Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 194


__ADS_3

Selesai mandi, Arul kembali ke pangkuan sang istri. Dia harus membicarakan masalah keberangkatannya mencari Suli besok lusa, tapi dia bingung harus mulai dari mana. Kegelisahan Arul dibaca jelas oleh Anisa melalui raut wajahnya.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Anisa yang sudah tidak sabar.


Anisa sedari tadi hanya diam menunggu Arul membuka suara tentang apa yang membuatnya terlihat resah, namun karena Arul terus bungkam membuat Anisa berinisiatif membuka percakapan lebih dulu.


"Masalah yang kemarin!" jawab Arul pelan.


Deg.....


Anisa menghentikan makannya. Acara kartun televisi sudah tidak menarik lagi baginya, dia mengalihkan fokus kearah suaminya.


"Apa sudah ditentukan kapan berangkatnya?" tanya Anisa pelan.


Arul menjawab dengan anggukan kepala kecil membuat Anisa serasa sesak di dada.


"Ku harap kau akan baik-baik saja bersama anak kita! aku sungguh khawatir pada kalian berdua! kalau aku tidak ada nanti, pastikan kau makan dengan teratur dan jangan ceroboh!" ucap Arul sembari merangkul pinggang Anisa dan mengelus-elus perut Anisa.


"Kau jangan khawatir pada kami! akan ada banyak orang yang menjaga kami, tapi...." mengangkat wajah Arul agar menghadap kewajahnya.


"Berjanjilah padaku kau akan pulang dengan selamat!" ucap Anisa mulai berkaca-kaca.


"Hei...hei! jangan menangis!!! aku tidak suka kau menangis!" ucap Arul menghapus butiran bening dari mata Anisa.


"Berjanji duluuu!" menjulurkan tangannya.


"Iya aku janji!" ucap Arul menyambut tangan Anisa.


"Lalu kapan kalian berangkat?" tanya Anisa lagi.


"Lusa! aku meminta agar tidak mendadak perginya!" jawab Arul.


"Kenapa?" penasaran.


Arul mendekatkan wajahnya kearah Anisa dengan cepat.


"Karena aku ingin menghabiskan malam bersama istriku yang cantik ini!" ucap Arul menggoda.


Anisa menggigit bibir bawahnya, dia tidak mengelak kalau dia juga menginginkan hal yang sama.


"Gendong akuuu!" ucap Anisa manja.


"Of course, baby!" ucap Arul sembari menggendong Anisa dan membawanya ke kamar.


Setelah merebahkan tubuh Anisa di atas ranjang, Arul menelungkup tubuh Anisa hingga sekarang Arul berada di atas Anisa.


"You are mine! now, tomorrow, and forever!" bisik manja Arul disamping telinga Anisa.


Ucapan Arul membuat tubuh Anisa memanas. Arul pun memulai semuanya dengan sangat hati-hati, dia tidak ingin anaknya kenapa-kenapa.


"Bersabarlah nak, ayah akan mengunjungimu sebentar lagi!" celoteh Arul sembari memasukkan miliknya ke milik Anisa.

__ADS_1


"I love you my wife!" ucap Arul.


"Love you more!" jawab Anisa sembari merangkul tubuh Arul.


********


Mentari masih berada dirumah sakit. Setelah mendapatkan penanganan dari Angel, kondisi nenek Iwang semakin membaik. Iwang terduduk lesu disamping neneknya, menatap selang infus yang menyambung ke tangan sang nenek.


"Kak, nenek akan baik-baik saja kan?" menatap kearah Mentari sendu.


"Iwang kita berdo'a saja biar nenek cepat sembuh ya!" ucap Mentari mengelus pundak rapuh Iwang.


"Mentari, boleh aku bicara sebentar berdua denganmu?" tanya Angel.


Angel menatap kearah Iwang ,sedangkan Iwang menatap kearah Mentari.


"Baiklah!" jawab Mentari.


Angel pun keluar dari ruangan lebih dulu.


"Iwang tunggu sebentar disini ya, kakak ada urusan sama kak Angel dulu!" ucap Mentari sebelum dia keluar dari ruangan.


Iwang mengangguk pelan. Mentari mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat nenek Iwang. Tepat sebelum dia meraih gagang pintu, Iwang memanggilnya dengan suara sendu.


"Kak!" panggil Iwang pelan.


"Ya?" membalikkan tubuhnya menatap Iwang.


"Apa penyakit nenek separah itu sampai nenek harus di rawat dirumah sakit dengan alat-alat ini?" tanya Iwang mulai menitihkan air mata.


"Tidak, Iwang! nenek pasti sembuh! kita lakukan yang terbaik agar nenek bisa tetap bersama kita ya? kak Darel juga sudah berjanji akan membayar semua pengobatan nenek Iwang berapapun harganya, jadi Siang tidak usah khawatir!" hibur Mentari.


"Makasih ya kak! kakak dan tuan Darel adalah orang paling baik yang pernah Iwang temui!" menghapus air matanya.


"Ya sudah kakak keluar dulu, kak Angel sudah menunggu kakak, ya!" ucap Mentari.


Iwang mengangguk dengan senyum hingga membuat Mentari merasa tidak tega membohongi anak sekecil itu.


Diruangan Angel.


"Jadi, apa penyakit nenek sangat parah?" tanya Mentari khawatir.


"Tenang dulu Mentari, aku tahu kamu sangat khawatir pada nenek. Huhhhh!" menghela nafas panjang seolah menandakan kalau dugaan Mentari memang benar adanya.


Mentari sudah siap dengan jawaban Angel atas pertanyaannya. Dia sudah siap mendengar kemungkinan terburuknya.


"Nenek Iwang divonis mengidap penyakit hemoptisis atau sering disebut batuk darah dimana keadaan saat seseorang mengalami batuk yang disertai darah. Setelah dilakukan berbagai tes diketahui penyakit nenek Iwang disebabkan oleh kanker paru-paru!" jelas Angel.


"Kanker paru-paru? apa itu sangat berbahaya? bagaimana cara penyembuhannya?" tanya Mentari semakin khawatir.


"Kemungkinan untuk sembuh sangatt kecil, namun bukan berarti tidak bisa sembuh. Tapi kita belum bisa memastikan seratus persen. Kita akan melakukan pengecekan ulang untuk memastikan penyakit nenek Iwang." jelas Angel.

__ADS_1


"Semoga saja tidak separah itu!" doa Mentari.


"Aku harap juga begitu!" ucap Angel menundukkan kepalanya ikut sedih.


"Maafkan aku Mentari, tapi....jika vonis itu benar adanya, kami tidak bisa berbuat banyak! bukan uang atau apa! tapi usia nenek juga sangat rentang terhadap penyakit lain dan kemoterapi itu sudah pasti ada efek sampingnya!" ucap Angel ikut sedih.


"Angel...." menatap sedih, tidak percaya apa yang dia dengar.


"Baiklah, aku percaya padamu dan tim mu. Semoga ada jalan terbaik untuk kesembuhan nenek!" ucap Mentari berdiri dari duduknya.


"Maaf Mentari!" ucap Angel untuk kesekian kalinya.


"Tidak apa! aku tahu ketidakberdayaan mu! yang terpenting kita harus tetap semangat untuk kesembuhan nenek!" ucap Mentari memberi semangat.


********


Sore itu setelah mengantar Darel ke rumah sakit, Harri ijin mampir sebentar ke toko kue milik Mentari.


"Selamat sore!" sapa Harri.


"Eh tuan Harri? sendirian saja tuan? tuan Darel dan kak Mentari tidak ibuk?" tanya salah satu karyawan.


"Tidak! aku datang sendiri! oh ya dimana Laila?" tanya Harri celingukan.


"Oh Laila, dia sedang keluar tuan mungkin sebentar lagi dia juga kembali!" jawab karyawan itu.


"Nah itu mereka!" tunjuknya kepada dua orang wanita yang baru saja memasuki toko.


"Eh tuan Harri, anda disini?" tanya Laila.


"Iya, aku disini! oh ya bolehkah aku mengajakmu jalan-jalan habis ini?" tanya Harri.


"Eh, tapi saya masih kerja tuan?"


"Tidak apa, aku bisa menunggumu!" ucap Harri kemudian duduk di bangku.


Laila tidak bisa menolak ajakan Harri, dia pun segera menyelesaikan tugasnya agar dia bisa segera pulang.


pukul enam tepat, semua pekerjaan Laila sudah selesai semua. Dia dan karyawan lain bersiap untuk pulang.


"Ayo tuan, saya sudah selesai!" ucap Laila.


"Baiklah ayo!" berdiri dari duduknya.


"Emm tapi kita mau kemana tuan?" tanya Laila penasaran.


"Iya tuan kalian mau kemana? kencan yaaa!" ledek beberapa karyawan disana.


"Husttt, jangan seperti itu lah!" ucap Laila malu.


"Tidak hanya jalan-jalan biasa kok! kita duluan ya!" ucap Harri.

__ADS_1


Harri menggandeng tangan Laila menuju mobilnya. Tanpa Harri ketahui, ada hati yang meleleh diperlakukan seperti itu.


Ibuuuu, aku tidak kuattttt! pengen cepat-cepat nikahhhh! teriak Laila didalam hati.


__ADS_2