
Daniar terus berlari menjauhi anak buah Dendi, namun karena tubuhnya masih agak lemah dia pun terjatuh dan anak buah Dendi menangkapnya lagi.
"Tidak, aku mohon lepaskan aku, tolongggggg.....tolongggg!!!!!" teriak Daniar.
Disisi lain, Zanu pun mendengar suara teriakan minta tolong yang dia yakini suara itu milik Daniar. Tanpa banyak bicara dia pun langsung menuju sumber suara dan hal itu membuat Rohan dan Bagas kebingungan karena mereka tidak mendengar suara apapun.
"Woi...mau kemana kamu Zanuu!!! Tungguin kitaa!!!" teriak Bagas sambil berlari mengejar Zanu.
Disisi Daniar, tangan Daniar terus ditarik paksa oleh anak buah Dendi. Daniar sebisa mungkin mencoba melepaskan diri dari tangkapan anak buah Dendi, namun tenaganya kalah jauh dari mereka.
Zanu....andai kamu ada disini menolongku....aku...aku....takut Zanu....tolong aku!!! batin Daniar.
Bukkkkkk.....bukkkkk......bukkkk.....
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi salah satu anak buah Dendi. Daniar langsung menoleh ke arah orang yang memukul anak buah Dendi itu dan betapa senangnya dia ketika melihat Zanu berdiri disana seperti pahlawan di film-film aksi yang sering Daniar tonton.
"Zanu!!! Zanu tolong aku......aku...emmmmmm!!!" ucap Daniar terpotong.
Mulut Daniar dibekap oleh salah satu anak buah Dendi, sedangkan yang lain mulai menyerang Zanu.
********
Sementara itu, dengan menghilangnya Darel pimpinan kelompok mafia Dendley membuat beberapa kelompok mafia lain bergerak hendak merampas kekuasaan Darel didunia bawah.
Mereka dengan terang-terangan mengedarkan barang-barang terlarang, menculik anak berusia 2-10 tahun, menculik gadis-gadis dan menjualnya di pelelangan dengan. Para gadis muda itu diiming-imingi pekerjaan yang layak dan gaji yang besar oleh beberapa oknum namun sayangnya mereka harus berakhir mengenaskan diperjualbelikan dan disiksa habis-habisan.
Kelompok Dendley melarang keras anggotanya melakukan hal itu. Darel memang suka 'bermain' dengan wanita panggilan namun dia berpegang teguh untuk tidak mengambil kesucian seorang gadis. Namun berbeda dengan Mentari, Darel terpaksa mengambil kesucian Mentari dan tidak tega mengatakan yang sejujurnya kepada Mentari bahwa kesuciannya sudah hilang diambil Darel.
"Kalian culik lagi anak kecil yang banyak, dan kita akan jual mereka dengan harga yang tinggi!" ucap salah seorang ketua mafia.
"Dengan senang hati bos!" ucap anak buahnya.
"Apa sudah ada kabar gembira dari pencarian ketua Dendley?" tanya bos mafia itu yang menuju kepada kematian Darel.
"Belum bos, tapi aku rasa dia sudah mati karena bos tahu sendiri kan beritanya? pesawatnya hancur berkeping-keping begitu mana mungkin bisa selamat?" ucap anak buahnya.
"Hemm, semoga dia tenang dialam sana, hahahaha!!!" ucap bos mafia tertawa bahagia.
********
Pencarian Darel dan Mentari akhirnya dihentikan karena tidak ada titik terang selama beberapa hari ini. Pihak yang ikut andil dalam pencarian juga sudah melakukan yang terbaik namun hasilnya tetap nihil. Tuan Ardi dengan sempoyongan kembali kerumahnya, dia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada istrinya jika Darel dan Mentari dianggap sudah meninggal dan jasadnya tidak ditemukan.
__ADS_1
Tuan Ardi memasuki rumahnya, dan menuju kamarnya dimana anak, istri serta menantunya menunggu kabar baik darinya.
"Papa?!" tanya Juna.
Semua mata langsung tertuju kepada tuan Ardi yang tengah berdiri di depan pintu. Nyonya Ardi yang saat itu tengah beristirahat langsung menghampiri suaminya.
"Pa, Darel mana? kok papa pulang sendirian? Darelll!???" tariak nyonya Ardi.
Tuan Ardi hanya menundukkan kepalanya. Tidak kuat menatap mata sang istri.
"Pa, jawab dong mana Darel sama Mentari????" tanya nyonya Ardi.
Tuan Ardi menggelengkan kepalanya pelan.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin ma, tapi.....mereka..."
Tuan Ardi tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Nggak, jangan bilang begitu dong pa!! Darel.....Darel sama Mentari pasti ketemu, hikss...hikss...mereka pasti selamat paaa!!!" ucap nyonya Ardi histeris.
Randita, Juna, dan Rangga langsung menghampiri orang tuanya.
"Iya, kami tidak bisa menemukan mereka dan kemungkinan jasad mereka sudah hancur bersama dengan hancurnya pesawat." jelas tuan Ardi lirih.
Air matanya lolos begitu saja, dan dengan cepat dia menghapusnya agar tidak ada yang tahu. Randita menutup mulutnya dengan tangannya dan mundur beberapa langkah saking terkejutnya. Sedangkan Juna dan Rangga dengan ekspresi yang sedih menundukkan kepalanya.
Nyonya Ardi menangis histeris dipelukan suaminya. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, jatuh begitu saja dipipinya.
"Darelll....pa...Darel pasti pulang pa.....Darel....mama mau kesana!! mama mau cari Darel sama Mentari!!" ucap nyonya Ardi memaksa pergi.
Tuan Ardi memegangnya dengan sekuat tenaga. Randita dan yang lain sangat tidak tega melihat mama mereka seperti itu. Air matanya langsung menetes begitu saja dipipinya.
"Ma, sabar kita harus mengikhlaskan mereka. Mama jangan seperti ini!" ucap tuan Ardi.
Meskipun terlihat tegas namun batin tuan Ardi juga sama teririsnya mengingat Darel adalah orang yang dia andalkan untuk meneruskan kepemimpinan dunia bawah kini sirna dalam sekejap mata. Bulan madu yang seharusnya menjadi momen bahagia keluarga Sanjaya justru menjadi petaka bagi mereka.
Seketika tubuh nyonya Ardi melemah kehilangan kesadarannya. Tuan Ardi segera membawa sang istri ketempat tidur dan menyuruh untuk memanggilkan dokter.
Kabar tidak ditemukannya Darel dan Mentari langsung menyebar begitu saja, banyak media yang memberitakan hal itu. Para pekerja di rumah Sanjaya juga tengah sibuk mengurus acara pemakaman bagi mereka meskipun jasadnya tidak ditemukan.
********
__ADS_1
Zanu datang menolong Daniar disusul Rohan dan Bagas. Anak buah Dendi tentu saja langsung menyerang mereka bertiga. Daniar masih dalam tahanan salah satu anak buah Dendi, dia hanya bisa berdoa semoga saja mereka baik-baik saja terlebih lagi Zanu.
Buk....buk.....buk.....
Zanu menendang, memukul, dan meninju anak buah Dendi yang mendekatinya. Anak buah Dendi sudah terlihat kewalahan, namun tidak dengan Zanu yang semakin berapi-api mengingat Daniar masih dalam tahanan mereka. Mengingat cintanya yang besar untuk Daniar yang sempat ingin ia musnahkan.
"Berhenti!!!!!" teriak seseorang.
Pertarungan berhenti, semua mata langsung mengarah pada si pemilik suara.
"Daniar?!!!" teriak Zanu.
"Menyerah lah kalau mau dia selamat, kalau tidak..." ucap salah satu anak buah Dendi.
Sekarang Daniar yang berada dalam tahanannya tengah ditodongkan sebuah pistol dibagian kepalanya. Hal itu membuat yang lain siaga. Rohan yang berada paling dekat dari posisi Daniar saat itu segera mendekatinya dengan perlahan.
Zanu tahu maksud dari Rohan, dan berusaha mengalihkan perhatian anak buah Dendi.
"Tunggu dulu, kau jangan sampai menyakitinya! aku akan memberimu apapun yang kau mau tapi tolong lepaskan dia!!" bujuk Zanu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hahahaha, kau pikir aku bodoh apa? jika aku melepaskan wanita ini kau akan menangkap ku atau bahkan membunuhku. Aku tahu rencanamu itu tuan muda!!" ucap anak buah Dendi yang masih menodongkan pistolnya kekepala Daniar.
"Kau sangat menyayangi wanita ini bukan, maka lihatlah dia untuk yang terakhir kalinya!" ucap anak buah Dendi.
Anak buah Dendi menarik pelatuknya bersiap menembak dengan posisi tepat dikepala Daniar. Daniar hanya bisa menangis, menatap orang yang dia cintai, membayangkan hal-hal indahnya bersama Zanu.
"Satu..........du.....aaa ........ti........gaaa........dorrr....."
"Daniar!!!" teriak Zanu.
"Daniar!!!!" teriak Bagas.
Brukkkk....
Semua terkejut, anak buah Dendi terjatuh ke tanah. Zanu dan Bagas langsung melihat ke arah belakang Daniar. Rupanya Rohan membidik disaat yang tepat.
"Daniar!" ucap Zanu berlari mendekati Daniar.
Zanu langsung memeluk tubuh Daniar, begitu juga dengan Daniar. Mereka menumpahkan semuanya disana, kerinduan, kekesalan, kekhawatiran, dan cinta. Rohan mendekati Bagas setelah menaruh pistol ke sarungnya, menepuk pelan pundak Bagas seolah berkata mereka akan bahagia jika bersama dan menguatkan Bagas.
"Maafkan aku!!" ucap Zanu dengan masih memeluk Daniar.
__ADS_1