Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 309


__ADS_3

Darel berjalan dengan angkuhnya menatap dua manusia yang selalu mengusik ketenangan istrinya itu. Mentari yang melihat tatapan horor dari suaminya itu mendadak pias, takut kalau Darel hilang kendali. Ibarat saat ini Darel berjalan dengan dikelilingi aura hitam menyeramkan. Sungguh, Mentari merasa takut, dia yang tidak bersalah saja sebegini takutnya apalagi Abdulah dan juga Aziz yang jelas-jelas salah.


"S...sayang, k...kamu udah pulang?!" tanya Mentari berusaha mengalihkan perhatian suaminya.


"Memangnya kalau aku nggak pulang kamu bakalan cerita kalau ada dua virus datang kesini?" tanya Darel dengan suara dingin khasnya.


"Eh, nggak! nggak gitu."


"Katakan! apa yang membawa kalian kemari!" tanya Darel.


Nada suara Darel memang biasa saja, namun tidak bagi mereka yang telah mengenal Darel apalagi yang bersalah. Nada suara itu seolah mengintimidasi mereka, apalagi tatapan mata itu seolah mengikis ruang gerak mereka hingga sulit rasanya untuk menjawab. Aziz yang baru mengenali sosok Darel itu mendadak sulit untuk menelan salivanya.


"Di...dia....tuan Darel itu?!" tanya Aziz tergagap.


"Oh, kau belum mengenal diriku rupanya?! hidup di planet mana kau sebelumnya hingga tidak mengenaliku??!!" tanya Darel menatap remeh kepada Aziz sedangkan yang ditatap semakin gugup.


"Tuan, maafkan perkataan anak saya, tuan! kamu kesini hanya untuk meminta belas kasih dari Mentari dan anda!" ucap Abdulah setelah mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya.


"Bohong itu!"


Darel langsung menatap sumber suara. Terlihat Daniar yang langsung menjadi pusat perhatian itu cengengesan. Apalagi Mentari yang juga menyikut lengannya pelan seolah memintanya untuk tutup mulut. Oh maaf, yaa! ini Daniar yang tegas dan ceplas-ceplos bukan Mentari yang baik hati dan lembek, pikir Daniar.

__ADS_1


"Jadi, Daniar! sepertinya hanya kau yang bisa aku percayai untuk menceritakan semuanya." Darel menjeda perkataannya.


Darel memasukkan tangannya kedalam saku celananya, terlihat sangat cool sekali penampilannya saat ini apalagi dengan jas ketat berwarna maron, kemeja putih dan dasi berwarna hitam dipadukan dengan celana yang juga ketat berwarna senada dengan jas.


"Mereka kesini awalnya sok baik! sok ramah, sok-sok banget lah pokoknya! tapi setelah Mentari menolak meminjami mereka yang guna pernikahan Aziz dan juga keringanan atas utang dari bibi, sifat asli mereka keluar hingga seperti yang kau ketahui tadi!" cerita Daniar.


"Ohh, jadi begitu! apa itu benar pak Abdulah?!" tanya Darel kembali menatap tajam Abdulah dan Aziz.


"Apa kau juga yang telah menghina istri saya sebagai pelacu* dan juga menghinanya menikahi sugar daddy?! perlu anda ketahui saya bukan sugar daddy, dan istri saya, bukan seorang pelacur*! mungkin kata itu cocok untuk calon istri anda yang rela memberi mahkotanya kepada seorang pria yang bukan suaminya. Dan perlukah aku bongkar dengan siapa saja wanita itu telah berhubungan, selain denganmu tentunya! jadi, ku rasa benih itu bukan hanya milikmu!" sindir Darel dengan santainya.


"Apa?! jangan fitnah kamu yaa!! mana buktinya!!" tanya Aziz tidak terima.


"Hahahaa, bukti?! kau meminta bukti?! aku bahkan tahu semua mengenaimu dan keluargamu bahkan dari hal yang terkecil sampai yang paling besar sekalipun. Apa perlu ku bongkar kalau kau juga bukan anak kandung dari ayahmu?!" ucap Darel dengan sengaja.


Abdulah hanya diam terpaku. Tidak menyangka kalau Darel akan tahu rahasianya.


"Upss, sepertinya kau belum tahu yaa?! maaf yaa, aku tidak sengaja membongkarnya!" ucap Darel seolah tidak punya dosa.


"Pak! kenapa bapak diam saja, pak?! dia telah meragukan aku sebagai anak bapak, pak! bapak nggak marah?! apa memang benar yang dikatakan oleh pria itu, pak?! kalau aku bukan anak kandung bapak?! lalu aku ini anak kandung siapa, pakkk?!!" teriak Aziz frustasi.


"Jika urusan kalian disini sudah selesai baiknya kalian pergi dari sini! aku tidak menerima parasit seperti kalian. Dan mengenai hutang dan juga pinjaman uang, jangan harap kami akan memberikan keringanan itu pada kalian. Kalian memang pantas mendapatkannya!"

__ADS_1


"Kalian! usir mereka dari sini! saya muak melihat wajah mereka! dan pastikan jika mereka mendekati rumah ini bahkan saat masih sejauh lima ratus meter, segera usir!! jangan biarkan mereka memasuki wilayah rumahku!" ucap Darel pada dua pengawalnya.


Darel membawa Mentari untuk memasuki rumah diikuti oleh Daniar. Memang Abdulah adalah keluarganya, tapi sikap dari keluarga Abdulah sendiri tidak dia sukai. Terlebih mereka sering ceplas-ceplos, meskipun Daniar juga begitu, tapi ceplas-ceplos bibinya itu merujuk ke hal buruk.


Darel sangat marah saat ini sampai dia melupakan niat awalnya kenapa bisa pulang lebih awal. Zanu yang saat itu baru saja pulang dari supermarket karena duo bumil itu ngidam ingin makan salah satu merk topokki itu kebingungan saat melihat ribut-ribut didepan rumah Darel. Ternyata Abdulah dan Aziz belum pulang saat itu dan mereka berdebat di sana. Zanu langsung bertanya pada Harri yang dengan santainya bersandar di samping mobil sambil melihat ke arah bapak dan anak yang tengah bertengkar itu ibarat menonton sinetron yang sangat seru.


"Rel, apa ngga sebaiknya Mentari menginap dirumah Daniar atau dirumah mama mu saja? kalau disini sepertinya mereka akan terus mengusik Mentari." saran Zanu saat berada dihadapan Darel.


"Hemm, aku juga berpikir begitu! sayang, gimana pendapatmu?" tanya Darel menatap Mentari yang duduk di sebelahnya.


"Aku ikut bagaimana baiknya demi aku dan calon anak kita. Tapi kalau kita menginap dirumah mama atau rumah Daniar, jarak ke sekolah Iwang akan jauh." ucap Mentari yang mengkhawatirkan anaknya itu.


"Benar juga sih! eh kenapa kalian pulang ke rumah? bukannya tadi aku mengantarkanmu ke rumah mama?" tanya Darel.


Memang tadi Mentari diantar kerumah mertuanya itu. Namun begitu sampai disana dia merasa sangat pusing dan wajahnya terlihat pucat. Karena Randita tidak ingin adik iparnya yang tengah mengandung ini kenapa-kenapa, dia meminta Mentari untuk pulang saja dan Randita yang akan menjaga disana. Awalnya Mentari menolak tapi tubuhnya seolah tidak nyaman disana, akhirnya dia pun pulang dan sempat beristirahat beberapa menit sampai akhirnya dia mendengar kabar bahwa pamannya datang mengunjunginya.


"Mentari tadi sangat pucat saat disana, makanya kita diantar pulang lagi. Eh sampai rumah malah minta makanan Korea, terus tidur!" ucap Daniar.


"Yee, kamu juga yang minta kok cuma aku doang sih yang dibawa-bawa!" sungut Mentari.


"Oh ya, kalau gitu kalian siap-siap saja lah! kita ke panti asuhan untuk melihat anak-anak disana! mumpung aku pulang awal ini!" ucap Darel yang ingat tujuannya pulang.

__ADS_1


"Ah, baiklah! ayo Niar kita bersiap!" ucap Mentari menggandeng tangan sahabatnya itu lalu mereka pun meninggalkan dua calon ayah.


Baik Zanu maupun Darel menatap istri-istri mereka dengan tatapan bingung, aneh. Bingung karena tadi mereka sempat marahan, aneh karena tiba-tiba mereka sudah berbaikan. Mereka tidak tahu saja kalau begitulah dunia para wanita. Mereka bisa membenci tanpa sebab dan berbaikan tanpa sebab pula. Lucu memang kalau dipikir-pikir. Berbeda dengan para pria jika benci langsung bilang benci atau lebih sering biasanya diselesaikan dengan cara berkelahi baru setelah itu mereka berbaikan.


__ADS_2