
Sesuai rencana, Rohan akan mengajak Suli untuk ke air terjun melihat pemandangan sunset disana. Menjelang Maghrib mereka keluar dari villa dengan pakaian seadanya. Suli tidak tahu jika akan ada kejutan yang menanti mereka setelah pulang nanti.
"Ayo...ayo...cepat!!! mereka sudah keluar!!!" teriak Tomi diiringi dengan gerak cepat dari semua sahabat Rohan.
Mereka mulai sibuk menata halaman belakang yang sangat luas. Tempat itu mereka pilih karena merupakan tempat yang paling luas di villa ini. Letak villa itu memang berada di tengah-tengah perhutanan. Namun meski begitu, jaringan internet sangat mudah didapatkan disini. Dibelakang villa terdapat hamparan yang sangat luas. Banyak ditumbuhi pohon buah-buahan. mulai dari apel, peach, strawberry, anggur hijau, dan beberapa buah-buahan lainnya. Terdapat jarak cukup luas antara pintu belakang villa dengan tanaman buah-buahan itu. Jarak yang lumayan jauh itulah tempat favorit piknik keluarga Sanjaya sejak dahulu.
"Kita beneran mau ke air terjun?" tanya Suli berjalan disamping Rohan.
Andre tidak ikut tadi saat diajak karena lebih senang bermain dengan Iwang dan Arya. Untung juga untuk Rohan karena Andre menolak ikut sehingga mereka bisa menghabiskan saat-saat bersama.
Jujur saja Rohan bukan tipe pria romantis seperti sahabatnya yang lain, apalagi Tomi. Meskipun menjomblo cukup lama, namun kepiawaiannya dalam hal wanita perlu diacungi jempol.
"Iya, kata Shiren didekat sini ada air terjun sekalian kita melihat sunset!" ucap Rohan.
Payah sekali Rohan ini. Baru juga berjalan didekat Suli saja sudah membuat hatinya bergetar tidak karuan. Apakah seperti ini yang dirasakan saat jatuh cinta?! pikir Rohan saat itu sambil memegang dadanya yang berdetak cukup keras.
"Ada apa?! apa dadamu sakit?" tanya Suli yang melihat Rohan memegang dadanya.
"Ah, tidak kok! ayo lanjut lagi perjalanannya!" ucap Rohan salah tingkah.
Berjalan beberapa ratus meter, akhirnya mereka pun sampai di air terjun yang dimaksud Shiren.
"Wowww, indahnyaaa!!!" ucap Suli berwow ria.
Suli menghirup dalam-dalam udara sekitar. Aroma segar air terjun menyeruak di indra penciumannya. Deru air terdengar menenangkan. Begitu nyaman disini. Untuk sesaat Rohan lupa tujuannya mengajak Suli kesini.
"Ayo naik ke atas?!" ajak Suli.
"Ayo!! tapi kalau capek jangan minta gendong yaa!" gurau Rohan.
"Enak aja!! gini-gini aku kuat tahu!!" sungut Suli.
"Iya-iya. Ayo!" ucap Rohan.
Mereka mulai berjalan menuju jalan setapak menuju ke atas air terjun. Jalanan itu hanya cukup untuk satu orang sehingga Rohan berada di depan dan Suli di belakang sehingga jika terjadi sesuatu bisa Rohan hadapi lebih dulu. Karena cukup curam, Suli terlihat kesulitan menaiki jalan ini dan Rohan mengulurkan tangannya membantu Suli naik.
"Ahh, akhirnya sampai juga kita ke atas!!!" ucap Suli menghela nafas senang.
__ADS_1
Letih sih, tapi menyenangkan bagi mereka.
"Ehh lihat, mataharinya mulai terbenam!!" tunjuk Suli ke arah matahari terbenam.
Suli tersenyum bahagia melihat matahari yang perlahan mulai terbenam itu. Sedang keasikan melihat matahari terbenam hingga membuat Suli tidak menyadari sepasang mata sedari tadi menatapnya dengan senyum lebar yang tiada habisnya. Ya, sepasang mata itu adalah milik Rohan. Dia begitu terpesona dengan kecantikan alami wanita dihadapannya ini.
Cahaya jingga yang menghangat perlahan demi perlahan berganti dengan gelapnya malam dengan hawa dingin yang mulai menusuk tubuh kedua orang itu. Untung saja mereka memakai jaket tebal sehingga tidak terlalu dingin diatas sini.
Di atas air terjun itu terdapat sungai cukup besar namun tidak terlalu dalam. Sebenarnya mereka masih bisa ke atas lagi namun karena lelah akhirnya mereka berhenti disana saja.
Setelah puas bermain-main disana, mereka akhirnya turun dengan Rohan yang kembali didepan. Cahaya lampu senter dari ponsel mereka menerangi jalan yang gelap gulita itu.
"Seru banget yaa! padahal cuma begini aja loh aku udah senang banget!" celoteh Suli saat mereka sudah berada dijalan menuju villa.
"Kamu senang sekali sepertinya?!" ucap Rohan.
"Ya, dulu aku dan ayah selalu melihat matahari terbenam di pantai dekat rumah kami!" ucap Suli bercerita banyak hal mengenai masa kecilnya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjadi penembak jitu.
"Eh, kok sepi banget sih?" tanya Suli.
Mereka sudah berada didepan villa. Tumben sekali tidak ada aksi ngidam aneh dari Daniar dan Mentari, pikir Suli saat itu.
Mereka berjalan menuju taman belakang. Tempat dimana rencana Rohan berjalan.
"Kok gelap banget sih?" tanya Suli saat mereka sudah berada di taman belakang.
Ting...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Rohan melalui aplikasi hijau.
Ajak Suli ke tengah taman. Disana sudah siap dengan taburan mawar merah berbentuk love pas di tengah-tengah taman. Semua sudah siap, tinggal menunggu aba-aba darimu saja.
Isi pesan dari Tomi membuat Rohan tersenyum haru untuk sepersekian detik.
"Ayo kita kesana!" ajak Rohan menggandeng tangan Suli.
"Kemana?!" tanya Suli penasaran.
__ADS_1
"Udah ikut saja!" ucap Rohan.
Tepat di tengah-tengah taman, Rohan menghentikan langkahnya. Kira-kira saja di hati Rohan bahwa tempat ini berada di tengah-tengah taburan bunga mawar berbentuk Love.
"Suli!" panggil Rohan.
"Hem?!" Suli menatap Rohan.
Karena cahaya yang didapat hanya dari cahaya bulan sehingga wajah mereka hanya terlihat kehitaman saja.
"Aku tahu ini terlalu cepat! aku sendiri tidak yakin apakah aku benar-benar merasakan ini atau tidak. Tapi yang jelas aku ingin selalu didekat mu, bersamamu, mendampingimu, melindungimu, ada di setiap momen yang kau lalui." ucap Rohan panjang lebar menjelaskan isi hatinya.
"R...Rohan?!"
Suli kehabisan kata-kata sekarang. Apa maksudnya Rohan mengatakan hal ini kepadanya? apa Rohan mulai memiliki perasaan khusus terhadapnya? oh Suli, sadarlah! sadar siapa kau, dan siapa Rohan! kalian berbeda jauh sekali! jangan jadi pungguk yang merindukan bulan!! tidak mungkin itu terjadi! pikir Suli saat itu berusaha menepis apapun yang ada dipikirannya tentang perkataan Rohan barusan.
"R.... Rohan...ap...apa yang kau katakan ini?" tanya Suli berusaha berfikir positif bahwa tidak mungkin Rohan hendak mengatakan bahwa dia mencintai dirinya.
"Suli... I....Love...Youuu!!!!" teriak Rohan.
Tiba-tiba lampu-lampu di taman yang sudah dibuat oleh Tomi menyala memperlihatkan keadaan taman yang sudah dihias dengan sangat indah dengan bunga-bunga dan balon. Suli terpesona dengan keindahan taman tidak lupa juga sebuah plang bertuliskan "Will you marry me, Suli?" membuat air mata Suli menetes begitu saja. Dia terharu. Tidak terbayangkan orang yang dia cintai memiliki rasa yang sama sepertinya. Cintanya terbalaskan! bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Maukah kau menikah denganku? aku mungkin bukan orang yang romantis, bahkan ini saja aku meminta bantuan dari sahabat-sahabatku! yang jelas, selama sisa hidupku, aku ingin menghabiskannya bersama-sama denganmu!" ucap Rohan.
Posisi Rohan saat ini sudah berjongkok dihadapan Suli dengan sebuah kotak kecil berwarna merah berisi sebuah cincin berlian. Entah kapan Rohan menyiapkan cincin itu, yang jelas cincin itu sudah ada saat Suli kembali menatap kearah Rohan.
"Ya....ya!!! aku mauu!!" ucap Suli menangis haru.
"Horeeeeeee!!!!!!!!" sorak semua orang yang keluar dari tempat persembunyiannya.
Rohan tidak bisa mengekspresikan kebahagiannya saat ini. Dia sangat, sangat bahagia. Cincin itu dia sematkan di jari manis Suli di tangan kiri. Setelah menyematkan cincin, Rohan membawa Suli kedalam pelukannya. Mereka hanyut dalam adegan mengharukan ini. Sahabat Rohan begitu bahagia dengan kebahagian Rohan yang telah menemukan wanita idamannya. Tidak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata haru bercampur bahagia.
"I love you Suli!!" bisik Rohan saat mereka masih berpelukan.
Suli mengeratkan pelukannya menandakan dia juga begitu nyaman dan mencintai laki-laki yang baru saja melamarnya.
Andre yang berdiri didekat Iwang dan Mentari juga Darel ikut tersenyum bahagia. Setitik air mata jatuh ke pipinya namun bukan air mata sedih, melainkan air mata bahagia. Wanita yang dia anggap sebagai kakak kini telah menemukan pendamping hidup. Dia bahagia, sungguh.
__ADS_1
Andre mengusap air matanya dengan lengannya. Lalu tersenyum penuh kebahagiaan. Bocah yang usianya lebih tua dua tahun dari Iwang itu begitu dewasa dalam menyikapi hal.