Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 226


__ADS_3

Darel sudah rapi dengan kemeja berwarna putih dibalut dengan jas biru dan celana senada dengan jas. Tiga buah kancing dibagian atasnya sengaja terbuka menambah kesan berkharisma pria itu.


"Selamat pagi tuan!" sapa Adi dan Harri yang sudah menunggu disamping mobil pribadi Darel.


Darel membalas dengan anggukan kecil. Tas kerja ditangannya dia berikan kepada Harri lalu masuk ke dalam mobil.


Tidak sampai empat puluh lima menit mereka sampai ke perusahaan. Semua karyawan yang melihat kedatangan Darel menyapa hormat. Tidak sedikit juga dari mereka yang terkagum-kagum dengan ketampanan dan kharisma Darel.


"Selamat pagi tuan!" sapa Wisnu.


"Selamat pagi tuan!" sapa Nurul.


Seperti biasa Darel hanya membalas dengan anggukan kepala. Wisnu dan Nurul menjadi salah satu orang kepercayaan Darel di perusahaan ini.


"Wisnu apa jadwal kita hari ini?" tanya Darel sambil berjalan menuju ruangannya.


"Pagi ini anda ada meeting dengan tuan Handoko pukul sembilan, lalu ada rapat karyawan pukul dua siang. Dan kemudian ada undangan pesta pernikahan tuan Mory!" jelas Wisnu sambil berjalan di sebelah kiri Darel.


Adi berjalan di samping kanan Darel sedangkan dibelakangnya ada Harri. Sedangkan dibelakang Wisnu ada Nurul yang mengikuti langkah mereka sambil menenteng map berwarna biru.


Mereka sampai di ruangan Darel. Adi, Harri, Wisnu dan Nurul berdiri di belakang meja kerja Darel, sedangkan Darel melepaskan jasnya lalu menaruhnya di kursi kebesarannya. Darel duduk di kursi itu dan memerintahkan Wisnu dan Nurul duduk di kursi, sedangkan Adi dan Harri duduk di sofa di ruangan itu.


"Untuk meeting dengan tuan Handoko biar aku saja yang menghadirinya. Dia orang yang keras kepala dan arogan. Oh ya apakah kontrak yang kita ajukan sudah ditandatangani olehnya?" tanya Wisnu.


"Emm untuk itu masih belum tuan! terhitung dari tanggal 5-20 Juli, kita sudah datang ke perusahaannya untuk membahas kontrak kerja tersebut namun beliau selalu mengatakan bahwa beliau tengah sibuk." jelas Nurul sembari membaca apa yang tertulis di dalam map yang dia bawa.


"Huffttt!! Wisnu kenapa kau masih mempertahankan orang itu?! sudah aku bilang aku tidak mau berurusan dengan orang yang ribet dan bertele-tele! membuang-buang waktu saja!" ucap Darel ketus.


"Maaf tuan! tapi pak Handoko salah satu investor yang menanamkan 15% sahamnya ke perusahaan kita, tuan!" jelas Wisnu.


"Heh! hanya lima belas saja dan dia berlagak seolah pemilik 85% saham saja!" ucap Darel menyunggingkan bibirnya.


"Ini jauh lebih besar dibandingkan dengan investor yang lain tuan!" ucap Wisnu lagi.


Dari sofa, Adi dan Harri menyaksikan obrolan Darel dengan Wisnu.


"Eh Adi, tuan bilang dia tidak suka berurusan dengan orang ribet? tapi kan nona Mentari juga orang yang ribet namun tetap disukai?" ucap Harri berbisik di samping telinga Adi.


Adi sontak menatap tajam Harri.


"Ee....iyaa. Apa kau lupa kita disuruh membawa bermacam-macam gerobak makanan hanya karena nona Mentari sedang mens?" tanya Harri.

__ADS_1


"Ishh, diamlah kau! jangan sampai tuan mendengar ucapanmu yaa! aku tidak mau dimakan hidup-hidup olehnya!" ucap Adi masih menatap tajam Harri.


"Kalian berdua kalau mau membicarakan yang buruk lagi tentang Mentari, ku pastikan mulut kalian tidak akan bisa berbicara lagi!" ucap Darel pelan namun tegas.


Adi dan Harri yang terkejut langsung menoleh ke arah Darel yang tengah menatap ke arah mereka dengan tatapan mengintimidasi.


"Ehh bukan begitu tuan! maaf!" ucap Adi.


"Hehehe maaf tuan!" ucap Harri cengengesan namun karena masih ditatap dengan tajam oleh Darel, akhirnya Harri menundukkan kepalanya.


Darel kembali kepada topik pembicaraannya dengan Wisnu dan Nurul. Setelah diambil keputusan Wisnu dan Nurul pun ijin keluar dari ruangan.


********


Sesuai jadwal, Darel akan melaksanakan meeting dengan pak Handoko. Pria gemuk dan perut yang buncit serta kumis sedikit tebal lurus. Gayanya sok paling kaya padahal kekayaannya bahkan tidak ada 1% pun dari kekayaan Darel.


"Hallo...halloo tuan Darell!" sapa pak Handoko ketika baru datang.


Darel,Wisnu dan Nurul sudah menunggu hampir satu jam lamanya dari jadwal yang ada. Adi dan Harri duduk di meja disamping mereka. Pak Handoko datang bersama asistennya yang terlihat kucel namun sedikit berotot dibagian lengan itu.


Darel tidak menjawab sapaan pak Handoko, dia berusaha meredam amarah karena merasa dipermainkan. Selama ini jika ada yang melakukan kontrak, tidak pernah Darel menunggu selama ini. Yahh, paling lama mungkin hanya lima sampai sepuluh menit, itupun juga karena di situasi yang mendesak makanya kliennya terlambat. Tapi melihat kedatangan pak Handoko, Darel yakin ini bukan karena situasi yang mendesak! lebih tepatnya pak Handoko sengaja datang terlambat.


"Silahkan anda baca dulu kontrak ini lalu tanda tangan disini, pak!" ucap Wisnu yang berusaha mencarikan suasana.


"Ah kenapa harus buru-buru sih? ini kan masih ada banyak waktu!" ucap pak Handoko sembari memperlihatkan jam tangan berwarna gold itu.


"Aduhh, jam tangan mewahku ini jadi kena debu deh!" ucapnya lagi sambil mengelap jam tangan itu.


Sabar....sabar....sabar....hanya kata itu yang terus diucapkan Darel dalam diam. Ingat kata Mentari, perbanyak teman bukan musuh.


"Maaf pak tapi kami juga masih ada urusan lain! jadi mohon kerjasamanya!" ucap Wisnu masih sopan.


"Alahhh kenapa harus buru-buru sih? sok sibuk saja!" remeh pak Handoko masih mengelap jam tangan mewahnya.


"Jika anda tidak ingin menandatangani kontrak ini, maka kita batalkan saja!" ucap Darel berdiri.


Wisnu dan Nurul juga pak Handoko dan asistennya sontak saja ikut berdiri. Adi dan Harri yang tengah memperhatikan dari kursi mereka juga ikut berdiri.


"Apa-apaan ini pak Wisnu! anda jangan main-main ya sama saya! saya sudah menyempatkan waktu saya yang sangat amat berharga untuk bertemu gudel seperti kalian!" maki pak Handoko.


(Gudel\= anak kerbau)

__ADS_1


BRAKKKKK....


Darel membalikkan meja dihadapannya saking emosinya membuat pak Handoko dan asistennya terdiam saat mendapati sepasang mata tajam Darel menatap kearah mereka.


"KAU PIKIR KAU SIAPA BERANI MENYEBUTKU DENGAN SEBUTAN BINATANG ITU HAAAA!!!!" teriak Darel.


"Berani bertaruh? aku yakin tuan akan menghajar pria itu!" ucap Harri berbisik.


"Iss diamlah!!!" hardik Adi.


"Wisnu! putus hubungan kerjasama kita dengan perusahaan binatangnya ini dan black list dari seluruh perusahaan didunia. Barang siapa yang berani bekerjasama dengan perusahaan yang hanya sekecil abu ini maka sama dengan melawan perusahaan Sanjaya Group!" ucap Darel tidak main-main.


"Adi, Harri?! kenapa kalian masih berdiri disana? seret dua pria ini! kita beri pelajaran akibat menghina nama Darel Sanjaya!!!" Perintah Darel.


"Kenapa kau diam saja?! lawann!!" perintah Handoko kepada asistennya.


Asisten Handoko memanggil anak buahnya yang tidak jauh dari sana lalu mulai menghajar Adi dan Harri. Wisnu melindungi Nurul yang terlihat ketakutan karena ada perkelahian, sedangkan Darel duduk kembali ke kursinya.


"Tuan bagaimana ini? tuan Adi dan tuan Harri bisa kalah! orang-orang pak Handoko jumlahnya lebih banyak!" ucap Wisnu khawatir.


"Kau meragukan kemampuan mereka Wisnu? aku yang melatih mereka, jelas mereka tidak akan kalah hanya dengan melawan semut-semut kecil itu!" ucap Darel menyeringai.


Pak Handoko yang masih berdiri ditempatnya tersenyum ketika melihat ke enam belas anak buahnya termasuk asistennya melawan dua orang anak buah Darel. Tentu dalam jumlah terlihat pak Handoko lebih unggul.


Pertarungan sengit antara Adi dan Harri melawan enam belas anak buah pak Handoko menimbulkan kerusuhan di restoran. Tidak sedikit furniture di restoran itu yang rusak akibat menjadi senjata mereka untuk melawan.


Pak Handoko mulai ketakutan ketika satu persatu anak buahnya terkapar dengan kondisi yang babak belur. Tidak butuh waktu lama, semua anak buahnya terkapar dengan kondisi penuh lebam dan juga luka.


"Hahaha..cuma segini doang?!! ini mah kecilll!" sombong Harri sembari menjentikkan jarinya meremehkan tenaga anak buah pak Handoko.


"Siall!! bagaimana bisa kalah semua sih?!! aku harus kabur!" ucap pak Handoko lirih.


Baru saja hendak pergi, Harri yang melihatnya langsung mencopot sepatu yang dia kenakan laku melemparkannya tepat mengenai punggung pak Handoko hingga tersungkur ke tanah.


Adi dengan cepat mengikat tangan pak Handoko ke belakang dengan sabuk yang dia kenakan.


"Ampunn!!! ampun tuan, maafkan sayaaa!" ucap pak Handoko memohon.


Lucuti semua pakaiannya dan kita seret sampai ke perusahaan!" perintah Darel.


"Ke perusahaan? untuk apa tuan? harusnya kita kasih pelajaran dulu! kalau cuma di seret doang mah keenakan dia!" protes Harri.

__ADS_1


"Hemm! boleh juga idemu itu! kalau begitu kita bawa ke markas! sudah lama juga rasanya tidak bermain-main dengan manusia!" ucap Darel menunjukkan senyum menyeramkannya.


"Dengan senang hati tuannn!!!" ucap Harri tersenyum puas.


__ADS_2