
"Eeehh, papa mertua!! hehehe enggak kok paa, Darel kan baik sama Tari!" ucap Darel berkilah.
"Lalu nanti malam tadi apa?" tanya papa Daniar terdengar ketus.
"Emm, itu...anu...emmm...apaa...ma...maksud Darel tuh anu..." ucap Darel hendak mencari alasan.
"Ngomong yang bener!! anu-anu!! yang jelas!!!" hardik papa Daniar.
"Emm, itu lohh! tadi aku mau bilang kalau nanti malam mau aku pijetin kalau capek, hehehe!" ucap Darel asal.
"Ohhh yasudah!! awas kalau macam-macam yaa, papa sunat kamu sampai habis biar kapok!!" ancam papa Daniar lalu memutuskan panggilan secara sepihak.
Adi dan Harri yang masih disana pun menahan gelak tawa. Apalagi melihat ekspresi wajah Darel tadi saat tertangkap basah sangat menghibur mereka.
"Tertawa!!! tertawalah kalian puas-puas yaa!!" ucap Darel menatap anak buahnya ini dengan tatapan tajam.
"Ehh, enggak kok tuan!! kami nggak dengar apa-apa!" ucap Harri.
"Kalau nggak dengar apa-apa kenapa ketawa?" hardik Darel.
Duh dasar si Harri, kalau ngomong suka nggak di pikir dulu!! gumam Adi kesal dengan Harri.
"Hehehe, maaf tuann!!" ucap Harri cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah sana keluar!! saya mau bekerjaa!!" usir Darel.
Karena takut, Adi dan Harri pun bergegas keluar ruangan. Bahkan saking kuatnya dorongan Adi membuat Harri hampir tersungkur.
********
Didalam mobil Zanu. Mereka semua tertawa puas karena telah berhasil mengerjai Darel Sanjaya.
"Hahahaa, gimana akting papa?! bagus nggak?" tanya papa Daniar dengan bangga.
"Bagus!! bagus banget, pa!! cocok jadi pemain sinetron ikan terbang, hahaha!" jawab Daniar tertawa puas.
"Benarkah? udah kayak Shahrukh Khan belum?" ucap papa Daniar membetulkan kerahnya berlagak sok keren.
"Inget umurr, paa!! udah mau punya cucu dua juga masih kayak abg!" tegur mama Daniar.
"Sekali-kali ngusilin, Darel nggak apa-apa kali ma!" ucap papa Daniar.
Zanu yang sedari tadi hanya menyimak saja ikut tertawa karena papa mertua dan istrinya itu berhasil menjahili Darel.
__ADS_1
"Oh ya, ini masih jauh pa?" tanya Zanu.
"Nggak! sampai depan belok kiri, rumah nomer 3 cat hijau!" ucap papa Daniar memberi arahan.
"Okeee!!" jawab Zanu.
Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai dihalaman rumah yang dimaksud papa Daniar. Mereka bergegas turun karena melihat seorang wanita tua didepan rumah, seolah sedang menunggu mereka.
"Nenekkk!!!" teriak Daniar berlari kecil menuju wanita itu.
"Nenekkk!!!" teriak Mentari.
"Ealah, udah ditungguin dari tadi!! kenapa baru datang sekarang?!!" tanya wanita itu memeluk kedua cucunya.
"Tadi jemput Tari dulu, nek! kan rumahnya sudah nggak sama kita lagi! jadi agak lama!" jawab Daniar.
"Hemm, yowes lah! ayo masuk! nenek udah buatin makanan tuh. Kalian pasti lapar kann? gimana kandungan kalian, sehat?" tanya nenek Murti sembari membawa kedua cucu wanitanya ini kedalam rumah.
"Baik, nek!!" jawab keduanya.
Mereka bercerita banyak hal kepada sang nenek. Nek Murti asli Jawa Tengah, tepatnya di kota Magelang. Dia baru saja kembali kesini empat bulan yang lalu. Sebelum ini dia dan suaminya tinggal di Magelang karena suaminya yang polisi dipindah tugaskan disana selama lima tahun. Karena usia yang sudah menginjak tujuh puluh tahun, kek Rahmat memutuskan untuk pensiun dari kepolisian dan kembali ke kampung halamannya.
"Pakk!! delengen iki, putumu wis teko!! (Kek lihat ini, cucumu sudah datang!!)" teriak nek Murti.
"Ada dibelakang! dia pakai mobilnya sendiri tadi!" ucap mama Daniar.
"Ohh, ya uwes! ayo maem sek!! nenek wes masak akeh tenan iki mau, khusus ngge awkmu kabeh! (ohh, ya sudah! ayo makan dulu!! nenek susah masak banyak banget ini tadi, khusus buat kamu semua!?" ucap kek Rahmat.
"Mboten ngenteni Galih riyen, kek?" tanya papa Daniar.
"Halah kalian makan ae dulu! si Galih biar nanti nyusul!" ucap nek Murti.
Mereka pun menganggukkan kepala lalu mulai duduk dimeja makan. Meja makan disini memang tidak semewah dirumah mereka. Hanya ada meja usang dan taplak meja yang terbuat dari plastik jajanan yang disatukan menjadi satu. Kursinya pun juga masih kursi yang terbuat dari plastik. Sederhana memang! tapi sangat nyaman! dan itu yang terpenting!
"Lah, Tari! nangdi bojomu kok nggak melu? (lah, Tari! dimana suamimu kok nggak ikut?)" tanya nek Murti disela makan mereka.
"Sibuk, nek!! tadi aja dia berangkatnya pagi sekali! jadi Tari nggak enak mau ngajak! kapan-kapan saja Tari kenalkan kalau ada waktu yaa!" ucap Mentari.
"Healah! eh, Daniar! kapan acara pitonan e? (Healah! eh, Daniar! kapan acara pitonan nya?)" tanya nek Murti.
Dalam adat Jawa, pitonan/mitonan/tingkeban dilakukan ketika ibu hamil dengan usia kandungan tujuh bulan. Tujuannya adalah meminta doa kelancaran bagi ibu dan janin yang dikandungnya selama persalinan nanti.
"Bulan dua bulan lagi, nek! doakan lancar nggeh?!" ucap Daniar.
__ADS_1
"Aminn!! lah, Tari! udah berapa minggu janinnya?" beralih menatap Mentari.
"Baru lima minggu, nek!" jawab Mentari.
"Udah dulu, nanya nya!! nggak baik ngomong saat lagi makan! ndak ilok!!" tegur kek Rahmat pada istrinya yang sedari tadi terus bertanya.
"Iya-iya, pak!" jawab nek Murti.
Baru juga selesai makan, mobil Galih datang. Terlihat seorang wanita ikut di kursi samping pengemudi.
"Loh, kak Galih sama siapa tuh, ma?" tanya Daniar yang penasaran.
"Mama juga nggak tau!" jawab mama Daniar juga bingung.
"Emang tadi kakak bilangnya mau jemput cewek?" tanya Daniar.
"Enggak kok! tadi cuma ijin terlambat aja! siapa ya cewek itu?" tanya mama Daniar penasaran sekali.
"Assalamualaikum!!" sapa wanita itu.
Mama dan Daniar memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah. Cantik! tapi pakaiannya sedikit terbuka.
"Ma, ada yang ucap salam kok didiemin?" tanya papa Daniar.
"Eh, wa'alaikumsalam!! siapa dia Galih?" tanya mama Daniar to the poin karena saking keponya.
"Pacar Galih!" jawab Galih enteng.
"Apaaa?! sejak kapan kamu punya pacar? perasaan kamu nggak pernah menunjukkan lagi dekat sama cewek, deh!!" tanya mama Daniar syok.
"Baru satu minggu kok ma! dia ini teman SMP aku, namanya Ainur! Nur, ini mamaku, adik perempuanku, dan papa ku!" ucap Galih memperkenalkan keluarganya.
"Hallo, selamat siang! saya Ainur!" sapa Ainur ramah.
Ainur dengan sopan mencium telapak tangan kedua orang tua Galih dan menjabat tangan Daniar karena dia lebih muda darinya.
"Kalian makan dulu, gih! udah ditungguin juga dari tadi!" ucap mama Daniar.
"Hehe, maaf ma! tadi soalnya mendadak jadi Ainur butuh waktu lama buat siap-siap!" jawab Galih.
"Ayo, kita masuk!" ajak Galih.
"Permisi, om, tante, Daniar!" ucap Ainur lalu mengikuti langkah Galih menemui kakek dan neneknya dulu..
__ADS_1