Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 230


__ADS_3

Rohan kembali ke rumahnya mengecek gantungan dream catcher yang tergantung didepan kamar Suli.


"Itu dia!" ucap Rohan.


Rohan mulai mencari-cari letak kamera kecil tersebut.


"Ini dia!" ucap Rohan setelah menemukan kamera itu.


Rohan membuang gantungan itu ke sembarang arah kemudian kembali menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Rohan langsung memberikan kamera itu kepada Darel. Jack yang sudah berada disana juga memperhatikan apa yang akan dibuat Darel dengan laptopnya. Memang saat Tomi meminta Jack untuk ke rumah sakit tadi, Tomi juga memerintahkan Jack untuk membawa laptop karena akan diperlukan oleh Darel.


Darel mulai mengoperasikan laptop itu, mengirimkan data-data yang terekam dari kamera ke laptop.


"Ini tadi tanggal berapa?" tanya Darel.


"Duh dasar tuan muda bodoh! kan di laptop ada tanggal, hari, dan tahunnya!" omel Tomi.


"Oh iya!" ucap Darel.


Darel mulai mencari-cari tanggal rekaman kamera.


"Ituu!! tanggal 21 bulan Juli!" ucap Arul menunjuk ke arah suatu rekaman.


Darel mengeklik rekaman itu. Tampilan video rekaman mulai diputar. Memperlihatkan Suli yang bangun pagi sambil membawa handuk. Nampak seperti hendak mandi.


"Woi...woiii!!!! tutup mata kalian!!!!" teriak Rohan menutup layar laptop ketika melihat Suli yang habis mandi hanya mengenakan bathrobe saja dengan rambut yang masih terbungkus handuk.


"Ihhh, santai lah! lagian punya Anisa lebih menggoda kok!" ucap Arul yang memang jujur.


"Cih!" ucap Rohan.


Berbeda dengan para tuan muda, Jack malah terlihat penasaran dengan apa yang hendak ditutupi oleh Rohan karena posisinya yang berada dibelakang Tomi dan Zanu.


"Hei jaga matamu itu, Jack!" ucap Rohan posesif.


"Sudahlah! minggir!" ucap Tomi sambil menghalau tangan Rohan yang menutupi layar laptop.


"Heii!!!"


"Udah ganti nih, nggak kayak yang tadi! slow lah!" ucap Tomi.


Darel dan Zanu tersenyum menatap Rohan yang terlihat sangat malu. Entah mengapa Rohan tidak ingin orang lain melihat kecantikan Suli. Atau mungkin dia tengah cemburu?


"Lihat! benar kan dugaanku, kelompok itu yang menculik Suli!" ucap Tomi geram sambil meninju-ninju telapak tangan kirinya sendiri.


"Awas saja mereka kalau sampai Suli kenapa-kenapa!" geram Rohan sambil mengepalkan tangannya.


Urat di wajah dan leher Rohan sampai terlihat, mungkin saking emosinya dia saat ini.


"Jack, kau bisa lacak nomor plat ini?" tanya Darel yang berhasil menangkap nomor plat mobil yang membawa Suli.

__ADS_1


"Nahh, kalau begini lima menit juga selesai!" ucap Jack sombong.


Jack maju ke depan lalu duduk didepan laptopnya sehingga Darel menggeser tempat duduknya.


Benar kata Jack, tidak sampai lima menit dia berhasil menemukan lokasi mobil tersebut.


"Hah?!"


"Kenapa Jack?" tanya Rohan.


"Mobil itu sudah berhasil aku lacak, tapii...." ucap Jack menggantung.


"Tapi kenapa?" tanya Zanu.


"Posisi mobil itu ada di Bali!" ucap Jack.


"Bali?!" ucap Darel terkejut.


"Apa ada masalah, Dwi?" tanya Zanu.


"Mentari ada disana!" ucap Darel mulai khawatir.


"Tapi Bali kan luas, Rel! mungkin bukan Bali tempat Mentari yang dimaksud Jack!" ucap Arul mencoba berpikir positif.


"Jack, dimana lokasi lengkap mobil itu?" tanya Darel masih khawatir.


"Emmm, sebentar! lokasi ini cukup terpencil!" ucap Jack masih mencari-cari.


"Kuta Selatan?" ucap Darel dengan nada tinggi.


"Apa Mentari ada disekitar sana, Dwi?" tanya Zanu yang ikut panik melihat tingkah Darel setelah Jack menyebutkan lokasi mobil itu.


"Kemarin aku meminta Lukas untuk melacak plat mobil yang ditumpangi Mentari saat dirumah Daniar dan ternyata ada di sebuah resort di Kuta Selatan." jelas Darel.


"J....jadi kau tahu kalau Mentari datang diacara pernikahan ku malam itu?" tanya Zanu tidak menyangka.


"Apa? kapan? bukankah kita yang terakhir pulang? tapi kan kita tidak melihat Mentari?" tanya Tomi.


"Yah, aku sendiri juga terkejut saat melihatnya datang. Dia datang saat kalian sudah pulang, jadi hanya tinggal perewang aja!" jelas Zanu.


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Tomi menatap kearah sahabatnya itu dengan menggerakkan tangannya hingga telapak tangganya berada diatas.


"Aku tidak bisa kesana, kalian tahu sendiri kan apa yang Mentari katakan sebelum dia pergi! aku tidak ingin kehilangannya untuk selamanya! satu tahun ini saja sudah sangat menyiksaku!" ucap Darel pasrah.


"Kita berdoa saja semoga Mentari tidak kenapa-kenapa." ucap Rohan menepuk pundak Darel pelan.


********


Sementara itu, Suli sudah mulai sadar dari pingsannya. Matanya mengerjap, menyapu sekeliling. Tangannya diikat disebuah tiang yang ada diatasnya.

__ADS_1


"Hah, dimana aku ini?" tanya Suli panik.


"Andre? dimana Andre?!"


"Wahhh, si penembak jitu sudah bangun?" ucap Jo yang mulai mendekati Suli dari arah kegelapan.


"K...kau?! lepaskan akuuu!!!" ucap Suli memberontak.


"Dimana Andre!!! kau apakan adikku itu haaa!!!" teriak Suli marah.


"Tenang! adikmu baik-baik saja kok! hanya saja, dia terluka sedikit!" ucap Jo pelan.


"Apa? apa yang kau lakukan bangs*t!!!" ucap Suli emosi.


Plak....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Suli meninggalkan jejak merah disana.


"Berani kau meninggikan suaramu dihadapan ku, HAAAA!!!!!" teriak Jo marah.


"Kenapa aku harus takut? aku tidak ada salah denganmu!" ucap Suli menantang tatapan mata Jo membuat Jo semakin marah.


"Tidak salah kau bilang! kau telah mencuri senjata milikku dan kau bilang kau tidak salah?!" teriak Jo memenuhi ruangan itu bahkan menggema hingga ke luar ruangan membuat siapapun yang mendengarnya merinding ketakutan.


"Senjata?! heh, aku bahkan tidak menyentuh itu dan kau menuduhku mengambilnya? jangan membuat lelucon yang tidak lucu, tuan!" ucap Suli dengan nada mengejek di akhir kalimatnya.


"Heh, sepertinya menghabisi mu sekarang akan terlalu mudah untukmu!" ucap Jo menyeringai licik.


"Apa kau tidak takut kalau kekasihmu itu.....aku lukai?" tanya Jo.


"Rohan?!" ucap Suli lirih namun bisa didengar oleh Jo.


"Oh, jadi pria polisi itu bernama Rohan?! hahaha, bagus!!! nama yang baguss!!! tapi sayang, nyawanya tidak akan lama lagi di dunia ini!" ucap Jo mulai melangkah pergi.


"Tunggu, Jo!" panggil Suli yang mulai takut.


Suli takut terjadi apa-apa dengan Rohan. Tanpa dia sadar selama ini, benih cinta mulai tumbuh entah sedari kapan itu. Suli selalu menolak perasaan itu dengan menganggap itu hanyalah perasaan kagum akan sosok Rohan yang dengan suka rela menampungnya dan juga Andre dirumahnya.


"Heh, apa kau mulai ketakutan aku menghabisi kekasihmu?!" tanya Jo menatap kearah Suli.


"Jangan sakiti dia! dia tidak bersalah! jangan sakiti dia!" ucap Suli mengiba.


"Siapa kau mau memerintahku?" tanya Jo berkacak pinggang.


"Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini! kenapa kau mau menyakitinya?!"


"Terserah aku lah mau melakukan apa! jika kau tidak ingin aku menyakiti pria itu, katakan dimana kau sembunyikan senjata yang telah kau curi itu! mudahkan!" ucap Jo.


"Tapi aku benar-benar tidak mencuri senjata itu! bagaimana aku bisa tahu dimana tempat senjata itu kalau aku saja tidak tahu senjata apa yang kau maksudkan sedari tadi!" ucap Suli frustasi.

__ADS_1


"Kau pikir aku akan percaya begitu saja? heh, jangan harap!" ucap Jo mulai melangkah pergi.


"Tidak!!! tunggu dulu!!! jangan pergi!!!! jangan sakiti diaaa!!! jangan......." teriak Suli yang terdengar semakin menghilang di telinga Jo seiring dengan langkahnya yang semakin menjauh dari ruangan tempat Suli diikat.


__ADS_2