Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 300


__ADS_3

"BAGASSSS!!!!!!! ANGELLLL!!!!! KELUAR KALIAN SEMUAAA!!! ISTRIKU KESAKITANNNNNNN!!!"


Teriakan Darel langsung memenuhi rumah sakit. Sambil menggendong Mentari yang sudah sangat lemah ditambah wajahnya kian memucat membuat Darel seolah ingin mengobrak-abrik rumah sakit ini agar secepatnya menangani istrinya. Mendengar teriakan Darel semua perawat dan dokter dirumah sakit itu pun berdatangan kearahnya. Seorang perawat membawakan brankar lalu dengan penuh kehati-hatian Darel merebahkan tubuh Mentari ke atas brankar itu.


"Akhhh, sakittt!!! mamaaaa!!! sakitttt!!!" ucap Mentari kesakitan.


Wajahnya sudah sangat pucat sekarang. Baju yang dia pakai juga telah basah karena keringat dingin yang keluar dari tubuhnya.


"Sayang, tahan yaa! kita udah sampai dirumah sakit kok! kamu dan anak-anak kita pasti akan selamat!!" ucap Darel yang ikut berlari di samping brankar Mentari.


"CEPAT DORONGNYAAA!!! ISTRI SAYA SUDAH KESAKITAN INIIIIII!!!" maki Darel kepada perawat yang mendorong brankar Mentari.


"Sayang tenang yaa!! ada aku disini! semuanya akan baik-baik saja!" hibur Darel.


Begitu sampai di UGD, seorang perawat tidak mengijinkan Darel untuk ikut masuk dengan alasan Darel bisa saja mengganggu konsentrasi dokter yang menangani Mentari.


"Maaf, tuan! anda harus menunggu diluar!" ucap perawat itu.


"Tapi istri saya ada didalam!!!" ucap Darel menengok ke dalam.


Dia bisa melihat bahwa istrinya tengah sangat kesakitan.


"Maaf, tuan! tapi ini demi keselamatan istri anda juga!" ucap perawat itu langsung menutup pintu ruangan.


Darel hanya bisa pasrah.


"Ya Tuhan!! selamatkan istri dan anak-anak ku!!! ku mohon kabulkan doa pendosa ini!!" ucap Darel lirih.


Darel tidak kuasa menahan air matanya. Dia merasa gagal menjaga istrinya. Terlebih ini semua karena ulah keluarganya. Kesakitan yang dialami Mentari disebabkan oleh egoisme papanya.


"Tuan! apa perlu saya menghubungi tuan dan nyonya besar?" tanya Adi ragu-ragu.


"Tidak perlu! ini semua karena papa! aku tidak ingin Mentari melihat wajah papa sehingga bisa mengingatkannya pada luka lamanya!" ucap Darel tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu UGD.


"Kalau keluarga nona Daniar?" tanya Adi lagi.


Sejenak Darel terdiam.


"Kabari saja mereka! mereka adalah keluarga kedua Mentari. Mereka orang yang paling menyayangi Mentari bahkan rasa sayang mereka melebihi rasa sayangku padanya!" ucap Darel.


"Baik, tuan!" ucap Adi.

__ADS_1


Adi pergi sebentar untuk menelepon Zanu guna memberitahu kabar mengenai Mentari. Tidak berselang lama, Adi kembali setelah menelepon Zanu.


"Mereka sedang dalam perjalanan tuan." ucap Adi.


Darel tidak menjawab lagi. Fokusnya masih berada di pintu ruangan UGD tempat istrinya ditangani. Entah bagaimana kondisinya sekarang, yang jelas, Darel memohon agar mereka berempat baik-baik saja.


Memohon? apa masih pantas Darel memohon? berdoa? setelah dia menceburkan diri di kubangan penuh dosa? Darel sudah berusaha kembali kejalan yang benar atas bantuan Mentari. Namun rasanya untuk "meminta" kepada-Nya, agaknya Darel masih tidak pantas. Dosanya terlalu besar.


********


"Darel!!" panggil papa Daniar.


Daniar, Zanu, Galih, mama, dan papa Daniar berbondong-bondong mendatangi Darel. Raut wajah mereka menunjukkan kekhawatiran kepada istrinya yang saat ini masih terbaring di ruang UGD. Sedari tadi, dokter belum keluar dari memeriksa istrinya membuat Darel semakin cemas.


"Bagaimana keadaan Mentari?" tanya mama Daniar.


Wajah dengan tatapan teduh itu terlihat sembab. Mungkin dia telah menangis sepanjang perjalanan tadi.


"Masih didalam, ma!" ucap Darel lirih.


Keadaannya begitu kacau sekarang.


"Bagaimana bisa Menyatu seperti ini?" tanya Daniar yang menangis.


"Katakan apa yang terjadi, Darel!!" tanya papa Daniar.


Darel pun mulai menceritakan semuanya. Mengenai scandal tuan Ardi dengan Maya. Begitu Darel selesai bercerita, semua orang nampak syok. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka orang seperti tuan Ardi bisa melakukan hal serendah ini apalagi demi kepuasan nafsu sementara.


"Kenapa sih kalian ini?" tanya Daniar menatap ke arah Darel.


"Sayang, tenangkan dirimu!!" ucap Zanu menenangkan.


Dia juga sama terkejutnya dengan istrinya. Namun melihat Daniar emosi membuat Zanu khawatir kalau-kalau istrinya kenapa-kenapa.


"Dulu kau yang menyakiti Mentari! sekarang papamu yang menyakitinya! bukan hanya fisiknya namun juga batinnya!! membuat sahabatku menderita selama ini!! apa kalian semua memang menginginkan kesengsaraan bagi sahabatku?!" tanya Daniar dengan nafas yang memburu.


Emosinya sudah sampai diubun-ubun. Apa salah sahabatnya? mengapa hanya kemalangan yang selalu menimpa sahabatnya? bukankah mimpi buruk jika Mentari berada dalam lingkungan dimana terdapat seseorang yang telah membunuh kedua orang tuanya sekaligus yang menjadikan Mentari sebatang kara?


"Papa mu telah mengenakan topeng terbaiknya selama belasan tahun!! bahkan saking bagusnya, kami sampai tertipu dengan kebaikannya kepada Mentari! namun ternyata kebaikannya itu hanyalah bualan semata! papamu telah merenggut hal paling membahagiakan bagi sahabatku, yaitu keluarga!!!" ucap Daniar tambah emosi.


"Aku tahu! aku sendiri juga kecewa pada papa! tapi aku tidak menyangka kalau papa akan menemui Mentari saat aku tidak ada. Bahkan saat kami semua tidak ada!" ucap Darel.

__ADS_1


"Berarti papamu memang telah mengincar situasi ini sebelumnya?! kalau tidak, bagaimana bisa kebetulan ini terjadi?!" tanya papa Daniar.


Ceklek....


Saat hendak berdebat lagi, mereka mendengar pintu ruangan terbuka hingga mengalihkan fokus mereka semua. Mereka pun langsung mendekati dokter kandungan yang pernah merawat Mentari beberapa hari lalu.


"Dok, bagaimana istri saya?" tanya Darel.


"Istri anda baik-baik saja! tidak ada yang perlu dicemaskan." ucap dokter itu.


"Lalu, bayinya?" tanya Daniar.


Bukannya Daniar tidak mencemaskan sahabatnya, namun kalau terjadi apa-apa kepada kandungannya Mentari bisa gila. Terlebih Mentari sangat menantikan kehamilannya ini.


"Untuk janinnya syukurlah masih bisa diselamatkan walau sangat lemah. Untung saja anda segera membawa istri anda kerumah sakit, atau jika tidak mungkin kandungannya tidak akan bisa diselamatkan. Untuk sementara kami akan memindahkan nona Mentari ke ruang rawat." ucap dokter itu.


"Bawa ke ruangan VIP saja dok!" ucap Darel.


"Baiklah, silahkan urus administrasi nya lebih dulu." ucap dokter itu.


"Biar saya saja, tuan!" ucap Lukas.


Ya, Lukas dan mbok Tini baru saja sampai karena harus menjemput Iwang dahulu.


"Ayahh!!" panggil Iwang langsung memeluk Darel.


"Ibu akan baik-baik saja, kan?" tanya Iwang dengan polosnya.


"Ibu akan baik-baik saja kok! kamu tenang saja! ibu kan orang yang kuat!" ucap Darel.


"Iwang takut kalau ibu kenapa-kenapa!" jawab Iwang.


Darel memeluk anak angkatnya itu. Dia terlihat sangat menyayangi Mentari dengan tulus.


Tidak lama berselang, Angel keluar ruangan mendorong brankar berisi Mentari. Tadi Bagas harus ada operasi yang harus dilangsungkan sehingga Angel menggantikan Bagas untuk menemani Mentari.


"Sayang!!" panggil Darel.


"Tari!!" panggil semua orang menatap ke arah Mentari yang tengah terlelap.


"Dia sangat kuat, tuan! nona akan baik-baik saja! kalian berdoa supaya nona cepat sadar." ucap Angel.

__ADS_1


Mereka memindahkan tubuh Mentari ke ruangan VIP.


Sekali lagi! sekali lagi kau hampir kehilangan nyawamu karena aku! maafkan aku Mentari! aku janji akan menjagamu, bahkan dari papaku sendiri!! batin Darel.


__ADS_2