Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 140


__ADS_3

Saat ini Mentari yang baru saja mendapat suntikan obat bius tengah tertidur pulas. Darel sangat hancur melihat semua ini. Diwaktu yang bersamaan, Adi dan Harri datang dengan membawa bukti rekaman CCTV.


"Tuan!"


"Bagaimana?" tanya Darel tanpa menatap ke arah Adi dan Harri.


"Dia lagi tuan!" ucap Harri.


Sontak saja Darel berbalik menatap anak buah yang selalu mendampinginya itu.


"Galih?" tanya Darel.


Adi dan Harri mengangguk.


"Seharusnya aku sudah menjebloskannya ke penjara waktu dia pertama kali membuat ulah!! bodohnya akuuu!!!" maki Darel pada dirinya sendiri.


"Dimana dia sekarang?" tanya Darel lagi.


"Kami belum..." ucap Adi terpotong.


Adi berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Wajahnya terlihat serius bahkan ketika sambungan telepon sudah terputus.


"Tuan, setelah insiden hari ini Galih langsung terbang ke Indonesia!" ucap Adi.


"Bagus! siapkan semuanya, aku dan Mentari juga akan kembali ke Indonesia setelah Mentari diperbolehkan pulang!" ucap Darel.


"Tapi tuan..." ucap Adi terpotong.


Darel mengerti apa yang akan Adi katakan. Setelah kebahagiaannya bersama Mentari, jelas saja Darel tidak akan membiarkan siapapun menyentuh pernikahannya bahkan sampai merusaknya.


"Kau tenang saja! aku tidak akan terpengaruh lagi olehnya!" ucap Darel.


********


Galih sudah terbang menuju Indonesia. Setelah tahu siapa wanita yang tanpa sengaja terjatuh karenanya, Galih langsung panik dan segera pergi dari Korea kembali ke Indonesia dengan menggunakan pesawat pribadi miliknya.


"Bukan! bukan aku, bukan aku!!! Mentari, bukan aku yang mendorongmu, bukan akuuu!!!" ucap Galih ketakutan.


Wajahnya tampak tertekan dan depresi dengan semua kejadian hari ini. Bukan maksud Galih menjatuhkan Mentari tadi apalagi ketika melihat darah keluar dari sela-sela pahanya membuat Galih semakin merasa bersalah.


# Flashback sebelum terjatuhnya Mentari #


Mentari saat itu tengah berjalan-jalan menyusuri setiap kedai di mall tersebut. Aneka makanan lezat menggelitik penciumannya membuat Mentari semakin bersemangat. Adi dan Harri justru terlihat kewalahan mengikuti Mentari hingga mereka tertinggal jauh.

__ADS_1


Mentari yang melihat suaminya duduk di panggung lantai bawah berniat menghampirinya. Namun karena Mentari tidak fokus, dia pun tertabrak oleh Galih yang hendak melakukan suatu hal terhadap Darel hingga membuat Mentari terjatuh dan pingsan.


"Mentari!!!???" teriak Galih syok.


Galih melihat kiri dan kanannya, semua orang fokus ke arah Mentari yang terbaring lemah tidak berdaya dilantai bawah dengan darah terus mengalir. Karena takut Galih pun pergi dari mall tersebut dan kembali ke hotel, mengemasi semua barang-barang miliknya.


"Hallo, siapkan pesawat pribadiku segera! aku akan kembali ke Indonesia!" ucap Galih tergesa-gesa.


"Sekarang tuan? kenapa terburu-buru sekali? dan kenapa anda sepertinya sedang ketakutan?" tanya anak buah Galih.


"Sudahlah banyak tanya!!! siapkan saja CEPATTT!!!" bentak Galih kemudian langsung menutup panggilan.


Sedangkan orang yang baru saja diperintah Galih terlihat sangat curiga dengan gelagat aneh tuannya ini. Tidak biasanya Galih bepergian secara mendadak seperti ini. Biasanya jika hendak bepergian, Galih akan memberitahu paling lambat 2-3 hari sebelum waktunya bukan seperti ini. Namun anak buah Galih tetap melaksanakan apapun yang diperintahkan Galih tadi.


Begitu sampai di bandara, Galih langsung memasuki pesawat tanpa bicara sepatah katapun.


Jangan salahkan aku Mentari!!! kau memang tidak layak hamil anak pria bre****k itu!!! kau itu milikku!! hanya milikku!!! hanya aku yang pantas jadi pendampingmu, bukan dia!!! batin Galih.


********


Ding.....dong.......


Ding.....dong.....


"Iya, siap......" kaget.


"Kakak!!!! kenapa kakak ada disini?" tanya Daniar.


Hari ini Daniar sedang libur, sehingga paginya dia pakai untuk beristirahat dan bermalas-malasan.


Tanpa menjawab pertanyaan Daniar lebih dulu, Galih malah memasuki rumah dan menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam.


"Kak! ada apa? apa ada masalah? kakak!!!! buka pintunya kak!!" teriak Daniar sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Galih.


Kamar Galih, meskipun tidak pernah ditempati namun mama Daniar tetap menjaga dan membersihkannya setiap hari sehingga tetap bersih tanpa debu.


"Ada apa sih ribut-ribut Daniar?" tanya mama Daniar yang mendengar suara Daniar dari belakang rumah.


"Ini loh, kakak tiba-tiba pulang dan langsung mengunci diri dikamar!" jelas Daniar.


"Galih? Galih pulang?" tanya mama Daniar langsung terlihat sumringah.


"Galih, nak, buka pintunya! mama mau bertemu! kamu tidak mau menemui mama nak?" teriak mama Daniar sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Galih namun hasilnya tetap nihil.

__ADS_1


"Ada apa sih sama kakakmu itu Daniar?" tanya mama Daniar.


"Ya, mana aku tahu ma, orang begitu aku bukain pintunya kakak udah kayak gitu kok." ucap Daniar.


Apa Galih melakukan hal buruk ya? tidak biasanya dia seperti ini apalagi dia sama sekali tidak mendengarkan ucapan ku, padahal biasanya setiap kali pulang ke rumah dia akan nempel terus padaku. Tapi ini kok beda yaa? batin mama Daniar.


********


Setelah 2 hari menginap dirumah sakit, Mentari akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Luka pasca operasinya sudah cukup membaik meskipun belum kering sepenuhnya. Kesehatan psikis Mentari juga sudah mulai membaik meskipun dia masih belum mau banyak bicara.


Kehilangan anaknya membuat Mentari menjadi sedikit terganggu kejiwaannya. Beruntungnya Darel mempunyai kenalan seorang dokter psikiater sehingga dengan bantuan dokter itu Mentari bisa sedikit lebih tenang.


"Apa kamu sudah berhasil menemukannya?" tanya Mentari tiba-tiba.


Dari awal siuman, Mentari hanya menanyakan siapa yang membuatnya terjatuh, namun Darel tetap merahasiakannya karena tidak mau mengganggu kejiwaan Mentari.


"Kamu akan tahu nanti." ucap Darel menepuk halus tangan Mentari.


"Ini bukan jalan menuju rumah, kita mau kemana?" tanya Mentari.


"Kita akan kembali ke Indonesia. Ada tugas yang harus diselesaikan dan ada akibat yang harus diterima seseorang!" ucap Darel.


"Maksudnya?" tanya Mentari tidak mengerti.


Bukannya menjawab pertanyaan Mentari, Darel justru mel***t habis bibir Mentari.


"Hah..hah...hah.... kenapa aku malah dicium sih!?" protes Mentari ketika berhasil melepaskan diri dari ciuman Darel meski dnegan nafas terengah-engah.


"Habisnya kamu cerewet banget sih! nanti kamu juga tahu kok, lihat saja!" ucap Darel hendak mencium bibir Mentari lagi namun dengan cepat bibir monyong Darel dihentikan oleh majalah yang ada dimobil itu.


"Enak aja main nyosor! ada Adi sama Harri tuh, nggak malu apa?" tanya Mentari dengan pipi merah merona.


"Enggak!" jawab Darel santai.


Mentari melebarkan matanya tidak percaya dengan perkataan Darel yang enteng banget itu.


"Mereka tidak melihat kok, iya kan Adi, Harri?" tanya Darel terdengar biasa ditelinga Mentari namun sebuah ancaman yang ditangkap oleh indra pendengaran Adi dan Harri.


"Eh, iya kok nona kami tidak lihat!" ucap Harri sembari melirik sekilas pada kaca diatasnya.


"Kami tidak melihat ataupun mendengarnya kok nona!" ucap Adi.


"Ah, sudahlah! kalian pasti sudah bersekongkol dengan dia kan!" ucap Mentari menatap Darel yang tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2