Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 42


__ADS_3

Di rumah Darel. Raut wajahnya terlihat murka. Tatapannya begitu kosong. Otaknya berputar pada kejadian masa lalu.


"Paman telah tua, Darel! Begitu juga mama mu. Apalagi kondisinya sekarang telah begitu buruk. Kabar terakhir yang paman dengar dia telah jatuh miskin lalu menghilang. Entah bagaimana kabar dan keadaannya sekarang paman tidak tahu. Anak buah paman juga sampai saat ini masih terus mencari keberadaannya." jelas pak Joni.


Pria itu. Pria yang menemani masa muda papanya. Pria yang mengabdikan dirinya untuk keluarga Sanjaya bahkan hingga kini usianya yang terbilang tidak muda lagi. Wajah yang dipenuhi keriput dan rambut memutih itu masih terlihat bugar meski usianya telah senja.


"Jika anda kemari untuk mengatakan hal mengenai wanita itu. Maaf! Rumah ini tidak lagi menerima kehadirannya bahkan menyebut namanya aku haramkan dirumah ini! Paman sendiri tahu bagaimana dia...." terhenti.


"Mentari sampai kehilangan nyawanya karena dia. Mungkin secara tidak langsung, tapi tetap saja dia ada andil dalam kejadian dulu." ucap Darel penuh penekanan.


Darel berkata demikian agar pak Joni sadar kesalahan mamanya bukanlah kesalahan sepele. Putra-putrinya bahkan harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.


"Bisa paman bayangkan betapa rindunya anak-anak ku pada ibu mereka?! Apalagi Shaki, Kaivan, dan Hyuna yang sama sekali belum pernah merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu?! Paman sendiri juga melihat bagaimana anak-anak ku tumbuh tanpa dampingan ibu mereka. Bahkan saat Hyuna menginjak dewasa, kami sama sekali tidak tahu perihal masa haid pertamanya. Aku merasa gagal menjadi ayah yang terbaik untuknya. Dia ketakutan karena darah keluar dari area sensitifnya, dia menangis. Lalu apa yang bisa aku buat sebagai seorang ayah?! Tidak bisa!!! Aku hanya bisa menelepon Daniar dan membantuku. Aku juga menelepon Angel yang pada saat itu tengah sibuk di rumah sakit agar segera datang kemari." ucap Darel dengan nafas terengah.


Dadanya naik turun kala mengingat Hyuna. Putrinya itu memang kelihatannya saja tegar dan ceria. Namun Darel seringkali memergoki Hyuna tengah menangis dan berbicara pada bulan dan bintang karena dia yang diejek tidak punya ibu. Hari ayah mana yang mampu menahan sesak di dadanya saat putrinya sendiri lebih memilih curhat kepada langit daripada dirinya?! Sungguh dia merasa telah gagal.


"Bahkan aku sering mendengarnya menangis di tengah malam. Aku juga sering mendengar dia curhat pada langit malam tentang kesedihannya yang tidak memiliki ibu. Dia diejek karena hal itu. Putriku diejek oleh temannya, paman!!! Dan dia hanya diam saja. Bahkan esok harinya dia kembali tersenyum dengan ceria seolah tidak terjadi apa-apa." ucap Darel mulai berkaca-kaca.


Membahas Hyuna dan anak-anaknya selalu membuatnya sendu.


"Ayah!!!" panggil Iwang.


Iwang yang baru pulang setelah membeli kado untuk acara ulang tahun Ana malam nanti pun berlari menghampiri ayahnya yang berkaca-kaca. Ia telah mendengar ucapan Darel yang terakhir.


"Ayah, kenapa ayah menangis?!" tanya Iwang setelah dia bersimpuh dihadapan Darel.


"Tuan, maaf atas kelancangan saya dan ayah saya. Yah, ayo kita pergi." ucap Lukas.


Lukas memang berada disana. Dia juga menjadi saksi betapa pilunya Darel sepeninggal Mentari.


"Saya mohon anda mempertimbangkan perkataan saya, Darel!" ucap pak Joni sebelum pergi.


Lukas segera membawa ayahnya keluar dari rumah Darel. Didepan, sudah ada Adi dan juga Harri yang menunggu mereka.


"Apa paman tidak pernah memikirkan perasaan tuan Darel?! Mengapa paman seolah buta pada kondisi dan juga keadaannya saat ini. Mengapa paman ingin membawa dia kembali ke rumah ini disaat semuanya telah mulai membaik?!" cecar Adi.


Dia begitu emosi saat diberitahu Harri tadi bahwa pak Joni datang dengan maksud agar Darel membawa kembali mamanya. Adi yang saat itu tengah kencan bersama Nakala langsung membatalkan kencannya lalu kembali ke rumah Darel dengan emosi meledak-ledak.


"Kau tidak akan paham, Adi! Ini masalah orang dewasa!" ucap pak Joni menatap tajam ke arah Adi.

__ADS_1


"Urusan tuan Darel adalah urusan saya juga. Jangan sampai saya melupakan siapa anda dan berlaku kasar pada anda karena telah berani mengusik ketenangan rumah ini. Kemana saja anda selama ini?! Kenapa baru muncul sekarang disaat kondisi rumah ini telah membaik?! Dimana anda saat rumah ini sedang kacau-kacaunya?! anda masih bisa melihat namun mata hati anda telah buta. Anda melupakan banyak orang yang kehilangan sosok nyonya Mentari akibat ulah nyonya besar." ucap Adi geram.


"Apapun yang kau katakan, itu tidak akan berpengaruh padaku. Kemana aku selama ini, itu bukan urusanmu. Aku hanya mau Darel membawa kembali nyonya besar ke rumah ini. Ke rumah putranya." ucap pak Joni menekan kata putranya.


Adi semakin geram. Begitu pula dengan Harri dan Lukas. Lukas benar-benar tidak menyangka ayahnya seperti ini. Lukas tidak tahu kalah kedatangan ayahnya kesini untuk meminta Darel membawa pulang nyonya besarnya yang mana dia adalah orang yang telah ikut andil dalam pelenyapan istrinya, ibu dari anak-anaknya.


"Jika ayah kesini hanya untuk membahas nyonya Rumi, sebaiknya ayah jangan kesini lagi!! Penjaga!!!" teriak Lukas.


Pak Joni menatap putranya dengan tatapan tajam. Tidak percaya rasanya putranya sendiri berlaku demikian padanya.


"Iya tuan?!" tanya dua pengawal yang datang karena panggilan Lukas.


"Silahkan ayah pulang, atau aku akan menyuruh pengawal untuk menyeret ayah keluar. Dan kalian, ingat baik-baik wajah ayahku ini. Jangan sampai dia masuk ke dalam rumah ini, mengerti?!!" ucap Lukas tegas.


"Kau anak durhaka, Lukas!!! lupa kau siapa aku?! Siapa yang membawamu masuk ke dalam rumah ini?! Aku bersumpah kau tidak akan pernah bahagia!!!" ucap pak Joni mengutuk putranya sendiri.


"Saat ini, yang berdiri dihadapanmu bukanlah putramu. Melainkan anak buah tuan Darel. Aku tidak akan membiarkan ayah mengganggu ketenangan rumah ini! Bawa dia pergi!" perintah Lukas pada anak buahnya.


Anak buah Lukas pun memegang tangan kanan dan kiri pak Joni hendak mengusirnya dari rumah ini seperti perintah Lukas.


"LEPAS!!! AKU BISA PERGI SENDIRI!!" bentak pak Joni.


"Sebaiknya jaga ayahmu agar tidak mengganggu kedamaian dirumah ini." ucap Adi penuh penekanan kepada Lukas.


"Maaf! Aku tidak tahu kalau tujuan ayah kesini untuk membahas hal itu. Aku kira, ayah ingin menemui tuan Darel karena dia rindu setelah sekian lama menghilang entah kemana." ucap Lukas merasa bersalah.


"Sudahlah, yang penting semuanya sudah beres." ucap Harri menengahi.


********


Hyuna pulang ke rumah dengan membawa kue juga kotak hadiah yang akan dia berikan pada Ana nanti malam. Tadi dia dan juga Kairo sempat mampir ke mall untuk membeli hadiah. Begitu dia sampai dirumah, dia melihat perseteruan dari Adi, Harri, dan Lukas. Hyuna mengerutkan keningnya. Tidak biasanya mereka terlibat perseteruan seperti itu, apalagi dari ekspresi wajah Adi, sepertinya itu bukan hanya masalah sepele.


"Ada apa, paman?!" tanya Hyuna.


Ketiga pria itu terkejut karena kedatangan Hyuna.


"Eh, nona! Tidak kami hanya bercanda saja kok, hehe!" jawab Harri.


Lukas dan Adi secepat mungkin merubah ekspresi mereka menjadi biasa saja. Mereka tidak ingin nona mereka tahu masalah kelam rumah ini.

__ADS_1


"Mana ada bercanda seperti itu. Wajah paman Adi sampai memerah. Kalian pasti bohong!" ucap Hyuna penuh selidik.


"Benar, kami hanya bercanda saja kok, iya kan?!" ucap Harri menatap dua rekannya seolah meminta bantuan agar bisa membantunya bersandiwara.


Adi dan Lukas pun hanya bisa mengangguk. Walau masih curiga, Hyuna pun hanya bisa percaya pada perkataan Harri.


"Ya sudah kalau gitu aku masuk dulu." ucap Hyuna berjalan pergi membuat ketiga pria itu menghela nafas lega.


Begitu Hyuna memasuki rumah, Hyuna melihat pemandangan Darel yang menangis dipeluk oleh kakaknya, Iwang.


"Ayah?! Kakak?!" tanya Hyuna lalu berjalan mendekati Darel dan Iwang membuat dua orang itu terkejut lalu menghapus air mata mereka dengan buru-buru.


"Kenapa kalian menangis?" tanya Hyuna sedikit khawatir.


"Ah, tidak!! Ini ayah cuma kelilipan aja." ucap Darel berkilah.


"Iya, kakak tadi juga kelilipan." kilah Iwang.


"Mana ada kelilipan sampai nangis begitu. Lagi pula tadi kalian juga berpelukan, seperti tengah menguatkan. Ada apa?! Kenapa kalian tidak mau jujur sama Hyuna?! Tadi juga paman Adi, paman Lukas dan paman Harri bohong sama Hyuna." ucap Hyuna merajuk.


"Eh, emmm...mana cheese cake pesanan kakak tadi?! Kamu bawa kan?" tanya Iwang mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya, ini!" ucap Hyuna memberikan kotak kue cheese cake pada Iwang.


"Makasih yaa, adik kakak!! Yaudah sana buruan siap-siap nanti kita terlambat loh. Ini udah sore." ucap Iwang melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Yaudah, Hyuna ke atas dulu yaa!" ucap Hyuna lalu berjalan menuju rumahnya.


"Untung saja Hyuna percaya." ucap Darel bernafas lega.


"Sampai kapan ayah akan menyembunyikan kebenaran ini pada Shaki, Kaivan, dan Hyuna? Mereka sudah besar, ayah. Mereka berhak mengetahui kebenaran tentang ibu Mentari." ucap Iwang.


"Nanti sajalah ayah pikirkan. Untuk saat ini jangan beritahu adik-adikmu masalah ini." ucap Darel.


"Aku takut, ayah! Aku takut nanti mereka tahu dari orang lain dan menjadi salah paham pada ayah karena menyembunyikan hal ini dari mereka." ucap Iwang.


Darel terlihat berfikir. Benar apa yang dikatakan Iwang. Tapi untuk mengatakan kebenaran itu, Darel belum mampu.


"Secepatnya ayah akan menceritakan ini pada adik-adikmu." ucap Darel.

__ADS_1


__ADS_2