
Pagi itu Darel sudah berada dirumah Mentari seperti perjanjian awal. Tidak seperti waktu itu, Mentari juga sudah bersiap dari awal mengingat Darel bisa datang kapan saja untuk menjemputnya.
Semalam Daniar sudah pulang kerumahnya, padahal Mentari sudah menahannya karena sudah larut malam. Namun Daniar menolak dikarenakan besok dia masih bekerja dan tidak membawa baju kerja. Alhasil Mentari pun mengijinkan sahabatnya pulang.Daniar pulang pukul 20.30.
"Tumben sudah siap, biasanya masih lama!" ketua Darel saat Mentari memasuki mobil.
"Cepet salah, lama juga salah, maunya apa sih!" ucap Mentari lirih.
"Aku dengar loh!" ucap Darel tanpa melihat Mentari.
Mentari tidak menggubris perkataan Darel. Mobil pun melaju menuju butik sesuai permintaan mamanya.
Selama satu jam perjalanan mereka baru sampai dibutik itu. Tempatnya terlihat mewah dan berkelas. Mentari menelan ludah kemudian mengikuti langkah kaki Darel yang sudah lebih dulu memasuki butik tersebut.
"Selamat pagi, tuan! ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan butik yang mengenal Darel karena salah satu orang terkaya dinegara ini, dan mamanya adalah pelanggan VVIP dibutik tersebut.
"Kami mau mencari baju untuk pertunangan!" jawab Darel singkat.
Semua pengunjung dan karyawan disana menatap Darel terkejut. Mereka langsung melempar tatapannya pada wanita yang berdiri disamping Darel yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mentari.
Mentari merasa risih mendapat tatapan itu, dia pun membalas dengan senyum ramah.
"Oh mari silahkan tuan, nona!" ucap karyawan itu.
Mereka pun dibawa ke gaun untuk pertunangan dan pernikahan. Sangat indah dan mewah. Mentari hanya mengekor dibelakang Darel, bingung mau melakukan apa. Dia takut menyentuh baju-baju itu yang dia yakini pasti harganya sangat mahal.
"Mentari, kamu ikut dia dulu. Dan kamu pilihkan baju yang paling indah disini!" ucap Darel menatap Mentari lalu menatap karyawan tadi.
"Jangan pikirkan soal harga, pilihlah yang mana pun kamu suka, akan aku bayar. Bahkan jika kamu beli semua baju disini pun bahkan butik ini pun tidak akan membuatku bangkrut!" ucap Darel berbisik didekat telinga Mentari.
Darel tau kalau Mentari tidak nyaman dengan baju disini. Bukan karena jelek atau bagaimana, namun lebih ke harganya. Yaa, Mentari tidak nyaman karena harga yang ditawarkan tidaklah murah.
"Baiklah!" jawab Mentari sambil berbisik juga.
Mentari pun mengikuti langkah karyawan tadi yang membawanya ke sebuah ruang tunggu, dan menyuguhkannya beberapa pakaian pertunangan.
Mentari bingung memilih drees mana yang hendak dia pakai. Semua terlihat sangat bagus.
"Emm, aku tidak suka yang ini!" ucap Mentari saat disuguhkan gaun dengan belahan dada rendah dan bagian belakang terbuka.
Mentari celingukan mencari gaun yang cocok untuknya. Saat mencari tiba-tiba matanya tertuju pada gaun hitam yang menarik perhatiannya.
Mentari menghampiri gaun itu dan meminta karyawan mengambilkannya untuknya.
__ADS_1
"Mbak, tolong yang ini!" ucap Mentari menunjukkan gaun yang dia inginkan.
"Tunggu sebentar!" jawab karyawan itu.
Setelah diambil, Mentari merasa sangat cocok dengan gaun itu. dia pun ke ruang ganti yang tersedia disana. Tidak butuh waktu lama, Mentari keluar dengan gaun itu melekat pas ditubuhnya.
"Bagaimana?" tanya Mentari pada karyawan butik.
"Sangat cocok nona. Coba perlihatkan pada tuan Darel." saran salah satu karyawan butik.
"Emm, baiklah!" jawab Mentari.
Mentari pun keluar dan menemui Darel yang sibuk dengan ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Mentari saat sudah berada dihadapan Darel.
Darel mendongakkan kepalanya tanda kagum. Dia bahkan tidak berkedip saking kagumnya. Mentari merasa malu ditatap seperti itu oleh Darel.
"Eh, ehem, bagus kok!" ucap Darel tergagap saat sadar apa yang dia lakukan barusan.
Dasar bodoh! bisa-bisanya kau menatapnya begitu! batin Darel mengutuki kebodohannya sendiri.
"Terimakasih, aku akan meminta yang ini saja." ucap Mentari memasuki ruang tunggu tadi untuk berganti lagi dengan pakaiannya.
Darel pun membayar baju Mentari tadi, dan mereka pun pergi setelah menyelesaikan pembayaran.
Karena hari masih siang, mereka memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Darel ingin mengajak mereka makan siang di restoran terdekat, namun karena Mentari bilang ingin makan dirumah saja, mereka pun memutuskan untuk kembali kerumah Mentari.
Sebelum pulang, Mentari meminta diantarkan ke tokonya sebentar karena ada urusan. Ya dia lupa lagi kalau sudah ada janji dengan Iwang, bocah laki-laki yang dia temui kemarin.
Sesuai permintaan Mentari, mobil pun menuju toko kue milik Mentari. Sesampainya disana, Iwang sudah menunggunya diluar toko sambil terduduk lesu.
Laila berlari menghampiri Mentari ketika melihat bosnya datang.
"Maaf bu, anak ini memaksa bertemu dengan ibu, apa ibu mengenal anak ini?" tanya Laila.
"Iya aku yang menyuruhnya datang kemari." jawab Mentari sambil menghampiri Iwang.
"Hallo, udah lama disini?" tanya Mentari sambil berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Iwang.
"Kakak! huhuhu... aku pikir kakak lupa!" ucap Iwang menangis sambil memeluk Mentari.
"Ya ampun, maaf ya kakak baru datang. Ayo masuk!" ucap Mentari membawa Iwang masuk ke tokonya diikuti Laila, Darel, Adi dan Harri.
__ADS_1
"Nah kamu sekarang bekerja dibagian ini ya?" ucap Mentari.
"Iya kak, Iwang mau asal bisa dapat uang buat nenek!" jawab Iwang tersenyum.
Mentari memberi pekerjaan pada Iwang untuk membersihkan ruangannya saja. Jadi setiap hari Iwang akan datang dan membersihkan ruangannya saja, tidak dengan ruangan lain. Setelah itu dia dibolehkan untuk pulang.
"Nah mulai sekarang kamu boleh bekerja, ayo!" ucap Mentari sambil tersenyum.
Iwang dengan senang hati menerima pekerjaan ini. Mentari sebenarnya juga tidak tega jika melihat anak itu bekerja seperti ini, tapi jika dia memberi uang secara cuma-cuma maka Iwang tidak akan menerima uangnya. Jadi terpaksa Mentari memberikan pekerjaan ini.
"Laila, nanti kalau Iwang sudah selesai kamu beri amplop ini, dan bawakan beberapa kue ya, saya mau pergi dulu!" ucap Mentari pada Laila sambil memberikan amplop berisi beberapa ratus ribu untuk Iwang.
"Baik,bu!" jawab Laila.
Mentari pun menghampiri Darel dan yang lain yang ternyata sedang menikmati kue ditokonya.
"Ayo!" ucap Mentari saat sudah didekat Darel.
"Sudah selesai?" tanya Darel masih menikmati kue terakhirnya.
"Sudah kok!" jawab Mentari.
Mereka pun keluar, diikuti Harri dan Adi. Harri yang belum selesai makan kuenya, berlari sambil memakan dua kue pukis sekaligus hingga mulutnya penuh dengan kue pukis.
Tidak lupa juga Darel membeli sepuluh cheesecake dan lima belas dus kue pukis yang masing-masing berisi delapan buah.
Mereka pun melajukan mobil menuju rumah Mentari. Sesampainya dirumah Mentari, mereka langsung duduk didalam rumah, sedangkan Mentari langsung masuk ke dapur untuk memasak makan siang.
Dengan cekatan dia memasak, hingga tidak butuh waktu lama, makan siang pun siap.
"Ayo makan, semua sudah siap!" ucap Mentari.
Mereka pun duduk di meja makan yang berada di belakang ruang televisi. Mentari memang jarang makan dimeja makan itu, dia lebih suka makan didepan televisi sambil menonton kartun favoritnya.
"Wah nona, ini sangat enak sekali!" ucap Harri setelah memakan masakan Mentari.
"Hemm, boleh juga masakan kamu!" ucap Darel.
"Hahaha, terimakasih. Kalau begitu harus dihabiskan ya, jangan sampai tersisa!" ucap Mentari senang karena masakannya sesuai dengan lidah Darel.
"Tentu saja kami akan memakannya dengan senang hati, hahahaha!" jawab Harri dan Adi bersamaan diselingi tertawa.
Pintar juga dia masak, rasanya enak sekali! batin Darel
__ADS_1