
Darel dan yang lain baru saja mendarat di pulau Zanu. Sebelum memulai pencarian, mereka memulai terlebih dahulu dengan mengumpulkan semua pelayan yang ada dirumah itu. Hal itu karena untuk memastikan dugaan Rohan sebelumnya.
"Eh kenapa kita dikumpulkan begini? emangnya ada masalah apa?" tanya salah satu koki kepada rekannya.
"Entahlah aku juga tidak tahu. Kita dengarkan saja!" ucap rekannya.
"Baiklah tanpa berbasa-basi lagi, kami hanya ingin bertanya apakah salah satu dari kalian pernah melihat wanita ini disekitar rumah ini?" tanya Zanu sembari menunjukkan foto Suli ke depan.
Semua pelayan sontak saja segera mendekat kearah Zanu untuk melihat dengan jelas siapa yang Zanu maksud.
"Loh?! ini kannn?!" ucap semua pelayan.
Mimik wajah Rohan sontak saja berubah setelah mendengar perkataan itu. Berarti dugaan Rohan kemungkinan benar kalau wanita yang tidak sengaja dia tabrak waktu itu adalah Suli.
"Tuan, ini adalah Ratna. Dia pelayan tambahan yang bertugas di bagian kebersihan. Ap...apa dia berbuat suatu kesalahan?" tanya Bu Aya, kepala bagian kebersihan.
Zanu menatap kearah Bu Aya.
"Kamu mengenalinya?" tanya Zanu.
"I....iya tuan muda. Bukan hanya saya tapi yang lain juga. Dia gadis yang ceria dan sangat mudah bergaul." ucap bu Aya.
"Kau tahu dimana dia tinggal?" tanya Darel.
"Emm, tidak tuan. Saya tidak tahu dimana dia tinggal." ucapnya menatap ke arah Darel.
"Saya tahu tuan! tapi saya tidak tahu pasti tempatnya." ucap salah satu koki.
"Dimana?" tanya Tomi.
"Dia pernah bilang kalau dia tinggal ditempat kumuh didesa terdekat. Kalau tidak salah seperti itu!" ucap koki itu.
"Ah iya-iya saya juga ingat dia mengatakan hal itu!" ucap pelayan lain.
"Baiklah. Ini hadiah untuk kalian. Masing-masing satu ya!" ucap Zanu seraya memberikan sekotak hadiah kepada masing-masing dari pelayannya.
Semua pelayan menerima hadiah dari Zanu dengan sangat berantusias. Setelah mendapat hadiahnya, mereka langsung membuka hadiah tersebut.
"Wah, aku dapat tas mewah!" ucap salah satu pelayan wanita.
"Aku dapat kalung emas!" ucap yang lain.
"Wihh, aku dapet baju bagus nih!" ucap pelayan pria.
"Aku dapat sepatu bagus!" ucap pelayan pria yang lain.
Pelayan itu saling menunjukkan hadiah yang mereka dapatkan.
"Terimakasih banyak tuan!" ucap para pelayan kepada Zanu.
"Sama-sama!" ucap Zanu.
__ADS_1
"Jack! kau sudah melacak tempat kumuh di sekitar sini?" tanya Darel.
"Sebentar lagi tuan! nah dapat! ini ada tiga lokasi tempat kumuh didesa sekitar sini!" ucap Jack menunjukkan layar laptopnya kepada Darel dan yang lain.
"Baiklah kita berpencar saja. Aku, Zanu dan Adi ke tempat ini. Tomi, Jack, dan Arul ke sini. Sedangkan Bagas, Rohan, dan Harri kalian kesini!" ucap Darel membagi tugas.
"Oke aku setuju!" ucap Tomi.
"Oke kita mulai berpencar. Kalau ada yang menemukannya langsung beritahu menggunakan ini!" ucap Rohan menunjukkan tiga walkie talkie.
Satu walkie talkie dipegang oleh Rohan, satu dipegang oleh Zanu, dan yang satu lagi dipegang oleh Tomi.
Mereka pun mulai berpencar dengan menggunakan mobil yang ada di rumah Zanu.
********
Di tempat lain.
"Maaf tuan, sepertinya ada orang lain yang juga ingin menangkap Suli!" ucap anak buah Jo.
"Siall!!!! kalian ini kerjanya apa HAAA?! menangkap gadis lemah saja kalian tidak bisa! BO*OH!" maki Jo.
"M..maafkan kami tuan! tapi kami memang belum mengetahui lokasi wanita itu!" ucap anak buah Jo ketakutan.
Tap....tap...tap....
Sebuah langkah kaki datang dari arah gelap menuju ke tempat Jo.
"Siapa kau?!" tanya Jo.
"Tidak perlu tahu siapa aku! aku bisa membantumu mendapatkan wanita itu!" ucap pria misterius.
"Heh, aku tidak butuh bantuanmu!" ucap Jo.
"Benarkah? aku yakin kau akan membutuhkanku!" ucap pria misterius sembari melemparkan sebuah foto.
Anak buah Jo mengambil foto itu dan terkejut melihatnya. Jo yang penasaran langsung mengambil foto itu dengan paksa.
"Suli?! darimana kau mendapatkan foto itu?" tanya Jo penasaran.
"Santaii! aku memotretnya dengan kameraku sendiri! jadi, kau mau aku membantumu atau tidak itu semua terserah padamu!" ucap pria misterius sok jual mahal.
"Bedebah! baiklah! lalu, apa imbalanmu untuk ini? aku yakin ini semua tidak gratis!" menyeringai.
"Tentu saja! tidak ada yang gratis di dunia ini! permintaanku hanya satu dan tidak sulit untuk kau lakukan." ucap pria misterius tersenyum penuh arti.
"Apa itu?!"
"Bawakan padaku kepala Darel, ketua kelompok Dendley! cukup mudah bukan?! dan aku akan membawakan mu harta karun itu!" ucap pria misterius memberi penawaran.
"Tuan, sepertinya kita tidak punya pilihan lain selain menerima tawarannya!" bisik anak buah Jo.
__ADS_1
"Baiklah, karena anak buahku tidak ada yang becus! aku menerima tawaranmu!" ucap Jo.
"Pilihan yang bijak, tuannn!"
********
Mentari, Daniar, Shiren, juga Anisa berbincang-bincang didalam kamar Daniar. Mereka membicarakan banyak hal, dan berbagi banyak hal.
"Eh Nisa, ceritakan dong malam pertamamu dengan Arul! kita juga pengen dengar! kau juga Mentari!" ucap Daniar sedikit usil.
"Loh... loh...loh...itukan privasi! nanti kalau kamu sudah menikah dengan Zanu, kamu juga akan mengalaminya!" ucap Anisa mengelus lembut perutnya.
Mentari terus menatap kearah perut Anisa. Membayangkan dirinya yang tengah berbadan dua, uhhh pasti sungguh menyenangkan bagi Mentari. Kenapa Tuhan masih belum memberikannya anak lagi? Mentari sudah sangat menantikan kehadiran bayi mungil ditengah-tengah dirinya dan Darel. Malaikat kecil yang berlarian ke seluruh rumah. Pasti sangat melelahkan sekaligus momen yang paling menyenangkan.
"Tari, kamu kenapa?" tanya Anisa.
"Ah tidak ada!" ucap Mentari berkilah.
"Jangan bohong! aku mengenalmu sejak kita masih kecil, ayo ceritakan ada apa?" tanya Daniar.
"Baiklah, sejak aku keguguran sampai sekarang aku sangat ingin ra*imku kembali diisi dengan buah cintaku dan Darel. Melihat Arul yang sangat menjaga kau dan calon anakmu membuatku teringat dengan kehati-hatian Darel saat aku masih mengandung dulu. Jika bukan karena kesalahanku, mungkin anak kami masih ada bersama kami sekarang!" jelas Mentari mulai berkaca-kaca.
"Tari, maafkan kakakku! aku tahu luka yang dia goreskan ke hatimu sangatlah dalam, dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain meminta maaf atasnya!" ucap Daniar ikut bersedih.
"Iya Mentari, aku yakin kau dan Darel akan segera memiliki momongan. Kau hanya perlu bersabar!" ucap Anisa.
"Jangan pantang menyerah ya, semua pasti ada jalannya tinggal menunggu saat yang tepat saja. Mungkin Tuhan punya rencana lain sekarang." ucap Shiren ikut menghibur Mentari.
"Hiks..his... terimakasih!" ucap Mentari terharu.
Mereka berempat pun berpelukan bersama. Tanpa mereka sadari papa dan mama Daniar mendengarkan mereka dari luar kamar.
"Mentari sungguh anak yang kuat ya, pa!" ucap mama Daniar sembari menyeka air matanya yang juga ikut meneteskan air mata.
"Tenangkan dirimu, jangan menampakkan kesedihanmu dihadapannya. Kita harus menguatkan dirinya agar tidak rapuh, mengerti!" ucap papa Daniar berusaha menghibur istrinya agar tidak menangis.
"Tapi lihatlah anak itu sejak dia masih kecil sampai sekarang selalu saja mendapatkan kesusahan. Kapan anak itu bisa bahagia? aku selalu memikirkan nasibnya yang begitu malang!" kembali menangis.
"Hustttt!" membawa istrinya menjauh dari kamar Daniar.
"Pelankan suaramu atau anak-anak akan mendengarnya nanti! sudah, hapus air matamu. Dengan kau yang seperti ini bisa menambah beban untuk Mentari! ayo hapus!" ucap papa Daniar.
"Iya!" ucap mama Daniar menghapus air matanya dengan kasar.
"Sudah!"
"Sebaiknya kita memasak saja untuk makan siang, Anisa tidak boleh makan terlambat, kan dia sedang hamil." ucap papa Daniar memberi ide.
"Ah iya juga! Ayo kita masak saja!" ucap mama Daniar yang baru saja ingat ini sudah memasuki jam makan siang.
Papa dan mama Daniar menuju ke dapur untuk membuat makan siang. Papa Daniar bertugas untuk membuat camilan terlebih dahulu sebelum makan siang selesai dibuat.
__ADS_1
Dengan cekatan papa Daniar membuat pie mangga dengan menggunakan mangga matang yang tadi mereka petik.