Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 131


__ADS_3

Di tempat lain, hal sama juga dirasakan oleh Mentari. Mentari hanya melamun mengingat kenangannya dengan Darel yang membuatnya semakin merindukan Darel. Hati kecilnya ingin kembali dan bertemu dengan Darel, namun otaknya kembali memutar adegan dimana Darel yang tengah berselingkuh darinya.


"Mentari.... Mentarii....Men...." seseorang memanggil-manggil nama Mentari.


Mentari yang sadar akan lamunannya segera menghapus air matanya dengan kasar dan berbalik menghadap pintu dimana orang itu sudah berdiri disana.


"Iya, kak?" tanya Mentari mencoba mengalihkan perhatian.


"Kamu habis nangis lagi?" tanya pria itu.


"N....nangis? enggak kok! aku nggak nangis!" Mentari mencoba berbohong.


Pria itu mendekat kearah Mentari beberapa langkah.


"Mentari!"


"Ya?"


"Kau tahu kan kalau kau tidak pandai berbohong? semua orang pasti akan langsung tahu kalau kau habis menangis. Apa kau memikirkan pria baj****n itu lagi?" yang ditanya justru membalikkan badan mendekat ke arah jendela.


"Aku....aku tidak bisa menghilangkannya dari otakku kak. Semakin aku memikirkannya, aku justru semakin merindukannya dan juga aku semakin terluka olehnya." berbalik badan.


"Aku harus apa kak Galih? aku...aku rasa aku benar-benar mencintainya tapi juga kecewa padanya disaat yang bersamaan!" menunduk lesu.


Ya, Galih dan Mentari tidak sengaja bertemu ketika memasuki hotel. Saat itu Galih yang tengah check in hotel tanpa sengaja bertemu dengan Mentari yang juga ingin check in hotel juga.


"Aku tidak setuju kau kembali dengannya Mentari, dia sudah menghianatimu, dia sudah menodai sumpah pernikahan kalian!!!" ucap Galih memprovokasi.


Sebenarnya Galih sedih dengan apa yang diderita Mentari, namun disisi lain dia juga senang karena jalannya untuk Mendapatkan Mentari bisa dia lalui dengan mudah.


"Tapi kak, bagaimanapun kami tetap suami istri dan aku juga sudah mencintainya sekarang. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku kabur, yang jelas pikiranku saat itu sedang kacau hingga aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Entah bagaimana keadaan Darel sekarang." menatap jauh pemandangan diluar.


"Mentari dengarkan aku!!" memegang pundak Mentari yang membuat Mentari menghadap kearah Galih.


"Dia pria bre****k Mentari, dia tidak pantas dengamu kau tahu itu!! belum apa-apa saja dia sudah berani selingkuh darimu apalagi nanti." mencoba meyakinkan Mentari bahwa Darel bukan orang yang tepat untuknya.


Lihat aku Mentari, lihat aku!! aku yang mencintaimu sepenuh hati, aku juga yang selalu mendukungmu. Tapi kenapa kau malah mencintai orang lain?? kenapa bukan diriku???


"Maafkan aku kak." melepaskan tangan Galih dari pundaknya.


"Aku butuh waktu buat memikirkan ini semua, aku akan kembali atau tinggal disini."


"Kenapa? kenapa kamu mau kembali? bukannya kamu sendiri yang kabur darinya?" cecar Galih.


"Kak, aku memang kecewa dengannya, tapi disisi lain aku juga merindukannya. Aku mohon kau mengerti." ucap Mentari sembari meninggalkan Galih.


...Tidak akan aku biarkan kamu kembali bersamanya Mentari, tidak akan! kamu milikku, hanya milikku!!!!...


********


Pagi itu, seperti biasanya tuan dan nyonya Ardi sarapan bersama. Randita beserta suami dan anaknya sudah kembali karena tugas Rangga yang membeludak.


"Pa, apa tidak sebaiknya kita beritahu Darel saja kalau Mentari di Korea?" tanya nyonya Ardi.


Tuan Ardi menghentikan aktivitas makannya sebentar.


"Ma, aku tidak memberitahu Darel juga ada sebabnya. Kesalahannya terlalu fatal untuk dimaafkan apalagi oleh Mentari. Biarkan Mentari menenangkan dulu pikirannya, dan juga papa yakin dengan seperti ini mereka bisa saling memahami bahwa mereka tidak bisa jauh satu sama lain." jelas tuan Ardi.

__ADS_1


"Tapi kan pa, kasian Darel! Adi bilang, Darel seharian hanya meminum bir saja. Dia terlihat sangat menyedihkan!" ucap nyonya Ardi yang tidak tega melihat anaknya menderita.


"Biarkan dia seperti itu dulu, papa juga mau melihat bagaimana usahanya membawa kembali Mentari! papa juga tidak tega sebenarnya tapi itu harus kita lakukan kalau kita mau anak-anak kita bahagia." ucap tuan Ardi sembari menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya.


"Percaya sama papa, semuanya akan baik-baik saja!" tersenyum yakin.


Nyonya Ardi membalas dengan senyuman, mereka pun kembali memakan sarapan mereka.


********


Di tempat lain, Darel yang terus-menerus murung didalam kamarnya berniat untuk menuju bar milik Arul. Disana juga sudah ada Tomi, dan Jack. Sebenarnya Arul ingin mengunjungi Anisa di rumah sakit, namun masalah Darel menurutnya lebih penting sehingga mengesampingkan urusan pribadinya.


Seperti biasa, Darel keluar dari rumahnya ditemani Adi dan Harri. Hanya lamunan yang menemani Darel sepanjang perjalanan ini. Bayangan indahnya bersama dengan Mentari terus ada dipikirannya membuatnya semakin merasakan kehilangan.


Cittttt.....


Mobil berhenti mendadak.


"Apa-apa sih kau ini, kenapa berhenti mendadak!!!" kesal Darel.


"Maaf tuan, itu..." menunjuk ke arah depan.


"Ituu, bukankah...?!" tengah mencoba mengingat seseorang.


"Itu sepertinya Iwang tuan, anak kecil yang ditolong nona." jawab Adi cepat.


"Yaa, Iwang!! wah ingatanmu tajam juga ya Adi." puji Darel.


Darel, Adi dan Harri melihat dari dalam mobil dimana Iwang tengah dikepung oleh beberapa berandalan. Sepertinya berandalan itu mengincar sesuatu dari Iwang. Melihat hal itu tanpa basa-basi lagi Darel langsung turun dari mobilnya dan meninju salah satu dari berandalan itu.


"Hei, kau cari mati apa?? tidak tahu ya dia itu siapa???" angkuh salah satu dari mereka.


"Broo, kau mau cari mati ya, haa? kau tidak tahu aku siapa?" ucap pria yang ditinju Darel tadi.


Darel menatap tangan pria itu yang kini tengah bertengger dibahunya dengan tatapan dingin.


"Aku Roy, penguasa wilayah ini! kalau kau mau selamat, serahkan semua barang berharga yang kau punya, gimana??" sambil menepuk-nepuk pundak Darel.


"Jangan kak, jangan berikan dia sepeserpun!" ucap Iwang yang tengah ditahan oleh anak buah Roy.


"Diam kau bocah tengik!!!" ucap anak buah Roy sembari membungkam mulut Iwang.


Karena moodnya sedang tidak baik, apalagi dia paling tidak suka jika ada yang menyentuh bahunya. Darel tanpa aba-aba menangkap tangan Roy dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Aduh...aduh ..aduh.. sakit...sakit... sakit....!!!!" teriak Roy kesakitan.


Kretekkkk......


Darel memutar tangan Roy hingga tangannya patah lalu Darel putar lengannya hingga mencekik leher Roy sendiri dengan posisi Darel berada dibelakang Roy sembari menguncinya.


"Kau sudah memperkenalkan dirimu, sekarang giliranku. Aku, Darel Sanjaya. Dengan sangat mudah bisa menghempaskan mu dari dunia ini, apa kau mau coba??!!!" tersenyum penuh arti.


"Tidak.. tidak...tidak, ampun!!! aku tidak akan malak anak kecil itu tadi, ampunnn!!!" teriak Roy kesakitan.


Darel melepaskan kunciannya dan mendorong Roy hingga tersungkur ke tanah. Roy pun memberi isyarat kepada anak buahnya agar melarikan diri dari sana.


"Kakak!!!" Iwang menghampiri Darel.

__ADS_1


"Kenapa kau ada disini?" tanya Darel.


"Aku dan nenek diusir dari tempat kami dulu, jadinya aku sama nenek harus pindah ke sini." ucap Iwang tertunduk lesu.


"Bagaimana keadaan kak Mentari? aku lama sekali tidak bertemu dengannya." kembali bersemangat.


"Emm, kakak Mentari lagi ada urusan jadi tidak bisa menemuimu. Oh iya, kalian tinggal dimana sekarang?" tanya Darel.


"Disana!" menunjuk sebuah gang sempit dan kumuh.


"Ayo Iwang tunjukkan!"


Iwang berjalan ke gang sempit itu diikuti Darel, Adi dan Harri.


Andai saja kau tahu usahaku untuk menemukanmu Mentari, aku mohon kembalilah padaku!! aku berjanji apapun yang kau mau, aku akan menurutinya!


Tidak lama kemudian sampailah mereka ditempat dimana Iwang dan neneknya berteduh. Disana juga ada banyak orang-orang seperti mereka dengan rumah seadanya, dikelilingi sampah-sampah. Keseharian mereka untuk memulung sampah-sampah plastik, kardus bekas, dan apapun yang bisa mereka jual ke pengepul.


"Ini rumahmu?" tanya Darel.


"Iya kak!" ucap Iwang.


Tidak ada rasa minder atau mengeluh dari anak ini yang membuat Darel tersentuh. Anak seumur Iwang tetap tegar dan semangat menjalani kehidupannya yang mungkin jauh dari kata layak.


"Adi!"


"Iya tuan!" menunduk hormat dengan sikap cool


nya.


"Carikan sebuah rumah untuk ditempati Iwang dan neneknya! berikan fasilitas terbaik untuk mereka, pastikan juga Iwang mendapatkan pendidikan hingga dia kuliah nanti! aku yang akan menanggung semua biaya hidupnya!" perintah mutlak seorang Darel.


"Baik tuan!" ucap Adi kemudian langsung berkutik dengan ponselnya melakukan sesuai perintah Darel. Hal pertama yang Adi lakukan adalah mencari sebuah rumah layak huni untuk mereka berdua, kemudian pakaian mereka, bahan kebutuhan sehari-hari, dan sekolah untuk Iwang.


"Iwang, apa kau mau bersekolah?" tanya Darel.


"Mau, mau, mau!!! Iwang mau banget ke sekolah!!!!" ucap Iwang bersemangat.


"Sekarang Iwang kemasi barang-barang Iwang, kita akan pindah ke rumah yang lebih bagus, oke?!"


"Okee!!!"


Dengan bersemangat Iwang memberitahu neneknya bahwa mereka akan pindah rumah. Mereka mengemasi barang-barang mereka yang sangat sederhana. Hanya satu sama lain yang mereka punya dan merupakan harta paling berharga bagi yang lainnya.


"Terimakasih tuan, karena tuan sudah mau membantu rakyat kecil seperti kami!" ucap nenek Iwang ketika menuju mobil.


Darel melihat nenek Iwang sedang tidak baik-baik saja, dia pun memberi isyarat kepada Harri dan Harri pun mengerti maksud Darel. Ketika sampai di mobil, nenek Iwang sungkan untuk menaiki mobil mewah Darel.


"Kenapa nek? kok berhenti?" tanya Darel.


"Nenek tidak bisa naik ini, takut jadi kotor nanti. Baju nenek kotor semua, tidak cocok dengan mobil nak Darel yang bagus ini."


Iwang menatap Darel seolah mengiyakan perkataan neneknya.


"Tidak apa-apa, kalian masuklah." ucap Darel.


Dengan ragu nenek Iwang dan Iwang menaiki mobil Darel. Namun tanpa diduga mereka justru melepaskan sandal mereka dan menentengnya masuk ke dalam. Darel mencegah mereka melakukan hal itu dan meminta mereka memakai kembali sandalnya namun nenek Iwang bersikeras untuk tetap melepas sandalnya agar tidak mengotori mobil mewah Darel.

__ADS_1


Sepertinya jiwa sosial Mentari sudah sedikit menular padaku!! Mentari.....Mentari....aku merindukanmu!!!


__ADS_2