
Darel dan Mentari pulang kerumah larut malam. Arul tidak membiarkan mereka pulang lebih awal dan terus merengek untuk tinggal lebih lama.
"Sayang, aku mau tanya sesuatu!" tanya Mentari sambil memasuki rumah.
"Hemm!" jawaban singkat.
"Bagaimana kabar Pretty? dia ada dimana sekarang? apa kau mengusirnya? aku belum sempat bertanya padamu karena aku lupa!" tanya Mentari.
"Dia sudah kembali kerumahnya. Kakinya juga sudah lebih baik, jadi aku membiarkannya pergi!" jelas Darel sembari menaiki tangga.
"Apa kau tahu dimana rumahnya?" selidik Mentari.
Tentu saja Darel tahu, tapi Darel berbohong dengan mengatakan tidak tahu rumah Pretty.
"Sudahlah, jangan bahas dia lagi! lebih baik kau fokus untuk menyenangkanku saja!" berbisik disamping telinga Mentari membuat Mentari bergidik ngeri.
"Kau ini apa tidak bosan begitu terus! sehari sudah dua kali loo kita tadi!" omel Mentari.
"Emangnya kenapa? aku kan pengen cepat-cepat punya anak darimu!!! kalau kau menolak bisa-bisa aku punya anak dari orang lain!!!" ucap Darel.
"Nggak boleh!!! kau hanya punyaku! cuma aku yang boleh memberimu keturunan bukan orang lainn!" ucap Mentari kesal.
"Ya sudah makanya, ayoo!!" menggendong tubuh Mentari menuju kamar mereka.
Aktivitas malam pun kembali terjadi. Hawa ruangan yang semula dingin berubah menjadi panas bahkan AC pun tidak ada efeknya. Keringat menetes dari tubuh Darel dan Mentari hingga mereka terkulai lemas dipagi harinya.
********
Malam ini adalah malam pertama bagi Arul dan Anisa. Namun mengingat Anisa belum boleh terlalu capek akhirnya malam pertama mereka ditunda hingga malam kedua besok. Arul dan Anisa tidur dalam satu ranjang. Sempat tidak percaya rasanya mereka bisa tidur menghadap satu sama lain.
Terlebih bagi Anisa hal ini terlihat sangat mustahil. Tidak pernah dia bermimpi bisa menatap wajah tampan Arul ketika terlelap begini.
"Jangan memandang wajahku terus!!! ku tahu aku ini tampan!" ucap Arul masih dengan mata terpejam.
"K...kau... darimana kau tahu kalau aku menatapmu?!" malu-malu.
"Yah aku tahu saja!" merangkul pinggang Anisa hingga menempel pada tubuh Arul.
"Sudah tidur! ini sudah malam. Besok masih ada hal yang harus kita selesaikan!"
"Apa? hal apa?" bingung.
Arul membuka satu matanya dengan ekspresi tidak percaya Anisa melupakan hal penting lalu menutup kembali matanya. Reaksi Arul membuat Anisa paham maksud perkataannya barusan.
Malam pertama?! kenapa aku jadi panas dingin begini sih!! aduhh, Anisaa dia ini suamimu sekarang! dia lantas melihat dan menjamahmu semaunya! aaaa tapi kenapa aku deg-degan beginii sihhhh!!!!
__ADS_1
********
Malam yang dingin telah berlalu. Sinar matahari yang menghalau embun pagi menghangatkan setiap kehidupan di Bumi. Mentari baru bangun pukul tujuh tepat. Keganasan Darel semalam membuatnya harus begadang sampai pagi dan baru bisa tidur pukul tiga dini hari tadi.
"Sayang, kamu mau kemana kok rapi sekali?" tanya Mentari kepada suaminya yang pagi-pagi sekali sudah berdandan rapi dengan setelan jas kantor yang sangat jarang dia kenakan.
"Aku mau ke kantor. Ada urusan penting yang harus aku lakukan disana! nanti setelah aku selesai dengan urusanku kita akan menuju bandara!" ucap Darel.
"Apa? bandara? memangnya kita mau kemana?" bangun dari tidurnya.
Darel menghadap kearah Mentari menatapnya bingung.
"Haihh, kau lupa ya!" ucap Darel lalu membelakangi Mentari.
Mentari menunjukkan ekspresi kebingungan.
"Kita kan mau pergi ke pulau pribadi milik Zen!" jelas Darel lagi.
Yah, tiket yang diberikan Darel kepada Arul semalam adalah sebuah tiket berlibur di pulau pribadi milik Zanu. Dulu Zanu mempercayakan pulau itu kepada Darel sebagai bentuk persahabatan mereka yang erat. Setelah berdiskusi dengan Zanu sebelumnya, mereka sepakat untuk liburan bersama disana.
Selain mereka berenam bersama pasangan masing-masing, Jack, Adi, Harri, Lukas, dan teman kuliah Rohan juga ikut bersama. Lukas ditugaskan untuk menjaga Mentari dan tentu saja Zanu memberi arahan kepada anak buahnya untuk menjaga pulau itu dengan sangat ketat.
"Ohh, begitu! baiklah, pulang cepat yaa!" ucap Mentari.
Mentari Masih belum bangun dari ranjangnya. Dia masih bermalas-malasan sebentar, lalu mandi dan turun ke bawah untuk sarapan.
"Kak Lukas, apa yang harus aku bawa untuk liburan ini?" tanya Mentari kepada Lukas yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Anda tidak perlu membawa apa-apa, nona! semuanya sudah disiapkan. Nona tinggal berangkat saja!" jelas Lukas.
"Sudah disiapkan? kapan? apa Darel yang memerintahkannya?" penasaran sambil melahap sarapannya.
"Benar! tuan muda sudah memerintahkan untuk menyiapkan segala kebutuhan disana. Mulai dari pakaian sehari-hari, pakaian dinas anda, dress, dan lain-lain." jelas Lukas.
"Baju dinas? kak jangan membuatku malu dengan mengatakannya didepan umum begini! aku kan jadi maluu!" berbisik namun masih bisa didengar pelayan lain yang ada di dekat Mentari membuat mereka hanya menahan tawa.
"Untuk apa malu nona? kami sudah biasa mendengar perintah nyeleneh semacam itu. Terlebih lagi larangan untuk tidak mendekati kamar pada jam-jam tertentu!" jelas Lukas lagi yang semakin membuat Mentari malu.
Tentu saja pelayan disana mengerti maksud perkataan Lukas. Ingin tertawa tapi takut dipecat, akhirnya mereka memilih menahan tawa mereka.
"Kak Lukassss!!!!" ucap Mentari sembari menekan katanya malu.
"Emm, oh ya nona! anda punya paket dari nyonya besar apa anda mau membukanya sekarang?" tanya Lukas.
"Mama mengirimiku paket? aku mau lihat dongg!" ucap Mentari senang.
__ADS_1
Lukas pergi lalu tidak lama kemudian dia kembali sembari membawa sebuah kotak bingkisan cukup besar dan diletakkan didekat Mentari.
"Wahhh, apa ya isinya ini?! besar sekali!" ucap Mentari sembari membuka kotak tersebut.
" Wahhhh, ini berlian asli?" ucap Mentari terkejut.
Isi dari bingkisan tersebut adalah satu set perhiasan berlian yang harganya sangat-sangat mahal.
"Benar nona. Nyonya besar tahu anda orang yang sangat sederhana. Maka dari itu dia memilihkan perhiasan dengan motif simpel namun elegan ini. Ini adalah model perhiasan yang dipesan khusus untuk anda nona!" jelas Lukas.
"Tapi jangan tertipu dengan tampilan luarnya, nona! satu set ini bahkan memiliki jumlah angka yang sangat fantastis jika dirupiahkan!" ucap Lukas sembari berbisik.
"Hah, jadi berapa harga berlian ini?" penasaran tapi juga terkejut.
"Emm, saya tidak tahu pasti nona! yang jelas akan ada banyak angka yang berjejeran!" ucap Lukas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa aku pantas menerima hadiah semewah ini?" tanya Mentari lirih sambil menatap satu set perhiasan di tangannya.
"Maaf nona, ada telepon dari nyonya besar!" ucap seorang pelayan sembari memberikan sebuah telepon rumah.
"Oh iya!" mengambil telepon itu.
"Ha...hallo ma?"
"Sayang, apa kamu sudah menerima paket dari mama?" tanya nyonya Ardi dari seberang telepon.
"S...sudah ma, baru saja aku buka!" ucap Mentari ragu.
"Baguslah kalau begitu. Apa kau menyukainya?" tanya nyonya Ardi.
"Ini...ini sangat indah, ma! tapi apa perlu aku menerima hadiah semewah ini? aku rasa aku tidak pantas menerimanya!" berkecil hati.
"Sayang, kamu itu sangat-sangat pantas menerima hadiah itu. Itu mama belikan khusus untukmu loh, kamu tidak mau kan mengecewakan mama dengan menolak Hadian pemberian mama?"
"Ah, tidak...tidak! bukan begitu maksudku ma!" panik sendiri.
"Kamu dan Darel kan akan pergi beberapa hari bawalah itu dan kenakanlah! mama yakin kamu akan terlihat sangat cantik dengan perhiasan itu yaa!" jelas nyonya Ardi ditelepon.
"Emm, baik ma! kalau itu mau mama, aku akan membawanya nanti!" pasrah.
"Baiklah kalau begitu sudah dulu ya sayang, daaa!!!" ucap nyonya Ardi.
Panggilan pun terputus. Mentari terlihat sangat bimbang sembari menatap perhiasan mahal dihadapannya ini. Rasanya dia tidak pantas mengenakannya, tapi dia juga tidak mau mengecewakan mama mertuanya dengan tidak menghargai hadiah pemberiannya.
Apa yang harus aku lakukan?? batin Mentari bingung.
__ADS_1