
*Flashback On*
Beberapa hari setelah pemecatan karyawan di perusahaan Sanjaya Group secara masal, ada beberapa oknum yang membuat onar seluruh perusahaan dengan menyebarkan kabar bahwa perusahaan itu akan segera bangkrut. Alhasil banyak karyawan yang gelisah dan khawatir dengan kabar burung tersebut. Bahkan para investor juga menuntut Darel sebagai presdir di perusahaan Sanjaya Group untuk menjelaskan benar tidaknya kabar tersebut.
Dalam perusahaan pun mulai terjadi perpecah belahan. Karyawan yang menyakini berita hoaks tersebut memutuskan untuk resign/mengundurkan diri karena takut di-PHK jika kabar tersebut benar adanya.
"Wisnu, sebenarnya apa saja yang kau kerjakan selama ini ha? menangani hal seperti ini saja kau tidak bisa!" bentak Darel.
"Maafkan saya tuan, tapi kami sudah berusaha mencari dalang dari penyebaran berita tersebut. Dan hari ini para investor juga hendak mengadakan rapat dan diminta anda untuk datang kerapat tersebut, tuan!" ucap Wisnu yang sudah berdiri diruangan Darel bersama Nurul yang juga terlihat sangat ketakutan.
Nurul tidak berani berbicara, bahkan dia terus menundukkan kepalanya, tidak berani berhadapan dengan mata Darel yang terlihat lebih menakutkan saat itu.
Oh Tuhan, aku belum menikah! kenapa kau kirimkan malaikat maut mu sekarang,huhuhu...! batin Nurul.
"Baiklah, kau atur dulu rapat itu, bilang pada mereka kalau aku akan datang!" ucap Darel.
"Tapi tuan...!" ucap Wisnu terpotong.
Darel yang hendak membuka ponselnya menatap Wisnu dengan tatapan mematikan miliknya. Melihat hal itu, Wisnu pun langsung terdiam dan bergegas pergi dari ruangan Darel, diikuti Nurul.
"Benar-benar menguji kesabaranku!" batin Darel.
"Adi, suruh anak buahmu mencari dalang dari penyebaran berita hoaks diperusahaanku, kerahkan semua anak buah yang kau punya, kalau perlu mintalah bantuan Lukas untuk membantu mencari mereka!" ucap Darel diponsel.
"Baik tuan!" jawab Adi dari sebrang telepon.
Panggilan pun berakhir. Darel memijat pelipisnya.
Ditempat lain, diruang pertemuan para investor. Wisnu yang datang hanya ditemani Nurul saja membuat beberapa investor merasa senang dan berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk menjatuhkan perusahaan Darel dari dalam.
"Dimana Presdir kalian ha? apa dia takut bertemu kami? kenapa dia seperti cacing yang bersembunyi didalam tanah!" teriak salah seorang investor bernama Banu.
"Ya..yaaa dimana tuan Darel Sanjaya yang terkenal tegas dan berani itu? kenapa sekarang malah dia tidak ada?" ucap rekan Banu menimpali.
Investor lain yang sudah terprovokasi pun menimpali perkataan Banu beserta rekan-rekannya. Hal itu memancing karyawan lain yang tengah bekerja melihat kearah ruangan rapat mereka yang terdengar sangat bising.
Daniar yang juga baru bekerja diperusahaan itu ikut penasaran dengan kegaduhan yang terjadi.
Batu juga bekerja disini, masa iya udah ada isu miring kayak gini? ditambah itu lagi ribut-ribut diluar! batin Daniar yang melihat sekilas dibalik kaca jendelanya.
__ADS_1
Kursi tempat Daniar bekerja memang berada didekat jendela. Hal itu memungkinkan Daniar melihat situasi diluar ruangan, bahkan seperti sekarang ini.
Daniar yang sudah puas melihat kegaduhan itu pun memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan rekannya yang lain masih sibuk melihat kearah ruang pertemuan.
"Ayo jawab kenapa presdirmu tidak datang ha?" ucap Ronal, rekan Banu.
"Sabar, tuan Darel sudah ada disini, dia sedang menyelesaikan tugas lain dulu!" ucap Wisnu melerai emosi para investor itu.
"Halah, bilang aja kalau dia takut bertemu kami, yakan!" tambah Yono, yang juga rekan Banu.
"Siapa yang takut dengan kalian?" ucap seorang pria yang tiba-tiba memasuki ruang pertemuan.
Raut wajah tidak bersahabat langsung membuat nyali para investor menjadi ciut. Aura membunuh juga seperti mengelilingi ruangan itu hingga mereka seperti sulit bernafas.
Tap...tap...tap...
Suara langkah kaki pria itu dengan tegas langsung menuju kursi kebesarannya dan duduk dan menyenderkan bahunya dikursi.
"Tuan Darel, mereka ini yang ingin bertemu dengan anda!" ucap Wisnu memberi informasi sekilas.
Yah meskipun Darel sudah tahu sebelumnya.
"Tuan Banu? Wisnu bilang anda ingin bertemu denganku? jadi katakan apa yang ingin kau bicarakan, karena aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni omong kosong mu!" ucap Darel datar.
Banu menelan ludahnya dengan kasar. Keringat dingin mulai mengucur deras ditubuhnya.
"Emm, begini tuan kami hanya ingin menanyakan perihal berita yang simpang siur beberapa hari belakangan ini!" ucap Banu setelah mengumpulkan keberanian.
Darel masih diam, tidak bergeming sedikitpun.
Ayo tunjukkan lagi sikap kalian yang kurang ajar itu didepan tuan Darel! biar kalian dibantai langsung disini! seenaknya saja membuat kerusuhan! batin Wisnu.
Wisnu yang memang sudah tahu siapa Darel itu pun ikut geram dengan sikap kurang ajar para investor, terlebih Banu dan rekannya.
"Bukankah sudah Wisnu katakan bahwa itu semua tidak benar?" tanya Darel masih menahan emosi.
"Tapi jika memang itu tidak benar kenapa anda hanya diam saja tuan Darel? seharusnya anda mengusut tuntas masalah ini dan...." ucap Banu terpotong.
GUBRAKKK....
__ADS_1
Darel yang sudah dibatas kesabarannya pun tidak bisa menahan emosinya.
"Apa kalian pikir aku hanya diam saja begitu? apa kalian pikir aku akan dengan tenang kalau ada orang lain mengusik ketenangan ku ha? kalian datang kemari merusak konsentrasi karyawanku dan membuat keributan disini apa menurut kalian itu semua bijak ha!" teriak Darel memenuhi ruangan.
Para karyawan juga ikut tegang dengan teriakan Darel barusan. Tidak sedikit dari mereka yang menahan nafas saking takutnya saat mendengar teriakan Darel yang menggelegar hingga keluar ruangan pertemuan.
Sepertinya aku mengenali suara itu! batin Daniar yang ikut merinding dengan teriakan Darel.
Yah, Daniar memang belum tahu kalau Darel adalah pemilik perusahaan Sanjaya Group.
"Tuan Banu! saya tahu anda yang memprovokasi investor lain untuk mengacau diperusahaanku. Dan kau akan dengan sangat senang jika usahamu memprovokasi investor itu berhasil menjatuhkan perusahaan ku, benar bukan?" ucap Darel dengan menurunkan volume suaranya namun penuh penekanan disetiap katanya.
Banu yang mendengar hal itu merasa semakin ketakutan.
"Tuan ,bagaimana anda bisa berpikir seperti itu, saya..." ucap Banu terpotong.
"Kau pikir aku tidak punya mata ha! setiap sudut perusahaan ini dipasangi CCTV, bahkan tanpa kau ketahui disetiap perusahaan investor juga sudah aku sadap dan Boomm apa yang aku temukan?" ucap Darel tersenyum penuh arti.
"Ap...apa t..tuan?" ucap Banu terbata.
"Apa aku masih perlu menjelaskannya padamu?" tanya Darel.
"Wisnu, urus semua saham yang sudah diberikan investor ini, dan kembalikan saham sesuai perjanjian awal! aku tidak mau berurusan dengan tungau pengganggu seperti mereka!" perintah Darel sambil memberikan selembaran kertas berisi beberapa nama investor termasuk Banu, Ronal, dan Yono selaku provokator.
"Baik tuan!" ucap Wisnu penuh semangat.
Dia pun bersama Nurul mulai menjalankan perintah Darel. Kemudian mengembalikan saham investor sesuai perjanjian.
Diruangan Darel...
"Tuan anak buah saya sudah menangkap para pembuat onar itu, mau diapakan mereka?" ucap Adi dalam telepon.
"Kau bawa mereka kemarkas, aku akan mengurus mereka nanti! dan kau kembalilah untuk menjemput ku, aku mau ketoko Mentari!" ucap Darel memberi arahan.
"Baik tuan!" jawab Adi.
Panggilan pun terputus.
*Flashback off*
__ADS_1