Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 162


__ADS_3

Pagi hari mulai menyapa kembali. Mentari sudah bangun lebih dulu daripada Darel. Begitu bangun, Mentari langsung menuju kamar mandi.


"Eeee......." menggeliat bangun.


Darel mulai membuka matanya, menyapu sekeliling kamar tapi tidak menemukan Mentari diatas ranjang. Suara kran air mengalir di kamar mandi membuat Darel tahu dimana Mentari.


"Sabar Darel kan tinggal tiga hari lagi!!!! sabar ya sebentar lagi kamu juga akan bisa memasuki sarangmu kembali!" menatap kebawah.


Tidak lama kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka. Spontan Darel melihat kearah pintu dan menampilkan Mentari yang baru saja keramas dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya membuat Darel tidak tahan melihatnya.


Berkali-kali Darel menelan ludahnya sendiri melihat tubuh Mentari yang hanya ditutupi oleh handuk.


"Kenapa?" tanya Mentari bingung.


"Cantikkkkk!" keceplosan.


"Eh, maksud ku kok keramas?" tanya Darel tergugup.


"Ohhh, aku sudah suci tadi makanya mandi wajib!" jelas Mentari sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Sudah bersih? cepat sekaliii?"


"Mana aku tahu, orang sudah tidak ada bercak merahnya kok!"


Mendengar hal itu Darel langsung meloncat dari sofa menghampiri Mentari.


"Kenapa?" tanya Mentari karena Darel menatapnya dengan aneh.


"Kau tahu ini sangat menyiksaku!" ucap Darel yang lalu tanpa aba-aba langsung mel***t bibir Mentari.


Semakin lama ciuman mereka semakin panas, hingga akhirnya Darel menggendong tubuh Mentari dan menjatuhkannya keatas ranjang. Darel menumpahkan hasratnya yang tertahan beberapa hari ini hingga mereka terkapar lemas diatas kasur.


"Kamu ihhh, kan aku jadi harus keramas lagiii, hah....hah...hah..." kesal Mentari setelah menyelesaikan pergulatan nikmat mereka.


"Yah, bagaimana lagi! tubuhmu begitu menggodaku hingga aku tidak tahan lagiii!" mendekat ke wajah Mentari dengan suara parau nya.


"Dasar tuan muda mesumm!!" memukul bahu Darel lalu berlari masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Darel terkekeh melihat tingkah Mentari yang selalu memerah wajahnya ketika dia goda. Dan tentu saja hal itu membuat Darel gemas dan ingin selalu memakannya.


Setelah membersihkan diri, Darel dan Mentari turun ke bawah untuk sarapan. Ternyata di meja makan sudah ada Pretty yang menunggu mereka dari tadi. Melihat rambut Darel dan Mentari yang masih setengah basah membuat emosi Pretty naik pitam.


Awas ya kamu Mentari, kamu sudah berani-beraninya melayani Darel kekasihku! akan aku balas kau nantiii!! menahan emosinya.


"Sayang, kenapa dia masih ada disini?" tanya Mentari yang terlihat tidak menyukai kehadiran Pretty ditengah-tengah mereka.


"Sudah tenang saja, aku tidak akan berpaling darimu kok! ini hanya bentuk tanggungjawab ku saja!" ucap Darel menenangkan Mentari.

__ADS_1


Tanggungjawab apanya, orang dia baik-baik aja gitu kok! bilang aja kalau mau bernostalgia! batin Mentari.


Let's start the begins!!!! batin Darel sembari menyunggingkan senyumnya.


"Pagii, maaf kalau kami membuatmu menunggu!" ucap Mentari meski terlihat jelas ketidaksukaannya terhadap Pretty.


"Tidak apa-apa kok, harusnya aku yang tidak enak sama kalian!" sok lembut.


"Mbok, hidangkan makanannya!" teriak Darel kepada mbok Tini.


Mbok Tini dan beberapa pelayan lain mulai menghidangkan aneka sarapan untuk mereka.


"Ini sayang, kamu harus sarapan yang banyakkk biar kuat!" ucap Mentari sembari mengambilkan nasi goreng ke piring Darel.


"Emm, maaf tapi Darel biasanya makan ini kalau sarapan!" menunjuk kearah sandwich.


"Sepertinya kamu sangat mengenal suami saya yaa? terimakasih atas perhatian kamu, tapi sekarang apapun yang saya berikan kedalam piringnya akan dengan senang hati dia habiskan!" ucap Mentari tersenyum namun dengan nada yang menyinggung Pretty.


"Dan satu hal lagi, setelah kamu tinggalkan dia bertahun-tahun lamanya, kebiasaannya mulai berubah dan Sandwich bukan satu-satunya yang dia suka untuk sarapan!"


Darel menikmati perdebatan diantara Pretty dan Mentari. Mentari terlihat lebih lucu kalau sedang cemburu seperti ini.


"Oh ya sayang, ini minumnya!" menuangkan jus jeruk kedalam gelas Darel.


"Jangannn!!!" Pretty menghentikan Mentari.


"Darel tidak suka jus jeruk jika untuk sarapan. Ini, sajikan teh hijau saja!" sok tahu.


"Maaf ya nona Pretty, tapi sepertinya saya yang lebih tahu mana yang disukai suami saya dan mana yang tidak dia sukai! anda tahu, dulu dia memang tidak menyukai ini, tapi karena saya menyukainya akhirnya dia mulai menyukai jus jeruk ini! sungguh pria yang sweet kann!" tamparan telak untuk Pretty.


Pretty merasa sangat geram dengan perkataan Mentari yang seolah memojokkannya.


Lihat aja, sebentar lagi lo nggak bakal bisa tersenyum bahagia kayak sekarang Mentariii!!!


********


Ding....dong.....


Ceklekkk......


"Iya, mau cari siapa yaa?" tanya seorang perempuan.


"Apa benar ini apartemen milik saudari Wanda?" tanya seorang polisi.


"Benar, saya sendiri! ada perlu apa ya?" bingung.


"Kami diminta untuk menahan anda dan juga semua barang-barang yang sudah dibelikan saudara Broto kepada anda sebagai barang bukti!"

__ADS_1


"Apaaa??? barang bukti? barang bukti apaa!!!???" terkejut.


"Untuk lebih jelasnya sebaiknya anda ikut kami ke kantor!" ucap polisi itu lalu memberikan isyarat kepada anak buahnya agar menangkap Wanda.


"Tunggu, kalian tidak bisa seperti ini yaa!!! lepaskan sayaa....lepasss!!!!"


"Diamm!! atau kami akan bertindak lebih kasar!" ucap polisi yang menahan Wanda.


Wanda dibawa ke kantor polisi dengan paksa. Dalam pikiran Wanda, Broto sudah berhasil menghabisi Daniar lalu ketahuan dan sekarang berada dipenjara.


Nggak apa-apa lah ikut ke kantor polisi sebentar toh nanti aku bisa berkilah karena aku tidak ikut andil dalam pembunuhan itu. Yang terpenting sekarang, Daniar sudah musnah dari muka bumi ini, hahahaha!!!!


Sesampainya di kantor polisi, Wanda langsung dibawa keruang interogasi dimana disana sudah ada Rohan dan Abu anak buahnya.


"Duduk!!!" mendudukkan Wanda ke kursi interogasi.


Rohan membolak-balikkan berkas berisi file data Wanda.


"Nona Wanda Aurelio, apa anda tahu kenapa anda dibawa kesini?" tanya Rohan serius.


"Ti....tidak!"


Ya jelas karena kau mau menyelidiki kasus pembunuhan Daniar lah! batin Wanda.


"Baiklah, karena kau tidak tahu mengapa kau ditahan maka aku akan menjelaskannya!" berdiri dari kursinya.


"Kau dituduh sebagai partner dalam membelanjakan uang hasil penipuan dan karena itu kau ada disini!"


Deggggg.......


Wanda terkejut bukan kepalang.


"Apa? penipuan? tapi aku tidak...." terpotong.


Belum selesai Wanda protes, Rohan langsung mengeluarkan bukti-bukti kejahatan Broto.


"Kau kenal dengan orang ini kan??? dia adalah orang yang telah menipu banyak pihak hingga membawa lari uang triliunan rupiah. Dan sekarang tindak kejahatannya semakin mengganas karena dia juga memperdagangkan organ anak-anak!" terhenti sejenak.


Dengan sangat syok Wanda mencerna setiap penjelasan yang diberikan oleh Rohan.


"Dan karena anda menjadi salah satu penikmat hartanya, jadi anda juga ikut bersalah dalam hal ini! apa pembelaan dari anda?"


"Saya....saya tidak tahu apa-apa sumpah!!! saya tidak ada andil dalam hal ini!" jawab Wanda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Wow....wow...woww.... bukankah ada orang yang berkali-kali memperingati anda tentang Broto? salah anda sendiri tidak menghiraukan peringatan darinya!" sedikit menyudutkan.


Wanda terdiam, mulutnya tidak bisa berkata-kata lagi. Sekarang tinggal penyesalan yang menyelimuti hati Wanda.

__ADS_1


"Kau begitu tamak dan sombong hingga sebuah peringatan untuk kebaikanmu sendiri pun kau acuhkan! kau bahkan berniat menghabisinya dan tahukah kau dia hampir saja dibawa jauh oleh Broto!!!" ucap Rohan geram sendiri.


Rohan, dihadapan sahabat-sahabatnya dia terlihat paling dewasa, paling kalem, paling santai, dan paling bisa diandalkan. Namun berbeda ketika dia tengah bertugas. Sikap tegas, disiplin, cerdas dalam mengatur strategi, paling tidak suka suap menyuap bahkan jika ada yang ketahuan menerima suap Rohan tidak segan-segan bertindak tegas kepada orang itu.


__ADS_2