
"Awasi terus dia! jangan sampai dia curiga tentang rencana kita!" ucap Darel.
"Baik tuan!" ucap Aqis.
Panggilan terputus. Darel kembali melihat kearah Mentari, memastikan bahwa Mentari benar-benar sudah tertidur. Darel pun ikut tertidur dengan posisi duduk.
Matahari mulai terbit. Sedari pagi Mentari sudah sibuk menyiapkan makanan yang akan dia bawa ke rumah sakit. Dia berencana sarapan bersama disana bersama Daniar dan mamanya juga Zanu.
"Sayang ayo cepat siap! kita udah terlambat lohhh!!!" teriak Mentari sembari berjalan memasuki kamarnya.
Darel masih setia dengan selimutnya seolah enggan meninggalkan tempat hangat itu.
"Sayanggg, ayoo bangunnnn!!!!" mengguncang-guncangkan tubuh Darel agar terbangun.
"Lima menit lagiii!" jawab Darel malas.
"Lima menit apanya! ini udah jam setengah delapan loh, kita udah terlambatt, ayo bangunnnn!!!!" semakin kuat mengguncang tubuh suaminya.
"Duhhh, iya-iya aku bangun! tapi cium duluuuu!!" manja Darel.
"Dasar kamu tuh ya, bisa-bisanya! bangun nggak!? bangunnn!!!" memukul dengan guling.
"Aduh...aduh... iya-iya ini bangun nihhh!" ucap Darel sembari membuka sedikit matanya.
Sinar matahari yang cerah langsung menyilaukan matanya. Dengan sempoyongan Darel berjalan menuju kamar mandi sampai....
Brukkk.....
"Auuuu!!!!" teriak Darel kesakitan.
"HAHAHA.....makanya buka dulu matanya biar nggak nabrak!!!!" ucap Mentari sambil tertawa puas.
"Duhh, kamu nih ya, suaminya terbentur tembok bukannya kasian malah ketawa kenceng banget!!!" omel Darel sembari memegang jidatnya yang masih ngilu karena menatap tembok.
"Udah nggak usah drama, cepet siap terus kita berangkat ke rumah sakit!" ucap Mentari masih tersenyum mengejek.
"Huhh!!!" pasrah Darel.
Hampir satu jam mereka baru tiba dirumah sakit. Kondisi papa Daniar sudah mulai membaik sejak semalam. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
"Niar, ma, maaf ya kami baru datang!" ucap Mentari.
"Tidak apa-apa kok, kamu mau datang saja mama sudah bersyukur!" ucap mama Daniar.
"Oh ya ini sarapan buat kalian!" menyerahkan rantang berisi makanan.
"Terimakasih Mentari, oh ya kamu sudah sarapan?" tanya mama Daniar.
Mentari menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kita sarapan bareng-bareng ya!" ajak mama Daniar.
__ADS_1
Mereka pun sarapan bersama didalam ruangan papa Daniar. Semalam Zanu sudah memindahkan ruangan papa Daniar ke ruangan VIP agar mendapat penanganan lebih baik.
"Ma, gimana kabar kak Galih?" tanya Mentari ketika sedang menyantap makanannya.
Semua orang terdiam, saling melemparkan pandangan. Sejak kejadian memalukan yang dilakukan Galih, mama Daniar merasa malu jika bertemu dengan Mentari.
"Dia baik nak! kamu jangan bahas dia lagi ya, kayaknya papa masih kecewa sama Galih!" jelas mama Daniar sembari melihat kearah ranjang suaminya.
Papa Daniar tadi baru saja minum obat dan tangah tertidur efek dari obat tersebut.
"Maaf ma, aku tidak tahu! maaf juga kalau karena aku papa jadi marah dengan kak Galih!" terlihat sedih.
"Ini bukan salah kamu kok, Tar! emang kak Galih aja yang buta mata hingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!" ucap Daniar.
"Tindakan kamu dan Darel hanya bentuk dari rasa kekesalan kalian terhadap orang yang sudah menghilangkan calon anak kalian, terlepas dari siapa orang tersebut. Mama dan papa tetap mendukung keputusan kalian kok, lagian biar hal ini dijadikan pembelajaran yang berharga bagi Galih!" jelas mama Daniar.
Mentari tersenyum mendengar penjelasan mamanya Daniar. Sempat terpikirkan olehnya bahwa mama dan papa Daniar akan marah kepadanya karena memenjarakan anak laki-laki mereka. Pembicaraan itu terhenti sampai disitu dan mereka pun melanjutkan sarapan bersama.
********
Di dalam ruangan Rohan di kantor polisi.
"Bagaimana kelanjutan pencarian nyonya Adas?" tanya Rohan kepada Abu.
"Belum pak! beliau masih dalam pencarian." jawab Abu.
"Dan Wanda? bagaimana sikap wanita itu selama dipenjara?" tanya Rohan.
"Sejauh ini dia baik-baik saja pak! tidak ada masalah ataupun komplain dari narapidana lain terhadapnya." jelas Abu.
"Namun sempat dua atau tiga kali dia tertangkap mencoba mengakhiri hidupnya pak!" jelas Abu lagi.
"Apa? bagaimana bisa?" terkejut.
"Iya, petugas pernah menemukannya melukai pergelangan tangannya sendiri dengan batu yang tajam. Pernah juga dia hendak menggantung dirinya dengan tali untung saja masih bisa diselamatkan!" jelas Abu.
"Kenapa dia bisa senekat itu?" tanya Rohan.
"Mungkin dia sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup pak!" ucap Abu asal njeplak.
"Baiklah kau pergilah dulu!" ucap Rohan.
"Baik pak, permisi!" ucap Abu meninggalkan ruangan Rohan.
Ketika tengah sendirian, tiba-tiba pikiran Rohan teringat akan mata indah milik Suli/Ratna. Tatapan mata yang tajam, lirikan matanya tidak bisa lepas dari ingatan Rohan.
Siapa wanita itu? batin Rohan bertanya-tanya.
Sementara itu disisi lain, Suli yang tengah meminum segelas air putih menjadi bersin-bersin entah apa penyebabnya.
"Hacihhhh......hacihh....."
__ADS_1
"Duh Ratna kamu sakit? kok dari tadi bersin-bersin terus?" tanya rekan Suli.
"Emm, nggak tahu mungkin kemasukan debu!" ucap Suli.
Kenapa aku tiba-tiba bersin-bersin ya? apa ada yang membicarakan aku? batin Suli.
Suli segera meminum airnya dan mulai melaksanakan tugasnya. Karena para tuan muda dan nona muda sudah pergi, Suli bebas melepas penutup wajahnya dan memperlihatkan wajah cantik naturalnya.
********
Beberapa minggu berlalu. Hari ini Zanu berniat untuk melamar Daniar menjadi istrinya. Semuanya sudah Zanu siapkan, mulai dari cincin, seserahan, dan persiapan lainnya. Zanu membawa paman dan bibinya sebagai walinya karena orang tuanya yang sudah tiada.
Dirumah Daniar.
Tok....tok....tok....
"Niar, boleh mama masuk?" tanya mama Daniar dari luar kamar.
"Boleh, ma!" ucap Daniar.
Daniar tengah bersiap dibantu oleh Mentari dan beberapa perias terbaik.. Mendengar sahutan dari anaknya, mama Daniar kemudian masuk kedalam kamar.
"Subhanallah, cantik sekali anak mama!" puji mama Daniar.
"Niar kan emang udah cantik dari lahir ma!" timpal Mentari.
"Semoga pilihan kamu tepat, nak! mama yakin Zanu pria terbaik untuk kamu!" ucap mama Daniar dengan mata berkaca-kaca.
"Ma, kan aku sudah bilang jangan menangis dihari bahagiaku! lagi pula ini baru tunangan saja kan, pernikahannya masih beberapa bulan lagi." ucap Daniar.
Sasa, sahabat Daniar juga ikut memasuki kamar Daniar.
"Aaaa, selamat bestie akhirnya kamu nyusul nikah jugaaa!" ucap Sasa.
"Duh pengantin baru masih seger aja nih!" goda Daniar.
Yah, Sasa menikah satu minggu yang lalu. Rencana bulan madunya akan dilakukan setelah pertunangan Daniar.
"Ih apaan sih, noh Mentari yang udah nikah lama masih seger aja! malah semakin rapet sama suaminya!" goda Sasa kepada Mentari sembari mentoel lengan Mentari.
"Loh, kok aku sih padahal aku diem aja loh!" ucap Mentari.
"Sudah-sudah kalian ini selalu saja bercanda. Hari ini hari spesial, kalian harus serius ya, jangan dibuat bercanda!" ucap mama Daniar.
"Iya, ma!" ucap Daniar dan Mentari.
"Iya tante!" ucap Sasa bersamaan dengan Daniar dan Mentari.
"Emm, mbak berapa lama lagi selesainya? keluarga pria sudah ada didepan!" ucap mama Daniar teringat niat awalnya tadi memasuki kamar Daniar.
"Sebentar lagi bu! nah selesai!" ucap perias itu.
__ADS_1
"Duhhh, cantiknya sahabatkuuu!" ucap Mentari dan Sasa dengan nada menggoda membuat Daniar malu-malu.
"Ayo kalian bawa dia keluar!" ucap mama Daniar sembari berjalan keluar kamar.