Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 125


__ADS_3

Dendi mulai memasang alat perekamnya yang mulai menampilkan sebuah rekaman video dimana Darel dan seorang wanita tengah memadu kasih.


"Matikan rekaman itu bang****!!!!" teriak Darel tidak ingin Mentari salah paham.


Salah paham? bukankah itu yang sebenarnya terjadi Darel? kau sendiri yang memilih menghabiskan malammu bersama wanita pel***r daripada menghabiskan malam pertama dengan istrimu🙄#Author POV


Aku mohon aku bisa menjelaskan semuanya! aku... aku mohon...!! batin Darel menatap kearah Mentari.


Bagai pisau yang menancap sangat dalam dihati Mentari, seperti itulah yang dia rasakan sekarang melihat suaminya memilih bersama ****** daripada dirinya yang jelas-jelas sudah sah lahir dan batin.


Sakit, kecewa, marah, tapi tidak bisa Mentari pungkiri bahwa dia mulai mencintai Darel.


Kenapa?? kenapa setiap kali aku mengira bahwa aku sudah mengerti dia, dia justru semakin membuka banyak topengnya yang membuatku sadar bahwa aku tidak akan pernah mengerti dirinya!!! batin Mentari.


Sungguh tidak kuasa lagi Mentari menatap ke layar yang menampilkan suaminya sedang memadu kasih bersama wanita lain. Air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipinya kini hanya menyisakan isak tangis darinya. Mentari hanya diam, menata hati dan otaknya tentang apa yang ada dihadapannya ini adalah kebenaran. Kebenaran dari seorang Darel Sanjaya.


Jack yang memang memiliki alat yang terhubung dengan kelompok cadangan segera mengirim sinyal pertanda bahaya. Setelah mendapat sinyal itu, kelompok cadangan dengan segera memasuki markas.


Haduh Jack, kalau gitu kenapa tidak dari tadi saja kau keluarkan alat itu!! *Kan Mentari sakit hati jadinya***🤦 #Author POV**


Brukkkk......brukkkkkk........


Sebuah tendangan dan tinjuan keras mendarat di pipi Dendi. Melihat orang-orang Darel yang tidak diperhitungkan olehnya, ketua Drago Mark menjadi sedikit gusar.


"Hei, apa yang kalian lihat!!!! cepat habisi mereka!!!!" perintah ketua Drago Mark.


Salah satu dari anak buah Tomi membebaskan ikatan mereka. Begitu ikatan Darel terlepas, dia langsung berlari mendekati Mentari dan melepaskan ikatannya. Namun hati Mentari sudah teramat sakit. Dia sudah sangat kecewa dengan Darel.


"Tuannn!!!" teriak Harri melemparkan sebuah pistol kearah Darel.


Dengan sigap Darel menangkap pistol itu dan menembakkan pelurunya tepat sasaran.


Kini tinggal Dendi dan ketua Drago Mark yang masih hidup. Darel mendekati Dendi yang juga terluka akibat serangan dari sahabatnya.


"Kenapa? kenapa kau berkhianat pada kami??" tegas Darel.


"Cihhhh, berkhianat? kalian yang membuangku, kalian yang menyebabkan keluargaku meninggal kau ingat ituuu!!" marah Dendi.


"Hah itu sangat pantas didapatkan oleh orang yang suka menggelapkan uangku!! apa kau pikir aku lupa dengan apa yang kau perbuat dulu?" cecar Darel.

__ADS_1


Saat tengah fokus pada Dendi, ketua Drago Mark mengeluarkan pisaunya dan hendak menusukkannya ke Darel.


"Darellll awassss!!!!!"


Zleppppp........


Sebuah pisau tertancap dalam diperut seseorang. Darel yang mendengar teriakkan itu langsung menoleh kebelakang.


"Zennnn!!!!" teriak Darel.


"Zennn!!!!" teriak sahabatnya yang lain.


Mentari menutup mulutnya terkejut. Sedangkan Darel menangkap tubuh lemah Zanu yang terkena pisau barusan.


"Apa kau sudah gila!!! kenapa kau menjadikan dirimu sendiri untuk melindungi ku??" bentak Darel.


"Dwi, aku....aku hanya ingin melindungi mu!!" ucap Zanu tersenyum.


"Bisa-bisanya kau meledekku disaat seperti ini yaa!" kesal Darel.


"Kalian berdua, cari semua orang yang disandra disini dan ikat pria itu dikursi!! akan aku beri pelajaran padanya nanti!!!" ucap Darel pada Harri dan Adi kemudian pada Tomi.


Tomi yang langsung menahan tubuh ketua Drago Mark agar tidak melarikan diri setelah dia menusuk Zanu tadi langsung mendudukannya ke kursi lalu mengikatnya kuat-kuat.


Tidak lama kemudian Adi dan Harri muncul dengan beberapa orang yang terdiri dari anak-anak dan gadis termasuk Tuti.


"Kak Mentariiii!!!" panggil Tuti berhamburan memeluk Mentari.


"Aku...aku senang melihat kakak...huhuhuuu....aku...aku pikir aku tidak akan selamat......!" tangis Tuti.


Mentari memeluk Tuti untuk menenangkannya, sedangkan Rohan membawa mereka dan yang lain keluar dari ruangan itu. Ketika Mentari hendak pergi...


"Mentariiii!!" panggil Darel.


Mentari menghentikan langkahnya namun tetap tidak membalikkan badan.


"Ada apa?" tanya Mentari dingin.


"Maaf......sebenarnya malam itu....." terpotong.

__ADS_1


"Kakak ayo, semua orang sudah keluar!!!" panggil Tuti.


Mentari melangkah pergi tanpa mendengarkan apapun yang hendak dijelaskan oleh Darel. Hatinya terlalu sakit jika harus mendengar kebenarannya sekarang. Rasa kecewanya sudah menguasai akal sehat Mentari. Cinta yang mulai Mentari rasakan dan kepercayaan yang Darel bangun di hati Mentari telah hancur hanya karena satu kebenaran tadi.


Seharusnya aku sudah menduganya, itulah sebabnya dia pergi dengan tergesa-gesa waktu itu. Hehhhh, dia mengataiku pel***r tapi dia sendiri menikmati berhubungan dengan pel***r!! batin Mentari.


Sebuah bayangan masalalu muncul dipikiran Mentari dimana dia dan Darel bertengkar hebat dijalanan dan Darel menyebutnya sebagai wanita murahan.


Apa dia tidak bercermin waktu itu? dia mengataiku wanita murahan lah, wanita kotor lah, wanita jal**g lah tapi.....tapi dia sendiri yang bersenang-senang bersama wanita seperti itu!!!


Mentari keluar dari markas itu dengan perasaan yang entah bagaimana dia harus mengungkapkannya. Marah, kecewa, sedih, merasa dikhianati oleh Darel membuatnya terus menerus menitihkan air mata.


Tuti yang melihat wajah Mentari basah oleh air mata yang terus mengalir itupun hanya mendiamkannya. Dia tidak berani berkata apapun kepada Mentari agar menenangkan wanita itu karena dia juga tidak tahu duduk permasalahan akibat menangisnya Mentari.


#ADEGAN TIDAK UNTUK DITIRU!!!!


Sementara didalam markas, Darel terus menerus memukul, menendang dan meninju ketua Drago Mark hingga tersungkur ke tanah. Bahkan beberapa gigi ketua Drago Mark yang sebenarnya bernama Rudra itupun patah dan berceceran di tanah. Darah segar terus mengalir dari wajah pria malang yang menjadi sasaran amukan Darel.


Dendi yang juga sudah diikat sedemikian rupa merasa ngeri dengan tindakan Darel terlebih dirinya juga pernah merasakan amarah Darel namun tidak semengerikan ini.


Siall!!! apa aku akan dibunuhnya? amarah itu...dia bertindak seolah-olah dewa kematian!!!! batin Dendi ngeri.


Adu dan Harri yang juga baru pertama kali ini melihat amukan Darel ikut merasa ngeri.


Setelah puas menyiksa Rudra, Darel menata rambutnya yang berantakan membetulkan pakaiannya.


"Adi, bawa kemari senjataku!!! akan aku akhiri penderitaan kedua orang ini!!" ucap Darel dengan tatapan membunuh.


Adi yang mengerti maksud Darel segera membawakan sebuah gergaji mesin yang ada disekitar tempat itu. Alat yang sebelumnya Rudra dan Dendi siapkan untuk digunakan kepada Darel dan yang lain kini alat itu menjadi ancaman bagi nyawa Rudra dan Dendi sendiri.


"Ini tuan!" ucap Adi memberikan gergaji mesin itu.


Darel menyalakan gergaji mesin itu dengan senyum yang entah bagaimana membuat semua orang yang ada disana ikut ngeri melihatnya. Darel mulai mendekati Rudra yang sudah dibangunkan lagi ketika terjatuh akibat serangan Darel tadi.


"Jangan, aku mohon ampuni akuu!!!" ucap Rudra memohon.


Srinnggggg......sringgggggg......


"Aaaaaaaaaaaa.......!!!!!" teriak Rudra kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2