
Abu terlihat sangat frustasi karena tidak bisa menangkap pelaku yang merundung Wanda didalam sel. Berkali-kali Abu terlihat mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Pak, mungkin kita terlalu mencurigakan." ucap salah satu bawahan Abu.
"Maksud kamu?" tanya Abu tidak mengerti.
"Iya pak, sepertinya pelaku sudah tahu kalau hal seperti ini akan terjadi dan dia membuang satu-satunya bukti agar tidak ketahuan." jelasnya.
Abu terlihat berpikir sejenak.
"Yah, kamu benar. Kita terlalu mencolok ketika mengumpulkan semua orang tadi. Begini saja, kita awasi satu per satu mereka tapi jangan sampai mereka tahu kalau kita sedang mengawasinya! aku curiga terhadap satu orang dan mungkin kita harus menyelidiki dia!" ucap Abu.
Mereka pun menyusun rencana untuk menangkap pelaku. Setelah rencana disusun, Abu kembali ke rumah sakit untuk menjaga Wanda serta melaporkan kejadian ini kepada Rohan.
********
Rohan berhenti disebuah rumah yang cukup bagus dengan halaman yang cukup luas. Terdapat garis polisi yang mengelilingi sekitar rumah itu.
"Dimana dia sekarang?" tanya Rohan kepada bawahannya.
Tadi Rohan yang hendak menuju ke rumah ibu tiri Wanda. Dia meminta bawahannya untuk bertemu dirumah ibu tiri Wanda dan menahan wanita itu.
"Dia berada di rumah saudaranya tuan, lokasinya tidak jauh dari rumah ini. Kami melakukan penjagaan ketat agar dia tidak melarikan diri!" jelas bawahan Rohan.
"Ayo kita kesana!" ucap Rohan.
Mereka bergerak menuju rumah saudara ibu tiri Wanda. Begitu sampai di lokasi, terlihat banyak polisi berjaga disekeliling rumah.
"Selamat siang, pak!" sapa polisi itu kepada Rohan.
"Bagaimana?!"
"Siap! wanita itu masih ada didalam, pak!" ucap salah satu bawahan Rohan.
Rohan mengangguk sebentar lalu mulai menekan bel rumah.
Seorang wanita tua membukakan pintu.
"Sudah aku bilang, bukan aku yang membunuh mereka!" menatap tajam.
"Aku belum mengatakan tujuanku kemari!" menatap balik dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku menemukan bukti atas kejahatan mu! ini surat penangkapanmu!" memberikan surat penangkapan untuk wanita tua itu.
"Apa?! tidak....ini tidak mungkin! pasti surat ini palsu!" tidak terima dan mulai membaca surat itu.
Selesai membaca isi surat penangkapannya, wanita itu langsung masuk kedalam rumah dan hendak menutup pintu rumah. Untung Rohan cepat membaca gerak-gerik wanita itu hingga dia bisa menahan pintu agar tidak tertutup menggunakan tangannya. Rohan mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga hingga terbuka dan membuat wanita tua itu terjatuh ke lantai.
"Cepat bawa dia!" perintah Rohan.
Dua orang anak buah Rohan membawa wanita itu kedalam mobil dan dibawa menuju kantor polisi.
"Tidak!!! aku tidak bersalah!!! kalian tidak tahu siapa akuuu.....akan aku pastikan kalian semua menderita. Tuanku Jo akan membalas kaliannnn....." teriak wanita itu hingga mobil yang membawanya berlalu menjauh.
"Tuanku Jo? siapa dia? aku harus menanyakannya kepada Darel, mungkin dia tahu sesuatu!" ucap Rohan lirih.
"Kalian semua!" memanggil bawahannya yang masih ada disana.
"Kembali ke kantor polisi dan jaga wanita itu agar tidak melarikan diri! aku ada urusan sebentar!" ucap Rohan.
"Baik pak!" ucap bawahannya serentak.
__ADS_1
Rohan meninggalkan rumah itu dengan mengendarai motornya menuju rumah Darel.
Sesampainya dirumah Darel, Rohan langsung menekan bel rumah dan pelayan wanita membukakan pintu untuknya.
"Apa Darel ada didalam? ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan dia!" ucap Rohan.
"Ah, tuan Darel lagi ada didalam kamarnya bersama nona Mentari. Silahkan anda tunggu didalam saja, tuan Rohan!" ucap pelayan itu.
"Eh, tuan Rohan?" tanya Lukas yang kebetulan berada disana.
Lukas langsung berlari menghampiri Rohan.
"Tuan Rohan ada disini? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Lukas.
"Yah, semua baik-baik saja. Hanya saja ada yang perlu aku tanyakan kepada Darel." jawab Rohan.
"Boleh aku tahu apa itu? mungkin aku bisa membantu!" tanya Lukas.
"Emm, sebenarnya aku hendak menanyakan tentang Jo, apa kau tahu siapa dia?" tanya Rohan.
"J....J...Jo?" terlihat raut wajah Lukas berubah ketika mendengar kata yang diucapkan Rohan.
"Lukas? ada apa? kenapa ekspresi mu seperti itu setelah mendengar namanya?" tanya Rohan penasaran.
"Rohan!" panggil Darel sambil menuruni anak tangga.
Rohan dan Lukas langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Sebaiknya kita bicarakan ini diruang kerjaku! dan Lukas!" menatap kearah Lukas.
"Panggil Adi dan Harri juga!" perintah Darel.
Segera Lukas memanggil Adi dan Harri yang memang masih berada dirumah Darel. Lebih tepatnya mereka tengah menyantap makan siang mereka.
"Woi.....woi....woi!!!" panggil Lukas sambil berlari mendekati Adi dan Harri.
"Apaaa!!!" jawab Adi ketus.
"Tuan Rohan ada disini dan dia...." terpotong.
"Duh, bukannya sudah biasa ya sahabat tuan Darel datang kemari? memang apa yang spesial dari kedatangan tuan Rohan?" celoteh Harri sembari terus menyantap mie goreng buatan koki rumah utama.
"Ehhh dengerin dulu makanya!" geram Lukas.
Adi dan Harri tidak menghiraukan Lukas dan terus menyantap makan siang mereka.
"Tadi tuan Rohan datang kemari dan dia....dia...dia...menanyakan siapa itu Jo!"
"Uhukkk....uhuk...uhukk...air...air...." ucap Adi dan Harri bersamaan.
Mereka langsung tersedak ketika mendengar kata Jo keluar dari mulut Lukas. Koki disana langsung memberikan air putih kepada Adi dan Harri dan meminumnya hingga tandas.
"Apa? siapa yang kau bilang tadi?" tanya Harri terkejut sembari meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja.
"Jo!" ucap Lukas.
"Darimana tuan Rohan tau nama itu?" tanya Adi.
"Entahlah! sekarang kalian disuruh ke ruangan tuan!" ucap Lukas.
"Duh mati aku kalau terus-terusan seperti ini. Bisa-bisa mati muda aku!" pasrah Harri.
__ADS_1
"Sudahlah belum tentu juga kan seperti yang kau pikirkan? ayo cepat kesana!" ucap Adi berjalan menuju ruang kerja Darel diikuti Lukas dan Harri.
Didalam ruang kerja Darel. Raut wajah Darel terlihat tegang membuat Rohan bertanya-tanya siapa orang yang bernama Jo itu.
"Ceritakan kepadaku bagaimana kau bisa tahu nama itu!" tanya Darel memecah keheningan yang terjadi beberapa saat lalu.
Rohan mulai menceritakan masalah Wanda dan penangkapan ibu tirinya yang sempat mengucapkan kata "Jo" hingga membuat Rohan penasaran dengan nama itu.
Darel menyimak setiap cerita yang Rohan ucapkan.
"Kalian akan terus berdiri disana atau mau aku seret masuk kedalam?!!!" teriak Darel tiba-tiba.
Pintu terbuka memperlihatkan Adi, Harri, dan Lukas dibalik pintu dan mulai masuk kedalam sambil cengengesan.
"Hehehe, maaf tuan! kami pikir tuan tidak tahu!" ucap Harri.
Harri terlihat salah tingkah ditatap Darel sedangkan Lukas dan Adi menundukkan kepalanya tidak berani kontak langsung dengan mata Darel.
"Cih, kalian pikir aku tidak tahu kalau sedari tadi kalian ada disana?" tanya Darel.
"Maaf tuan!" ucap Adi sembari membekap mulut Harri dan memegang kepala Harri bagian belakang hingga membuat kepala Harri menunduk.
Hal itu Adi lakukan agar Harri tidak asal berbicara lagi dan membuat mereka bertiga dalam masalah.
"Kami salah tuan!" ucap Lukas dan Adi.
"Sudahlah, kembali ke topik! yah, Jo adalah pemimpin kelompok mafia paling brutal bernama Nerezza. Seperti namanya, kelompok ini membawa kegelapan ditempat mereka berada."
"Nerezza? penculik anak kecil dan yang menjual or*an mereka?" tanya Rohan spontan.
"Yah, kau tahu itu?"
"Aku pernah menangani kasusnya dulu sebelum aku kembali ke Indonesia. Aku pikir mereka sudah musnah makanya aku bisa kembali ke Indonesia setelah menangkap ratusan anak buahnya namun sayangnya pemimpin mereka kabur entah kemana." jelas Rohan.
"Jangan salah! kelompok ini punya banyak anak buah Rohan. Seperti aku yang memiliki anak buah hingga ke seluruh dunia, begitu juga mereka. Kau mungkin sudah berhasil menangkap sebagian kecil dari mereka tapi bukan pemimpinnya." jelas Darel berdiri dari kursinya menuju sebuah buku dibelakangnya.
"Kabarnya mereka sudah lama tidak menunjukkan eksistensinya, lalu kenapa mereka kembali setelah bertahun-tahun?" tanya Darel.
Darel membuka buku ditangannya mengambil selembar kertas dan menunjukkannya kepada Rohan.
"Tanda ini ada disetiap anggota mereka!" ucap Darel.
"Apa wanita itu punya tanda ini?" tanya Rohan sembari memperhatikan lambang pentacle.
"Itu tugasmu! cari tahu sendiri!" ucap Darel kembali duduk di kursinya.
"Baiklah aku pergi dulu untuk mencari tahu semua ini." ucap Rohan berdiri.
Ketika Rohan hendak menggapai gagang pintu, suara Darel langsung menghentikan langkahnya.
"Rohan, jika tanda itu ada pada wanita itu langsung kabari aku. Kau dan anak buah tidak akan bisa melawan mereka sendirian!" ucap Darel tegas.
"Baiklah, aku mengerti!" meninggalkan ruang kerja Darel.
Adi, Harri, dan Lukas masih berdiri mematung ditempatnya menatap pintu yang sudah lama menutup.
"Lukas, kabari Jack untuk mencari tahu keberadaan mereka!" perintah Darel membuat ketiganya terkejut.
"B...baik tuan!" ucap Lukas.
Mereka bertiga langsung keluar dari ruangan Darel.
__ADS_1