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Haih, kenapa sih dia?" tanya Darel ketika Mentari sudah hilang dari pandangannya.
Tidak berselang lama, Mentari turun dari tangga dengan menenteng tas dan baju yang sudah rapi.
"Kamu mau kemana? aku...aku ikut!" ucap Darel.
"Nggak! kamu dirumah aja!" ucap Mentari.
"Kak Lukas!!! ayo antar aku pergi!" teriak Mentari.
Lukas yang memang sedang ada di dapur bersama Adi dan Harri saat itu langsung berlari mendekati Mentari diikuti Adi dan Harri.
"Kemana nona?" tanya Lukas.
"Nanti juga tahu sendiri!"
"Tuan muda tidak ikut?" tanya Lukas lagi.
"Nggak!" jawabnya singkat.
"Honey, aku mau ikuttt!!!!" rengek Darel.
"Kayaknya baru ada perang ketiga nih disini!" bisik Harri kepada Adi.
"Hustt, diam! daripada nanti kita kena omel!" ucap Adi.
Mentari pergi begitu saja tanpa memperdulikan Darel yang memaksa ingin mengikutinya pergi.
__ADS_1
"Awas ya kalau sampai kamu ikut! aku bakal marah!" ucap Mentari sebelum mobil melaju meninggalkan rumah.
Adi dan Harri menghampiri tuannya yang masih terpaku didepan pintu depan.
"Kenapa sih wanita itu ribet banget! nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba marah-marah nggak jelas!" omel Darel ketika Adi dan Harri menghampirinya.
"S....sabar tuan! mungkin mood nona sedang tidak baik saja, makanya dia marah-marah begitu." ucap Adi.
"Haihhh, nggak paham lagi aku sama wanita! kayaknya Pretty dulu nggak gitu deh?"
"Tuan membandingkan wanita ular dengan bidadari dari khayangan? ya jelas jauh lah tuan!" celoteh Harri refleks.
Sebuah tatapan tajam dari Darel dan Adi mengarah kepada Harri yang membuatnya langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sepertinya yang dikatakan Harri memang benar tuan. Nona Pretty mendekati anda karena harta anda, sedangkan nona Mentari karena dia memang mencintai anda." ucap Adi memperjelas perkataan Harri.
"Nahh, begitu maksudku tadiiii!! emm, maaf tuan!" tajam kembali didapatkan Harri dari Darel.
"Kira-kira Mentari mau kemana ya?" gumam Darel.
Disisi Mentari.
"Kita mau kemana nona?" tanya Lukas bingung.
"Kerumah mertuaku!" jawab Mentari.
"Sayangg! kok datang nggak bilang-bilang? kalau gitu kan tadi mama suruh bibi buatin makanan yang enak-enak buat kamu!" ucap nyonya Ardi sembari memeluk hangat Mentari.
"Emm, ma, pa, jangan kasih tau Darel ya kalau aku disini!" ucap Mentari.
"Loh kenapa sayang? kalian berantem lagi?" tanya nyonya Ardi.
"Bilang sama papa, masalah apa lagi yang dibuat anak itu? biar nanti papa yang urus dia!" kesal tuan Ardi.
"Ma, bisa kita bicara berdua?" tanya Mentari sungkan.
Tuan dan nyonya Ardi saling melempar pandang seolah berkata "bagaimana?".
"Emm, baiklah kalau begitu! papa juga ada hal yang harus dikerjakan bersama Merish dan Jono!" ucap tuan Ardi lalu meninggalkan kedua wanita itu.
"Ma, mama tahu mantan kekasih Darel?" tanya Mentari setelah memilah kata yang ingin dia utarakan.
Dari kejauhan tuan Ardi, Merish dan pak Jono menguping pembicaraan mereka berdua. Penasaran kenapa sampai Mentari hanya ingin bicara empat mata dengan nyonya Ardi.
"Oh, maksud Mentari, Pretty? iya mama tahu! Dulu dia pernah sekali dibawa kesini untuk dikenalkan kepada kami. Tapi mama dan papa tidak setuju sama dia."
"Kenapa?" penasaran.
__ADS_1
"Ada sesuatu dari wanita itu yang membuat perasaan mama tidak enak! tapi kau tahu sendiri kan Darel itu keras kepala? dia tetap melanjutkan hubungannya dengan Pretty. Hingga akhirnya Pretty menunjukkan sifat aslinya kepada kami semua." menerawang jauh ke masalalu.
"Saat itu Darel benar-benar hancur, sehancur-hancurnya!"
Kuatkan hatimu untuk kemungkinan terburuknya Mentari! Darel pasti sangat mencintai wanita itu! dan aku..?
"Hahhhh, tapi lalu kamu datang di kehidupan Darel dan merubah semua kesedihannya menjadi kebahagiaan yang tidak terkira!" sambung nyonya Ardi menatap Mentari dengan rasa syukur.
Eh, loh?
"A....aku ma?"
"Iya, kamu! mama harap kamu bisa menuntun Darel ke arah yang lebih baik ya!" ucap nyonya Ardi menggenggam tangan Mentari dengan lembut.
Seolah memasrahkan semua urusan anaknya kepada Mentari membuat hati Mentari seperti es yang mencair. Wanita didepannya ini bukan ibu mertuanya, namun dia adalah ibunya.
"Oh, ya kenapa kamu kesini sendirian tadi? kalian lagi berantem?" tanya nyonya Ardi kembali ke topik awal.
"Jadi gini ma, aku semalam nggak sengaja melihat Darel dan mantan kekasihnya itu berpegangan tangan. Aku nggak suka itu, makanya aku bersikap acuh kepada Darel berharap Darel bisa jujur dan mengatakan siapa yang dia temui semalam." menghela nafas berat.
"Tapi itu sia-sia saja! Darel bukannya jujur malah sok nggak tau, kan aku jadi tambah kesel sama dia, ma!" jelas Mentari panjang lebar.
"Emm, mama tahu deh apa yang harus kamu lakuin sekarang Mentari!" tersenyum penuh arti.
"Emm, apa ma?" tanya Mentari bingung.
"Sini ikut mama!" menarik tangan Mentari menuju mobil.
Mereka pun pergi menaiki mobil yang dibawa Mentari dan Lukas sebagai sopirnya.
( kasihan kamu Lukas, penembak profesional tapi malah dijadikan sopir😂) #AUTHOR POV
Mereka berhenti disebuah butik langganan nyonya Ardi. Sekali lihat nyonya Ardi Memborong beberapa pakaian sexy dan kurang bahan untuk Mentari. Berbagai model terbaru juga raib diborongnya. Semua yang kelihatannya pas dengan tubuh Mentari langsung diangkut oleh nyonya Ardi.
Tidak butuh waktu lama, hampir seisi butik mereka borong semuanya.
"Ma, ini mahal banget loh! mending beli di pasar aja harganya bisa lebih murah!" ucap Mentari ketika melihat deretan angka yang harus mereka bayar.
"Sayang, udahlah kamu tenang aja. Mama masih punya uang kok! Lagian ini pakai kartu papa mertua mu, hihihiiii!" tertawa sambil menutup mulutnya.
"Emang nggak apa-apa, ma kita belanja pakai uang papa?" tanya Mentari takut.
"Enggak lah, itung-itung kamu mengurangi beban mama yang harus membelanjakan uang-uang ini!" ucap nyonya Ardi.
"Papa paling nggak suka kalau mama terlalu hemat, makanya sekarang mama bagi-bagi ke kamu! kamu juga gitu, penampilan itu yang nomer 1. Apalagi kalian baru menikah." ucap nyonya Ardi.
Tidak hanya baju, mereka juga membeli beberapa model lingerie seksi bahkan ada beberapa yang transparan untuk dikenakan Mentari ketika dinas.
__ADS_1