Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 308


__ADS_3

Darel mengantarkan Mentari ke rumah mamanya sekalian berangkat bekerja. Iwang telah diantarkan oleh Adi sekalian menjemput Lukas yang telah dibolehkan pulang.


Selesai mengantarkan Mentari, Darel berangkat ke kantor. Sejak semalam kepalanya pening karena hasrat yang tidak tersalurkan. Padahal Darel sudah bermain solo semalam namun tetap saja pening di kepalanya tidak hilang.


"Selamat pag...."


Wisnu yang hendak mendekati Darel mendadak bingung karena melihat raut wajah Darel yang ditekuk seperti baju kusut itu.


"Apa anda baik-baik saja, tuan?" tanya Wisnu.


"Hem!" jawab Darel singkat.


"Apa anda Pelu sesuatu? karena, wajah anda terlihat tidak segar hari ini." ucap Wisnu.


"Wisnu!" panggil Darel menatap Wisnu yang menatapnya bingung.


"I...iya tuan?"


"Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu akan tahu penyebab wajahku yang kusut begini! untuk sekarang kamu diam saja! oh ya untuk meeting hari ini tolong kamu handle ya, aku sedang tidak mood untuk keluar!" ucap Darel.


Darel menidurkan kepalanya diatas meja. Wisnu yang melihat itu semakin bingung hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Kebetulan saja Harri berjalan menuju ke arahnya.


"Selamat pagi tuan Harri!" sapa Wisnu.


"Pagi!" jawab Harri.


"Eh, tuan Harri, boleh saya bertanya?" tanya Wisnu.


"Ya, silahkan! mau tanya apa?" tanya Harri.


"Itu kenapa si tuan Darel wajahnya kusut begitu? lagi ada masalah ya? atau lagi berantem lagi sama nona Mentari?" tanya Wisnu.


Memang selama kehamilan Mentari Darel sering berwajah kusut begitu. Tapi kali ini terlihat benar-benar kusut, jauh lebih kusut dari biasanya.

__ADS_1


"Oh, itu! tuan begitu karena nggak dapat jatah semalam sama nona, hehehe!" jawab Harri membuat mata Wisnu melotot sempurna.


Teringat kembali perkataan Darel yang mengatakan bahwa setelah dia menikah nanti baru dia akan paham. Rupanya ini yang dimaksud oleh tuannya itu. Hufttt, kenapa Wisnu tidak menyadari sedari tadi kalau penyebab wajah tuanya kusut karena adegan 21 keatas. Otak Wisnu yang masih polos sampai tidak bisa menangkap inti dari percakapannya tadi.


Harri memasuki ruangan Darel setelah diperbolehkan masuk oleh tuannya.


"Ya, ada apa?" tanya Darel ketus.


"Santai aja lah tuan! masa gara-gara nggak dapat jatah langsung badmood gitu!" ceplos Harri.


Darel langsung menatap Harri dengan tatapan tajam sedangkan yang ditatap hanya bisa cengar-cengir tidak jelas.


"Em, tuan, apa anda tidak ingin ke panti asuhan? selama panti itu direnovasi bahkan sampai sudah ditinggali anda belum sempat kesana." ucap Harri mengalihkan pembicaraan.


"Hemm! iya juga sih! apa aku kesana saja bersama Mentari? pasti dia juga akan senang, kalau dia senang mungkin nanti jatahku bisa diberikan hahahahaaa!" Darel bermonolog.


Darel tertawa sendirian memikirkan hal itu. Harri yang melihat itu sangat jengah oleh kelakuan tuannya ini yang hanya tau jatah saja.


Harri langsung menghubungi Adi memberitahukan bahwa mereka disuruh untuk langsung ke panti saja karena Darel akan kesana.


********


Dirumah Mentari. Kini, Mentari berada didepan Abdulah dan Aziz yang menundukkan kepalanya. Niat mereka datang kesana adalah hendak meminta keringanan atas hutang Surti dan juga ingin kembali meminjam uang guna dana pernikahan Aziz.


Mentari tidak bisa membawa mereka masuk ke dalam sehingga mereka berbicara di depan gerbang ditemani Daniar. Duo bumil itu terlihat menatap Abdulah dan Aziz dengan garang.


"Kalian itu tidak tahu malu ya? paman! kau yang lebih tua seharusnya mengajarkan pada yang lebih muda agar tidak berhutang. Ini, sudah meminta keringanan mau berhutang lagi pula. Tidak ingat kalian bagaimana bibi menghina Mentari? mandul lah, apalah, nggak ingat?! kalau aku jadi kalian sih malu yaa meminjam dari orang yang kalian dzolimi!" sindir Daniar sambil melihat kedua tangannya dia dada.


"Niar, jaga ucapanmu! kamu lagi hamil!" tegur Mentari.


Mentari tidak ingin sesuatu terjadi karena mulut ceplas-ceplos sahabatnya ini meskipun apa yang dibilang Daniar itu seratus persen benar adanya.


"Jangan mulai lagi deh! aku tuh males tau nggak kalau kamu kalem begini! sekali-kali lawan dong mereka yang mengomentari hidup kamu, yang memfitnah kamu biar mereka kapok!"

__ADS_1


"Eh, kak Daniar! kakak kenapa malah jadi musuhin kita sih?! kita ini yang jelas-jelas ada hubungan keluarga dengan kakak, dia itu orang asing! ngapain dibela!" ucap Aziz.


Aziz tidak tahan lagi ingin berkomentar. Sedari tadi dia diam saja mendengarkan ocehan Daniar mengatainya dan bapaknya tidak tahu malu.


"Nah kan! keluar juga sifat aslinya! Tari, orang kayak gini itu nggak usah dikasih hati, nanti malah nggak tau diri!" ucap Daniar sungguh pedas.


"Alahh, sok berkuasa lo! oke, kalau lo nggak mau pinjemin kita uang, nggak masalah! tapi tolong suruh suami lo yang sok kaya itu buat masukin gue ke kampus lagi! mau ditaro dimana muka gue kalau di do!!" ucap Aziz dengan songongnya.


"Cukupppp!!!!" bentak Mentari.


Mentari masih bisa sabar kalau yang dihina adalah dirinya. Tidak masalah baginya. Namun jika itu menyangkut suami dan anaknya, dia tidak akan pernah diam.


"Selama ini aku sudah diam ya kamu hina aku! tapi aku tidak akan pernah diam kalau yang kamu hina adalah suamiku! dia bukan sok kaya, tapi emang kaya! bahkan dia mampu membeli harga diri kamu sekalian! jangan lupa kalau suamiku adalah pebisnis yang kaya raya, bahkan kalau kamu bekerja seumur hidup kamu pun, uang yang kamu dapatkan hanya secuil dari uang yang dihasilka suamiku sekarang!" Mentari menatap tajam Aziz.


"Kamu mau sombong?! apa yang kamu sombongkan? kekayaan? jelas suamiku lebih kaya! tampan?! nggak juga! lebih tampan suamiku! kamu kalah kalau dibandingkan dengan suamiku, bahkan jika disandingkan dengannya, kamu tidak lebih dari seekor semut kecil baginya! dia bisa menghempaskan kamu kapan saja!" ucap Mentari ikut melipat dadanya.


Daniar yang mendengar Mentari berkata demikian merasa senang. Dia tidak menyangka sahabatnya itu akan bertindak sedemikian rupa.


"Jangan lupa, kamu berdiri di tanah suamiku! dirumahku!! aku bisa mengusir kalian kapan saja! dan untuk hutang dari ibumu itu, aku beri waktu satu minggu untuk mengembalikannya karena aku sudah tidak ingin berurusan dengan orang-orang macam kalian lagi!" ucap Mentari.


"S...satu minggu?! lo gila yaa?! darimana kita dapat uang seratus juta dalam waktu satu minggu?! pikir-pikir lah kalau mau kasih tenggang waktu!!" protes Aziz.


"Tari, apa tidak bisa kau meringankan hutang itu?! kau lihat sendiri kan? sekarang aku tidak bekerja lagi, Aziz juga akan menikah dan pasti membutuhkan biaya. Paman mohon Tari!" mohon Abdulah dengan memasang wajah melasnya.


Mentari sungguh tidak tega. Namun dia harus tetap melawan rasa tidak enaknya atau dia sendiri yang akan sengsara. Sebenarnya uang segitu tidak terlalu Mentari pikirkan. Dia sudah mengikhlaskan uang itu sejak meminjamkannya. Namun melihat tingkah Surti dan keluarganya yang terus saja menghina dirinya seolah melupakan kebaikannya, Mentari terpaksa melakukannya. Bukan maksud Mentari dia mengungkit kebaikan yang pernah dia lakukan, tapi dia tidak akan seperti ini kalau yang diberi bantuan bisa menghargai bukan malah terus menggerogoti yang memberi bak parasit.


"Maaf paman! tapi itu semua karma atas apa yang telah kalian lakukan. Suamiku, hanya ingin mempertahankan harga diriku! kalau paman lupa, istrimu telah memfitnahku hingga aku hendak dimasukkan kedalam penjara. Tidak aku lupakan juga dia memfitnahku bahwa anak yang aku kandung ini bukan anak suamiku. Dan kau Aziz, bukannya dulu kau pernah mengatai aku seorang pelacu*?! lalu kau sendiri yang menghamil* seorang wanita disebut apa?! jangan mencampuri hidup orang lain kalau hidup kalian sendiri masih berantakan!" tegas Mentari.


"Ada apa ini?!" tanya seorang dengan suara baritonnya.


Mentari menatap sumber suara. Dia langsung menatap khawatir, begitu pula dengan Daniar.


"D...Darel?!"

__ADS_1


__ADS_2