Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 159


__ADS_3

"Yaa...ya....ya...tertawalah kalian! tertawa puas-puas!!" menatap tajam ketiga anak buahnya.


Hal itu membuat Bagas semakin tertawa melihat ekspresi wajah ketakutan Adi, Harri, dan Lukas.


"Haihhh, aku dengar dari Harri tadi kalau Mentari sedang datang bulan ya?" berhenti tertawa.


"Ya!" ketus.


"Jangan sewot gitu napa! aku mau kasih rahasia penting nih!" ucap Bagas.


"Iyaaaa!" menampilkan senyum terpaksa.


"Eh, lebih baik yang pertama tadi deh! yang ini lebih seram, hehehehe!" menggoda Darel.


"Cepat katakan! atau ku patahkan tanganmu ituuu!"


"Iya-iya, dasar tempramental!"


Sabar-sabarlah kau Mentari mendapatkan suami seperti Darel ini! aku tidak bisa membayangkan kalau mereka sedang akur! hiiiiiiiii, gelii sendiri aku membayangkannya! batin Bagas.


"Wanita, kalau lagi datang bulan itu bawaannya marah-marah terus!" berbisik.


"Lalu?" Darel tidak mengerti arah perkataan Bagas.


"Ishh, dengerin duluu! main serobot aja!" kesal sendiri.


"Jadi, kalau mau dia baikan ya kasih aja yang manis-manis. Kayak coklat, martabak, makanan favoritnya, boba, dan lain-lain!" ucap Bagas.


"Ohh, begitu! eh, tunggu! darimana kau tahu soal ini?" tanya Darel.


"Kau lupa aku seorang dokter?" menjauhlan dirinya dari Darel dengan raut wajah yang emmm entahlah.


Darel menganggukkan kepalanya mengerti.


"Lagi pula setiap datang bulan, Angel pasti akan selalu memusuhiku! makanya aku akan sangat berhati-hati jika mendekati tanggalnya. Dan kalau dia marah-marah padaku, tinggal aku belikan aja makanan dan minuman tadi!" jelas Bagas.


"Emm, baiklah aku mengerti!"


Darel mengeluarkan ponselnya, mencari makanan dan minuman apa yang bisa memulihkan mood cewek yang lagi dan terpampang banyak sekali makanan dan minuman disana.


"Adi, Harri, Lukas! beli semua makanan dan minuman ini!" ucap Darel sembari menunjukkan berbagai makanan dan minuman yang ada di ponselnya.


"Semuanya tuan?" tanya ketiga anak buah Darel.


"Ya, semuanya!" ucap Darel enteng.


"Kau tidak bercanda kan? sebanyak itu?" Bagas tercengang.


"Uangku kan tidak akan habis kalau hanya untuk membeli hal kecil begitu!" sombong.

__ADS_1


Disisi lain, Pretty yang sudah menguping dari tadi terlihat sangat kesal dengan perhatian yang Darel berikan kepada Mentari.


Sial!! apa sih kelebihannya Mentari, sampai-sampai Darel begitu takluk dihadapannya! batin Pretty kesal.


Pretty kembali ke kamar tamu, ekspresi kesal dan tidak terima tergambar jelas diwajahnya saat ini. Darel yang melihat bayangan Pretty dari atas tersenyum licik. Dia pun menuruni tangga dan memeriksa keadaan Pretty. Sandiwara pun dimulai.


"Pretty, kau sudah sadar?" tanya Darel sok lembut.


"Ah, iya Darel! kepalaku sedikit pusing karena tadi!" ucap Pretty bersandiwara sembari memegang kepalanya.


"Bagas bilang kakimu yang patah tulang, dan karena aku yang sudah menyebabkan semuanya terjadi maka aku akan bertanggungjawab!"


"Tidak Darel! mana mungkin aku membiarkan diriku tinggal ditempat suami orang lain? apa yang akan dipikirkan Mentari nanti?" sok memelas.


"Jangan khawatir! Mentari biar menjadi urusanku!" ucap Darel.


"Emm, baiklah kalau itu maumu!" ucap Pretty sok pasrah.


*Yesss!!! akhirnya aku bisa kembali merasakan rumah mewah ini!!! Mentari, siap-siaplah kamu untuk keluar dari rumah ini! karena nyonya rumah ini yang sebenarnya sudah kembaliii!!


Masuk perangkap juga kan kamu! lihat apa yang akan aku perbuat padamu nanti*!!


"Ya sudah, aku keluar dulu ya! kamu istirahat saja!" ucap Darel kemudian keluar dari ruangan.


"Yesss!!! akhirnya aku bisa masuk ke rumah ini lagi!!!" bersorak bahagia.


"Peffffftttttt!!!!" Bagas, Darel, Adi, Harri, Lukas menguping dibalik pintu kamar Pretty.


Merasa tidak kuat menahan tawa, mereka pun pergi dari sana dan tertawa dengan puasnya.


"Hahahaha, kasian anak orang di mainin!" ucap Bagas sambil terus tertawa.


"Heh, biar saja! bukan salahku kalau dia tidak mengindahkan peringatan ku!" ucap Darel.


Mata Darel langsung tertuju kepada ketiga anak buahnya yang masih tertawa.


"Hai!!! aku kan sudah menyuruh kalian tadi, kenapa masih disini!!!!" geram.


"Eh, iya ya, kenapa kita masih disini?" tanya Harri sembari menggaruk kepalanya.


"Eh, emm maaf tuan! kami berangkat sekarang!" ucap Lukas.


Merek pun bergegas mencari barang yang diminta Darel untuk mengembalikan mood Mentari.


"Oh ya, aku masih ada urusan dirumah sakit! aku kembali dulu!" ucap Bagas pamit.


"Hem, baiklah!" jawaban singkat.


********

__ADS_1


Ditempat lain, Zanu, Tomi, Jack, dan Daniar sudah sampai dirumah Daniar. Melihat kedatangan anak gadis mereka dengan wajah penuh memar membuat mama Daniar langsung menghampiri anaknya yang tengah dipeluk Zanu.


"Daniar, ya Allah nakk!!! kamu kenapa? nak Zanu, ini Daniar kenapa kok lebam begini wajahnya?" tanya mama Daniar khawatir.


Papa Daniar juga langsung keluar ketika mendengar teriakan istrinya.


"Maaf tante, ini karena Zanu tidak becus menjaga Daniar!" Zanu menundukkan kepalanya.


"Ya sudah kalian masuk dulu ya, ayo!" ucap papa Daniar.


Mama Daniar langsung mengambil alih memeluk putrinya dan membawanya masuk kedalam rumah diikuti yang lain. Didalam rumah....


"Nak Zanu, ini ada apa sih? terus kamu juga Niar, kenapa semalam tidak pulang? mama sangat khawatir, nakk!!" tanya mama Daniar sembari mengobati luka memar anaknya.


Tin....tinn.....


Sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah Daniar.


"Selamat siang semuanya!" sapa Wisnu.


"Siang?! anda..."


"Em, dia bos Daniar ma!" ucap Daniar.


"Oh, silahkan duduk nak, silahkan....silahkan!" mempersilahkan Wisnu duduk.


Tadi Wisnu pergi sebentar untuk mengurus surat penahanan untuk Broto makanya dia datang terlambat.


"Jadi begini tante, kemarin Zanu sudah menelpon om kalau Daniar akan menjadi umpan untuk menangkap penjahat. Dalam telepon kemarin, om mengatakan untuk tidak memberitahu tante agar tante tidak khawatir." jelas Zanu.


"Penjahat? umpan? astaghfirullah, nak tapi kamu baik-baik aja kan?" memeriksa tubuh anaknya.


"Enggak kok ma, kan ada Zanu! untungnya Zanu dan tuan-tuan ini datang tepat waktu hingga Daniar bisa diselamatkan!" ucap Daniar.


"Hahhh, syukurlahhh!!" lega.


"Maaf ya tante, kemarin Zanu tidak bisa bilang ke tante tentang masalah ini!" sedikit bersalah.


"Tidak apa-apa, yang penting Daniar sudah pulang dengan semangat!" mengelus pucuk kepala Daniar dengan penuh kasih sayang.


"Oh ya, kalian pasti lapar kan? kalian makan siang saja disini!" tawar mama Daniar.


"Yah, harus itu! sebagai ungkapan karena sudah membawa Daniar pulang dengan selamat!" ucap papa Daniar.


"Boleh om, tante! lagi pula perutku sudah mulai keroncongan juga nih!" ucap Tomi sembari mengelus perutnya yang terus berbunyi meminta jatah makan.


"Hahahaha, kau inii!" ucap Zanu menggelengkan kepalanya.


Mereka pun makan siang dirumah Daniar. Karena meja makan dirumah Daniar tidak cukup menampung semua orang ini, mereka pun makan lesehan dengan beralaskan tikar.

__ADS_1


Masakan sederhana yang dibuat mama Daniar dan tempat makan mereka yang lesehan di lantai membuat suasana terlihat sangat sederhana. Namun kesederhanaan itu pula lah yang membuat makan siang kali ini lebih ceria dan berwarna bagi semua orang.


__ADS_2