Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 294


__ADS_3

Darel bergegas menuju makam kedua orang tua Mentari. Karena jarak rumah pak Bayu dengan makan tidak terlalu jauh, hingga tidak sampai lima belas menit mereka telah sampai di makam itu.


"Dimana pria misterius itu pak?" tanya Darel begitu sampai disana.


"Orang itu sudah pergi tuan! biasanya dia kalau kesini itu sangat lamaa sekali, seperti tengah bercerita gitu loh. Tapi tadi nggak sampai lima menit sudah pergi." ucap bapak pemilik warung.


"Sia*!!" umpat Darel.


Darel kalah cepat. Dia begitu frustasi karena tidak berhasil mengungkap siapa pria misterius itu.


"Emm, tapi tadi saya sempet memotret pria itu pak, tapi tidak terlalu kelihatan!" ucap bapak pemilik Warung lalu menunjukkan foto yang dia ambil.


Sejenak Darel, Harri, dan Lukas terdiam dan saling pandang. Mungkin di benak mereka menduga hal yang sama.


"Papa!?"


"Tuan besar?!" ucap mereka bertiga bersamaan.


"Apa benar ini orang yang selalu kesini?" tanya Darel.


"Benar tuan! biasanya dia naik mobil mewah berwarna hitam. Ini plat nomornya juga saya fotokan, siapa tahu tuan kenal dengan pemilik mobil ini!" ucap bapak pemilik warung memperlihatkan hasil fotonya yang lain kepada Darel.


"Benar ini milik tuan besar, tuan muda!" celetuk Harri saat mereka telah melihat foto plat mobil itu.


Papa? apa benar papa dibalik semua ini? jika itu memang benar, berarti musuh Mentari berada didekatnya selama ini! batin Darel.


"Bapak bisa kirimkan foto-foto tadi ke nomor saya!" ucap Darel.


"Bisa-bisa pak!" ucap bapak itu lekas mengirimkan foto tadi ke nomor Darel.


"Ini, tanda terimakasih saya karena telah membantu saya dan juga istri saya! jika pria itu datang kembali mohon segera beritahu saya, ya!" ucap Darel memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada bapak pemilik warung.


"Sama-sama tuan! saya akan mengabari tuan kalau pria itu datang lagi!" ucap bapak pemilik warung.


Dert....dert....dert....


"Hallo, iya sayang ada apa?" tanya Darel.


"Sayang tolong belikan susu hamil ya! stok dirumah habis!" ucap Mentari di seberang telepon.


"Hah?! aku mana ngerti yang begituan, sayangg!!" ucap Darel.


"Ishh, kamu mahhh!! masa dimintain tolong gitu aja nggak mau!!" ucap Mentari.


"Ehh, enggak gitu maksudnya! iya-iya aku belikan yaa, tapi jangan ngambekk!!" ucap Darel akhirnya pasrah.


"Oke dada sayang, emuahh! oh ya sekalian beliin rujak yaa, aku pengen banget makan rujak!" ucap Mentari langsung menutup panggilan secara sepihak.


"Ada apa tuan?" tanya Lukas.


"Tari! minta dibeliin susu hamil! aku mana ngerti yang kayak gitu!" ucap Darel dengan wajah lesu.


"Sabar tuan! ini sudah resiko anda, jadi anda harus menanggung ulah anda ini!" ucap Lukas menepuk pundak Darel.


"Ya sudah ayo kita ke supermarket nanti keburu dia ngomel-ngomel lagi!" ucap Darel.


Mereka pun pergi dari sana menuju supermarket terdekat untuk membeli susu hamil. Begitu sampai disupermarket, Darel, Harri dan Lukas kebingungan memilik susu hamil mana yang biasa diminum oleh Mentari. Pasalnya banyak produk susu hamil dan berbagai macam rasa mulai dari coklat, vanilla, dan strawberry.

__ADS_1


"Tuan, kita beli yang mana ini?" tanya Harri sambil menatap rak berisi berbagai jenis susu ibu hamil.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya mbak-mbak supermarket.


"Oh, begini mbak, saya sedang mencari susu hamil untuk istri saya, tapi nggak tau mau ambil yang mana, bisa tolong bantu?" tanya Darel.


"Oh, usia kandungannya berapa bulan?" tanya mbak-mbak supermarket.


"Jalan empat bulan!" ucap Darel.


"Biasanya minum yang rasa apa?" tanya mbak-mbak supermarket.


"Emmm, rasa apa yaa?" tanya Darel berpikir.


"Kalau biasanya itu yang rasa coklat! dia paling suka rasa coklat! yang coklat aja mbak!" ucap Darel mengingat apa yang Mentari suka.


"Baiklah, ini ada beberapa produk yang paling bagus bisa dipilih salah satu untuk dibeli!" ucap mbak-mbak supermarket menunjukkan merk empat buah box susu hamil rasa coklat.


"Saya beli semuanya aja mbakk! takut salah!" ucap Darel.


"Baik, silahkan pembayaran dikasir yaa!" ucap mbak-mbak supermarket.


Darel pun menuju ke kasir untuk membayar susu hamil yang dia beli. Begitu telah dibayar, mereka keluar supermarket untuk membeli barang kedua yaitu rujak buah. Beruntungnya Darel hari ini karena tidak lama berselang gerobak rujak buah melewatinya.


"Pakk!! rujakkk!!!" teriak Darel.


Bapak penjual rujak pun berhenti ketika melihat ke arah Darel yang datang menghampirinya.


"Mau berapa bungkus, mas?" tanya bapak itu.


"Satu aja pak, berapa?" tanya Darel.


Dengan cekatan bapak penjual rujak memotong-motong buah ke dalam plastik. Rujak ini dilangkapi sambal kacang yang digiling agak kasar sehingga tekstur kacangnya masih terasa dan juga kerupuk. Sambal dan kerupuk ini berada di plastik terpisah dari rujak tadi.


"Ini, mas!" ucap bapak itu memberikan pesanan Darel.


Darel mengeluarkan selembaran uang seratus ribu rupiah kepada bapak itu.


"Ini, pak!" ucap Darel.


"Duh, mas, saya tidak punya kembalian. Cuma ada dua puluh ribu saja ini." ucap bapak tadi.


Karena baru berkeliling sehingga masih belum banyak pelanggan yang membeli rujak buahnya.


"Ya sudah ini buat bapak saja. Nanti kalau ada yang beli bapak potong dari uang ini saja, ya!" ucap Darel.


"Alhamdulillah, iya-iya, mas! makasih ya, mas!" ucap bapak tadi bersyukur.


Darel pun berjalan menuju mobilnya lalu pulang. Begitu sampai dirumah, Darel langsung memanggil-manggil nama Mentari dengan senyum sumringah karena berhasil membeli barang-barang yang dipesan Mentari.


"Eh, kamu udah pulang?" tanya Mentari.


"Iy..." senyum Darel perlahan menghilang saat melihat sepiring rujak buah yang dibawa Mentari.


"Ituuu...." menunjuk ke sepiring rujak buah.


"Oh, ini tadi diberi sama Daniar." ucap Mentari tanpa berdosa.

__ADS_1


"Tapi kan aku udah beli buat kamu!" ucap Darel memperlihatkan rujak buah yang dia beli tadi.


"Yahh, gimana dong! aku udah terlanjur terima rujak buah dari Daniar. Aku lupa kalau kamu juga beli tadi!" ucap Mentari.


"Ishhh!" gumam Darel dengan wajah yang kesal.


"Yasudah kamu taroh di kulkas aja, siapa tahu nanti aku makan lagi!" ucap Mentari memberi solusi.


"Hemm!" jawab Darel.


"Oh iya! ini susu yang kamu minta!" ucap Darel memberikan susu hamil yang dia beli tadi.


Mentari menerima plastik itu lalu mengeluarkan isinya satu persatu.


"Kok nggak adaa!!" ucap Mentari kesal.


"Apanya yang nggak ada?" tanya Darel yang baru datang dari dapur setelah meletakkan rujak buah tadi.


"Susunya!!" menatap kesal ke arah Darel.


"Lah itu!" tunjuk Darel pada box-box susu di atas meja.


"Bukan yang iniii! lagian ini rasa coklat! aku kan selama hamil nggak suka susu coklat! kamu nih gimana sih?" kesal Mentari.


"Eh, iya juga yaa! bukannya biasanya aku buat itu rasa strawberry yaa?!" ucap Darel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Terus beli banyak banget lagi! nggak ada yang bener satu aja! kan jadinya mubazir!!" omel Mentari.


"Emm, yaudah sayang, biar aku beliin yang baru yaa! LUKASSS!!!! LUKASSSSS!!!!" teriak Darel memanggil nama Lukas.


Lukas pun segera datang menghadap tuannya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Lukas.


"Tolong kamu beliin susu buat Mentari yang biasa dia minum ya!" ucap Darel.


Lukas menatap bingung kepada Darel.


"Kamu tanya mbok aja kalau bingung!" ucap Darel.


"Oh, baiklah tuan!" ucap Lukas lalu pergi ke dapur mencari mbok Tini.


Sesampainya di dapur.


"Mbok, susu nona yang biasa dia minum itu merk apa?" tanya Lukas tanpa basa-basi.


"Oh merk Lactami*, Lukas!" ucap mbok Tini.


Mbok Tini memang biasa memanggil Lukas dengan namanya saja. Itu juga atas permintaan Lukas.


"Oh okee!! makasih mbokk!" ucap Lukas lalu mengambil ponselnya didalam saku celanay.


"Emangnya kenapa kok tanya merk susu nona?" tanya mbok Tini penasaran.


"Mau dibeli mbok! tuan Darel yang meminta tadi!" ucap Lukas.


"Hallo! ya, tolong kamu beli perusahaan Lactami* yaa! saya tunggu kabarnya segera!" ucap Lukas menutup panggilan.

__ADS_1


"Beress!!" ucap Lukas.


__ADS_2