Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 160


__ADS_3

Adi, Harri, dan Lukas mencari pesanan Darel. Karena pesanan Darel yang jumlahnya tidak sedikit, mereka pun berpencar agar lebih cepat.


Sekitar pukul tujuh malam, Adi, Harri, dan Lukas sampai dirumah Darel dengan membawa pesanan Darel beserta gerobaknya.


Karena mendengar keributan diluar rumahnya, Darel pun bergegas keluar rumah. Betapa terkejutnya Darel ketika melihat abang-abang penjual makanan yang dia pesan beserta gerobaknya memenuhi halamannya yang luas.


"Hei....hei....hei....ada apa ini?!!" menghampiri anak buahnya.


"Maaf tuan, kan tuan memesan banyak banget tadi! dan kalau harus menunggu nanti lama jadinya! yaudah kami beli sekalian abang dan gerobaknya, hehehehe!" ucap Harri mewakili Adi dan Lukas yang menganggukkan kepala membenarkan perkataan Harri.


"Haihhh kalian iniiii!!!" menepuk jidatnya pasrah.


"Terus makanan ini mau kalian apakan?" tanya Darel.


"Hehehehe, kita undang saja semua warga sekitar sini tuan!" saran Harri lagi.


"Hemm, ada bagusnya juga idemu itu!"


"Baiklah undang semua orang kesini, oh ya Iwang juga ya! aku yakin Mentari akan terkejut melihat kedatangan Iwang!" tersenyum lalu hendak melangkah pergi.


"Iwang? eh tuan, tunggu!" ucap Lukas menghentikan langkah Darel.


"Ada apa?" tanya Darel berbalik menghadap Lukas.


"Maaf tuan, aku mendengar kata Iwang tadi. Apa Iwang yang tuan maksud anak kecil yang bekerja di toko nona?" tanya Lukas memastikan.


"Hem, ya benar! kenapa?"


"Ah, syukurlah! tuan tahu sejak lama nona mencari keberadaan anak itu, ternyata dia aman bersama tuan!" lega.


"Terimakasih ya Lukas!" menepuk pundak Lukas sembari tersenyum tulus.


"Kau sudah menjadi teman kecilku dan sudah menjaga istriku dengan baik!"


Kata-kata itu membuat Lukas terharu. Belum pernah Darel mengucapkan kata-kata semengharukan ini sepanjang Lukas bersama Darel.


"Tuan, kau jangan membuatku malu! justru aku yang berterimakasih karena kau sudah mau menerimaku disini, menjagamu dan keluargamu kelak!" mengusap air mata yang tiba-tiba saja datang.


"Ayahmu pasti bangga padamu, Lukas!" ucap Darel tersenyum tulus lalu masuk kedalam rumah hendak memanggil Mentari.


"Honey....sayanggg! keluarlah sebentarrr! sayanggg...." panggil Darel didepan pintu kamarnya sambil mengetuk pintu.


Ceklekkkk.....


"Apaan?!" ketus.

__ADS_1


"Dihh, jangan galak-galak gitu dong kan nggak cantik nantinya!" bercanda.


"Ohhh, jadi menurut kamu aku nggak cantik gitu? terus maksud kamu lebih cantikan mantan kamu daripada aku? ohh pantes sampek dibela-belain gendong sampek ke kamar tamu!!!" kesal.


"Eh, maksud aku tuh nggak gitu loh honey! niatnya kan bercanda aku tadi!" salah sendiri.


Baru kali ini Darel dibuat mengalah dan serba salah. Hanya Mentari saja yang bisa merubah sikap angkuh dan keras kepala Darel menjadi seperti pria idaman pada umumnya. Mentari yang memang emosinya sedang tidak stabil akibat datang bulannya menjadi salah mengartikan candaan Darel sebagai ejekannya.


"Ah, sudahlah aku males ketemu kamu!!!" hendak menutup pintu.


"Ehhhh, tunggu dulu sayangg!!" menahan pintu yang hendak ditutup Mentari.


"Apa lagi?"


"Ikut aku sebentar! tapi matanya harus ditutup yaa?" ucap Darel.


"Mau kemana sih? jangan aneh-aneh deh!" malas.


"Udah ikut aja dulu, aku jamin kamu pasti suka!"


Mau tidak mau Mentari pun mengikuti perintah Darel dengan menutup matanya. Selain karena paksaan dari Darel, Mentari juga penasaran dengan apa yang ingin Darel tunjukkan kepadanya sampai harus tutup mata segala.


"Duhh, masih jauh nggak sih?" tanya Mentari dengan kedua tangan Darel yang menutupi matanya.


Darel dan Mentari sampai dihalaman rumah yang telah dipenuhi gerobak-gerobak makanan dan minuman.


"Okey, stopp!!!"


"Udah boleh buka nggak nih?" tanya Mentari.


"Boleh, aku hitung sampai 3 yaa! satuuuu.......duaaa......ti...gaaa!!!"


"Wahhhhh, banyak banget makanannya!" terpesona dengan gerobak-gerobak yang berjejer rapi dihalaman itu.


"Gimana, kamu suka?" tanya Darel berdiri disamping Mentari.


"Hikss...hiks....hiks...aku...aku suka..." menangis sambil memeluk Darel.


"Sudah-sudah jangan menangis! aku minta maaf ya tadi nggak liat kamu dandan begitu cantik!" ucap Darel setelah melepas pelukan Mentari lalu mengusap air mata yang mengalir ke pipi Mentari.


"Nah sekarang kamu boleh makan ini sepuasnya!" ucap Darel merentangkan tangannya.


"Eh tapi apa nggak habis banyak uang nanti kalau beli segerobaknya? ini banyak loh!"


"Kamu meragukan aku? sudah aku bilang berapa kali sih, hanya segini saja nggak akan bisa bikin aku miskin! kalau perlu semua apartemen yang ada dinegara ini aku beli buat kamu, mau?" sombong.

__ADS_1


"Ya nggak gitu juga kalii!"


"Udah yuk!" membawa Mentari berkeliling melihat gerobak apa saja yang ada disana.


"Ini semua kamu sendiri yang datangin mereka?"


"Iya lah! dengan bantuan Lukas, Adi, dan Harri tentunya!"


Setelah berkeliling melihat gerobak makanan dan minuman itu, Mentari akhirnya memilih memesan satu porsi komplit seblak level sepuluh, martabak manis pandan dengan topping coklat dan keju, cheese cake ukuran besar, makaroni telur, es goyang, leker besar rasa pisang keju dan coklat, serta minuman boba milk rasa matcha.


Tidak berselang lama, tetangga sekitar dan sahabat-sahabatnya Darel datang bersama pasangan mereka. Rumah Darel seketika terlihat seperti pasar malam yang ramai orang. Cara malam itu seolah piknik bersama.


"Oh iya, silahkan kalian makan sepuasnya kalau mau dibawa pulang juga boleh, silahkan...silahkan!" ucap Darel mempersilahkan.


Satu demi satu gerobak-gerobak disana langsung diserbu oleh orang ramai. Darel juga menyuruh semua pekerja yang ada dirumahnya untuk menikmati berbagai makanan yang tersedia. Suara orang-berkerumun untuk memesan makanan terdengar lebih dominan sekarang.


"Kakakkkkk!!!!" teriak seorang anak laki-laki dari kejauhan.


Mentari langsung mencari sumber suara yang sangat akrab di telinganya itu. Matanya langsung tertuju pada seorang anak yang berdiri disamping nenek-nenek.


"Iwangggg!!!!" berlari memeluk Iwang.


"Syukurlah Iwang kalian baik-baik saja! kakak khawatir sama kalian!!" memeluk Iwang dengan erat.


Iwang juga memeluk Mentari dengan sangat erat. Cinta kasih dan perhatian Mentari kepada Iwang benar-benar menyentuh hatinya. Selama ini yang Iwang rasakan dalam hidupnya hanya diusir dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Namun tidak dengan Mentari. Bertemu Mentari seolah Tuhan telah menjawab semua doa-doanya. Bagi Iwang, Mentari adalah malaikat tidak bersayap.


"Kami diusir dari tempat itu kak. Kami terluntang-lantung dijalanan. Tapi untungnya kami bertemu kak Darel, dia membawa kami kerumah yang buesarr kak. Kakak tahu tidak Iwang sekarang sudah sekolah loh!!" bercerita dengan penuh semangat khas anak-anak.


Mentari yang mendengar Iwang menyebut kata Darel langsung menatap pria itu. Darel mengerti kekhawatiran Mentari beberapa hari ini, tapi dia selalu lupa mengatakan bahwa Iwang sudah memiliki rumah baru.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya, dan karena aku mengerti dirimu jadinya aku membelikan rumah untuk mereka tinggali." jelas Darel.


Mentari langsung memeluk Darel, menangis terharu.


"Terimakasih sayang!!! terimakasih!" ucap Mentari lirih disela harunya.


Semua sahabat Darel, termasuk Daniar dan yang lain ikut terharu melihat hal itu.


Hatimu sudah benar-benar berubah Dwi! Pria angkuh dan keras kepala itu sudah tergantikan menjadi pria romantis dan penuh perhatian! batin Zanu sembari memeluk Daniar yang berdiri disampingnya.


Aku harap aku juga diberi kesempatan berubah sepertimu Darel, menemukan wanita yang bisa merubah diriku menjadi lebih baik! batin Tomi sembari menatap Shiren disebelahnya.


Pak salju sekarang sudah menjadi sweet man! apa aku rubah saja ya panggilan untuknya? batin Jack.


Tuan, semoga kebahagiaanmu ini akan berjalan selamanya! semoga kalian bersama sampai maut memisahkan! batin Adi.

__ADS_1


__ADS_2