
Kau masih sama seperti dulu, Dwi. Dari luar kau terlihat acuh dan tidak peduli, tapi didalam dirimu kau sangat perhatian! terimakasih, Dwi! batin Zanu senang.
Zanu pun kembali duduk di kursinya, semua orang yang ada disana merasa heran bercampur senang. Heran karena Darel mengatakan hal yang langka dia ucapkan pada orang yang dia benci, dan senang karena persahabatan yang sudah retak beberapa tahun ini kini sudah mulai pulih kembali.
Perbaiki persahabatan kita Darel, kembalikan keutuhan persahabatan kita seperti dulu! batin Arul.
Jangan dengarkan egoku teman, bawa Zen kembali dalam persahabatan kita seperti dulu! batin Tomi.
Dunia akan segera kiamat sepertinya, tuan salju ini menyuruh tuan Zanu untuk tetap tinggal disini? jangan-jangan dia salah makan saat sarapan tadi, makanya otaknya berfungsi dengan baik, hehehe! batin Jack.
Zanu terlihat sangat senang mendengar perkataan Darel tadi, dan membuatnya terus tersenyum.
"Jangan kegeeran dulu, aku menyuruhmu untuk tetap tinggal bukan berarti aku sudah memaafkanmu tapi karena mereka semua tidak ada kaitannya dengan masalah kita." ucap Darel datar sambil meminum minumannya.
Zanu tidak menanggapi perkataan Darel. Dia tahu kalau Darel sedang berbohong, gengsi untuk mengakui kalau dia juga sebenarnya menginginkan keutuhan persahabatan mereka makanya Darel menggunakan yang lain sebagai pelarian dari gengsinya itu.
Kau tidak berubah sama sekali, hahahaha! Dwi aku ingin sekali memelukmu! gumam Zanu.
Tanpa sadar Zanu memeluk Darel dan membuat Darel membulatkan matanya lebar-lebar karena terkejut.
Apa-apaan dia ini!!! bisa-bisanya dia memelukku!! tap.....tapi kenapa aku juga ingin membalas pelukannya? apa aku juga merindukannya? ti...tidak, it....itu tidak mungkin!! batin Darel yang bingung dengan situasi ini.
Disatu sisi Darel ingin sekali membalas pelukan Zanu, namun disisi lain egonya menyuruhnya untuk menepis pelukan pria yang pernah dia anggap sebagai sahabat terdekat itu.
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku!!" bentak Darel dan mendorong tubuh Zanu pelan hingga menjauhi dirinya.
Zanu kembali memeluk Darel, semua orang disana bahkan seperti tidak bernafas karena ulah Zanu. Mereka takut kalau kemarahan Darel memuncak lagi dan akan menyakiti Zanu bahkan Darel sendiri.
Apa yang kau lakukan Zen? kau seperti dengan sengaja masuk kedalam kandang singa yang kelaparan!! batin Arul.
Jangan sampai karena ulahmu ini Darel menjadi semakin benci padamu, Zen! batin Tomi.
Ayo tuan salju, turunkan egomu itu sedikit dan peluk tuan Zen. Hahahaha drama kedua tuan muda ini memang sangat menarik dan sayang untuk aku lewatkan! batin Jack.
Disaat Arul, dan Tomi tegang karena menghawatirkan Zanu dan Darel, Jack justru terlihat senang dan mendukung penuh tingkah Zanu yang memeluk Darel.
"Biarkan.....biarkan aku memelukmu yang terakhir sampai puas, ak....aku mohon!!" ucap Zanu diiringi jatuhnya kristal bening dari matanya.
__ADS_1
Darel merasakan kalau dadanya basah karena air mata Zanu.
Apa dia menangis? cih, dasar lemah? batin Darel.
Darel tetap membiarkan Zanu memeluknya sepuas Zanu. Hal itu membuat yang lain tambah terkejut.
Apa benar Darel sudah memaafkan Zanu? hais harusnya dari dulu lah dia memaafkan Zanu, orang Zanu terbukti tidak bersalah! tapi ya itu, namanya juga Darel, tuan muda sombong, ya pastilah dia gengsi mengakui kalau dia yang salah!! batin Arul.
Semoga kau tidak kehilangan Zen saat kau sudah menyadari bahwa yang kau lakukan selama ini salah, Darel! batin Tomi.
Jack hanya tersenyum sangat lebar melihat hal itu, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Terimakasih!" ucap Zanu yang menarik dirinya dari memeluk Darel.
Darel hanya membalas dengan anggukan kepala. Tidak bisa dipungkiri dia pun juga merindukan sosok Zanu dalam hidupnya, namun egonya melarang dirinya untuk mengakui hal itu.
Kau bodoh Darel, sangat bodoh!!!! dia sudah terbukti tidak bersalah, tapi kau....kau tetap saja tidak mau mengakuinya, Sialll!!! batin Darel merutuki dirinya sendiri.
Darel mengalihkan isi hatinya dengan meminum minuman yang ada dihadapannya. Dia tidak ingin yang lain tahu bahwa sebenarnya dirinya juga sangat merindukan Zanu.
********
Mentari yang sudah lama tidak melihat tokonya memutuskan untuk datang. Dia tidak enak pada Daniar yang sudah membantunya cukup lama mengurus toko kue miliknya itu.
"Selamat siang!" sapa Mentari pada karyawannya.
"Bu Mentari? apa ibu sudah sembuh total?" tanya Laila yang memang sedang berada diarea depan untuk mengecek pengiriman kue.
"Sebenarnya aku sudah lama sembuhnya, makanya aku datang. Lagi pula aku tidak enak merepotkan Daniar terus-terusan." jelas Mentari.
Karyawan disana sangat senang bahwa Mentari sudah kembali ke toko. Hal itu menambah semangat mereka untuk bekerja lebih giat.
Mentari masuk kedalam ruangannya yang disana sudah ada Daniar yang sedang sibuk menghitung laba toko selama 1 minggu ini.
"Serius sekali kelihatannya, mau aku bantu?" tanya Mentari.
Daniar mendongakkan pandangannya, dan melihat Mentari sudah berada disana.
__ADS_1
"Apa kau sudah sembuh total?" tanya Daniar yang justru menghawatirkan kondisi Mentari.
"Aku baik-baik saja, Niar! terima kasih sudah menjaga toko ku selama aku tidak ada!" ucap Mentari lembut.
"Kau ini, memangnya aku siapamu, ha? kau bertingkah seolah-olah aku ini orang asing saja!!" gerutu Daniar yang tidak suka dengan kalimat Mentari barusan.
"Hahaha, iya-iya maaf! oh ya apa kau butuh bantuan? aku lihat kau sangat kebingungan tadi!" tawar Mentari.
"Haa, iya nih! yang ini aku tidak bisa menghitungnya. Aku ingin meminta bantuan pada Laila tapi sepertinya dia sangat sibuk!" jelas Daniar yang menunjukkan selembaran file yang membuatnya pusing sedari tadi.
"Oh ini sih gampang, kamu tinggal taroh ini disini, lalu ini disini, ditambah yang itu, lalu hasilnya ditambah/dikurangi dengan yang awal tadi!" jelas Mentari.
"Astaga cuma begini?" tanya Daniar tidak percaya.
Mentari menganggukkan kepalanya cepat.
"Kalau aku tahu dari tadi aku tidak akan pusing karena kniy, huhh!" kesal Daniar karena laporan yang sedari tadi dia bingungkan ternyata penyelesaiannya sangat mudah.
Memang sepertinya aku tidak bakat dalam bisnis, hehehehe! batin Daniar.
"Ya itulah yang namanya bisnis, kamu harus menggunakan hatimu saat menyelesaikan laporan ini, jika tidak kau akan kebingungan!" jelas Mentari.
Daniar tidak mengerti dengan penjelasan Mentari, namun dia enggan untuk bertanya lebih jauh karena menurutnya berbisnis itu hal yang membosankan.
Semoga saja aku dijauhkan dari hal-hal yang bersangkutan dengan bisnis!! batin Daniar.
"Baiklah kalau begitu, karena kau juga sudah kembali maka aku akan pergi dulu!" ucap Daniar ingin melarikan diri.
"Kemana?" tanya Mentari.
"Kerumah Sasa, dia ada tanaman baru dan aku ingin melihatnya!" ucap Daniar tersenyum.
"Baiklah, kau pergi naik apa?" tanya Mentari lagi
"Kau sudah pesan taxi kok tadi. Ya sudah ya, aku pergi dulu, byee!" ucap Daniar langsung meninggalkan Mentari tanpa mendengar jawabannya
"Dia tidak pernah berubah!" ucap Mentari tersenyum melihat tingkah Daniar.
__ADS_1