Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 161


__ADS_3

Dari banyaknya kebahagiaan dirumah Darel, ada juga yang merasa terbakar melihat kedekatan Darel dengan Mentari. Orang itu adalah Pretty. Pretty hanya bisa melihat dari sela-sela kaca jendela di kamarnya.


"Aaaaa!!!!! kenapa sihhhh dia bisa lebih unggul darikuuh!!!!" melempar semua barang-barang yang ada disana.


"Apa kurangnya aku cobaa!!!???? sampai-sampai Darel lebih milih gadis kampungan itu daripada akuuu!!!! siallll!!!!"


"Hah...hah...hah....ini nggak bisa dibiarin! aku harus cepat-cepat bertindak atau aku akan kehilangan Darel selamanya!!!" ucap Pretty.


Ditempat Darel, semua berjalan dengan sangat baik. Tawa bahagia terus terpancar di wajah semua orang yang datang malam itu, begitu juga dengan pemilik gerobak yang dagangannya diborong Darel.


Ketika semuanya sudah pergi, tinggal Darel dan sahabatnya saja juga para pemilik gerobak yang ditanyai berapa total dagangan mereka yang sudah diborong Darel. Mereka menjawab sesuai harga keseluruhan dan Harri membagikan amplop kepada masing-masing mereka yang cukup tebal.


"Loh, tuan ini sangat banyak!!!" ucap bapak-bapak penjual martabak yang sudah setengah tua ketika melihat seonggok uang didalam amplop tersebut.


Melihat hal itu pedagang lain juga ikut membuka amplop ditangan mereka. Betapa terkejutnya mereka melihat banyak uang didalamnya.


"Tuan ini tidak salah? jumlahnya terlalu banyak dari yang seharusnya?" ucap mereka pada intinya.


"Itu tidak seberapa kok karena kalian tahu dengan dagangan-dagangan kalian ini membuat istriku menjadi ceria lagi!" merangkul Mentari yang menatap Darel dengan penuh kasih.


"Ya Allah, terimakasih tuannn!!!" para pedagang bersujud kepada Darel atas kebaikan Darel.


Mungkin lewat tangan Darel lah Tuhan menjawab semua doa-doa mereka selama ini.


"Sudah-sudah berdirilah! aku yang seharusnya berterimakasih kepada kalian karena sudah mengembalikan mood istriku tersayang!" ucap Darel tersenyum.


"Terimakasih, tuan!!! Semoga Tuhan membalas kebaikan tuan! dan semoga kalian cepat mendapat momongan!" ucap bapak-bapak penjual martabak.


"Aminn, makasih ya pak!" ucap Mentari penuh harap.


"Terimakasih tuan!!!" ucap para pedagang yang tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Darel.


Mereka pun membereskan barang-barang mereka dan pulang kerumah masing-masing dengan wajah bahagia.


"Lukas! antar juga Iwang dan neneknya pulang!" ucap Darel.


"Baik tuan!" jawab Lukas.


"Kakak, Iwang sama nenek pulang dulu yaa! daaaa!!!" ucap Iwang kepada Mentari.


"Iwang belajar yang semangat yaa, nanti kalau Iwang dapat juara kakak janji bakal beliin Iwang apapun yang Iwang mau!" ucap Mentari.


"Wahhh, beneran kak?!!" penuh semangat.


Mentari mengangguk mendengar pertanyaan Iwang.

__ADS_1


"Wahhh, kalau gitu Iwang bakal belajar yang rajin biar bisa dapat juaraaa!!!! terimakasih kak Mentari!!" memeluk Mentari.


Mentari juga menyambut pelukan Iwang dengan hangat. Nenek Iwang menjadi terharu karena kebaikan orang-orang ini, terlebih lagi Mentari. Dari Mentari jugalah Iwang seolah mendapatkan kasih sayang sosok ibu yang selama ini hilang darinya.


"Kami pulang dulu ya kak, om, tante!" ucap Iwang kepada semuanya kemudian memasuki mobil.


Nenek Iwang mendekati Mentari, menggenggam tangan lembut Mentari dan menatapnya dengan lekat penuh rasa terimakasih.


"Terimakasih sudah berbaik hati kepada kami kaum miskin ini!" ucap nenek Iwang yang tak terasa menitihkan air mata.


"Nek, jangan menangis! aku hanya melakukan apa yang aku rasa benar, itu saja! dan Iwang memang pantas mendapatkan pendidikan dan rumah yang layak!" ucap Mentari menatap wajah bahagia Iwang didalam mobil.


"Nak Darel! kami pamit pulang dulu yaa!" ucap nenek Iwang.


"Hati-hati nek!" ucap Darel datar namun penuh perhatian.


Nenek Iwang masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh Lukas. Seketika mobil itupun melaju meninggalkan rumah Darel disusul sahabat Darel yang juga pamit pulang.


Didalam kamar, Darel dan Mentari berbaring di kasur mereka setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju tidur.


"Sayang, kapan kamu ketemu sama Iwang?" tanya Mentari.


"Dulu, waktu kamu pergi ke Korea! sebenarnya aku mau memberitahumu tapi aku selalu lupa!" jawab Darel.


Darel terlihat tidak perduli dengan pertanyaan Mentari, dia lebih fokus menghirup wangi segar di tengkuk leher Mentari. Hal itu tentu saja membuat gairah Mentari terpancing.


"Jangan lakukan itu!"


"Kenapa?"


"Aku kan lagi datang bulan! wanita yang lagi datang bulan nggak boleh berhubungan badan loh!" jelas Mentari.


"Kenapa?"


Kenapa apanya sih!!! kan aku sudah menjelaskan dengan detail tadii, ahh frustasi sendiri aku punya suami seperti iniiii!!!! batin Mentari.


"Ya nggak boleh, tunggu tiga atau empat hari lagi. Biasanya masa datang bulanku itu lima hari!" jelas Mentari.


"Lima hariii!" sedikit berteriak.


Mentari menganggukkan kepalanya.


"Lama bangettt!!! mana bisa aku tahan kalau melihatmu seperti inii!! ini sangat menyiksaku tau!!"


"Aku seorang Darel Sanjaya harus menunggu lima hari hanya untuk menggauli istriku sendiri?!! peraturan darimana ituu! siapa yang buat!!!" marah-marah tidak jelas.

__ADS_1


"Hihihii, sayang jangan gitu ah, sudahlah tidur saja! lima hari itu waktu yang singkat kok!" tertawa geli.


"Singkat apanya, lima hari loh!! lima hariii!!!" menunjukkan kelima jarinya didepan wajah Mentari.


"Sudahlah, ayo tidur!" membawa Darel untuk tidur.


"Tidak!" berdiri dari ranjang.


"Kenapa tidak?" tanya Mentari bingung.


Apa sih, ini udah malam loh! ayo tidurr!!! batin Mentari.


"Kalau aku terus di dekatmu, bisa-bisa aku tidak tahan nanti! lebih baik aku tidur disofa aja!" mengambil bantal lalu menuju ke sofa dan tidur.


Mentari jelas tertawa geli melihat tingkah suaminya. Baru kali ini dia merasa tingkah Darel menggemaskan seperti anak kecil.


"Sayang disitu banyak nyamuk loh, nanti kalau badan kamu bentol-bentol gimana?"


"Gak! aku disini aja!" menaruh kedua lengannya di dada lalu tidur.


Mentari turun dari ranjang, mengambil selimut yang ada di lemari lalu menyelimuti tubuh Darel dengan selimut itu. Tidak lupa juga Mentari mengecup kening Darel dan mengucapkan selamat tidur lalu kembali keranjang dan tidur juga.


Setelah memastikan tidak ada pergerakan dari Mentari, Darel pun membuka matanya. Menatap tubuh Mentari dari balik selimut membuat Darel berkali-kali menelan ludahnya.


Lima hari apanya! cih, ini sih tidak menguntungkan sama sekali buatkuu!!! batin Darel kesal.


Dengan susah payah Darel pun akhirnya dapat tertidur juga.


Sementara itu, karena sudah larut malam Zanu pun akhirnya diminta menginap dirumah Daniar oleh orang tuanya. Zanu pun mengiyakan perkataan orang tua Daniar dan tidur di kamar Galih yang sudah dibersihkan mama Daniar sebelumnya.


"Nak Zanu, boleh om masuk?" tanya papa Daniar.


"Oh boleh om, silahkan!" ucap Zanu yang memang masih belum tidur.


Papa Daniar masuk kedalam kamar Zanu lalu duduk disamping pria yang dicintai anaknya.


"Sebelumnya om cuma mau bertanya, apakah nak Zanu serius dengan hubungan ini?" tanya papa Daniar tanpa basa-basi.


"Saya sangat serius om! apa om tidak percaya kepada saya?" tanya Zanu.


"Tidak-tidak! bukan seperti itu! terlepas dari kejadian yang menimpa Daniar kemarin, om jadi sedikit khawatir tentang keselamatan Daniar." ucap papa Daniar yang membuat Zanu terus mendengarkan apa yang akan papa Daniar katakan.


"Nak Zanu sendiri tahu kan, om dan tante sudah tua kami tidak bisa melindungi Daniar selamanya. Terlebih kakaknya Daniar, Galih tengah berada dipenjara. Dan om yakin karena hal itu Daniar pasti agak malu jika berdekatan dengan Mentari sahabatnya. Om hanya mau anak om bisa mendapatkan suami yang bisa menjaga dan melindunginya kapanpun dan di manapun!" jelas papa Daniar.


"Om, saya janji akan menjaga Daniar meski nyawa saya taruhannya! saya akan datang lagi nanti, tapi saya tidak akan sendiri! saya akan membawa serta orang tua saya dan melamar putri om. Saya janji om!" ucap Zanu bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Hati papa Daniar merasa tersentuh dengan kesungguhan Zanu yang bisa dia lihat dari matanya. Papa Daniar langsung memeluk Zanu dengan erat sembari berdoa semoga Zanu bisa menjaga putrinya dengan baik kelak.


__ADS_2